Dia tidak pernah terlihat.... tapi selalu ada.
“Kalau abang serius… kamu mau kenalin abang ke dia?”
Hanif tidak pernah benar-benar muncul di depan Riyani. Namun ia tahu banyak tentangnya—lebih dari yang seharusnya.
Dari kebiasaan kecil, cara berbicara, hingga senyum yang diam-diam ia tunggu.
Melalui adiknya, Hanif memilih jalan yang tidak biasa: mendekati Riyani tanpa pernah benar-benar “hadir” sebelumnya.
Tapi…
bisakah seseorang menerima cinta dari orang yang hampir tidak pernah ia sadari keberadaannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chocoday, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa Sakit
Tirai ranjang bersekat dibuka, seseorang datang dengan wajah khawatirnya.
"Dia kenapa La?" tanya Hanif cemas.
"Dia....."
"Dia kenapa La?"
Seyila mendekat pada abangnya.
"Ini Bang. Laporan data Riyani."
Hanif membaca semuanya.
Pandangannya beralih pada gadis yang masih terbaring dengan selang infus terkait kali ini.
"Dia.... kenapa bisa kayak gini?"
"Mungkin Riyani stres karena masalah di rumahnya, ditambah lagi belum lama ini dia diselingkuhin sama mantannya," jelas Seyila.
"Kamu udah ngobrol sama orang tuanya?"
Seyila menggeleng.
"Keadaan keluarganya lagi gak begitu baik, Bang."
"Keponakannya harus dirawat juga."
Hanif menghela napasnya.
Panggilan masuk pada ponsel Riyani membuat Seyila segera menyambungkannya.
"Assalamualaikum Nek, ini Yila temennya neng. Masih ingat kan?"
(Waalaikumsalam Yila. Masih dong, kalian kan sering mampir ke toko kue.)
(Tapi Neng kemana ya? Ini udah malam kok belum pulang. Terus kata pak supir tadi dia suruh pulang duluan aja)
"Neng lagi sama Yila kok, Nek."
(Syukurlah kalau lagi sama kamu)
(Tapi kenapa di rumah sakit? Kamu gak lagi sakit kan?)
"Enggak, Nek. Tadi Neng mungkin mau tau keadaan Haikal yang dibawa ke rumah sakit. Tapi pas ke sini, dia juga harus ikut dirawat karena gerd nya kambuh."
(Astaghfirullah itu anak. Nenek sekarang ke sana, tapi sebelum sampai tolong jagain dia dulu ya Yila)
"Iya Nek. Tapi di sini juga ada bapak sama mamahnya kok."
(Gak apa-apa. Nenek sama kakek pokoknya mau ke sana)
"Ya udah kalau gitu Nek. Nanti kalau udah sampai di depan kasih tau Yila aja ga?"
(Iya Yila)
...----------------...
Jam sudah menunjukkan pukul 1 dini hari, Riyani terbangun karena merasa haus. Pandangannya mulai terlihat, tirai menutup setiap sisinya—dan ada seseorang yang kini membungkuk tidur pada tepian ranjang.
(Dia—bukannya dokter yang periksa Haikal kemarin?)
(Kenapa ada di sini? Nungguin aku?)
Merasa ada gerakan, Hanif terbangun. Lelaki itu tersenyum tipis.
"Alhamdulillah kamu sudah sadar."
"Dokter..... jagain saya? Kenapa?"
"Oh... —"
Hanif menjulurkan tangannya.
"Saya belum kenalan sama kamu. Saya Hanif, abangnya Yila."
(Oh ini abangnya yang katanya jarang pulang itu. Ganteng!!!!)
"Ri!?"
"Oh iya... salam kenal Dokter Hanif," ucapnya sembari membalas uluran tangan hanif.
Rasa canggung hadir setelahnya.
"Saya tadi tungguin kamu karena Yila harus pulang ke rumah. Ada sepupu yang datang, jadi saya yang tunggu kamu di sini," jelas Hanif.
"Makasih Dok... tapi saya gak ganggu kerjaan dokter kan?"
Hanif menggeleng.
"Saya lagi jaga siang. Sekarang sudah gak dinas kok."
Riyani mengangguk.
Tiba-tiba wanita itu menunduk.
"Kenapa Ri? Ada yang sakit?"
"Keluarga saya.....—"
Hanif sempat terdiam.
"Tadi nenek sama kakek kamu ke sini. Cuman saya suruh pulang karena kasian kalau mereka nungguin kamu di luar ruangan juga kan."
"Maaf kalau saya lancang!"
Riyani menggeleng dengan sedikit senyuman.
"Gak apa-apa, Dok. Justru saya mau bilang terima kasih, nenek sama kakek udah berumur. Saya juga gak bakal tega kalau liat mereka jagain saya di luar."
"Orang tua saya gimana?"
