NovelToon NovelToon
Lencana Cinta Sang Kapten

Lencana Cinta Sang Kapten

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Militer
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Adeeva Zamira Arjunka tidak pernah menyangka bahwa sifat pemberontaknya justru menjadi alasan ia terjebak dalam pernikahan militer. Seharusnya, Kak Adiba—kembarannya yang sholehah dan lembut—lah yang bersanding dengan Kapten Shaheer Ali. Namun, sang perwira pasukan khusus itu secara mengejutkan justru menjatuhkan pilihan pada Adeeva, si gadis keras kepala yang terang-terangan membenci dunia militer.
Terpaksa menggantikan posisi kakaknya, Adeeva masuk ke kehidupan Shaheer dengan dendam dan penolakan. Baginya, lencana dan seragam hijau Shaheer adalah simbol pengekangan. Namun, perjalanan takdir adiba ke tanah Mesir dan kehadiran buah hati di balik pagar pinus perlahan mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertukaran di balik cadar

Malam itu, suasana di kamar Adiba terasa sangat kontras dengan kamar Adeeva. Wangi kayu cendana dan tumpukan kitab tertata rapi, sementara di atas tempat tidur, berbagai formulir aplikasi visa Universitas Al-Azhar dan paspor sudah berserakan. Adiba duduk dengan wajah pucat, sementara Adeeva baru saja masuk lewat balkon—kali ini dengan wajah yang sama kusutnya.

"Aku tidak bisa, Deeva. Waktunya benar-benar berhimpitan," suara Adiba terdengar gemetar.

Adeeva melempar tasnya ke kursi. "Apanya yang tidak bisa? Abi sudah menjodohkanmu dengan tentara itu, kan? Tinggal jalani saja. Bukannya itu yang selama ini kamu lakukan? Jadi anak penurut?"

Adiba menggeleng cepat. Ia memegang tangan adiknya. "Visa Mesirku keluar, tapi ada kesalahan data di bagian nama belakang. Aku harus datang sendiri ke kantor kedutaan di Jakarta besok pagi untuk verifikasi sidik jari dan dokumen tambahan. Masalahnya, besok Abi sudah menjadwalkan keluarga Jenderal Ali datang untuk pengukuran baju dan diskusi pernikahan di butik milik kenalan Umi."

Adeeva mengerutkan kening. "Lalu? Suruh saja Abi tunda urusan baju itu."

"Kamu tahu Abi, Deeva. Baginya, janji pada Jenderal Ali adalah kehormatan. Kalau aku bilang aku mau ke kedutaan, Abi akan tahu aku masih nekat mau ke Mesir. Beliau pasti akan menahan pasporku," Adiba menatap Adeeva dengan tatapan memohon. "Hanya satu hari, Deeva. Tolong gantikan aku ke butik. Pakai abaya dan cadarku. Tidak akan ada yang tahu karena wajah kita identik."

Adeeva tertawa hambar. "Kamu gila? Aku disuruh jadi pengantin pengganti buat ukur baju? Sama pria yang kemungkinan besar bakal jadi suamimu? Bagaimana kalau dia mengajakku bicara?"

"Cukup diam dan mengangguk. Katakan saja kamu sedang tidak enak badan atau sedang puasa bicara. Tolong, Deeva. Kalau visa ini tidak beres, mimpiku kuliah di Mesir hilang. Aku ingin berbakti pada Abi, tapi aku juga ingin belajar," Adiba mulai terisak.

Adeeva terdiam. Melihat kakaknya yang selalu tegar itu menangis, ada bagian dari dirinya yang melunak. Lagipula, ia merasa berutang karena Adiba sering menutup-nutupi kenakalannya di depan Abi.

"Oke, satu hari saja. Tapi kalau tentara itu macam-macam, aku tidak tanggung jawab ya," gerutu Adeeva.

Keesokan harinya, di sebuah butik pengantin kelas atas di pusat kota, Shaheer Ali sudah menunggu bersama ibunya. Ia mengenakan kemeja batik yang rapi, tampak lebih santai namun tetap terlihat berwibawa.

"Shaheer, jangan terlalu kaku. Adiba itu gadis lembut, jangan kamu interogasi seperti anak buahmu di markas," tegur Ibunda Shaheer sambil tersenyum.

"Siap, Bu. Saya hanya ingin memastikan semuanya berjalan lancar," jawab Shaheer singkat.

Tak lama kemudian, sebuah mobil dari pondok sampai. Adeeva turun dengan perasaan sangat tidak nyaman. Ia mengenakan abaya longgar berwarna cokelat tua dan cadar yang menutupi separuh wajahnya. Matanya yang tajam tertutup oleh kesan teduh yang dipaksakan.

