Selama lebih dari tiga dekade, persahabatan antara Keluarga Lenoir dan Hadinata telah menjadi tonggak dalam kehidupan kedua keluarga. Dari berbagi suka duka hingga merencanakan masa depan bersama, ikatan mereka semakin mengakar dalam setiap aspek kehidupan. Untuk memperkokoh hubungan yang sudah terjalin erat itu, kedua kepala keluarga memutuskan untuk mengikatkan anak-anak mereka melalui perjodohan—suatu langkah yang dianggap akan menyatukan kedua keluarga menjadi satu kesatuan yang lebih kuat.
Aslan Noah Lenoir 28 tahun Pewaris Lenoir Group Dari Paris dan Alana Hadinata 20 tahun berdarah Campuran dari sang ibu ( Helena dubois ) terpaksa harus menjalani rencana perjodohan yang tidak mereka inginkan, gaya hidup mereka yang berbeda sering kali membuat Alana merasa terjebak dalam permainan Aslan yang vulgar dan penuh tantangan.
____
Bisakah dua hati yang terpaksa bertemu menemukan kedekatan yang tulus?
Ataukah perjodohan ini hanya akan menjadi beban dan merusak persahabatan keluarga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna ceriya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3. KEPUTUSAN ALANA
Langkah kaki Alana terdengar pelan namun mantap di atas lantai kayu yang mengkilap di koridor rumah itu. Cahaya lampu dinding yang bernuansa hangat menerangi jalannya menuju ruang kerja ayahnya, menciptakan bayangan-bayangan lembut yang bergerak seiring dengan langkahnya. Di tangannya, ia masih menggenggam buku kedokteran tebal itu, namun kali ini beban yang ia rasakan bukan lagi rasa tertekan, melainkan semangat yang baru saja ia temukan kembali berkat kata-kata bijak ibunya.
Sesampainya di depan pintu kayu ukir yang besar itu, Alana berhenti sejenak. Ia menarik napas dalam-dalam, mencium aroma kayu jati dan kertas tua yang selalu menguar dari ruangan itu—aroma yang selalu membuatnya merasa aman dan dekat dengan ayahnya. Dengan tangan yang sedikit gemetar namun penuh keyakinan, ia mengetuk pintu itu dua kali dengan lembut.
"Masuklah," terdengar suara Samuel dari dalam, suara yang tegas namun selalu terdengar lembut ketika berbicara dengan putrinya.
Alana memutar pegangan pintu itu dan mendorongnya perlahan. Ruang kerja ayahnya tampak seperti biasa—rapi, teratur, namun penuh dengan buku-buku tebal, peta bisnis, dan berbagai piala penghargaan yang berjejer di rak-rak dinding. Samuel sedang duduk di balik meja kerjanya yang besar, kacamata baca terpasang di hidungnya, sementara tangannya sedang memegang sebuah dokumen penting. Namun begitu melihat Alana masuk, ia segera meletakkan dokumen itu dan menurunkan kacamatanya, wajahnya langsung berubah menjadi penuh perhatian dan kasih sayang.
"Alana, nak," ujar Samuel sambil berdiri dan menunjuk kursi tamu di hadapan mejanya. "Masuklah, duduklah. Ayah baru saja akan menyelesaikan ini, tapi tentu saja kamu lebih penting daripada dokumen-dokumen ini. Apa yang ingin kamu sampaikan pada Ayah? Wajahmu tampak berbeda malam ini—lebih cerah dan lebih tenang."
Alana berjalan mendekat dan duduk di kursi kulit berwarna cokelat tua itu. Ia meletakkan buku kedokterannya di atas pangkuannya, lalu menatap wajah ayahnya yang sedang menunggunya dengan penuh rasa ingin tahu.
"Ayah," ucap Alana memulai, suaranya lembut namun terdengar sangat mantap. "Aku baru saja berbicara panjang lebar dengan Ibu di teras belakang. Dan... aku sudah memikirkan semuanya dengan sangat matang. Tentang rencana perjodohan ini, tentang Aslan, dan juga tentang tawaran magangku di Eropa."
Samuel mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, tangannya saling bertaut di atas meja, matanya menatap putrinya dengan penuh perhatian. "Lalu, apa keputusanmu, nak? Ayah mendengarkan dengan sepenuh hati."
