NovelToon NovelToon
Dua Kehidupan Suamiku

Dua Kehidupan Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Konflik etika
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Me Tha

​Rania, seorang dokter spesialis bedah yang logis dan tenang, merasa hidupnya adalah definisi kebahagiaan. Suaminya, Damar, adalah kontraktor sukses yang penyayang. Namun, kesempurnaan itu runtuh saat Damar hilang tanpa jejak. Polisi menyerah, namun insting Rania sebagai istri dan dokter mengatakan ada yang tidak beres.

​Penyelidikan mandiri membawanya ke sebuah ruang bawah tanah di kantor lama Damar. Di sana, ia menemukan koleksi gaun, wig, dan alat rias.

Apa yang terjadi pada Damar ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Harapan Yang Menguap

​Hujan mulai turun membasahi kaca depan mobil Rania saat ia memacu kendaraan menuju arah selatan. GPS di ponselnya menunjukkan titik koordinat terakhir yang diberikan Aris: sebuah area di perbatasan Bogor-Sukabumi, jauh dari hiruk-pikuk industri Cikarang. Jalanan yang tadinya lebar dan mulus perlahan berubah menjadi jalur berkelok yang sempit, menanjak di antara barisan pohon pinus yang menjulang seperti raksasa hitam di kegelapan malam.

​Rania tidak memedulikan rasa kantuk yang mulai menyerang atau sendi-sendinya yang kaku. Pikirannya hanya terpaku pada satu titik merah di layar ponsel. Kenapa di sini, Damar? Kenapa kau harus ke arah sini? Sepanjang jalan, ia mencoba mengingat apakah Damar pernah menyebutkan kerabat atau rekan bisnis di area ini, namun memorinya nihil. Area ini adalah daerah perbukitan yang sepi, didominasi oleh perkebunan tua dan beberapa vila yang jaraknya berjauhan.

​Jam menunjukkan pukul dua dini hari saat suara navigasi berkata, "Anda telah sampai di tujuan."

​Rania menginjak rem dengan mendadak. Ia berada di pinggir jalan aspal yang rusak parah. Di sebelah kirinya adalah jurang yang tertutup kabut tebal, dan di sebelah kanannya adalah hutan rimbun yang hanya dibatasi oleh pagar kawat berduri yang sudah berkarat. Tidak ada bangunan. Tidak ada lampu jalan. Hanya ada kegelapan yang pekat dan suara hujan yang menghantam atap mobilnya dengan bising.

​Ia keluar dari mobil, membawa senter besar dari bagasi. "Damar! Damar!" teriaknya, namun suaranya langsung tertelan oleh deru angin gunung yang dingin.

​Rania berjalan menyusuri pinggiran aspal, mengarahkan senter ke arah semak-semak, berharap menemukan jejak ban atau pecahan lampu mobil. Kakinya yang hanya terbungkus sepatu kerja berhak rendah berkali-kali terperosok ke dalam lubang berlumpur. Gaunnya kini kotor, rambutnya lepek oleh air hujan, namun ia terus berjalan. Ia merangkak menuruni sedikit lereng, memeriksa apakah ada mobil yang terjun ke bawah.

​Nihil. Hanya ada tumpukan sampah plastik tua dan dedaunan busuk.

​"Kau di mana?" isaknya, suaranya kini serak. "Jangan bercanda, Damar! Ini tidak lucu!"

​Keputusasaan mulai berubah menjadi histeria. Rania berlari ke arah hutan, mencoba mencari jalan setapak. Ia terpeleset, jatuh tersungkur dengan lutut menghantam batu tajam. Rasa sakit menjalar, namun rasa perih di dadanya jauh lebih hebat. Ia melihat ke sekeliling; koordinat ini adalah titik kosong. Sebuah antah-berantah yang tidak memberikan jawaban apa pun. Hanya kesunyian yang mencekam.

​Pikirannya mulai berkabut. Kelelahan fisik, guncangan emosional sejak pagi, dan udara dingin yang ekstrem mulai mengambil alih kesadarannya. Pandangan Rania perlahan mengabur. Cahaya senter di tangannya perlahan meredup seiring dengan matanya yang memberat. Hal terakhir yang ia ingat adalah aroma tanah basah dan bayangan suaminya yang tersenyum saat memberikan kecupan terakhir pagi tadi.

​Dunia menjadi hitam. Rania pingsan di tengah rintik hujan, sendirian di pinggir hutan yang asing.

​"Neng... Neng, bangun Neng..."