"Orang tua kamu juga pulang. Dia titipkan kamu sama Yila, terus Haikal juga dirujuk ke rumah sakit yang lain sama ayahnya," jelas Hanif.
Riyani terdiam.
Menunduk.
Tidak lama setelahnya, terdengar suara lirihan.
Tangisan yang hampir tidak ada suaranya.
Tangannya meremas perut yang kembali menegang.
Lirihan tangisan itu berubah menjadi rasa sakit yang memeras semua organ di tubuhnya.
Hanif dengan sigap memintanya untuk berbaring kembali. Ia memeriksa dengan fokus, menekan sedikit perut atas Riyani—sontak membuat wanita itu meringis kesakitan.
"Tunggu ya! Saya panggil dokter jaga dulu."
Tidak lama, rekan kerja Hanif datang. Memberikan obat yang dimintanya untuk disuntikan agar reda rasa sakitnya.
Riyani kembali sedikit tenang, bahkan terlelap begitu saja.
...----------------...
Pagi berikutnya, Riyani terbangun. Pandangannya mengedar pada ruangan yang berbeda—dia sudah ada di ruang perawatan.
Nenek dan kakeknya sudah ada di sana, menunggunya dengan setia sejak subuh tadi.
"Neng gimana? Masih ada yang sakit?" tanya nenek cemas.
Tanpa menjawab, Riyani langsung memeluk neneknya—menangis dengan rasa sakitnya selama ini. Tidak peduli dengan sakit yang meremas perutnya, ditambah darah yang mulai naik pada selang infusan.
Beberapa waktu, Riyani merasa sudah tenang. Dokter dengan beberapa perawat datang untuk memeriksa.
Hanif mengulas senyumannya.
"Gimana Ri? Masih sakit banget gak perutnya?"
Riyani menggeleng.
Wajahnya masih pucat pasi.
"Ada sedikit sakit tapi gak separah semalam, Dok."
"Syukurlah kalau gitu. Saya ganti infusnya ya?"
Riyani mengangguk.
Perawat yang baru saja akan mengganti infusnya hanya menoleh bingung bersama rekan satunya.
Hanif memang dokter yang ramah pada setiap pasien apalagi anak kecil. Tetapi bukan seperti ini, jika pada Riyani ini seperti perlakuan yang spesial dan sangat dekat.
Dokter muda nan tampan itu bahkan memperhatikan sampai detailnya. Apalagi dengan makanan Riyani selama menjadi pasien di rumah sakit tempatnya bekerja.
...----------------...
Hari berlalu, Riyani meminta nenek dan kakeknya untuk kembali pulang. Dia tidak akan tega melihat keduanya harus menjaga dirinya di rumah sakit.
"Tapi kamu sama siapa di sini?" tanya nenek.
"Kan ada perawat, ada dokter juga Nek. Jadi gak usah khawatir."
"Dokter Hanif maksudnya?" goda kakek.
"Apaan sih kakek."
"Loh kan emang iya, semalam aja waktu di IGD dia yang jaga kamu. Dia yang menjamin keselamatan kamu juga,"
"Tapi itu cuman karena dia kakaknya temen aku,"
"Kakek pernah muda, Neng. Tatapannya gak begitu sama yang lain, beda sama kamu,"
"Kek udah deh. Gak enak kalau didenger sama yang lain. Sekarang kalian pulang aja, Neng baik-baik kok sendirian di sini. Nanti kalau ada apa-apa pasti neng hubungi kalian."
"Janji ya?"
Riyani mengangguk.
Selepas nenek dan kakeknya pergi, Riyani keluar dari ruangannya. Duduk pada bangku taman seorang diri sembari memperhatikan sekitar.
Anak kecil pada ayunan dengan orang tuanya, atau orang-orang yang berlalu-lalang membawa bekal untuk menjenguk seseorang.
Helaan napasnya terdengar.
Tatapan kosong pada kolam ikan itu membuat pandangan seseorang tidak lepas darinya.
Seseorang memasangkan jas putih pada punggungnya.
Riyani mendongak.
"Dokter Hanif!?"
"Kenapa keluar gak pake jaket sih? Kan udaranya mulai dingin, kamu kan lagi gak baik."
"Saya gak bawa banyak baju, makanya gak pake jaket."
(Kata Yila, dia lagi ada masalah di rumahnya)
"Saya boleh duduk temenin kamu gak?"
Riyani mengangguk dengan sedikit senyuman.
"Ri!?"
"Iya?"
"Saya boleh gak kalau pengen lebih banyak mengenal kamu?"
Riyani menoleh.
Wajahnya terlihat bingung.
Dalam hatinya, apa dia tidak salah dengar?
"Sebenernya saya udah minta Yila buat bicara sama kamu. Cuman waktu itu, keburu kamu sakit dan dirawat di sini,"
"Tapi kan.... Dokter belum pernah ketemu sama saya, terus baru mengenal saya. Kenapa mau kenal lebih banyak tentang saya?"