"Jadi Om mau menerima perjodohan kita?"
"Kenapa tidak?"
"Aku akuin Om ganteng tapi seleraku bukan duda Om."
"Memangnya kenapa dengan duda?"
"Ya jelas duda itu sudah tidak perawan, saya hanya mau menikah dengan orang yang masih merawan. Saya aja masih perawan."
Rajendra menahan tawanya karena Cya benar-benar polos.
***
"Kenapa sih pernikahan kita gak dibatalin aja? kalau kita menikah pasti Om akan menyesal dan tidak akan bahagia. Saya akan membuat Om kesal setiap harinya."
"Saya juga bisa membuat kamu kesal."
"Ck, terserah deh"
***
Orangtua Rajendra menjodohkan putranya dengan putri dari rekan kerjanya. Rajendra adalah seorang duda yang ditinggal mati oleh istri pertamanya di hari pernikahannya.
Rajendra belum bisa melupakan sang istri namun entah mengapa hatinya ingin menerima perjodohan dari orangtuanya.
Namun siapa sangka, bahwa istri pertama Rajendra telah membuat rencana bahwa sebenarnya ia tidak mengalami kecelakaan.
Jadi bagaimana kisahnya? Yuk ikuti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ganteng banget
Cya berjalan ke ruang ganti untuk mengambil pakaiannya.
Saat tengah memilih baju, ia tiba-tiba teringat sesuatu—kado dari Maminya siang tadi.
Dengan rasa penasaran, Cya mengambil paper bag itu lalu membukanya.
“Ini baju apaan sih…?” Ia mengangkat sehelai pakaian berwarna merah maroon. Bahannya tipis, modelnya bertali, dan… sangat minim.
Cya langsung melotot. “Ya ampun… Mami gak salah kasih kado begini?” Ia bergidik ngeri. “Mana disuruh dipakai lagi…” gumamnya.
Jangankan dipakai, melihatnya saja sudah membuat Cya tidak nyaman.
“Ini mah lebih cocok jadi lap deh,” celetuknya polos.
Akhirnya, tanpa pikir panjang, Cya memilih baju tidur biasa—kaos lengan pendek dipadukan dengan celana panjang bermotif polkadot.
Setelah itu, ia melanjutkan rutinitas malamnya—memakai skincare dan bodycare dengan telaten.
Selesai semuanya, Cya berniat meletakkan baju pemberian Maminya di dekat pintu kamar mandi, berniat menjadikannya kain lap.
Namun belum sempat ia menaruhnya—Pintu kamar mandi terbuka.
Rajendra keluar sambil mengeringkan rambutnya.
“Kamu ngapain?” tanyanya.
“Ini, Om…” Cya mengangkat baju itu. “Tadi siang Mami ngasih kado, disuruh dipakai malam ini. Tapi saya gak mau pake.”
“Kenapa?”
“Om lihat aja sendiri.”
Cya menunjukkan pakaian itu dengan ekspresi polos. "Bajunya kurang bahan begini. Masa saya disuruh pakai? Nanti malah kayak gak pakai baju.”
Rajendra langsung terdiam.
Matanya membelalak sekilas sebelum ia buru-buru mengalihkan pandangan.
Tenggorokannya terasa kering.
Ia bisa membayangkan—dan itu justru masalahnya.
“Terus… kamu mau diapakan?” suaranya terdengar lebih berat dari biasanya.
“Ini mau saya jadiin lap kaki aja.”
“Jangan!” Rajendra refleks merebut pakaian itu dari tangan Cya.
Cya mengerutkan kening. “Kenapa? Om mau pakai?”
Rajendra langsung menatapnya tajam. “Ngaco kamu. Mana mungkin saya pakai. Muat aja nggak.”
“Terus kenapa direbut? Jelek gitu loh bajunya. Mau dijual?”
Rajendra menghela napas panjang. “Ini bukan baju jelek, Cya. Kamu aja yang… terlalu polos.”
Cya menahan tawa. “Jadi menurut Om, baju kayak gitu bagus?”
“Iya.”
Jawaban singkat itu justru membuat Cya tak bisa menahan diri lagi.
“Hahaha… selera Om aneh banget!”
Rajendra memijat pelipisnya. “Beginilah kalau nikah sama cewek polos…” batinnya.
“Tenang aja, Om. Besok saya minta Mami beliin lagi buat Om, ya,” goda Cya.
“Gak usah aneh-aneh.” Rajendra langsung memotong dengan wajah datar. Ia bahkan tidak mau membayangkan kalau Cya benar-benar mengatakan hal itu pada Bu Diana.
Malamnya Cya benar-benar tega menyuruh Rajendra tidur di sofa. Padahal, malam pertama biasanya identik dengan hal yang jauh berbeda.
Namun tidak dengan mereka.
Pagi hari—Cya bangun dengan tubuh segar.
Ia merenggangkan ototnya, lalu melirik ke arah sofa.
Rajendra masih tertidur dengan posisi yang jelas tidak nyaman.