​Sayup-sayup Rania mendengar suara berat seorang pria. Ia merasakan guncangan pelan di bahunya. Saat membuka mata, ia tidak melihat langit-langit kamarnya yang nyaman. Ia melihat atap kayu yang rendah dengan bola lampu kuning yang redup. Bau minyak kayu putih dan asap rokok kretek memenuhi indra penciumannya.

​"Alhamdulillah, sudah sadar," kata seorang pria tua bersarung yang duduk di samping bale-bale bambu tempat Rania berbaring. Di sampingnya, seorang wanita paruh baya sedang mengusap kaki Rania dengan kain hangat.

​Rania mencoba duduk, namun kepalanya berdenyut hebat. "Saya... saya di mana?"

​"Di rumah Abah, Neng. Tadi pagi-pagi sekali anak Abah mau ke kebun, lihat mobil Neng parkir di pinggir jalan tapi orangnya tidak ada. Pas dicari, Neng tergeletak di bawah pohon dekat jurang," jelas pria itu tenang.

​Ingatan tentang semalam menghantam Rania seperti gada besi. Ia langsung meraba tasnya. "Ponsel saya? Suami saya... saya harus cari suami saya!"

​"Tenang dulu, Neng. Ini ponselnya, sudah mati kena air," wanita itu menyerahkan ponsel Rania yang layarnya gelap total.

​Rania merasa ingin menjerit. Di tengah kepanikan itu, suara deru mobil terdengar berhenti di depan rumah kayu tersebut. Pintu terbuka dengan kasar, dan sosok Aris muncul dengan wajah yang sangat kuyu, matanya merah karena tidak tidur.Dia diantar pemuda desa setempat.

​"Rania!" Aris berlari mendekat, wajahnya menunjukkan campuran antara marah dan lega yang luar biasa. "Kau gila? Aku mencarimu ke seluruh jalur ini sejak jam empat pagi!"

​Rania langsung menghambur ke pelukan sahabatnya itu, tangisnya pecah seketika. "Ris... dia tidak ada. Aku sudah di titik itu, tapi kosong. Damar tidak ada di sana. Mobilnya tidak ada. Tidak ada apa-apa di sana, Ris!"

​Aris menghela napas panjang, menepuk-nepuk punggung Rania sambil memberikan isyarat terima kasih kepada warga yang telah menolong. Ia membimbing Rania keluar, menuju mobil polisinya yang diparkir di luar.

​"Kita pulang sekarang, Ran. Kita buat laporan resmi di Polda. Aku sudah koordinasi dengan tim IT. Kita tidak bisa cari begini saja tanpa prosedur," kata Aris tegas namun lembut.

​Perjalanan kembali ke Jakarta terasa seperti prosesi pemakaman bagi Rania. Ia duduk diam di kursi penumpang mobil Aris, menatap kosong ke luar jendela. Harapan yang tadi malam masih membara, kini terasa menguap bersama kabut pagi yang menghilang ditelan matahari.

​Setibanya di markas kepolisian, Rania dibawa ke ruang pemeriksaan untuk memberikan keterangan resmi. Suasana kantor polisi yang dingin, bau kertas, dan suara mesin ketik membuat segalanya terasa begitu nyata dan mengerikan. Ia bukan lagi seorang dokter yang memberikan laporan medis; ia adalah pelapor orang hilang.

​"Nama suami: Damar Mahendra. Usia: 32 tahun. Pekerjaan: Kontraktor. Terakhir terlihat mengenakan kaos polo biru tua dan celana kain gelap. Kendaraan: SUV Perak B 1234 DMR," Aris membacakan draf laporannya di depan petugas piket.

​Rania menyerahkan foto pernikahan mereka yang ia ambil dari dompetnya. Di foto itu, Damar merangkulnya dengan tawa lebar di depan pelaminan. Sangat kontras dengan kondisi Rania saat ini yang kuyu dengan lutut diperban.

​"Apakah ada masalah dalam keluarga sebelumnya, Bu?" tanya petugas polisi itu sambil mencatat.

​"Tidak ada," jawab Rania cepat, suaranya bergetar. "Kami sangat bahagia. Tidak ada pertengkaran. Tidak ada masalah keuangan. Semuanya baik-baik saja."

​Petugas itu saling berpandangan dengan Aris. "Mohon maaf sebelumnya, Bu. Biasanya dalam kasus seperti ini, ada motif di balik menghilangnya seseorang. Apakah Bapak Damar punya hobi tertentu, atau mungkin... teman dekat lain?"

​"Tidak! Damar itu pria rumahan. Kalau tidak di proyek, dia bersama saya. Dia pria paling jujur yang pernah saya kenal!" sela Rania dengan nada tinggi. Ia merasa tersinggung dengan implikasi bahwa suaminya mungkin pergi karena keinginan sendiri.