"Aku setuju, Ayah," ucap Alana dengan tegas, senyum kecil mulai terbit di bibirnya. "Aku setuju untuk pergi ke Eropa, untuk menjalani magangku di London dan Lausanne, dan aku juga setuju untuk mengenal Aslan serta keluarganya. Aku tahu ini bukan keputusan yang mudah, dan aku tahu perjalanannya mungkin tidak akan selalu mulus. Tapi aku menyadari bahwa ini adalah kesempatan yang sangat berharga—bukan hanya untuk keluarga kita, tapi juga untuk masa depanku sendiri, baik sebagai seorang dokter maupun sebagai seorang wanita yang ingin menemukan kebahagiaannya sendiri."
Wajah Samuel seketika bersinar bahagia mendengar pengakuan putrinya itu. Ia tidak bisa menahan senyum lebar yang terbit di bibirnya, dan bahkan ada kilatan air mata kebahagiaan di sudut matanya. Ia berdiri dari kursinya dan berjalan mengelilingi meja untuk mendekati Alana, lalu meraih tangan putrinya dan menggenggamnya erat.
"Ayah sangat bahagia mendengarnya, Alana. Sungguh, sangat bahagia," ujar Samuel dengan suara yang sedikit bergetar karena emosi. "Ayah tahu ini bukan keputusan yang mudah bagimu, dan Ayah sangat menghargai keberanianmu untuk membuka hati dan pikiranmu. Ayah berjanji padamu, nak—apa pun yang terjadi nanti, Ayah dan Ibu akan selalu mendukungmu. Kamu tidak akan pernah merasa sendirian atau terjebak. Jika nanti kamu merasa bahwa ini bukan jalan yang tepat untukmu, kita akan mencari cara lain. Yang terpenting sekarang adalah kamu mau mencobanya dengan hati yang terbuka."
Alana tersenyum, merasakan kehangatan tangan ayahnya dan keyakinan yang ada di dalam suara pria itu. "Terima kasih, Ayah. Terima kasih karena selalu mengerti dan selalu ada untukku. Dengan dukunganmu dan Ibu, aku merasa lebih siap untuk menghadapi apa pun yang akan terjadi nanti."
"Nah, kalau begitu," ujar Samuel sambil kembali duduk di kursinya, namun wajahnya masih tetap cerah. "Sekarang kita bisa mulai membicarakan detail-detailnya. Magangmu di Eropa akan dimulai dalam waktu sekitar satu bulan lagi, kan? Itu memberikan kita waktu yang cukup untuk mempersiapkan segalanya dengan matang. Ayah akan berbicara dengan Marcell malam ini juga untuk memberitahukan kabar baik ini. Aku yakin dia dan keluarganya akan sangat senang mendengarnya."
Alana mengangguk setuju. "Benar, Ayah. Waktu satu bulan itu cukup bagiku untuk merapikan segala urusanku di sini—menyelesaikan tanggung jawabku di praktik kecilku, dan juga mengemasi barang-barangku. Tapi Ayah... tentang bagaimana aku akan bertemu dengan Aslan? Apakah kita akan bertemu langsung di Eropa, atau apakah masih ada rencana lain?"
Samuel berpikir sejenak, jari-jarinya mengetuk pelan permukaan meja kerjanya. "Begini, nak. Awalnya, kita memang merencanakan liburan bersama di Bali agar kalian bisa bertemu dalam suasana yang santai dan menyenangkan. Namun mengingat kamu harus segera pergi ke Eropa untuk magang, mungkin lebih baik jika kalian bertemu di sana saja. Marcell memberitahuku bahwa Aslan juga akan memulai studinya di Italia dalam waktu yang tidak terlalu lama, jadi kemungkinan besar kalian berdua akan berada di benua yang sama dalam waktu yang berdekatan. Kita bisa mengatur agar kalian bertemu di Paris atau di kota lain yang nyaman bagi kalian berdua ketika kalian sudah siap dan memiliki waktu luang. Bagaimana menurutmu?"
