Kalea tidak sengaja memecahkan kaca mobil mewah milik Raditya di area parkir. Raditya yang marah besar meminta ganti rugi yang sangat mahal. Karena Kalea tidak bisa membayar uang sebanyak itu dalam waktu cepat, Raditya mengancam akan membawanya ke kantor polisi. Namun, Raditya yang sedang pusing karena dipaksa ibunya menikahi Natasha melihat sebuah celah. Raditya akhirnya menawarkan kesepakatan: Kalea bebas dari tuntutan polisi jika mau menjadi pacar pura-puranya.
Hubungan yang awalnya penuh adu mulut dan kebencian ini berubah rumit saat keadaan memaksa mereka terikat dalam pernikahan resmi. Konflik berat pun dimulai. Orang tua Raditya menolak keras menantu yang tidak jelas asal-usulnya. Di sisi lain, keluarga kandung Kalea terus datang mengusik dan membongkar status "anak haram" Kalea demi menjatuhkannya di depan keluarga Raditya.
SALAM DARI AUTHOR 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut Asmaul Husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 20 : BADAI PENGHINAAN DAN RUNTUHNYA SEBUAH AMBISI
Pukul sepuluh pagi, suasana di kediaman mewah keluarga Wijaya mendadak berubah tegang saat sebuah mobil sedan premium berhenti di depan teras. Ambarwati Baskara turun dengan langkah angkuh, wajah paruh bayanya ditekuk masam menahan sisa amarah dari malam sebelumnya. Dia tidak sudi membiarkan putra sulungnya menghancurkan nama baik keluarga besar Baskara hanya demi seorang wanita yang dicap cacat silsilahnya.
Sarah Wijaya yang kebetulan sedang berada di teras depan langsung menyambut sahabat arisannya itu dengan senyuman super ramah yang sangat hangat. "Ya ampun, Jeng Ambar! Tumben banget pagi-pagi udah main ke sini. Ayo, ayo masuk, Jeng. Kita duduk di dalam aja biar adem."
Sarah membimbing Ambarwati menuju ruang tamu utama yang megah. Begitu mereka duduk di sofa beludru mewah, Sarah langsung menoleh ke arah koridor dapur dan berteriak memanggil pelayan tuanya. "Bi Minah! Bi Minah! Cepat ke sini, bikin minum teh manis anget buat tamu kehormatan kita! Jangan lama ya!"
"Baik, Nyonya," sahut Bi Minah dari kejauhan dengan nada ketakutan yang samar.
Sarah kembali memutar tubuhnya, melemparkan senyum manis penuh kepalsuan ke arah Ambarwati. "Ada angin apa nih, Jeng? Kok mukanya kelihatan serius banget begitu dari pas turun mobil?"
Ambarwati tidak membalas senyuman itu. Dia memperbaiki posisi duduknya dengan sangat angkuh, melipat tangan di depan dada. "Jeng Sarah, saya ke sini bukan mau bertamu santai atau bahas arisan sosialita kita. Saya butuh bicara penting. Tolong panggil suamimu, Pak Hermawan, buat ke sini sekarang juga. Ada hal serius menyangkut anak haram di rumah ini yang harus kita tuntasin sekarang!"
Sarah terkejut mendengar ucapan blak-blakan Ambarwati, namun di dalam hatinya dia langsung bersorak kegirangan laksana mendapat durian runtuh. "Oh, masalah Kalea sialan itu ya, Jeng? Baik, baik, sebentar ya saya panggil Mas Hermawan dulu di kamar atas."
Sarah bergegas menaiki anak tangga dan mengetuk pintu kamar suaminya. Tak berselang lama, Hermawan Wijaya turun ke ruang tamu dengan langkah berat, didampingi oleh Sarah yang berjalan mengekor di belakangnya. Begitu mereka berdua duduk bergabung di sofa seberang, Ambarwati langsung to the point tanpa basa-basi sedikit pun dengan nada suara yang sangat tegas, kaku, dan dipenuhi intimidasi tingkat tinggi.
