Kael Valmont adalah pewaris sekaligus pemimpin muda Shadow Crown, organisasi mafia yang mengendalikan segalanya dari balik bayangan. Dikenal kejam dan tak terkalahkan, tidak ada yang berani mengkhianatinya.
Namun suatu malam, seseorang berhasil menyusup ke dalam organisasinya. Pengkhianatan itu membuat Kael terluka parah dan menghilang tanpa jejak.
Di sebuah desa terpencil bernama Desa Sekar, Hana, seorang dokter muda, menemukan pria misterius yang terdampar di pesisir pantai dalam keadaan sekarat. Tanpa mengetahui identitasnya, Hana berjuang menyelamatkan nyawa pria tersebut.
Saat semua orang mengira ia hanyalah korban biasa, sebuah rahasia perlahan terungkap. Seseorang sedang mencarinya. Bukan untuk menolongnya, melainkan untuk memastikan ia tidak pernah bangun lagi.
Siapa sebenarnya pria misterius yang ditemukan di tepi pantai itu? Dan rahasia apa yang tersembunyi di balik lambang mahkota hitam yang terukir di tubuhnya?
Ketika masa lalu mulai mengejarnya, Desa Sekar yang damai
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keysa Bom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 15 Suara Pertama
Pagi itu, atmosfer di Desa Sekar terasa jauh lebih hidup dan bertenaga dari biasanya.
Semburat benang emas matahari baru saja menyembul di balik garis cakrawala laut saat Kael sudah melangkah mantap menyusuri jalan setapak menuju sekolah. Di sampingnya, seperti hari-hari yang lalu, Rani melangkah kecil dengan ritme riang. Tas kain kumal berayun di pundaknya seiring jemari mungilnya yang memeluk erat buku gambar kesayangannya.
Namun, ada sesuatu yang terasa sangat berbeda pada diri gadis kecil itu hari ini.
Sejak fajar menyingsing, raut wajah Rani tampak berkali-kali lipat lebih cerah. Berulang kali ia mendongak, mencuri pandang ke arah Kael, lalu menunduk lagi sambil menyunggingkan senyum lebar seolah-olah tengah menyembunyikan sebuah rahasia besar yang sangat manis.
Kael tentu tahu persis apa yang membuat suasana hati cucu Bu Ratih itu melambung tinggi. Kejadian semalam di halaman rumah panggung masih terekam jelas di benaknya. Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan terkunci rapat dalam sangkar trauma dan kesunyian, Rani berhasil meloloskan seuntai vokal dari tenggorokannya.
Meski hanya satu huruf vokal yang sederhana dan rapuh, Kael tahu... itu adalah sebuah ketukan awal yang berhasil retakkan dinding batunya.
Begitu Kael menggeser pintu kayu ruang kelas, kegaduhan khas anak-anak langsung menyambutnya bak air bah. Belum sempat Kael melangkah menuju meja guru atau sekadar meletakkan buku panduannya, belasan murid sudah berlarian maju, mengerumuni dan menyerbunya dengan rentetan cerita tanpa jeda.
"Pak Guru! Pak Guru! Kemarin sore saya ikut Bapak ke laut dan dapat ikan besar sekali!" seru seorang anak bertubuh gempal sambil merentangkan kedua tangannya lebar-lebar di udara.
"Pak Guru Kael, lihat aku! Ayam petelurku di rumah tadi pagi bertelur tiga sekaligus!" timpal murid perempuan di sebelahnya tidak mau kalah, melompat-lompat kecil.
Kael berdiri diam di tengah kepungan itu, memandangi wajah-wajah polos yang mendongak penuh harap padanya. Ia mengangkat kedua telapak tangannya terbuka, menenangkan gelombang antusiasme tersebut dengan senyuman tipis.
"Ayo, bicara satu per satu. Kalau kalian semua berteriak bersamaan seperti ini, telinga saya tidak bisa mengerti."
Seketika itu juga, anak-anak langsung tergelak renyah, sadar akan kehebohan yang mereka buat sendiri. Sementara itu, dari balik bingkai jendela luar kelas, Rani yang duduk bersila di bawah pohon memperhatikan interaksi itu dengan mata berbinar, tangannya bergerak lambat menggoreskan krayon di atas kertas.
