"Bagaimana jadinya jika calon besanmu adalah mantan kekasih yang paling gagal kamu lupakan seumur hidup?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3. Ruang nostalgia
Ketegangan di meja itu mendadak naik satu oktaf. Kalimat formal yang baru saja Habibah ucapkan menguap begitu saja, digantikan oleh hawa panas yang menuntut penjelasan dari masa lalu.
Imam memajukan tubuhnya, menumpukan kedua lengannya di atas meja. Tatapan matanya yang semula lembut berubah menjadi tajam, sarat akan luka lama yang mendadak menganga kembali.
"Membahas anak-anak? Iya, kita pasti akan membahas mereka, Bah. Tapi sebelum itu, tolong jawab satu pertanyaanku yang menahan napasku selama tiga puluh tahun ini," suara Imam bergetar, menahan gejolak emosi yang membuncah. "Kenapa kamu menghilang begitu saja malam itu? Kenapa kamu membiarkan aku seperti orang gila menunggu di stasiun sampai kereta terakhir berangkat, tanpa ada kabar sama sekali?"
Habibah mendongak. Pertanyaan Imam laksana tamparan keras yang menyulut api kemarahan yang selama ini ia pendam sendiri. Air mata yang sejak tadi ia tahan kini mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Aku menghilang?" Habibah terkekeh sinis, sebuah tawa getir yang dipaksakan. "Kamu bilang aku menghilang, Mas? Setelah malam itu aku diseret pulang oleh Ayah, dikurung di kamar tanpa alat komunikasi, dan menangis darah setiap hari? Sementara kamu..."
Habibah menjeda kalimatnya, menunjuk Imam dengan jari yang gemetar. "Kamu justru bertanya kenapa aku menghilang? Pertanyaanku adalah: kenapa kamu tidak mencariku, Mas? Kenapa kamu tidak datang ke rumah untuk mendobrak pintu itu dan membawaku pergi? Kamu menyerah begitu saja pada gertakan Ayahku! Kamu pergi ke Jakarta dan membiarkan aku menikah dengan pria pilihan orang tuaku!"
"Aku datang, Bah!" potong Imam dengan suara setengah tertahan, tidak ingin membuat kegaduhan di kafe, namun nadanya begitu penuh penekanan. "Demi Allah, aku datang ke rumahmu seminggu setelah malam itu! Tapi apa yang aku lihat? Rumahmu sudah kosong. Tetanggamu bilang keluargamu sudah pindah ke luar kota karena kamu akan dinikahkan. Aku ini cuma anak miskin saat itu, Bah. Aku tidak punya koneksi, tidak punya uang untuk melacak kemana keluargamu pergi!"
"Tapi kalau kamu benar-benar cinta, kamu tidak akan berhenti di situ, Mas!" tangis Habibah akhirnya pecah juga. Ia buru-buru menyeka air matanya dengan tisu, mencoba mempertahankan sisa-sisa harga dirinya yang runtuh. "Kamu membiarkan egomu terluka karena miskin, lalu memilih melupakan aku."
"Aku tidak pernah melupakanmu, Habibah!" bentak Imam pelan, matanya memerah. "Kalau aku melupakanmu, aku tidak akan menyimpan foto kita di laci kamarku sampai hari ini!"
Mendengar pengakuan itu, Habibah tertegun. Gelas teh di hadapannya sudah mendingin, sedingin atmosfer yang mendadak hening di antara mereka setelah saling menumpahkan sumbat emosi yang tersumbat selama hampir tiga dekade.
Mereka berdua terengah-engah, bukan karena lelah fisik, melainkan karena lelah batin. Segala kesalahpahaman, rasa bersalah, dan takdir yang kejam terpapar jelas di atas meja kafe pagi itu.
Mereka sibuk berdebat, saling menyalahkan masa lalu, dan menyelami kembali rasa cinta yang ternyata tidak pernah mati, hanya tertimbun oleh waktu. Mereka terhanyut begitu dalam ke dalam ruang nostalgia yang menyakitkan, saling menatap dengan pandangan sarat kerinduan dan penyesalan yang terlambat.