Alana merenungi kata-kata ayahnya. Bertemu di Eropa—itu terdengar menarik dan juga sedikit menantang. "Itu terdengar seperti ide yang bagus, Ayah. Setidaknya di sana, aku akan berada di lingkungan yang baru, dan mungkin itu akan membuat pertemuan kita terasa lebih netral dan tidak terlalu terbebani oleh ekspektasi keluarga. Tapi aku harap kita bisa memberi waktu yang cukup bagi Aslan dan aku untuk mempersiapkan diri secara mental sebelum bertemu."
"Tentu saja, nak. Itu sudah pasti," jawab Samuel dengan tegas. "Kita tidak akan memaksa kalian untuk bertemu sebelum waktunya tepat. Komunikasi adalah kuncinya. Kalian bisa mulai dengan berkirim pesan atau berbicara melalui telepon terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk bertemu secara langsung. Ayah akan memberikan nomor kontak Aslan padamu nanti jika kamu sudah siap."
Malam itu berlalu dengan hangat dan penuh harapan di rumah keluarga Hadinata. Samuel benar-benar menepati janjinya dan segera menelepon Marcell di Paris. Percakapan antara kedua sahabat lama itu berlangsung lama, penuh dengan kelegaan dan kebahagiaan karena rencana mereka akhirnya mulai berjalan sesuai harapan, meskipun dengan sedikit perubahan rute.
...****************...
> Aslan dan pemikirannya
Sementara itu, di sebuah apartemen mewah di distrik Le Marais, Paris—Aslan Noah Lenoir sedang duduk di tepi jendela besar kamarnya, menatap lampu-lampu kota yang mulai menyala satu per satu. Hatinya masih terasa campur aduk setelah percakapan sulitnya dengan ayahnya beberapa hari yang lalu. Meskipun ia sudah menyetujui kesepakatan satu tahun itu, rasa ragu dan ketidakpuasan masih sering menghantuinya. Ia membayangkan Alana sebagai seorang wanita yang mungkin kaku, sangat terikat pada tradisi, dan tidak akan bisa memahami dunia seni dan kebebasan yang ia cintai di Paris.
Tiba-tiba, pintu kamarnya terbuka pelan. Annabelle de Lenoir, ibunya yang cantik dan anggun, muncul di ambang pintu dengan tangan berisi beberapa kantong plastik membawa beberapa kue macaron di tangannya. Wajahnya yang lembut tersenyum melihat putranya.
"Aslan, sayang. Aku pikir kamu sudah." ujar Annabelle lembut sambil berjalan mendekat dan meletakkan barang bawaan itu di atas meja kecil di samping tempat tidur.
Aslan menoleh dan tersenyum tipis pada ibunya. "Tidak, Ma. Aku hanya... sedang berpikir. Ada banyak hal yang sedang melintas di pikiranku."
Annabelle duduk di tepi tempat tidur, menatap putranya dengan mata yang penuh pengertian. "Tentang perjodohan itu, ya? Tentang Alana?"
Aslan menghela nafas panjang, lalu mengangguk. "Ya, Ma. Aku tidak tahu. Aku merasa seperti sedang dipaksa untuk melangkah ke dalam sesuatu yang belum aku siap. Aku tidak mengenalnya, Ma. Dia tinggal di belahan dunia lain, dengan budaya yang sangat berbeda. Bagaimana bisa kita membangun hubungan jika kita bahkan tidak memiliki dasar yang sama?"
Annabelle meraih tangan putranya dan menggenggamnya dengan lembut. "Aku mengerti keraguanmu, Aslan. Sungguh, aku mengerti. Jika aku berada di posisimu, aku mungkin akan merasa hal yang sama. Tapi cobalah dengarkan ibumu sebentar, ya?"
Aslan menatap mata ibunya, lalu mengangguk pelan. "Tentu, Ma. Aku mendengarkan."
"Ketika aku pertama kali bertemu ayahmu, aku juga memiliki banyak keraguan," mulai Annabelle, suaranya lembut dan penuh kenangan. "Ayahmu adalah pria yang sangat tegas, ambisius, dan sangat terikat pada aturan keluarga. Sementara aku... aku tumbuh dalam keluarga yang lebih bebas, yang mencintai seni dan kebebasan berekspresi. Banyak orang yang berpikir bahwa kita tidak akan cocok, bahwa pernikahan kita tidak akan bertahan lama. Tapi lihatlah kita sekarang, Aslan. Kita telah melewati bertahun-tahun bersama, mengasuh dan membesarkan mu, kami membangun keluarga yang bahagia."
