Lin Chen, seorang pemuda yang dianggap sampah karena memiliki Meridian Spiritual rusak, secara tidak sengaja menyentuh Phoenix bayi yang sedang bereinkarnasi. Pertemuan itu justru memberinya warisan terlarang tertinggi — "Sembilan Ikatan Phoenix Abadi".
Teknik kultivasi ini mengharuskan ia menikahi dan melakukan kultivasi ganda dengan Sembilan Phoenix Agung. Semakin banyak Phoenix yang ia taklukkan, semakin kuat ia. Namun, teknik ini dianggap melanggar tatanan langit, sehingga seluruh dunia kultivasi ingin membunuhnya.
"Dunia bilang aku terlarang? Baiklah… aku akan menikahi semua Phoenix dan membakar langit ini hingga hangus!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 : Sekte Fajar Besi Datang
Tiga orang dari Sekte Fajar Besi memasuki kediaman Klan Lin sejak pagi. Di depan berjalan seorang Tetua bernama Qian Tie, pria bertubuh besar dengan bahu lebar dan sorot mata tajam yang terbiasa memandang orang lain dengan sikap meremehkan. Jubah abu-abu yang dikenakannya dihiasi pelat logam halus di bagian bahu dan dada, lambang khas Sekte Fajar Besi.
Dua murid sekte mengikuti di belakangnya dengan langkah teratur.
Lin Hai menyambut mereka di aula tamu utama dengan senyum yang tampak ramah, meski dalam hati ia tahu pertemuan ini tidak sesederhana yang terlihat.
Negosiasi antara Klan Lin dan Sekte Fajar Besi telah berlangsung selama beberapa bulan.
Di permukaan, kerja sama itu terdengar menguntungkan. Sekte Fajar Besi menawarkan perlindungan, sumber daya kultivasi, serta kesempatan bagi generasi muda Klan Lin untuk bergabung dengan sekte mereka.
Namun kenyataannya jauh berbeda.
Yang diinginkan Sekte Fajar Besi bukanlah kerja sama.
Mereka menginginkan kendali.
Wilayah lembah timur milik Klan Lin mengandung logam kultivasi yang bernilai tinggi. Kabar itu sudah lama menyebar di kalangan klan dan sekte sekitar. Jika perjanjian disetujui, Klan Lin perlahan akan kehilangan hak atas wilayah tersebut hingga akhirnya hanya menjadi cabang kecil yang bergantung sepenuhnya pada Sekte Fajar Besi.
Lin Hai memahami hal itu.
Para tetua juga memahami hal itu.
Namun kondisi Klan Lin yang terus melemah membuat pilihan mereka semakin sedikit.
Ketika pertemuan hendak dimulai, seseorang melangkah masuk ke aula tanpa diundang.
Lin Chen.
Ia berjalan santai menuju salah satu kursi di samping dan duduk tanpa meminta izin.
Tidak ada yang menghentikannya.
Tidak ada yang tahu mengapa mereka tidak menghentikannya.
Tetapi sejak pertemuan dua hari lalu, kehadiran Lin Chen selalu menghadirkan perasaan yang sulit dijelaskan.
Tetua Qian melirik sekilas ke arahnya.
Hanya sekali.
Dalam penilaiannya, pemuda itu hanyalah anggota klan biasa yang tidak perlu diperhatikan.
Karena Lin Chen menyembunyikan auranya dengan sempurna.
"Aku rasa kita bisa melanjutkan pembahasan kemarin," kata Tetua Qian sambil memandang Lin Hai.
"Syarat yang kami tawarkan masih berlaku hingga akhir bulan. Setelah itu, Sekte Fajar Besi akan meninjau kembali nilai kerja sama ini."
Nada suaranya terdengar sopan.
Tetapi maknanya jelas.
Terima sekarang atau kehilangan kesempatan.
Lin Hai baru saja hendak menjawab ketika suara lain terdengar.
"Bolehkah saya mengajukan satu pertanyaan?"
Semua orang menoleh.
Lin Chen.
Tetua Qian mengerutkan kening.
"Siapa kau?"
"Anggota Klan Lin"
Lin Chen menyandarkan tubuhnya dengan tenang.
"Saya hanya penasaran mengenai salah satu isi perjanjian."
Tetua Qian menyipitkan matanya.
"Bagian yang mana?"
"Tentang hak pengelolaan wilayah lembah timur."
Lin Chen mengambil secarik kertas dari meja di sampingnya.
"Dalam dokumen ini disebutkan bahwa Klan Lin tetap memiliki hak kepemilikan dan pengelolaan nominal atas wilayah tambang."