---
Menjelang siang hari, kegiatan belajar mengajar dialihkan menjadi agenda gotong royong kecil untuk membersihkan halaman sekolah. Area pekarangan langsung dipenuhi keriuhan saat anak-anak mengayunkan sapu lidi, menjinjing ember plastik, dan mengumpulkan daun-daun kering dengan alat kebersihan seadanya yang mereka bawa dari rumah.
Kael pun turun tangan, melipat lengan kemejanya hingga siku untuk membantu membersihkan saluran air yang tersumbat tanah.
Di tengah kesibukan itu, Dokter Hana tampak berjalan memasuki gerbang sekolah. Kedua lengannya mendekap sebuah kotak kardus berisi puluhan polybag kecil berisi bibit tanaman hijau yang segar.
"Ini bibit tanaman obat kiriman dari Puskesmas kecamatan, Kael. Bagus untuk ditanam di halaman belakang sekolah sebagai apotek hidup," jelas Hana sembari menurunkan kardusnya di atas sebuah undakan semen.
Anak-anak yang melihat kedatangan sang dokter langsung berhamburan mendekat dengan rasa ingin tahu yang membuncah.
"Dokter Hana, aku mau ikut menanam!"
"Aku juga, Dok! Aku yang memegang cangkul kecilnya!"
Suasana pekarangan sekolah pun mendadak berubah menjadi kelas alam yang interaktif dan menyenangkan. Hana memanfaatkan momen itu dengan sangat apik.
Sambil mengotori tangannya dengan tanah bungkalan, dokter muda itu mengangkat satu per satu bibit tanaman di hadapan kerumunan murid.
"Nah, perhatikan semuanya. Ini namanya jahe, yang berdaun panjang ini kunyit, dan yang ini serai," ucap Hana telaten, menunjuk setiap bagian tanaman dengan ujung jarinya.
"Kalau suatu hari nanti perut kalian terasa kembung atau sakit ringan, tanaman-tanaman obat sederhana ini bisa diolah untuk membantu menyembuhkannya."
Anak-anak mendengarkan dengan raut wajah amat serius. Beberapa dari mereka bahkan langsung berjongkok, sibuk mencatat penjelasan Hana di atas buku tulis lecek menggunakan pensil yang sudah pendek.
Namun, di tengah suasana edukatif itu, selalu saja ada letupan kepolosan anak desa yang memicu tawa. Tepat saat Hana mengangkat sebuah pot berisi tanaman berdaging tebal dan berduri halus, seorang murid laki-laki di barisan depan mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
"Dokter Hana!"
Hana menoleh, menyeka keringat di pelipisnya dengan punggung tangan yang bersih. "Iya, ada apa?"
"Kalau lidah buaya itu dipotong lalu dipasang di lidah kita sendiri... apa kita nanti berubah jadi buaya sungguhan?" tanya anak itu dengan raut wajah tanpa dosa.
Keheningan sempat tercipta selama satu detik sebelum akhirnya seluruh pekarangan sekolah meledak dalam tawa paling riuh hari itu. Beberapa anak bahkan sampai terduduk di atas rumput sambil memegangi perut mereka.
Kael yang sedang bersandar pada gagang sekop terpaksa memalingkan wajahnya, menunduk dalam-dalam demi menyembunyikan kedutan di bibirnya yang berusaha keras menahan tawa agar tidak pecah.
Sementara itu, Hana hanya bisa menepuk dahinya sendiri dengan telapak tangan, mengembuskan napas pasrah sekaligus geli.
"Cara kerjanya sama sekali tidak begitu, Sayang," jawab Hana dengan sisa-sisa tawa di suaranya.
"Tapi kan namanya lidah buaya, Dok..." gumam anak itu lagi, yang langsung disambut oleh sorakan tawa teman-temannya yang semakin menjadi-jadi.
Sore pun merayap datang, menandakan aktivitas sekolah darurat telah resmi berakhir. Satu per satu murid mulai berkemas dan berpamitan untuk pulang ke rumah masing-masing.
Namun, sebelum kaki mereka benar-benar melangkah melewati gerbang, seorang murid perempuan mendadak menghentikan langkahnya dan berdiri tegak di hadapan teman-temannya yang lain, seolah memberi komando rahasia.
Anak perempuan itu membalikkan badan, menatap Kael yang masih merapikan sisa alat perkakas di bawah pohon ketapang.
"Pak Guru Kael..."
