Kyranza wanita yang baru saja di terima di sebuah perusahaan ternama membuat kehidupannya lebih baik dari sebelumnya. Bagaimana tidak sebelumnya dia harus melakukan tiga pekerjaan sekaligus dalam sehari untuk bisa menafkahi putra semata wayangnya itu.
Kejadian lima tahun yang lalu setelah bercerai dengan suaminya membuat kyra menjadi wanita yang tangguh.
Tapi semuanya hanya hanya sekejap mantan suaminya itu kembali muncul dan terus mengganggu kehidupannya.
" Menikah kembali denganku, maka hidupmu akan baik-baik saja"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3
Bagas tengah berjalan menuju ruangnya dengan sikap dinginnya tapi walau begitu dia masih terlihat profesional. beberapa karyawan menatapnya dengan tatapan memuja apalagi mengetahui jika bos mereka itu belum menikah di usianya yang sudah matang.
Sesampainya di ruangnya, Bagas segera melepas jasnya meninggalkan kemeja berwarna abu-abu lalu melihat ke arah tumpukan berkas yang ada di mejanya.
Beberapa saat kemudian Dika sekretaris datang untuk memberitahukan jadwal untuk hari ini.
" hari ini ada jadwal makan siang dengan Leo company pak, di restoran sushi, setelah itu dilanjutkan dengan meeting dengan perusahaan djong untuk membahas kerja sama"
" baik nanti kamu atur saja semuanya, jangan lupa file yang saya tanyakan semalam segera kamu kirim ke saya, kita ngga bisa begitu saja tawaran kerja sama itu." ucap Bagas.
Dika lalu mengangguk " baik pak akan segera saya kirimkan"
" ohh yaa, satu lagi tolong kamu suruhkan salah satu staff pantry untuk membuatkan ku kopi"
"baik pak"
Bagas kembali fokus ke laptop nya,dari semalam dia sudah pusing di buat ibunya sendiri
*****
Kyra baru saja sampai di tempat kerjanya, dan segera menuju lokernya untuk mengganti pakaiannya. tadi sebelum dia berangkat kerja dia tidak sengaja bertemu dengan Bu Lasmi dan memintanya untuk menitipkan anaknya bersamanya. Dari dulu Bu Lasmi lah yang mengetahui bagaimana hidup dan pengorbanan kyra selama ini.
" pagi Arya " sapa kyra kepada Arya yang sudah duluan datang, tapi matanya tak sengaja melihat perempuan yang berdiri disamping Arya dengan seragam yang sama.
" pagi kyra, ohh yaa pasti kamu bingung ya. Ini Amel rekan kita di lantai ini, dia semalam cuti" jelas Arya yang melihatku bingung.
" aku Amel. Arya udah cerita siapa kamu" ucap amel menjabat tangan kyra sambil tersenyum.
" kyra" balasnya.
" ohh ya Ra kamu bisa ngga bersihkan pantry. Biar Amel aja yang bersihkan lobi samping"
Kyra langsung setuju, bagaimana pun Arya dan Amel adalah seniornya juga " oke"
Kyra langsung menuju pantry dan mulai membersihkannya, tapi suara dering telepon mengalihkan fokusnya. Dilihatnya. Sekeliling tidak ada orang sama sekali hanya ada dirinya disana.
Mau tak mau kyra langsung menjawabnya " halo"
" halo, saya Dika sekretarisnya pak bos, tolong kamu buatkan kopi untuk pak bos sekarang" suruhnya diseberang sana.
" baik pak" jawab kyra lalu menutup telpon itu. semalam Arya sudah menjelaskan kepadanya jika mereka membersihkan pantry maka dengan artian yang sama mereka juga akan disuruh-suruh.
Dia mulai membutakan kopi, kyra tidak tahu bagaimana selera pak bosnya itu dia hanya membuatnya sesuai seleranya. hari keduanya kyra bekerja disini dia belum tahu bagaimana rupa sang sang bosnya.
lift terbuka di lantai dua belas, kyra menyusuri lorong, kata Arya ruangan boss mereka ada di lantai dua belas.
kyra berhenti di salah satu pintu dengan tulisan CEO disana, kyra menghirup udara dalam-dalam. Sebenarnya dia sedikit gemetar sekarang.
Tok tok
" masuk"
ketika disuruh masuk, kyra membuka pintu itu disana terdapat seorang pria yang sedang berkutak dengan pekerjaannya. Wajahnya tidak terlihat oleh kyra karena terhalang oleh sebuah komputer besar.
Permisi, Pak... ini kopi, yang anda pesan" ucap Kyra pelan sambil meletakkan cangkir itu di atas meja. Tangannya bergetar, ia bahkan tak berani menatap langsung ke arah pria itu.
Bagas yang tadinya sibuk dengan laptop, mendongak. Matanya langsung terpaku pada wajah itu. Seketika, udara di dalam ruangan seolah menipis.
"Kyra...?" suaranya serak, seperti tak percaya dengan penglihatannya.