Hingga tanpa mereka sadari, jarum jam sudah berputar jauh. Waktu sudah menunjukkan pukul dua siang.
Lonceng pintu kafe tiba-tiba berdenting, mengejutkan keduanya dari hipnotis masa lalu. Imam menoleh ke arah jam dinding, lalu beralih ke ponselnya yang sejak tadi berada dalam mode senyap.
Ada lima panggilan tak terjawab dari Ameera.
Habibah pun reflex memeriksa ponselnya. Di sana ada pesan dari Rayhan: [Ibu, bagaimana pertemuannya dengan Om Imam? Sudah ditentukan tanggal untuk pertemuan keluarga besar berikutnya? ]
Seketika, Imam dan Habibah saling berpandangan. Wajah mereka mendadak pias.
Imam mendapatkan nomor ponsel Habibah dari Ameera tentunya. Imam meminta nomor telepon ibunya Rayhan dengan alasan membuat janji untuk membicarakan tentang rencana pernikahan keduanya.
Mereka baru menyadari satu kebodohan besar yang mereka lakukan siang ini. Selama hampir empat jam duduk di kafe itu, mereka terlalu sibuk menguliti luka lama, saling menuntut penjelasan, dan menangisi cinta masa muda mereka yang kandas.
Mereka... benar-benar lupa menceritakan dan membahas rencana pernikahan Rayhan dan Ameera. Tidak ada satu kata pun tentang vendor, tanggal pernikahan, atau restu yang keluar dari mulut mereka. Yang ada di meja itu sejak tadi, hanyalah Imam dan Habibah dua orang mantan kekasih yang egois.
Kepanikan seketika merayap di sela-sela rasa bersalah yang membuncah. Dua orang paruh baya yang biasanya menjadi panutan bagi anak-anak mereka, kini bertingkah seperti remaja yang tertangkap basah melakukan kesalahan besar.
Tanpa banyak bicara lagi, Imam memanggil pelayan dan melunasi semua tagihan. Mereka melangkah keluar dari kafe dengan langkah terburu-buru, seolah-olah ruang nostalgia yang baru saja mereka masuki adalah tempat terlarang yang bisa meruntuhkan hidup mereka dalam sekejap.
Di pelataran parkir, di bawah terik matahari siang yang menyengat, Imam menatap Habibah yang masih sibuk merapikan hijabnya yang sedikit berantakan karena angin.
"Kita pulang sekarang, Bah," ujar Imam, suaranya kembali berat dan formal, mencoba mengubur kembali sosok Imam muda yang beberapa menit lalu sempat bangkit. "Kita tidak mungkin membahas anak-anak dalam kondisi pikiran sekacau ini."
Habibah hanya mengangguk lemah tanpa berani menatap mata Imam. "Iya, Mas. Aku juga harus pulang."
**
Rumah Imam.
Ameera sedang duduk di ruang tamu sambil memeriksa beberapa berkas undangan pernikahan saat Imam melangkah masuk. Wajah gadis itu langsung berbinar, namun sedetik kemudian berubah menjadi penuh selidik melihat sang ayah yang tampak kelelahan dan menghindari tatapannya.
"Papa dari mana saja? Aku telepon sampai lima kali tidak diangkat. Katanya tadi mau bertemu Tante Habibah jam sepuluh pagi? Bagaimana hasilnya? Sudah ada tanggal yang pas untuk pertemuan keluarga besar?" berondong Ameera bertubi-tubi sambil membuntuti ayahnya ke arah dapur.
Imam menuangkan air putih ke dalam gelas dengan tangan yang sedikit gemetar. Ia meneguknya perlahan, mencoba menyusun skenario di dalam kepalanya. Seumur hidup membesarkan Ameera, Imam hampir tidak pernah berbohong pada putrinya. Namun hari ini, demi menutupi aib masa lalu, ia terpaksa melakukannya.
