Tiba-tiba jadi keluarga mafia?!!!
Itulah yang dirasakan oleh seorang gadis cantik bernama Lily. Takdirnya secara mendadak membawanya pada dunia gelap yang tak pernah ia tahu sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nanastar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seblak
Kala itu langit mulai menggelap. Awan-awan putih terlihat menghiasi cakrawala yang mulai redup. Cahaya kuning jingga mulai menghilang meninggalkan sisa-sisa kehangatan pada bumi. Moment Yang cukup indah, namun tak cukup indah untuk membuat suasana hati seorang gadis yang terus menerus menggerutu dimeja makan.
"Kakak! Pengen seblak!" Tuturnya dengan wajah merajuk. Sejak kapan gadis ini menjadi kekanakan? Pikir pemuda yang sedang berdiri dibibir pintu dapur. Ia menatap sang gadis dengan datar mencoba untuk mengabaikannya.
"Tuh minta bi Iroh sana" Tunjuknya dengan dagu pada seorang perempuan paruh baya yang tak jauh dari mereka yang sedang melahap seblak.
"Hum!! Itu seblak aku tau! Kenapa malah kakak kasihin ke bi Iroh sih? Capek-capek aku mesen itu terus nungguin dari siang ampe sore tapi kakak malah ngasihin seblak itu ke bi Iroh?! Tega kakak!" Gadis itu memukul-mukulkan sendok plastik seblaknya ke meja. Ia sangat sangat kesal atas apa yang dilakukan kakaknya itu.
"Kan udah gue bilang, gak boleh makan pedes. Kalo lo sakit siapa yang repot, ha?" Seolah mengejek ia merotasikan bola matanya malas. Gadis ini selalu saja membuatnya tidak tenang.
"Ceh! Kalo aku sakit, bi Iroh yang ngurusin! Ahk! Kakak nyebelin banget!" Gadis itu pun langsung beranjak pergi dari ruangan yang di penuh aroma menggoda baginya, wangi seblak yang semerbak. Padahal ia sedang mengidamkan seblak setelah sekian lama ia tidak memakannya, tapi apalah daya.
"Den Zevan, ini gak papa bibi yang abisin?" Tanyanya yang merasa bersalah melihat Lily merajuk.
"Tenang aja bi, Kan saya yang nyuruh. Lily gak bakalan marah kok" Ujarnya kemudian pergi meninggalkan bi Iroh sendirian didapur.
"Ck! Gara-gara mang paketnya sih tadi bilang ini seblak! Huh!" Gadis itu nampak begitu kesal bukan main. Ia meraih ponselnya dan melihat notif-notif yang berdatangan. Aneh, kenapa notifnya yang sekarang banyak berkomentar negatif?
Wiih gila cantik! Tanktopnya warna item dong!
Kurang bawah
Ah menghoda bgt kmu di Twitter
Lily mengerjap heran, Twitter? Ia tidak pernah membuat akun di aplikasi itu. Apa maksud komenan-komenan gak jelasnya ini? Namun diantara semua komentar, hanya ada satu yang membuatnya tertarik untuk membalasnya, yaitu...
Kamu seksi banget sih, bitch❤️
Bitch? Terdengar seperti kelinci lucu bukan? Apa itu artinya dia sedang mengatakan bahwa dirinya seperti kelinci yang seksi?
"Kalo nanyain kakak... Hum gak deh! Mening bales aja dulu!" Lily pun mengetik sesuatu.
Makasiiii
Jangan hujat Lily yang so' polos itu. Dia ini adalah seorang ABG yang masuk ketubuh seorang gadis anak SMA kelas 11. Sudah tentu umurnya pun berbeda 3 tahun dari umur yang seharusnya. Lily yang dinovel berumur 17+ tahun, sedangkan Lily yang baru masuk kedalam tubuh itu berusia 14 tahun. Belum lagi kawasan tempat tinggal Lily yang baru ini jauh dari kata kota yang gaul. Jadi ia rada asing dengan dunia novel ini.
"Hm ada yang DM, apa ini? VCS?" Heranya. Lalu ia mencoba mengingat sesuatu.
"Heh kalian kalo mau pesen barang terus ngomong picis harus jelas ya! Jangan sampe salah jadi VCS! Ntar para cowok salfok dengernya hahaha!" Ucap kakak kelasnya saat sedang mengadakan acara seminar benar.
"VCS apaan kak?" Tanya gadis disebelah Lily yang sama tidak taunya.
"Kalian belum tau VCS?! Hahaha anjirlah polos banget!" Kakak kelasnya itu malah tertawa.