​Setelah dua jam proses administrasi, Aris membawa Rania keluar dari kantor polisi. "Sekarang apa?" tanya Rania lirih saat mereka berdiri di parkiran yang terik.

​"Sekarang kita tunggu, Ran. Laporan sudah masuk sistem nasional. Semua RS dan polsek di jalur Bogor-Sukabumi sudah diberikan data Damar. Mobilnya juga sudah masuk daftar pencarian," Aris mencoba memberikan harapan, namun matanya sendiri menyimpan keraguan.

​"Tapi kenapa di sana, Ris? Kenapa koordinatnya di hutan itu kalau tidak ada tanda-tanda kecelakaan?"

​Aris terdiam sejenak. "Jujur, Ran... itu yang membuatku bingung. Ponselnya aktif di sana selama hampir 30 menit sebelum mati total. Kalau dia hanya lewat, sinyalnya akan berpindah menara seluler. Tapi dia diam di sana. Entah dia keluar dari mobil, atau... ponselnya sengaja ditinggalkan di sana lalu dibawa orang lain. Kita belum tahu."

​Rania merasa dunianya seakan runtuh untuk kesekian kalinya. Harapan yang Menguap. Itulah yang ia rasakan. Setiap detik yang berlalu tanpa kabar terasa seperti paku yang dipantek ke jantungnya. Ia pulang ke rumah mereka, namun rumah itu kini terasa asing.

​Ia masuk ke ruang tamu. Aroma kopi yang ia hirup kemarin pagi masih samar-samar tercium, namun pemiliknya telah lenyap. Rania berjalan ke arah dapur, melihat piring yang belum sempat ia taruh kembali ke lemari. Ia menyentuh kursi tempat Damar duduk kemarin pagi.

​"Kamu di mana, Damar?" bisiknya pada keheningan.

​Ponsel rumah berdering, membuat Rania melonjak. Ia berharap itu Damar. Ia berharap suaminya akan berkata bahwa ini semua hanya salah paham atau penculikan singkat.

​"Halo?" suaranya penuh harap.

​"Selamat sore, Ibu Rania? Kami dari pihak bank, ingin mengonfirmasi adanya penarikan tunai dalam jumlah besar dari rekening bersama atas nama Bapak Damar Mahendra pagi kemarin pukul 10.00 di cabang Bogor..."

​Rania lemas. Telepon itu hampir terjatuh dari tangannya. Penarikan tunai. Pukul sepuluh pagi—hanya beberapa menit sebelum ponsel Damar mati. Ini bukan penculikan. Ini bukan kecelakaan.

​Damar mengambil uang dalam jumlah besar dan menghilang di area pegunungan secara sengaja.

​Rania terduduk di lantai dapur yang dingin. Harapan bahwa suaminya adalah korban mulai terkikis, berganti dengan kenyataan yang lebih menyakitkan: suaminya sedang merencanakan sesuatu tanpa melibatkannya. Ia merasa seperti orang asing di hidupnya sendiri. Pagi yang sempurna itu ternyata hanyalah panggung sandiwara terakhir sebelum tirai ditutup rapat.

​Rania meringkuk, memeluk lututnya sendiri di tengah dapur yang mulai gelap karena matahari terbenam. Polisi mungkin sudah mulai bekerja, laporan mungkin sudah tersebar, tapi di dalam hatinya, Rania tahu bahwa Damar yang ia kenal—suami yang lembut dan jujur itu—mungkin tidak akan pernah kembali lagi. Yang tersisa hanyalah bayang-bayang seorang pria asing yang membawa lari seluruh dunianya.

1
Junita Lempoi
bagus ceritanya
𝐀⃝🥀Weny
semoga kau menyesal setelah operasi damar...
Ayu Putri
bagus
Ayu Putri
udah lah ran SM Aris aja,mas damar mu gak kembali,walopun kembali jg bukan damar yg dulu yg ada udh JD dara
Halwah 4g: 🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Ayu Putri
ternyata damar gay, harusnya ceraikan Rania dulu, kasian Rania nunggu yg gak pasti
Halwah 4g: emang..kasian ya say
total 1 replies
Ayu Putri
belum up ya Thor 🥺🥺🥺
Ayu Putri
lanjut kak othor
Dian Yuliana
iya kok gak ada kelanjutannya
𝐀⃝🥀Weny
thor, Iki critane dilanjut opo gak to.. kok suwi men gak up neh🤦
Halwah 4g: suabarrr nggih
total 1 replies
𝐀⃝🥀Weny
thor ayo lanjut dong, jangan bikin penasaran...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!