“Ya ampun…” gumam Cya pelan. “Sekarang gue beneran sudah jadi istri orang.”
Ia sempat berpikir kemarin hanya mimpi.
Tapi tidak.
Semua ini nyata.
Tatapannya beralih pada dua cincin yang melingkar di jarinya.
Terlihat indah.
Mewah.
Namun anehnya tidak ada rasa bahagia.
“Kayaknya gue harus cari cara supaya Om Rajendra menceraikan gue…” gumamnya.
Namun detik berikutnya—“Eh, tapi gue nggak mau jadi JAMUR.”
Ia langsung menghela napas.
JAMUR—Janda di Bawah Umur.
Memikirkan itu saja sudah membuatnya merinding.
Padahal usianya sudah mau sembilan belas tahun.
“Duh, ribet banget sih hidup gue…
Cya mendengus pelan.
Daripada terus memikirkan hal yang tidak jelas, ia memutuskan bangkit dari tempat tidur.
Ia menuju kamar mandi, mencuci muka, menggosok gigi, lalu mengambil wudhu.
Setelah itu, ia menunaikan salat Subuh—meski sedikit terlambat karena hampir pukul enam saat ia bangun.
Beberapa menit kemudian, semuanya selesai.
Cya membuka jendela kamarnya, membiarkan udara pagi masuk.
Lalu ia mulai merapikan tempat tidur.
Meski di rumah ada ART, untuk urusan kamar— Cya selalu mengerjakannya sendiri.
***
Begitu Cya turun ke lantai bawah, ia tidak menemukan siapa pun di ruang tamu maupun ruang keluarga.
Akhirnya, ia memutuskan pergi ke dapur.
Di sana, ternyata bukan hanya Bi Ani—Bu Diana juga ikut membantu memasak.
“Lagi masak apa, Mi?” tanya Cya sambil mendekat.
Bu Diana menoleh, tersenyum tipis melihat putrinya yang masih memakai baju tidur. “Tidurnya gimana? Nyenyak, kan?”
Bukannya menjawab, ia justru balik bertanya.
“Nyenyak dong, Mi.” Memang benar. Semalam Cya tidur pulas karena kelelahan.
“Sudah Mami duga,” ujar Bu Diana dengan senyum penuh arti.
Cya tidak terlalu memikirkan maksud senyuman itu.
“Mama Kiran sudah pulang?”
“Sudah, tadi malam. Nanti siang kamu sama Rajendra disuruh ke rumahnya.”
“Oke deh.” Cya mengangguk, lalu mengintip masakan di depan mereka.
“Kenapa, Sayang?”
“Enggak apa-apa. Aku cuma mau lihat.”
“Oh, ini Mama lagi masak opor ayam kesukaan Papi kamu.”
Cya kembali mengangguk.
“Suami kamu belum bangun?”
“Belum. Mungkin kecapekan semalam.”
Bu Diana lagi-lagi tersenyum penuh arti. “Pengantin baru memang begitu. Dulu Mami sama Papi kamu juga. Bahkan keluar kamar saja sudah siang.”
Bi Ani di sampingnya ikut tersenyum, berusaha menahan tawa.
Namun Cya tetap tidak paham maksud mereka. “Iya lah, Mi. Tamu kemarin banyak banget. Wajar kalau capek.”
“Iya… apalagi semalam kamu ‘olahraga’ sama suami kamu?” goda Bu Diana sambil menaik-turunkan alis.
Cya langsung mengernyit. “Ya ampun, Mi… olahraga pagi atau sore aja aku malas, apalagi malam.”
Bi Ani langsung menutup mulutnya, menahan tawa.
Bu Diana menghela napas. “Kayaknya otak kamu masih suci banget.”
Cya makin bingung. “Memangnya otak ada yang suci dan nggak suci?”
Bu Diana menatapnya lekat. “Mami heran sama kamu.”
“Heran kenapa?”
“Kamu itu anaknya bisa dibilang nakal… tapi polos banget.”
Cya mendengus. “Nakal sama polos kan beda, Mi. Aku tuh bukan nakal, cuma sering bantah Mami sama Papi aja.”
“Itu sama aja,” balas Bu Diana.
“Ya sudah, terserah Mami deh.” Cya tidak mau memperpanjang.
“Kamu sana, bikinin kopi buat suami kamu. Habis itu mandi wajib!”
Cya langsung menoleh cepat. “Hah? Kenapa harus mandi wajib?”
Ia benar-benar bingung.
Setahunya, mandi wajib itu hanya untuk kondisi tertentu—seperti setelah haid, nifas dan melakukan hubungan suami istri. Tapi Cya tidak merasa mengalami ketiga hal itu.
“Aduh, Bi… saya pusing menghadapi anak ini,” keluh Bu Diana.
Bi Ani tersenyum maklum. “Namanya juga pengantin baru, Nyonya. Belum berpengalaman…”
“Berpengalaman apa?” tanya Cya penasaran.