Sial, pengap sekali, batin Adeeva di balik kain cadarnya.

Saat melangkah masuk ke butik, pandangan Adeeva langsung bertumbukan dengan Shaheer. Jantungnya seolah berhenti berdetak.

Pria ini... ini kan tentara yang kemarin di parkiran! Adeeva hampir saja berteriak jika ia tidak ingat sedang menyamar.

Shaheer pun menyipitkan mata. Ia berdiri dan memberikan salam hormat kecil. Ia menatap mata gadis di depannya. Mata itu sangat mirip dengan mata gadis pemberontak kemarin, tapi hari ini terlihat lebih "tenang" meski ada gurat kegelisahan di sana.

"Assalamu’alaikum, Adiba," sapa Shaheer dengan suara rendah.

Adeeva hanya mengangguk pelan, kepalanya menunduk dalam sesuai instruksi Adiba.

"Maaf, Nak Shaheer, Adiba sedang kurang sehat tenggorokannya, jadi mungkin tidak banyak bicara hari ini," ujar pengasuh pondok yang menemani Adeeva.

Shaheer hanya mengangguk, namun insting perwiranya merasa ada yang aneh. Cara berjalan gadis ini tidak seanggun yang ia bayangkan dari seorang santriwati senior. Ada langkah yang sedikit menghentak, seolah ia sedang menahan kekesalan.

"Silakan, Mbak Adiba, kita ukur dulu badannya untuk gaun akad," ujar desainer butik itu mengajak Adeeva ke ruang ganti.

Di dalam ruang ganti, Adeeva menghela napas lega karena jauh dari tatapan Shaheer. Namun, masalah baru muncul. Saat ia melepas abayanya untuk diukur, si desainer tertegun melihat tato temporer kecil berbentuk bunga di lengan atas Adeeva (hasil iseng bersama Alesha minggu lalu).

"Loh, Mbak Adiba punya tato?" bisik desainer itu kaget.

Adeeva melotot. "Ssst! Ini stiker hadiah chiki! Jangan berisik atau aku batalkan pesanan ini!" ancam Adeeva dengan suara aslinya yang serak dan ketus.

Desainer itu mengangguk ketakutan. Ia merasa heran, kenapa calon istri seorang perwira yang katanya sholehah ini bicaranya seperti preman pasar.

Setelah pengukuran selesai, Adeeva keluar dan mendapati Shaheer sedang berdiri di dekat rak jas pengantin. Tidak ada orang lain di sana karena ibu Shaheer sedang ke toilet.

"Adiba," panggil Shaheer tiba-tiba.

Adeeva berhenti melangkah, membelakangi Shaheer.

"Kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Shaheer.

Adeeva menggeleng cepat tanpa menoleh.

"Suaramu saat mengancam desainer di dalam tadi... terdengar sangat familiar. Seperti seseorang yang hampir saya tabrak kemarin," lanjut Shaheer dengan nada menyelidik. Ia melangkah maju, memperpendek jarak.

Adeeva membalikkan badan, mencoba mempertahankan aktingnya. Ia menatap Shaheer dengan mata yang dibuat sayu. Ia mengambil buku kecil dari tasnya dan menulis: "Mungkin hanya perasaan Anda saja, Letnan."

Shaheer membaca tulisan itu dan tersenyum tipis. "Pangkat saya Kapten. Dan saya punya ingatan yang sangat kuat terhadap wajah, bahkan hanya dari sorot mata. Tapi baiklah, jika kamu bilang begitu, saya percaya."

Adeeva segera berlalu pergi meninggalkan butik dengan perasaan dongkol. Ia tidak sadar bahwa di luar butik, sebuah mobil sedan hitam terparkir. Revian Alfie sedang duduk di sana dengan rahang mengeras. Ia melihat "Adeeva" yang memakai pakaian syar’i keluar bersama seorang pria berseragam.

"Jadi ini alasan kamu memutuskan aku, Deeva? Kamu mau jadi istri tentara?" gumam Revian penuh amarah.

Di saat yang sama, di Jakarta, Adiba sedang berjuang dengan antrean kedutaan, tidak tahu bahwa penyamaran adiknya baru saja mulai memicu bom waktu yang siap meledak kapan saja.

Happy reading sayang...

Baca juga cerita bebu yang lain...

Annyeong love...

1
Fauziah Rahma
👍
Ana
lbjut
Titik Sofiah
awal yg menarik ya Thor moga konfliknya nggak trllau berat 😍😍😍
Ana
lnjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!