"Pak Hermawan, Jeng Sarah, saya nggak mau bertele-tele lagi," tegas Ambarwati, matanya berkilat penuh amarah. "Tolong urus dan didik itu anak haram kalian, si Kalea! Bilang sama dia buat sadar diri dan jauhin putra sulung saya, Raditya Evan Baskara! Berani-beraninya dia gatel banget ngejebak anak saya sampai Radit nekat mau ngajak dia nikah kilat di KUA! Keluarga Baskara itu keluarga terhormat, kami nggak sudi menerima menantu dari darah kotor pembawa aib kayak Kalea!"
Mendengar kalimat hinaan yang begitu telanjang keluar dari mulut Ambarwati, rahang Hermawan langsung mengeras kaku. Namun, demi menyelesaikan kegilaan ini, Hermawan merogoh saku celananya, mengambil ponsel, dan langsung menekan nomor panggilan Kalea.
Di belahan tempat lain, tepatnya di area koridor luar Hotel Grand Luminance, Kalea baru saja selesai mengecek laporan operasional pagi. Ponsel di saku blazernya bergetar hebat menampilkan nama kontak 'Papa'. Dengan jantung yang berdegup cencang, Kalea menggeser layar menjawab panggilan tersebut.
"Halo, Pa—"
"Kalea, pulang ke rumah sekarang juga. Nggak ada tapi-tapi. Detik ini juga kamu harus sampai di rumah!" potong Hermawan dengan nada suara bariton yang sangat datar namun sarat akan perintah mutlak sebelum akhirnya memutus sambungan telepon secara sepihak.
Kalea melongo menatap layar ponselnya yang mati. Firasat buruk langsung menghantam dadanya. Tanpa membuang waktu satu detik pun, tangan mungilnya dengan cepat beralih menekan tombol panggilan cepat ke nomor Radit.
Tut... Tut...
"Halo, Kalea? Kenapa? Aku lagi di jalan menuju KUA buat ngurus berkas kita," sapa suara bariton Radit dari seberang telepon.
"Mas... Mas, gawat!" potong Kalea dengan nada panik, suaranya bergetar hebat. "Barusan Papa telpon aku, nyuruh aku pulang ke rumah sekarang juga. Dan yang bikin aku makin panik... sepertinya Mommy kamu, Tante Ambarwati, lagi ada di rumahku sekarang! Suara beliau kedengeran samar-samar tadi di telpon Papa!"
Di balik kemudi mobilnya, mata elang Radit langsung menyipit tajam penuh amarah menahan geram. "Sialan! Mommy nekat banget. Kamu tenang dulu, Kalea. Kamu pulang sekarang, aku juga bakal putar balik mobilku menuju rumahmu sekarang juga. Jangan dengerin omongan siapa pun sebelum aku sampai di sana. Paham?!"
"Iya, Mas. Aku jalan sekarang," sahut Kalea sebelum memutus panggilan dan bergegas berlari menuju parkiran karyawan.
...****************...
Sementara Kalea sedang membelah jalanan kota Jakarta, Sarah yang masih duduk di ruang tamu diam-diam merogoh ponselnya di bawah meja kerja. Dengan senyuman licik yang menghiasi bibir paruh bayanya, jari-jari Sarah dengan cepat mengetik pesan WhatsApp (WA) grup kepada Shinta dan Fitri.
[Fitri, Shinta, kalian berdua cepetan pulang ke rumah sekarang juga! Ini ada Jeng Ambarwati lagi ngamuk besar di rumah gara-gara si anak haram Kalea. Cepetan datang kalau mau liat cewek murahan itu kena amukan dan diusir dari kota ini! Hahaha!]
Sarah tersenyum menang dalam hati. Sifat kejamnya mendadak kambuh. Demi membuat Ambarwati semakin membenci Kalea sampai ke ubun-ubun kepala, Sarah mulai menusuk jarum provokasi dengan melebih-lebihkan cerita palsu. "Aduh, Jeng Ambar... saya bener-bener minta maaf ya atas kelakuan kurang ajar Kalea. Jeng Ambar harus tahu, di rumah ini pun Kalea itu emang genit banget! Kemarin aja dia ketahuan mencuri pandang terus menggoda menantuku, Fandi, di tepi kolam renang pagi-pagi buta! Dia itu emang ular berbisa yang hobi ngerusak hubungan orang, Jeng!"