"Maaf, Ameera. Tadi... Papa tidak jadi bertemu dengan ibunya Rayhan," bohong Imam, suaranya dibuat sedatar mungkin seraya meletakkan gelas.
Ameera mengernyitkan dahi heran. "Lho? Kenapa tidak jadi, Pa? Kan sudah janjian?"
"Tadi saat Papa baru sampai di dekat lokasi, Papa mendadak berpapasan dengan teman lama Papa waktu kuliah dulu. Dia baru pulang dari luar kota. Kami akhirnya malah keasyikan mengobrol di tempat lain sampai lupa waktu. Handphone Papa juga Papa senyap sejak kemarin," ucap Imam, memberikan alasan yang terasa masuk akal namun terasa begitu hambar di lidahnya sendiri.
Ameera menghembuskan napas kecewa, namun tidak menaruh curiga sama sekali. "Yah... Papa payah deh. Kasihan Tante Habibah kalau nungguin Papa."
Imam hanya tersenyum getir dalam hati. ‘Tante Habibah tidak menunggu Papa, Meer. Dia ada bersama Papa, menangis bersama Papa.’
**
Di Rumah Habibah.
Sementara itu, di kediamannya, Habibah baru saja meletakkan tas jinjingnya di atas meja rias saat Rayhan mengetuk pintu kamarnya yang terbuka. Pemuda itu bersandar di ambang pintu dengan senyum khasnya.
"Ibu sudah pulang? Gimana tadi obrolannya sama Om Imam? Lancar, kan? Rayhan sengaja tidak telepon Ibu tadi karena takut mengganggu diskusi serius antar-orang tua," tanya Rayhan antusias.
Habibah membelakangi putranya, berpura-pura sibuk membuka bros hijabnya di depan cermin agar Rayhan tidak melihat matanya yang masih sedikit sembab. Jantungnya berdegup kencang saat harus merangkai kebohongan untuk anak semata wayangnya.
"Ray... maaf ya, Nak. Pertemuan tadi... sebenarnya tidak jadi membahas tentang kamu dan Ameera," kata Habibah dengan nada bersalah yang dibuat-buat.
"Eh? Kenapa, Bu? Ada masalah?" Gurat kecemasan langsung terlukis di wajah Rayhan.
Habibah membalikkan badannya, memaksakan senyum seibu mungkin. "Tidak ada masalah, Ray. Cuma tadi... pas Ibu baru mau jalan, Ibu mendadak bertemu dengan teman lama Ibu di dekat komplek. Teman waktu di Kota S dulu. Karena sudah puluhan tahun tidak ketemu, kami malah keasyikan mengobrol dan bernostalgia di kafe sampai lupa waktu. Ibu sampai tidak enak mau hubungi Om Imam untuk menjadwalkan ulang."
Rayhan menghembuskan napas lega, lalu tertawa kecil. "Oalah, Ibu... Rayhan kira ada apa. Ya sudah tidak apa-apa, Bu. Berarti lain kali saja dicari waktu luangnya lagi bersama Om Imam. Ibu pasti kangen banget ya sama teman lamanya?"
Habibah merasakan dadanya seperti dihantam batu besar mendengarkan respons polos anaknya. Ia hanya bisa mengangguk pelan, menelan bulat-bulat rasa bersalah yang menyiksa batinnya.
"Iya, Ray... Ibu sangat merindukannya," bisik Habibah lirih, merujuk pada pria yang baru saja ia temui, bukan teman imajiner yang ia ciptakan sebagai alibi.
Malam itu, di rumah masing-masing, Imam dan Habibah sama-sama menyadari bahwa kebohongan pertama telah diucapkan. Dan untuk menutupi cinta tua yang kembali membara ini, mereka tahu mereka harus bersiap untuk kebohongan-kebohongan selanjutnya.
**