NovelToon NovelToon
Jarak Antara Kita

Jarak Antara Kita

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:210
Nilai: 5
Nama Author: ilham Basri

Arga Ardiansyah baru saja dikhianati setelah tiga tahun berdedikasi saat perusahan tersebut mencapai puncaknya, namun yang membuat dia tetap waras adalah Elina yang sedang berada di Praha.
Arga Ardiansyah kemudian bertekad untuk bangkit kembali dan menyusul cintanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilham Basri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 Meja Makan Yang Berbeda

​Arga turun dari mobil SUV mewah itu di depan lobi sebuah hotel bintang lima di kawasan pusat kota. Perasaannya aneh. Baru beberapa jam lalu dia diusir seperti gelandangan, sekarang ada dua orang pria berjas yang membukakan pintu untuknya dan membawakan tas kecilnya yang isinya cuma baju ganti seadanya.

​"Silakan, Tuan Muda Arga. Kamar Presidential Suite sudah siap di lantai paling atas. Bapak Hendrawan akan menemui Anda besok pagi pukul delapan untuk sarapan bersama," ucap asisten itu sambil membungkuk sopan.

​Arga cuma mengangguk pelan. Dia merasa canggung dipanggil "Tuan Muda". Rasanya jauh banget dari panggilan "menantu tidak berguna" yang biasanya dia dengar di rumah keluarga Winata. Begitu sampai di kamar, dia langsung mandi air hangat lama sekali. Dia ingin membilas semua rasa sial dan bau hujan yang menempel di badannya.

​Malam itu, Arga nggak bisa tidur nyenyak. Dia terus membolak-balik buku catatan kakeknya. Ternyata kakeknya bukan orang sembarangan. Pak Broto dulu adalah "orang di balik layar" yang membantu banyak pengusaha saat krisis moneter melanda. Pantas saja Hendrawan langsung bereaksi secepat itu.

​Besok paginya, tepat jam delapan, pintu kamarnya diketuk. Seorang pria tua dengan rambut putih yang rapi dan setelan jas yang harganya mungkin setara harga mobil mewah masuk ke ruangan. Itu Hendrawan.

​"Nak Arga," Hendrawan langsung memeluk Arga seperti sedang bertemu keluarga sendiri. "Maaf saya baru bisa datang pagi ini. Semalam saya harus memastikan semua berkas yang kamu minta sudah siap."

​Mereka duduk di meja makan besar yang penuh dengan makanan enak. Tapi Arga cuma mengambil roti bakar dan kopi hitam. Seleranya masih belum benar-benar balik.

​"Jadi, kamu mau tahu soal keluarga Winata?" Hendrawan membuka tablet di tangannya. "Jujur saja, perusahaan mereka itu cuma kelihatan besar di luar. Di dalam, mereka keropos. Mereka punya utang jatuh tempo sebesar dua ratus miliar ke bank saya bulan depan. Dan mereka berencana menjaminkan proyek pelabuhan yang kamu kerjakan itu untuk dapet pinjaman baru."

​Arga tersedak kopinya sedikit. "Dua ratus miliar? Proyek pelabuhan itu memang nilainya besar, tapi kalau tanpa saya yang mengelola operasionalnya, proyek itu bakal macet dalam tiga bulan."

​Hendrawan tersenyum licik. "Itu dia poinnya. Siska Winata dan ayahnya pikir mereka bisa menjalankan itu sendiri. Mereka nggak tahu kalau klien utama di proyek itu sebenarnya mau tanda tangan karena mereka percaya sama kamu, bukan sama bendera Winata Group."

​"Pak Hendrawan," Arga meletakkan rotinya. "Bisa nggak, Bapak tunda dulu pencairan pinjaman baru mereka? Biarkan mereka merasa aman sebentar, sampai mereka benar-benar pakai semua sisa uang mereka untuk DP material."

​Hendrawan tertawa kecil sambil mengangguk. "Gampang. Saya bisa bikin proses administrasinya seolah-olah 'sedang diproses' padahal sebenarnya saya tahan. Begitu mereka sudah keluar uang banyak dan pinjaman saya tolak, mereka bakal panik setengah mati."