"Tapi bagaimana, ? Bagaimana kalian bisa melakukannya?" tanya Aslan, matanya penuh rasa ingin tahu.
"Karena kami memberi waktu untuk saling mengenal, dan karena kami berusaha untuk melihat kebaikan di dalam satu sama lain," jawab Annabelle tegas. "Ayahmu mengajariku arti disiplin dan tanggung jawab, sementara aku mengajarinya untuk lebih santai dan menghargai keindahan dalam hal-hal kecil. Perbedaan bukanlah halangan, sayangku. Perbedaan justru bisa menjadi hal yang membuat hubungan menjadi lebih kaya dan lebih berwarna, asalkan kalian berdua mau membuka hati dan pikiranmu."
"Tentang Alana..." lanjut Annabelle, matanya menatap lurus ke arah mata Aslan.
"Aku pernah bertemu dengannya beberapa tahun yang lalu ketika dia dan keluarganya berkunjung ke Lyon. Dia adalah gadis yang sangat cerdas, sopan, dan memiliki hati yang sangat baik. Aku mendengar dari ibunya, Helena, bahwa dia sedang menempuh studi kedokteran dan sangat berdedikasi untuk membantu orang-orang yang membutuhkan. Itu menunjukkan bahwa dia memiliki jiwa yang mulia, Aslan."
"Selain itu," tambah Annabelle dengan senyum kecil, "Samuel dan Marcell adalah sahabat yang sudah saling mengenal selama puluhan tahun. Mereka tidak akan pernah melakukan sesuatu yang akan menyakiti anak-anak mereka. Aku yakin bahwa mereka melihat sesuatu yang baik di antara kalian berdua, sesuatu yang bisa berkembang menjadi cinta dan kebahagiaan di masa depan. Mungkin Alana bukanlah wanita yang kamu bayangkan selama ini, tapi dia bisa jadi adalah wanita yang justru bisa melengkapi hidupmu dengan cara yang tidak pernah kamu duga."
Aslan terdiam mendengar kata-kata ibunya. Ia tidak pernah menyangka bahwa ibunya akan memiliki pandangan yang begitu positif tentang Alana. Kata-kata Annabelle mulai menanamkan benih-benih harapan di dalam hatinya, meskipun rasa ragu masih belum sepenuhnya hilang.
"Terima kasih, Ma," ucap Aslan akhirnya, suaranya lembut. "Terima kasih sudah berbagi cerita dan pandanganmu. Aku akan mencoba untuk membuka pikiranku tentang Alana. Aku akan mencoba untuk mengenalnya lebih baik ketika kita bertemu nanti. Tapi aku tidak bisa berjanji bahwa semuanya akan berjalan lancar."
Annabelle tersenyum dan memeluk putranya erat. "Tidak perlu berjanji apa pun, sayangku. Yang terpenting adalah kamu mau mencoba."
pikiran Aslan memenuhi otaknya dengan berbagai pertanyaan yang muncul. apakah ia benar-benar bisa bergaul dengan Alana? Apakah mereka akan memilki topik pembicaraan? Atau apakah pertemuan itu hanya akan menjadi momen yang canggung dan menyakitkan bagi keduanya?
Di luar, matahari sore mulai perlahan tenggelam di balik gedung-gedung bersejarah Paris, Menyisakan semburat warna oranye dan ungu yang indah di langit. Orang-orang Terus berlalu lalang di trotoar.. Beberapa berjalan terbaru-buru dengan tas kerja di tangan, sementara yang lain berjalan santai sambil menikmati pemandangan sekitar seolah-olah tidak ada beban yang menimpa mereka. Aslan iri Sedikit dengan ketenangan yang tampak dari kehidupan orang-orang di luar sana. Iya berharap ia bisa merasa seperti mereka saat ini, Tanpa harus memikirkan tentang perjodohan, tentang Alana, atau tentang ekspektasi ayahnya.
Namun ia tahu bahwa ia tidak bisa terus-menerus melarikan diri dari kenyataan. Ia sudah menyetujui kesepakatan itu, dan sekarang ia harus menghadapinya dengan kepala tegak.