NovelToon NovelToon
Istri Nakal Dari Pesantren

Istri Nakal Dari Pesantren

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mystique17

Raina Azzahra, gadis tomboy berusia 20 tahun dari Surabaya yang dikenal sebagai preman kecil — bandel mulut, keras kepala, dan suka melawan aturan agar disegani. Dipaksa mondok di Pesantren Salafiyah Al-Hidayah di Pasuruan, ia bertemu Gus Haris, ustadz muda tampan yang sabar dan lemah lembut.
Tanpa diduga, Raina dijodohkan dan dinikahkan dengan Gus Haris. Awalnya Raina memberontak habis-habisan dengan sikap nakalnya, tapi kesabaran dan kelembutan Gus Haris perlahan meluluhkan hatinya yang keras.
Cerita slow-burn tentang seorang gadis nakal yang berubah menjadi istri di pelukan ustadz saleh, penuh momen manis seperti anak kecil sekaligus dewasa penuh kasih sayang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mystique17, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelajaran Pertama yang Pahit

Siang itu matahari Pasuruan terasa cukup terik meski sudah memasuki musim hujan.

Raina duduk di kelas pengajian kitab kuning bersama puluhan santriwati lain. Ruangan itu sederhana, hanya ada tikar hijau yang digelar di lantai, papan tulis kayu, dan bau buku tua yang khas. Semua santriwati duduk rapi dengan gamis dan kerudung, sementara Raina masih memakai kemeja hitam dan rok pendeknya yang sama.

Gus Haris berdiri di depan sebagai pengajar hari ini.

Suara nya yang lembut dan tenang membacakan kitab dengan tartil yang indah. Sesekali ia menjelaskan makna ayat dengan bahasa yang mudah dipahami, penuh kesabaran.

Raina duduk di barisan belakang, tangannya memegang kitab tapi matanya sering melirik ke luar jendela. Pikirannya tidak berada di sana. Ia masih memikirkan tatapan santri tadi pagi, bisikan mereka, dan percakapan singkat dengan Gus Haris di bawah pohon.

“Tadi pagi ada yang bilang gue kasihan sama lo,” gumam Raina dalam hati sambil melirik Gus Haris yang sedang menjelaskan.

“Padahal gue yang paling kasihan di sini.”

Tiba-tiba suara Gus Haris memanggil namanya.

“Raina, coba baca ayat berikutnya dan jelaskan artinya menurut pemahaman kamu.”

Raina tersentak. Semua mata langsung tertuju padanya.

Beberapa santriwati saling pandang, ada yang tersenyum kecil, ada yang menahan tawa.

Raina menggenggam kitabnya lebih erat. Ia membuka halaman yang ditunjuk dengan gerakan kaku, lalu membaca ayat itu dengan suara datar dan cepat, hampir tanpa nada.

“...artinya… ya, pokoknya tentang sabar lah,” jawabnya asal-asalan setelah selesai membaca.

Ruangan langsung hening sejenak. Beberapa santriwati menutup mulut dengan tangan, berusaha menahan senyum atau bisikan.

Gus Haris tidak marah. Ia malah tersenyum lembut.

“Bagus, kamu sudah berani baca. Sekarang coba jelaskan lebih dalam. Apa yang kamu pahami tentang sabar dari ayat ini?”

Raina mendengus pelan.

“Sabar itu artinya diam saja meski kesal, kan? Kayak lo yang selalu diem meski gue bandel.”

Beberapa santriwati langsung terkikik pelan. Sinta, santri senior yang kemarin menegur Raina, menggelengkan kepala sambil berbisik ke temannya.

“Gila ya… berani banget jawabnya ke Gus Haris.”

Lila, gadis yang kemarin mendekati Raina, menatap dengan mata lebar penuh kekhawatiran. Ia seperti ingin membantu, tapi tidak berani angkat suara.

Gus Haris tetap tenang. Ia mendekat sedikit ke arah Raina, suaranya tetap lembut.

