NovelToon NovelToon
Kebangkitan Naga Astral

Kebangkitan Naga Astral

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Seorang murid sekte luar yang dihina karena akar spiritualnya yang cacat secara tidak sengaja membangkitkan sebuah pusaka kuno di lembah terlarang. Pusaka tersebut tidak memberinya kekuatan instan, melainkan sebuah metode kultivasi purba yang memungkinkannya menyerap dan memurnikan Qi dari garis keturunan binatang buas mitologis. Untuk mencapai puncak, ia harus menempuh jalur yang penuh darah dan memburu eksistensi terkuat di langit dan bumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Murid Tak Berguna dan Mutiara Terlarang

​Angin dingin berhembus kencang di Puncak Berkabut, membawa serta aroma tajam belerang dari kawah gunung. Di sebuah pondok kayu yang hampir roboh, Lin Tian duduk bersila dengan napas yang tersengal. Wajahnya pucat, tetesan keringat sebesar biji jagung membasahi keningnya.

​"Sial... kenapa Qi di tubuhku selalu bocor?" gumam Lin Tian lirih.

​Ia mencoba menyerap Qi alam untuk ke-seribu kalinya bulan ini, namun hasilnya tetap sama. Begitu energi itu masuk ke dalam meridiannya, energi tersebut lenyap seperti air yang tumpah ke atas pasir kering. Sebagai murid pelayan di Sekte Pedang Langit, Lin Tian adalah bahan tertawaan. Di usianya yang ke-17, ia masih terjebak di tingkat pertama ranah Mortal, tingkat terendah yang bahkan tidak dianggap sebagai kultivator.

​"Lin Tian! Keluar kau, sampah!"

​Sebuah tendangan keras menghantam pintu kayu pondoknya hingga terlepas dari engselnya. Seorang pemuda berpakaian sutra biru dengan lambang murid luar di dadanya berdiri di sana, menatap Lin Tian dengan tatapan merendahkan. Itu adalah Zhao Feng, orang yang telah merampas jatah pil spiritual Lin Tian selama setahun terakhir.

​"Aku diperintahkan oleh Kakak Senior untuk mengambil air dari Mata Air Iblis. Cepat bergerak, atau kakimu yang akan kupatahkan kali ini!" bentak Zhao Feng.

​Lin Tian mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memutih. Jika ia menolak, ia akan diusir dari sekte. Jika ia diusir, ia akan mati kelaparan di luar sana. Dengan kepala menunduk, ia mengambil ember kayu dan berjalan menuju lembah terlarang yang berada di balik gunung.

​Itu adalah wilayah yang dihindari oleh semua murid. Konon, siapa pun yang mendekati pusat mata air tersebut akan mati tersedot energinya. Namun, hari ini, saat Lin Tian sedang mengisi embernya, ia merasakan getaran aneh di bawah kakinya.

​Deg. Deg. Deg.

​Getaran itu bukan berasal dari bumi, melainkan dari dalam dadanya. Secara tidak sadar, ia berjalan mendekati retakan tebing di dekat mata air. Di sana, di antara bebatuan tajam yang tertutup lumut hitam, sebuah benda bulat memancarkan cahaya redup berwarna ungu keemasan.

​Itu adalah sebuah mutiara. Saat jari Lin Tian menyentuh permukaan benda dingin itu, seluruh lembah tiba-tiba terdiam. Cahaya ungu tersebut merambat naik ke lengan Lin Tian, membakar kulitnya, namun bukan rasa sakit yang ia rasakan—melainkan sensasi kekuatan kuno yang seolah sudah tertidur selama ribuan tahun kini berteriak minta dibebaskan.

​"Apa... ini?" bisik Lin Tian, saat penglihatannya mulai menggelap.

​Di dalam kesadarannya, ia melihat seekor naga raksasa bersisik hitam yang melingkar di antara bintang-bintang. Naga itu membuka matanya, menatap Lin Tian dengan keagungan yang menghancurkan jiwa.

​Kesadaran Lin Tian perlahan kembali seiring dengan rasa dingin yang menggigit tulang. Ia terkesiap, membuka mata dengan napas memburu. Hal pertama yang ia lihat adalah langit malam Puncak Berkabut yang dihiasi bintang-bintang redup.