​Arga terdiam sebentar. Pikirannya melayang ke Siska. Perempuan itu pasti sekarang lagi asyik belanja pakai kartu kredit perusahaan, nggak tahu kalau sebentar lagi dunianya bakal terbalik.

​"Satu lagi, Pak. Saya butuh identitas baru. Saya nggak mau mereka tahu kalau saya yang ada di balik ini semua. Biarkan saya jadi investor misterius yang bakal ambil alih saham mereka saat mereka bangkrut nanti," lanjut Arga.

​"Sudah saya siapkan. Kamu akan memakai nama PT Cakrawala Internasional. Perusahaan ini sudah saya daftarkan atas namamu, tapi secara legal tidak akan ada yang bisa melacaknya ke nama Arga Adriansyah," jawab Hendrawan mantap.

​Setelah sarapan selesai, Hendrawan memberikan sebuah kartu debit berwarna hitam ke atas meja. "Pakai ini. Isinya tidak terbatas. Kakekmu dulu memberikan modal hidup buat saya, sekarang giliran saya memberikan modal buat kamu untuk ambil kembali apa yang jadi hakmu."

​Arga mengambil kartu itu. Beratnya terasa beda. Ini bukan cuma soal uang, tapi soal tiket untuk membalas dendam dengan cara yang elegan.

​Keluar dari hotel, Arga menyuruh sopir pribadinya untuk mengantar dia ke sebuah toko ponsel. Dia beli ponsel terbaru yang paling mahal, tapi tujuannya bukan buat gaya-gayaan. Dia cuma mau layar yang jernih buat video call sama Elina.

​Begitu di dalam mobil, dia langsung menghubungi Elina.

​"Eh, Ga! Kok sudah bangun? Tumben mukanya segar banget," suara Elina terdengar ceria dari seberang sana. Di Praha mungkin masih sangat pagi atau tengah malam.

​"Iya, El. Tadi dapat kabar baik. Proyek baru yang aku kerjakan ternyata disetujui investor besar. Aku dapat bonus lumayan," bohong Arga lagi, tapi kali ini suaranya lebih mantap.

​"Wah, selamat ya! Aku bilang juga apa, kamu itu hebat. Keluarga Winata pasti senang banget ya punya kamu," kata Elina tulus.

​Mendengar nama Winata disebut, rahang Arga mengeras pelan, tapi dia tetap menjaga suaranya tetap lembut. "Iya, mereka... mereka 'senang' banget. El, nanti aku kirim uang ya buat kamu di sana. Beli jaket yang lebih tebal, musim dingin di Praha bakal makin parah kan?"

​"Eh, nggak usah, Ga. Uang yang kemarin masih ada kok. Simpan saja buat tabungan kita nanti," tolak Elina halus.

​"Nggak apa-apa, El. Pakai saja. Aku mau kamu nyaman di sana. Oh ya, mungkin bulan depan aku bakal ke Praha untuk urusan bisnis. Kita bisa ketemu lebih cepat."

​"Serius?! Kamu nggak bohong kan? Duh, aku pengen lompat rasanya!" Elina hampir berteriak kegirangan di layar ponsel.

​Melihat kebahagiaan Elina, Arga merasa semua rasa capek dan sakit hatinya kemarin terbayar. Dia mematikan telepon dengan senyum tipis.

​Mobilnya sekarang sedang melewati gedung Winata Tower. Dari balik kaca mobil yang gelap, Arga melihat Siska keluar dari mobil sportnya dengan gaya sombong seperti biasa. Arga cuma menatapnya dingin.

​Nikmati saja hari-harimu sekarang, Siska, batin Arga. Karena sebentar lagi, kamu bakal tahu rasanya diusir dari gedung yang kamu banggakan ini.

​Arga menyandarkan punggungnya, lalu berkata ke sopirnya, "Antar saya ke kantor notaris. Ada beberapa dokumen yang harus saya tandatangani atas nama PT Cakrawala."

​Hari ini, Arga bukan lagi pria yang menangis di bawah hujan Sudirman. Hari ini, dia adalah hantu yang siap menghantui mimpi buruk keluarga Winata.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!