Kael menghentikan kegiatannya, mendongak menatap mereka. "Hm? Ada apa?"
"Kami... kami punya sesuatu untuk Bapak."
Anak-anak itu saling melempar pandang sejenak, lalu secara bersamaan mereka melangkah maju, mengerumuni Kael kembali. Kali ini, tangan-tangan mungil mereka terulur ke depan, menyodorkan berbagai macam benda yang sejak tadi mereka sembunyikan di dalam tas atau saku seragam.
Ada yang menyodorkan lipatan kertas berisi gambar pemandangan laut yang penuh warna, ada yang memberikan seikat bunga liar yang baru dipetik dari tepi jalan, beberapa anak menyodorkan kerang-kerang pantai beraneka bentuk yang indah, bahkan ada seorang anak yang dengan bangga menyodorkan dua buah mangga ranum yang tampak manis dari pekarangan rumahnya.
"Semua ini mau kami kasih untuk Pak Guru Kael," ucap mereka hampir bersamaan.
Kael seketika membeku di tempatnya berdiri. Kedua tangannya yang terbiasa memegang senjata dingin kini bergetar halus saat menerima tumpukan hadiah bersahaja tersebut. Jantungnya berdegup dengan ritme yang aneh.
"Kalian... kenapa memberikan ini?" tanya Kael menatap ke seluruh siswa nya.
"Karena kami semua sayang dan suka diajar sama Pak Guru."
"Iya, Pak! Kami senang sekali belajar sama Pak Guru Kael."
"Pak Guru jangan pergi dari Desa Sekar, ya..."
Rentetan kalimat polos penuh ketulusan itu terdengar bertubi-tubi, menghunjam langsung ke lubuk hati Kael yang paling dalam. Entah kenapa, sekat di dadanya mendadak terasa begitu sesak dan penuh bukan karena rasa sakit fisik, melainkan karena sebuah letupan emosi yang teramat asing yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.
Selama bertahun-tahun hidup di dunia hitam yang penuh intrik, Kael pernah ditakuti oleh lawan, pernah dihormati oleh bawahannya karena kekuatannya, dan pernah diburu seperti binatang oleh para musuhnya. Namun... belum pernah ada satu manusia pun di dunia ini yang menatapnya dengan binar kasih sayang yang murni dan tanpa pamrih seperti anak-anak ini.
Saat anak-anak akhirnya mulai berjalan pulang sambil melambaikan tangan riang, Kael masih berdiri mematung cukup lama di tengah halaman sekolah yang mulai sepi. Ia menunduk, memandangi rangkaian gambar, bunga, dan buah mangga di dalam pelukannya dengan tatapan tak percaya.
Hana yang sejak tadi memperhatikan pemandangan itu dari koridor berjalan mendekat, lalu berdiri tepat di samping Kael seraya menyunggingkan senyum lembut.
"Sepertinya, kau sudah resmi dinobatkan menjadi guru favorit di Desa Sekar."
Kael menarik napas panjang, mencoba menguasai kembali emosinya yang sempat goyah.
"Aku... tidak melakukan apa pun yang spesial untuk mereka."
"Itu justru alasannya," sahut Hana pelan, membuat Kael menoleh menatapnya. Dokter muda itu melanjutkan dengan tatapan penuh arti, "Kau mendengarkan suara mereka, Kael. Kau menghargai eksistensi mereka. Bagi anak-anak di desa terpencil seperti ini, hal sederhana itu jauh lebih berharga daripada yang bisa kau bayangkan."
Untuk beberapa saat, Kael tidak menyahut. Ia kembali melemparkan pandangannya ke arah jalan setapak tempat murid-muridnya menghilang di balik bukit. Perlahan, gumpalan es di wajahnya mencair, digantikan oleh sebuah senyuman tipis yang tulus sebuah ekspresi hangat yang kini jauh lebih sering muncul menghiasi wajahnya semenjak menginjakkan kaki di tempat ini.
✨✨✨✨
Malam harinya, atmosfer sunyi kembali menyelimuti rumah panggung Bu Ratih.
Kael dan Rani kembali mengambil posisi duduk berdampingan di atas halaman tanah depan rumah. Di atas mereka, langit malam membentang begitu megah, dipenuhi kilauan jutaan bintang yang berkedip di antara desau angin laut yang berembus lembut menyapu kulit.