​Ia masih berada di tepi Mata Air Iblis. Namun, mutiara ungu keemasan itu telah menghilang tanpa jejak.

​Dengan panik, Lin Tian meraba dadanya. Tepat di atas jantungnya, terdapat sebuah tanda lahir baru—sebuah siluet samar naga hitam yang melingkar. Saat ia memusatkan pikirannya ke tanda itu, sebuah gelombang informasi kuno mengalir deras ke dalam otaknya, membawa nama sebuah teknik: Seni Pemurnian Tulang Naga Astral.

​Lin Tian segera duduk bersila dan memeriksa kondisi tubuhnya. Kejutan besar menantinya. Akar spiritualnya yang selama ini layu dan berlubang—menyebabkan Qi selalu bocor—kini telah tertambal sempurna oleh untaian energi ungu yang sangat tipis. Namun, ada satu hal yang membuatnya tersenyum getir.

​Teknik naga kuno ini tidak memberinya lonjakan kekuatan instan. Sebaliknya, teknik ini mengubah meridiannya menjadi lautan tak berdasar. Untuk menembus satu tingkat ranah Mortal saja, ia membutuhkan Qi seratus kali lipat lebih banyak dan lebih padat daripada kultivator biasa. Jalan yang terbentang di hadapannya akan sangat panjang, lambat, dan membutuhkan fondasi yang luar biasa kokoh. Ia harus memadatkan energinya lapis demi lapis tanpa boleh terburu-buru.

​Menyadari ia telah pingsan cukup lama, Lin Tian bergegas memungut ember kayunya yang telah terisi air. Jika ia tidak segera kembali, seseorang pasti akan mencarinya—dan bukan karena peduli.

​Sesampainya di area pelataran murid pelayan, Lin Tian melihat pintu pondoknya yang hancur telah ditegakkan kembali secara seadanya dengan bilah kayu dan tali rami. Di depan pintu itu, seorang remaja laki-laki berusia lima belas tahun sedang duduk berjaga sambil memeluk lututnya, menahan udara dingin malam.

​"Lin Chen," panggil Lin Tian pelan.

​Remaja itu mendongak. Wajahnya yang kotor oleh debu langsung berbinar lega. Ia melompat berdiri dan berlari menghampiri Lin Tian.

​"Kakak Tian! Syukurlah kau kembali!" Suara Lin Chen sedikit bergetar. "Zhao Feng tadi kembali lagi untuk mencarimu. Saat melihatmu tidak ada, dia mengancam akan membakar pondok ini besok pagi jika kau belum menyerahkan air dari Mata Air Iblis. Aku... aku sudah mencoba menahannya, tapi dia memukulku."

​Lin Tian baru menyadari ada memar kebiruan di sudut bibir Lin Chen. Darahnya mendidih. Di sekte yang kejam ini, Lin Chen adalah satu-satunya orang yang tidak pernah memandangnya rendah. Mereka tumbuh bersama sebagai anak yatim piatu yang dipungut oleh tetua sekte luar, bertahan hidup dengan saling melindungi di posisi terendah.

​"Maafkan aku, Chen'er. Aku membuatmu terluka lagi," ucap Lin Tian, suaranya terdengar lebih berat dan tenang dari biasanya.

​Ia meletakkan ember air itu dan menepuk bahu Lin Chen. Getaran energi Qi di dalam tubuh Lin Tian, meski masih sangat tipis, perlahan mulai mengalir mencari ritmenya sendiri. Fondasi yang panjang dan berat ini baru saja dimulai, dan ia bersumpah tidak akan membiarkan siapa pun menginjak-injak mereka lagi.

​"Masuklah dan istirahat," kata Lin Tian sambil menatap tajam ke arah puncak gunung tempat para murid luar tinggal. "Besok, biar aku yang mengurus Zhao Feng."

1
Samadi Kelana
Lanjutkan ...
yos helmi
😍😍
yos helmi
ntuk semua pembaca .. mari kita bersatu.. author yg up nya satu dua bab.. jgn beri like.. komen.. dll.. cukup baca aj.. biar mampus tu author .. 🤣🤣🤣
Gege
gaasss 100k kata diluncurkan saja jangan disimpen Thor...🤭💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!