“Sabar bukan hanya diam, Raina. Sabar itu menahan diri meski hati sedang gelisah, tetap berbuat baik meski ada yang menyakiti. Seperti air yang perlahan melunakkan batu keras.”

Raina menatap Gus Haris dengan mata birunya yang besar. Ada sesuatu dalam penjelasan itu yang membuat dadanya terasa hangat, tapi ia cepat-cepat menepis perasaan itu.

“Gampang ngomong,” balas Raina ketus.

“Lo kan nggak pernah merasakan dipaksa nikah sama orang yang baru dikenal sehari.”

Ruangan kembali hening. Kali ini suasana terasa lebih tegang. Beberapa santriwati mulai berbisik lebih keras.

“Dia beneran bilang gitu ke Gus?”

“Kasihan Gus Haris… dijodohkan sama cewek kayak gini.”

“Gue dengar orang tuanya dipaksa mondok karena nakal banget di Surabaya.”

Raina mendengar semua bisikan itu. Amarahnya naik lagi. Ia berdiri tiba-tiba, kitab di tangannya hampir terjatuh.

“Lo pada ngomong apa lagi? Kalau mau gosip, lakukan di depan gue! Gue capek denger bisik-bisik mulu!”

Suara Raina cukup keras hingga membuat seluruh kelas terdiam. Sinta berdiri juga, wajahnya memerah karena kesal.

“Mbak Raina, ini kelas pengajian. Bukan tempat buat berantem. Kalau Mbak nggak mau belajar, sebaiknya keluar saja.”

Raina tersenyum sinis.

“Oh, sekarang lo yang ngusir gue? Bagus. Gue memang nggak cocok di sini.”

Ia hendak melangkah keluar kelas ketika Gus Haris memanggil namanya lagi dengan suara yang tetap tenang.

“Raina, tunggu.”

Raina berhenti di ambang pintu. Ia tidak menoleh, tapi telinganya mendengar langkah Gus Haris mendekat.

“Aku izinkan kamu keluar kalau memang tidak nyaman,” kata Gus Haris pelan di belakangnya.

“Tapi ingat, lari dari masalah tidak akan menyelesaikan apa-apa. Kalau kamu mau bicara, aku selalu ada.”

Raina menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Air mata hampir jatuh lagi, tapi ia menahannya dengan keras kepala. Tanpa menjawab, ia melangkah keluar kelas dan berjalan cepat menuju asrama.

Di koridor, beberapa santriwati yang sedang istirahat langsung menoleh. Lila berlari kecil menyusul Raina.

“Mbak Raina! Tunggu!”

Raina berhenti dan menoleh dengan ekspresi kesal.

“Apa lagi?”

Lila terengah-engah, tapi tersenyum lembut.

“Mbak… jangan marah ya. Mereka cuma kaget. Gue juga dulu baru datang merasa aneh. Tapi lama-lama nyaman kok. Mbak Raina cantik loh, cuma… beda aja.”

Raina menatap Lila lama. Gadis kecil itu terlihat tulus. Untuk pertama kalinya sejak tiba di pesantren, Raina merasa ada yang tidak langsung menghakiminya.

“Lo nggak takut gue marah?” tanya Raina dengan suara yang lebih pelan.

Lila menggeleng.

“Takut sih… tapi Mbak kelihatan kesepian. Gue mau jadi temen Mbak, boleh?”

Raina diam sejenak. Ia menghela napas panjang lalu mengangguk kecil.

“ terserah lo deh.”

Lila tersenyum lebar. “Makasih, Mbak! Nanti sore gue ajak Mbak keliling pesantren ya, biar lebih kenal tempatnya.”

Raina hanya mengangguk lagi sebelum melanjutkan langkah ke kamarnya.

Sore harinya, Raina duduk sendirian di belakang asrama, di bawah pohon mangga besar.

Ia memetik rumput kecil sambil memikirkan kejadian di kelas tadi. Rasa malu, marah, dan kebingungan bercampur aduk di dadanya.