Rani menaruh buku tulis dan pensilnya di atas pangkuan seperti ritual malam sebelumnya, siap untuk menulis. Namun, kali ini Kael mengulurkan tangan, menahan jemari Rani dan menggelengkan kepalanya perlahan.
"Tidak," ucap Kael pelan.
Rani menatap gurunya dengan raut wajah bingung, memiringkan kepalanya sedikit.
"Kita tidak akan menggunakan tulisan malam ini," lanjut Kael, lalu menyunggingkan sebuah senyuman penyemangat yang menenangkan. "Kita lanjutkan apa yang sudah kau mulai semalam."
Seketika itu juga, sepasang mata bulat Rani membelalak sempurna. Ia langsung menangkap maksud perkataan Kael. Tubuh kecilnya mendadak menegang kaku, diserang oleh rasa gugup yang luar biasa besar hingga jemarinya meremas ujung roknya sendiri. Namun, Kael tidak mendesak.
Pria itu hanya duduk diam, memberikan ruang dan waktu dalam kesabaran yang tak terbatas, menunggu kesiapan sang anak.
Beberapa puluh detik berlalu dalam keheningan yang magis. Rani memejamkan matanya, mengambil napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan seluruh keberanian yang tersisa di dalam relung jiwanya.
Perlahan, bibir mungilnya mulai terbuka, bergetar halus berusaha mendorong udara keluar dari pita suaranya.
"...A..."
Suara itu masih terdengar sangat pelan dan rapuh, namun intensitas volumenya jauh lebih jelas dan terarah dibanding malam sebelumnya.
Kael mengangguk mantap, gurat kebanggaan tercetak jelas di wajahnya.
"Bagus sekali, Rani."
Rani membuka matanya, tersenyum malu-malu mendengar pujian itu. Letupan keberanian baru mendadak membakar dadanya. Ia kembali mengatupkan bibir, mencoba menyusun sebuah struktur bunyi yang jauh lebih rumit, jauh lebih berat untuk menembus dinding traumanya.
Tubuhnya gemetar, dahinya sedikit berkerut menahan beban emosional yang bergejolak di dalam kepalanya. Ia mencoba sekali lagi, mendorong sekuat tenaga vokal dari tenggorokannya yang kaku. Dan akhirnya...
"...Ka..."
Kael seketika terpaku di tempatnya duduk, napasnya tertahan.
Rani sendiri menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan, matanya membelalak tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya sendiri. Suara itu... benar-benar keluar. Walau terdengar sangat serak, bergetar, dan terbata-bata, namun bunyi itu terdengar sangat nyata dan jelas di indera pendengaran mereka.
"...Ka..." Rani mengulangnya lagi, menurunkan tangannya dengan air mata yang mulai merebak hebat di pelupuk mata.
Seketika itu juga, bulir-bulir air mata luruh membasahi pipi tembam gadis kecil itu. Untuk pertama kalinya setelah enam bulan terperangkap dalam penjara sunyi tanpa suara, ia akhirnya berhasil melangkah lebih jauh mengucapkan lebih dari sekadar satu huruf vokal tunggal.
Kael mengulurkan tangannya yang besar, mengusap puncak kepala Rani dengan kelembutan yang menenangkan, menghalau rasa syok dan haru yang berlebihan pada anak itu.
"Pelan-pelan saja... kau sudah melakukannya dengan sangat luar biasa."
Rani mengangguk kuat-kuat dalam isak tangis kebahagiaannya, buru-buru menyeka air mata di pipinya menggunakan punggung tangan.
Di bawah naungan langit malam Desa Sekar yang begitu damai dan bertabur bintang, kedua jiwa yang sama-sama menyimpan luka itu duduk berdampingan dalam keheningan yang kini terasa penuh arti. Dan jauh di dalam lubuk hatinya, Kael akhirnya menyadari satu hal.
Kehidupan bersahaja di desa nelayan ini, yang awalnya ia pilih hanya sebagai tempat pelarian dan persembunyian sementara dari kejaran maut, kini perlahan-lahan telah bermutasi menjadi sesuatu yang jauh lebih berharga.
Sebuah tempat pulang. Sebuah keluarga baru yang utuh. Dan sebuah kehidupan normal yang kini... mulai memercikkan keinginan kuat di dalam dadanya untuk dijaga dan dipertahankan dengan taruhan nyawanya sendiri.
Bersambung