Ia mengangkat pandangannya.
"Namun secara praktik, seluruh proses ekstraksi, distribusi, dan penjualan mineral akan berada di bawah kendali Sekte Fajar Besi."
Aula menjadi hening.
Tetua Qian tidak menjawab.
Lin Chen akhirnya melanjutkan.
"Artinya dalam lima tahun, Klan Lin hanya menjadi pemilik nama. Seluruh keuntungan nyata berada di tangan sekte."
Beberapa tetua mulai saling berpandangan.
Lin Chen membuka lembar berikutnya.
"Menurut catatan produksi tiga tahun terakhir, tambang lembah timur menghasilkan mineral kultivasi Kelas Tiga dengan nilai sekitar dua juta koin emas setiap musim panen."
Ia meletakkan kertas itu di meja.
"Dengan sistem pembagian yang diajukan Sekte Fajar Besi, Klan Lin hanya menerima sekitar tujuh belas persen dari keuntungan bersih."
Tatapan Lin Chen beralih kepada Tetua Qian.
"Sedangkan delapan puluh tiga persen sisanya masuk ke pihak sekte dengan alasan biaya pengelolaan, keamanan, distribusi, dan pengembangan."
Keheningan semakin terasa berat.
Lin Chen tersenyum tipis. "Menurut saya, itu bukan kerja sama."
Ia berhenti sejenak. "Itu akuisisi yang dibungkus dengan istilah yang lebih sopan."
Beberapa anggota Lin Clan langsung menahan napas.
Bahkan Lin Hai tidak menyangka Lin Chen akan mengatakannya sejelas itu.
Tetua Qian menatapnya lama.
Tatapan yang sebelumnya penuh meremehkan kini berubah menjadi waspada.
"Anak muda." Suaranya menjadi lebih dingin. "Kau tampaknya belum memahami seluruh biaya yang harus ditanggung sekte."
"Mungkin." Lin Chen mengangguk. "Tapi saya juga punya dokumen perhitungan lain."
Ia mengeluarkan beberapa lembar catatan dari dalam lengan jubahnya.
Semua data itu ia kumpulkan semalaman di perpustakaan klan.
Catatan produksi.
Biaya operasional.
Laporan perdagangan.
Dokumen yang selama bertahun-tahun tersimpan tanpa pernah benar-benar dianalisis bersama.
Lin Chen meletakkannya di atas meja.
"Saya memiliki beberapa pertanyaan tambahan."
"Saya juga ingin mengetahui alasan mengapa biaya distribusi yang diajukan Sekte Fajar Besi hampir tiga kali lebih tinggi dibanding tarif pasar."
Tatapan Tetua Qian langsung berubah.
Untuk pertama kalinya sejak memasuki aula ini, ia tidak lagi melihat Lin Chen sebagai pemuda biasa.
Ia melihat seseorang yang datang dengan persiapan.
Dan lebih berbahaya lagi...
Seseorang yang memahami angka.
Pertemuan yang seharusnya berlangsung singkat berubah menjadi perdebatan panjang.
Pertanyaan demi pertanyaan terus diajukan.
Data demi data terus diperlihatkan.
Setiap kali Tetua Qian mencoba mengalihkan pembicaraan, Lin Chen selalu mengembalikannya pada angka dan fakta.
Tidak ada emosi.
Tidak ada kemarahan.
Hanya logika.
Dan justru itulah yang paling sulit dilawan.
Menjelang sore, Tetua Qian akhirnya berdiri.
Wajahnya tetap tenang, tetapi semua orang di ruangan itu bisa melihat ketidakpuasan yang berusaha ia sembunyikan.
"Kami akan mempertimbangkan kembali beberapa rincian perjanjian."
Itulah satu-satunya kalimat yang ia tinggalkan sebelum berbalik dan pergi.
Dua murid Sekte Fajar Besi segera mengikuti di belakangnya.
Pintu aula tertutup dan keheningan menyelimuti ruangan.
Untuk pertama kalinya sejak negosiasi dimulai berbulan-bulan lalu, Sekte Fajar Besi pulang tanpa membawa persetujuan.
Dan untuk pertama kalinya pula, Lin Hai tidak merasa perlu meminta maaf atas hal itu.
Tatapannya tertuju pada Lin Chen.
Pemuda yang sebulan lalu dianggap beban bagi klan.
Kini justru menjadi orang yang menyelamatkan mereka dari kesepakatan yang hampir menjual masa depan Klan Lin.