Kyra yang merasa terpanggil namanya mengangkat kepalanya.
Kyra tersentak, jantungnya berdegup keras. Ia menunduk. "Iya, Pak. Ini kopi pesanan Bapak."
"Kamu?" Bagas berdiri dari kursinya, sorot matanya menajam. "Apa benar kamu... Kyra?"
Kyra akhirnya memberanikan diri menatap, meski hanya sekilas. "Iya... saya." mau berbohong pun itu tidak mungkin dilakukan nya, karena wajahnya masih sama seperti dulu.
Keheningan menyelimuti mereka. Bagas melangkah mendekat, tatapannya sulit ditebak. "Lima tahun aku nggak lihat kamu... dan ternyata kamu muncul lagi di sini. Di perusahaanku."
"Saya tidak tahu kalau ini perusahaan Bapak," jawab Kyra dengan jujur, mencoba menjaga wibawa meski suaranya sedikit bergetar.
Bagas menghela napas, matanya menyipit. "Kamu sengaja?"
"Tidak, Pak," jawab Kyra cepat. "Saya hanya... butuh pekerjaan."
"Dan dari sekian banyak perusahaan, kamu pilih perusahaan ini?" Bagas mendekat, suaranya semakin rendah namun menusuk. "Atau... sebenarnya kamu ingin bertemu denganku lagi?"
Kyra menggeleng cepat. "Tidak, Pak. Itu tidak benar. Saya tidak tahu sama sekali."
Bagas terdiam, menatapnya lama. Ada segumpal rasa yang sulit dijelaskan marah, rindu, dan kecewa bercampur jadi satu.
"Kamu masih sama," gumamnya akhirnya. "Masih suka menghindar."
"Bagas..." ia akhirnya berani menyebut nama itu, sesuatu yang sudah lima tahun tak keluar dari bibirnya. "Tolong, anggap saja saya hanya karyawan di sini. Tidak lebih, tidak kurang."
Bagas tersenyum miring, getir. "Kamu pikir aku bisa? Setelah semua yang terjadi di antara kita?"
Kyra menunduk, berusaha menjaga air matanya agar tidak jatuh. "Saya mohon, jangan buat ini sulit. Saya hanya ingin bekerja."
Bagas melangkah semakin dekat hingga jarak mereka tinggal beberapa langkah saja. Suaranya merendah, tapi penuh penekanan. "Kamu pikir aku bisa pura-pura tidak kenal kamu? Lima tahun, Kyra. Lima tahun aku mencoba melupakanmu. Tapi sekarang kamu berdiri di sini, di ruanganku, seakan-akan tidak pernah ada apa-apa di antara kita?"
Kyra menelan ludah, tubuhnya kaku. "Sudah cukup, Bagas. Kita sudah selesai sejak lama."
"Jangan pergi dulu," kata Bagas dengan suara bergetar. Matanya menatap Kyra dalam, begitu tajam hingga gadis itu sulit bernapas. "Aku masih punya banyak pertanyaan. Tentang kamu. Tentang kita."
Kyra mencoba menarik tangannya, namun genggaman Bagas terlalu kuat. "Lepaskan saya. Tolong... kita di tempat kerja, jangan buat masalah."
Bagas menghela napas panjang, tapi genggamannya tak kunjung terlepas. "Kalau kamu ingin aku bersikap profesional, aku bisa. Tapi aku juga ingin jawaban. Setidaknya sekali ini saja, jangan pergi dariku tanpa menjelaskan apa pun, Kyra."
Kyra menutup matanya erat, hatinya kacau. Ia ingin marah, ingin menangis, tapi juga tak bisa menyangkal bahwa perasaan yang dulu masih ada di sana—meski sudah ia coba kubur dalam-dalam.
Suasana ruangan itu semakin berat, seakan hanya menyisakan mereka berdua dan kenangan yang belum selesai.
"Bagas..." suaranya bergetar, namun tegas. "Kamu ingin tahu alasan sebenarnya kenapa aku pergi lima tahun lalu?"
Bagas menatapnya tajam, matanya merah seakan menahan emosi. "Ya. Itu yang selalu aku tanyakan pada diriku sendiri. Kenapa kamu tiba-tiba menghilang, seolah pernikahan kita nggak pernah ada artinya."
Yaa walaupun mereka menikah karena terpaksa tapi hubungan mereka sangat baik. Bagas selalu bersikap baik padanya.
Kyra menarik napas panjang, berusaha mengumpulkan keberanian. "Aku nggak pernah mau pergi darimu"
"Lalu kenapa? Kenapa kamu tega ninggalin aku tanpa sepatah kata pun?"
Kyra akhirnya menatapnya lurus, air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. "Karena ayahmu." dia akan menjelaskan semuanya biar tidak ada kesalah pahaman diantara mereka .
Bagas tertegun. "Ayah?"
Iya," Kyra melanjutkan, suaranya lirih namun penuh luka. "Kamu ingat kan, kita menikah diam-diam? Tanpa sepengetahuan keluargamu. Waktu itu aku pikir cinta kita cukup kuat. Aku pikir, meski aku yatim piatu dan nggak punya apa-apa, kamu tetap akan memilih aku."