Bi Ani salah tingkah. “Berpengalaman… anu, Non…”
“Anu apa?”
“Sudah, sudah! Jangan banyak tanya!” potong Bu Diana cepat. “Mending kamu buat kopi untuk suami kamu!”
“Iya, iya, Mamiku sayang.”
Cya pun mulai membuat kopi.
Namun saat tangannya hendak mengambil gula—Senyum jahil tiba-tiba muncul di wajahnya.
Bu Diana dan Bi Ani saling pandang. “Kamu kenapa?”
“Ah gapapa, Mi.”
Cya kembali melanjutkan aktivitasnya dengan wajah penuh rencana.
Beberapa menit kemudian, kopi itu selesai dibuat. “Sudah jadi, Mi. Ini mau ditaruh di mana?”
“Sudah kamu coba belum?”
“Sudah,” jawab Cya cepat.
“Jangan bohong. Dari tadi Mami perhatiin kamu.”
Cya langsung nyengir. “Hehe… belum.”
“Coba dulu! Jangan sampai suami kamu nggak suka. Biasanya kopi buatan istri itu spesial.”
“Gak usah dicoba, Mi. Aku yakin enak kok.”
Bu Diana menyipitkan mata. “Jangan-jangan kamu kasih yang aneh-aneh biar cepat jadi janda muda?” godanya.
“Ih, enggak kok!”
“Kalau gitu, coba.”
Dengan ragu, Cya mengambil sedikit kopi itu dan mencicipinya.
Beberapa detik—Wajahnya nyaris berubah.
Tapi ia cepat menahan diri.
“Mmm… enak banget! Pas!” puji Cya dramatis, meski dalam hati ingin muntah.
“Bagus kalau begitu,” ujar Bu Diana puas.
“Kamu taruh saja di meja atau bawa ke kamar.”
“Di sini aja deh, Mi. Nanti kalau Om Rajendra bangun, aku suruh ke sini sekalian sarapan.”
“Ya sudah, terserah kamu.”
“Jangan lupa siapkan baju suami kamu juga.”
“Iya, Mi.” Cya mengangguk patuh—Sementara di dalam hatinya, ia justru menahan tawa.
Rencana kecilnya… sebentar lagi akan dimulai.
Cya meninggalkan dapur dengan senyum lebar di wajahnya.
Begitu sosoknya menghilang, Bi Ani menghela napas pelan.
“Nggak nyangka ya, Nyonya… Non Cya sekarang sudah jadi istri orang. Rasanya baru kemarin dia lulus SMA,” ucapnya.
Bu Diana tersenyum tipis, namun ada sedikit kelelahan dalam sorot matanya. “Iya, Bi…”
Ia terdiam sejenak sebelum melanjutkan. “Saya menikahkan Cya secepat ini karena Bibi juga tahu, saya dan suami jarang di rumah. Kalau Cya sudah menikah, setidaknya ada yang menjaga dia.”
Bi Ani mengangguk pelan. “Semoga saja Non Cya bisa cepat menerima pernikahannya.”
Dalam hati, Bi Ani tau betul—Cya sebenarnya belum sepenuhnya ikhlas.
Namun ia tidak punya kuasa untuk ikut campur.
Bagaimanapun juga, ia hanya seorang pembantu di rumah itu.
Pendapatnya mungkin tidak akan dianggap penting oleh Bu Diana maupun Pak Adit.
Bu Diana seolah mengerti apa yang dipikirkan Bi Ani.
Tangannya terangkat, menyentuh pundak wanita itu dengan lembut.
“Saya tau Bibi sangat peduli sama Cya,” ucapnya pelan. “Tapi jangan khawatir… Rajendra pasti bisa menjaga dan membimbing Cya jadi lebih baik.”
Bi Ani tersenyum tipis. “Iya, Nyonya…”
Meski begitu di dalam hatinya, masih terselip kekhawatiran yang belum benar-benar hilang.
***
Cya bersimpuh di lantai, menatap wajah Rajendra dengan saksama.
Laki-laki itu masih tertidur saat ia kembali ke kamar.
Entah kenapa, Cya memilih diam di sana—memperhatikan sosok yang kini resmi menjadi suaminya.
Tatapannya perlahan melembut.
“Ya ampun… ganteng banget,” gumamnya tanpa sadar.
Perhatiannya tertuju pada bulu mata Rajendra yang lentik dan panjang.
Tanpa berpikir panjang, jari Cya terulur pelan—menyentuh, lalu memainkan bulu mata itu dengan hati-hati, seolah takut merusaknya.
Ia terlalu asyik.
Hingga tidak menyadari—Rajendra mulai terusik.
Kening laki-laki itu berkerut tipis.
Perlahan, matanya terbuka.
Pandangan mereka langsung bertemu dalam jarak yang sangat dekat.
“Kamu ngapain?” suara Rajendra terdengar berat, masih serak karena baru bangun.
Deg!
Jantung Cya seketika berdebar kencang.
apa Bela itu sebenarnya Aurel