Tiba-tiba Sinta muncul bersama dua temannya. Mereka berhenti beberapa meter di depan Raina.

“Mbak Raina,” panggil Sinta dengan nada yang lebih sopan daripada tadi pagi.

“Kami mau minta maaf kalau tadi pagi kata-kata kami menyakitkan. Kami nggak bermaksud jahat. Hanya… kami terbiasa dengan suasana yang tenang di sini.”

Raina mendongak. Matanya yang biru menatap Sinta dengan ekspresi sulit dibaca.

“Maaf? Lo nggak perlu minta maaf. Gue memang nggak cocok di sini. Lo pada boleh bilang apa saja di belakang gue. Gue biasa.”

Sinta menggeleng pelan.

“Bukan gitu. Kami dengar Mbak akan menikah dengan Gus Haris. Kami hanya kaget saja. Gus Haris orangnya baik sekali. Kami harap Mbak juga bisa… pelan-pelan berubah.”

Raina tertawa kecil, tapi tawanya terdengar pahit.

“Berubah? Buat siapa? Buat lo pada? Atau buat Gus Haris? Gue nggak minta dijodohkan sama dia.”

Salah satu teman Sinta ingin membalas, tapi Sinta menahannya. Mereka akhirnya pamit dengan sopan dan pergi.

Raina kembali sendirian.

Ia memeluk lututnya, rambut pendeknya acak-acakan ditiup angin sore. Air mata jatuh pelan di pipinya yang agak bulat.

“Gue capek…” bisiknya pelan.

“Gue cuma mau pulang ke Surabaya. Balap motor malam, ketawa sama temen, nggak ada yang ngatur hidup gue.”

Tapi di balik kata-kata itu, ada bayangan wajah Gus Haris yang selalu sabar. Suaranya yang lembut saat menjelaskan sabar di kelas tadi. Dan tatapan matanya yang hangat.

Raina mengusap air matanya dengan kasar.

“Kenapa lo harus sebaik itu, sih…” gumamnya sendirian.

Saat matahari mulai condong ke barat, Gus Haris datang lagi. Ia membawa sepiring kecil pisang goreng dan segelas air putih.

“Raina,” panggilnya pelan sambil duduk di sebelahnya dengan jarak yang sopan.

Raina tidak menjawab, tapi ia menerima piring itu.

Mereka diam cukup lama. Hanya suara daun bergesekan dan burung yang pulang ke sarang yang mengisi keheningan.

“Aku dengar ada interaksi dengan santri lain hari ini,” kata Gus Haris akhirnya dengan suara lembut.

Raina mendengus.

“Interaksi? Mereka pada gosipin gue. Gue cuma bales.”

Gus Haris tersenyum tipis.

“Mereka belum mengenal kamu. Sama seperti kamu yang belum mengenal mereka. Butuh waktu.”

Raina menoleh, mata birunya menatap Gus Haris lekat-lekat.

“Lo nggak capek selalu sabar gini? Gue bandel, mulut pedas, pakaian aneh… lo nggak pernah marah.”

Gus Haris menatap ke kebun di depan mereka, suaranya tetap tenang.

“Marah itu mudah, Raina. Tapi sabar itu pilihan. Aku memilih sabar karena aku percaya, di balik sikap keras kepalamu, ada hati yang baik.”

Raina merasa dadanya sesak lagi. Ia cepat-cepat menunduk dan memakan pisang gorengnya agar Gus Haris tidak melihat matanya yang mulai berkaca-kaca.

Hari itu Raina belajar satu hal lagi: di pesantren ini, ia bukan hanya melawan aturan dan Gus Haris.

Ia juga mulai melawan perasaan asing yang perlahan tumbuh di hatinya.

Dan entah kenapa, perasaan itu semakin sulit untuk diabaikan.

1
Ibad Real
Semangat Thorr
Anime aikō-kā
..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!