Bagas hanya bisa terdiam, tubuhnya kaku mendengar setiap kata yang keluar dari bibir Kyra.
"Tapi ketika ayahmu tahu... beliau marah besar. Katanya aku nggak pantas untukmu. Katanya aku cuma bikin malu keluarga kalian. Dan beliau—" suara Kyra tercekat, tangannya mengepal. "—beliau menyuruhku pergi dari hidupmu. Menyuruhku bercerai darimu. Saat itu, aku tidak punya siapa-siapa untuk membelaku. Tidak ada yang mendukungku."
Air matanya semakin deras. "Aku bertahan beberapa hari, berharap kamu akan datang mencariku. Tapi yang aku dapat hanya ancaman dari ayahmu. Katanya kalau aku nggak pergi, hidupmu akan hancur. Kariermu, masa depanmu, semuanya."
Bagas merasa dadanya diremas. Tangannya yang menggenggam Kyra semakin kuat. "Kenapa kamu nggak bilang padaku? Kenapa kamu nggak datang padaku? Aku pasti akan melawan ayah."
Kyra menggeleng lemah. "Kamu terlalu berbakti pada keluargamu, Bagas. Aku tahu, kamu nggak akan pernah benar-benar melawan ayahmu. Dan aku... aku nggak mau jadi alasan kamu kehilangan segalanya. Jadi aku pergi. Aku rela jadi orang jahat di matamu, asalkan kamu tetap bisa hidup dengan baik."
Bagas memejamkan mata, rahangnya mengeras. Emosinya campur aduk antara marah, kecewa, sekaligus sedih yang menyesakkan. "Kyra... kenapa kamu harus menanggung semuanya sendirian? Lima tahun... lima tahun aku menyalahkanmu, membencimu, padahal semua ini karena ayahku?"
Kyra menunduk, bahunya bergetar menahan tangis. "Aku nggak punya pilihan lain."
Beberapa detik, hanya ada suara isakan Kyra. Hingga akhirnya Bagas menariknya pelan, merengkuhnya ke dalam pelukan.
Kyra terkejut, tubuhnya menegang. "Bagas... jangan."
Tapi Bagas tidak melepaskan. Suaranya berat, penuh luka. "Aku sudah kehilanganmu sekali, Kyra. Aku nggak mau kehilangan lagi."
Kyra memejamkan mata, air matanya pecah di bahu Bagas. Untuk pertama kalinya setelah lima tahun, mereka kembali berada di pelukan yang sama, meski ada jurang besar di antara mereka.
Dengan sisa tenaga, Kyra mendorong tubuh Bagas pelan, melepaskan diri dari rengkuhan itu. Air matanya masih basah di pipi.
"Bagas... cukup," ucapnya dengan suara parau. "Aku nggak bisa di sini lebih lama."
Bagas menatapnya tak percaya. "Kyra... apa kamu masih nggak paham? Aku baru tahu kebenarannya. Aku ingin memperbaiki semuanya. Aku—"
"Tidak!" potong Kyra cepat. Ia menatap Bagas dengan mata yang berair tapi penuh ketegasan. "Kita sudah selesai sejak lima tahun lalu. Kamu harus terima itu."
Bagas menggeleng, matanya memerah menahan emosi. "Aku nggak bisa terima. Kamu masih ada di sini, di depan mataku. Kamu masih sama. Kamu bahkan baru saja mengaku kalau dulu mencintaiku."
Kyra terdiam sejenak, lalu tersenyum getir. "Iya... dulu. Tapi sekarang? Sekarang aku cuma seorang karyawan biasa di perusahaanmu. Jangan tarik aku kembali ke masa lalu, Bagas. Aku sudah berusaha mati-matian melangkah ke depan."
Tangannya hendak membuka pintu, tapi Bagas kembali menahan pergelangannya. "Kyra... dengar aku. Aku nggak mau kehilangan kamu lagi. Aku masih punya banyak hal yang ingin aku tanyakan, banyak hal yang ingin aku perbaiki. Setidaknya... beri aku kesempatan bicara lebih lama."
Kyra menarik napas panjang, suaranya nyaris pecah. "Kesempatan itu sudah hilang lima tahun lalu. Kamu terlambat."
Bagas terdiam, tubuhnya kaku seakan ditampar oleh kenyataan pahit.
Perlahan Kyra melepaskan genggamannya dari tangan Bagas. "Maaf, Pak... saya harus kembali bekerja." Ucapannya dingin, menekankan jarak di antara mereka.
Ia lalu membuka pintu, melangkah keluar tanpa menoleh lagi.
Bagas hanya bisa berdiri di tempatnya, menatap punggung perempuan yang pernah jadi istrinya, kini menjauh untuk kedua kalinya. Tapi kali ini, luka yang ia rasakan jauh lebih dalam, karena ia tahu Kyra benar-benar tidak ingin lagi berada di sisinya.