"VCS itu, Vidio call syariah! Hahahaha" Semua orang yang berada disana tertawa saat sedang mengerjakan dekor panggung. Terkecuali Lily dan gadis yang berada disampingnya yang malah terlihat bego.
"Ngapain nih orang ngajakin aku Vidio call syariah? Aku kan bukan ustadzah" Ketusnya lalu tidak menghiraukan pesan itu. Ia memilih untuk scroll Vidio lucu saja. Seperti yang saat ini sedang ia lihat.
"Hahahaha!" Tawanya menggelar keseluruh ruangan rumah. Tak henti-hentinya ia terus tertawa sampai lupa waktu.
. . . . .
Kriiing!!
Suara jam weker berbunyi keras memenuhi ruangan itu. Gadis yang masih terlelap itu langsung bangun terkejut. Dikiranya tadi ada apaan, panik kan dia!
"Ish jam sialan! Kalo aku jantungan bisa mati dadakan lagi!" Dengusnya lalu pergi mandi.
Tak lama kemudian, ia pun bersiap untuk sekolah. Kenapa pintunya tidak ada yang mengetuk? Mungkin biasanya bi Iroh akan membangunkannya kan seperti kemarin pagi? Dengan wajah penuh tanya ia pun keluar kamar. Terlihat sepi bak rumah kosong tak berisi.
"Kak? Bi Iroh?" Panggilnya saat menuruni tangga satu persatu. Ia melihat sekeliling rumahnya yang entah mengapa rasanya dingin. Suasananya pun sunyi tak seperti biasanya.
"Lily! Jangan kesini! Bi Iroh... " Zevan menggantungkan ucapannya sambil menghampiri Lily yang sudah hampir di bawah lantai 1.
"Bi Iroh kenapa kak?" Tanya Lily heran.
"Dia... Keracunan makanan, kata polisi akibat seblak yang kemarin lo makan! Kemarin lo sempet makan kan seblaknya dikit?! Balik ke kamar! Nanti gue panggilin dokter!" Ucapnya dengan wajah muram. Lily menutup mulutnya tak percaya atas apa yang ia dengar. Kenapa bisa seblaknya beracun? Bukankah ia memesanya secara online? Apakah tukang seblaknya itu hatter's nya di tik tok? Tapi yang paling penting adalah...Apakah bi Iroh baik-baik saja?!
"Hiks... Kak! Maafin aku! Aku gak tau seblaknya ada racunnya! Kak Zevan! Bi Iroh gimana kabarnya?!" Tanya Lily sambil mengayunkan tangan Zevan pelan. Ia sungguh merasa bersalah atas pasca keracunannya bi Iroh.
"Sekarang, lo gak boleh masuk sekolah dulu, kurangin juga interaksi sama orang lain! Faham?!" Zevan memegang kedua bahu Lily erat. Entah kenapa saat ini Zevan merasa ada sesuatu yang tidak beres. Hal apa yang telah dilakukan adiknya ini?
"Percaya sama gue, semuanya akan membaik seperti semula. Oke?! Sekarang masuk kamar!" Titahnya yang langsung diangguki Lily. Ia pun menaiki tangganya lagi dengan sedih. Bi Iroh, walaupun baru beberapa hari bertemu, rasanya Lily sudah akrab dan nyaman denganya. Sikapnya mengingatkannya pada ibunya yang dulu.
Ditengah rumah terlihat seorang perempuan paruh baya terlentang dengan mata merah melotot dan busa merah dimulutnya. Kondisinya terlalu mengerikan jika dilihat oleh gadis lugu seperti Lily. Jadi saat Zevan mendengar langkah kaki, ia langsung tau bahwa itu pasti Lily. Makannya ia mencoba melindungi gadis itu dari rasa takut. Kenapa sepertinya ada sesuatu yang berusaha mengincar Lily?!
"Gue sebenarnya takut, takut kehilangan lo, Lily. Dan papa bakalan marah banget sama gue karena gak becus jagain anak kucing kayak lo" Gumamnya pelan lalu mulai menelpon seseorang dan dokter untuk memeriksa Lily. Entah sejak kapan Zevan jadi berpikiran seperti itu. Tidak, sedari awal memang tidak seperti itu.
"AAAAAAAA!!!"
Suara teriakan Lily seakan menggema ditelinga Zevan saat suara itu terdengar menggema mengisi seisi rumah. Buru-buru Zevan berlari menuju kamarnya Lily. Apa lagi yang terjadi pada gadis itu?! Cemasnya. Sudah dipastikan, ada sesuatu yang mengincar Lily atau bahkan justru dirinya.
Bersambung
SEE YOU!