"Kurang ajar banget emang cewek itu!" maki Ambarwati semakin berapi-api, wajahnya memerah padam menahan rasa jijik yang luar biasa besar.
Tidak butuh waktu lama, pintu depan kembali terbuka kasar. Shinta dan Fitri melangkah masuk ke dalam ruang tamu dengan langkah terburu-buru. Shinta yang kelicikannya sudah mendarat di tingkat tertinggi langsung mengambil posisi duduk di samping mamanya, sementara Fitri duduk di sofa sebelah dengan wajah kaku.
"Iya, Tante Ambarwati!" sahut Shinta langsung menyambar percakapan dengan nada suara yang dibuat sok histeris penuh fitnah baru buat menyudutkan kakaknya. "Apa yang dibilang Mama itu bener banget! Kak Kalea itu emang perempuan murah yang gatel banget! Kemarin sore di hotel tempat dia kerja, dia sengaja pamer tubuhnya di depan Mas Fandi biar Mas Fandi tergoda! Dia benci banget liat Shinta sama Mbak Fitri bahagia, makanya dia mau ngejebak Dokter Radit yang kaya raya biar dia bisa pamer dan balas dendam sama kita semua!"
Fitri ikut mengangguk dengan wajah dingin dipenuhi rasa cemburu buta yang belum reda. "Bener, Tante. Kalea itu emang tega banget mau ngerusak rumah tangga saya sendiri demi ambisi gilanya!"
Mendengar seluruh rentetan fitnah keji, bualan palsu, dan kalimat hinaan bertubi-tubi dari mulut istri dan anak-anak bungsunya yang terus-menerus memojokkan Kalea, kesabaran Hermawan Wijaya akhirnya habis total. Pria paruh baya itu mendadak menggebrak meja kaca di depannya dengan sangat keras hingga menimbulkan suara dentuman yang memekakkan telinga. BAM!
"DIAM KALIAN SEMUA!!! TUTUP MULUT KALIAN YANG BERISIK ITU?!" bentak Hermawan dengan suara bariton menggelegar laksana badai petir yang meledak murka, membuat Sarah, Shinta, dan Fitri langsung terlonjak kaget dan membeku ketakutan di tempat duduk mereka. Hermawan menatap tajam istri dan anaknya dengan urat dahi yang menegang kuat. "Jangan bikin malu keluarga di depan tamu dengan bualan sampah kalian?!"
Tepat di saat suasana ruang tamu mendadak sunyi senyap akibat bentakan Hermawan, pintu utama swalayan rumah terbuka lebar. Radit melangkah masuk dengan tubuh menjulang tingginya yang setinggi 185 sentimeter, disusul oleh Kalea yang berjalan di belakangnya dengan langkah tegap penuh wibawa seorang manajer hotel meskipun wajah cantiknya dipenuhi ketegangan. Radit langsung mengambil posisi berdiri tepat di depan sofa ibunya, menggenggam erat jemari tangan mungil Kalea dalam genggaman tangan kekarnya yang protektif di depan semua orang.
"Mommy, pulang sekarang. Jangan bikin keributan yang nggak perlu di rumah orang lain!" perintah Radit dengan nada suara bariton yang sangat rendah namun dipenuhi wibawa intimidasi mutlak seorang pemimpin. "Aku tegaskan sekali lagi di depan semuanya, dengan atau tanpa persetujuan dari Mommy, aku tetep bakal MENIKAHI KALEA AZZAHRA PUTRI secara sah besok pagi di KUA!"
Hermawan langsung berdiri dari duduknya, menatap Radit dengan pandangan mata tua yang berkilat penuh amarah yang luar biasa besar. "Dokter Radit Baskara!!! Jaga bicaramu di rumah saya! Kamu mau menikahi putri saya hanya untuk menjadikannya tameng kebohonganmu menghadapi ibumu?! Kamu mau membawanya masuk ke rumahmu hanya untuk membiarkannya disakiti dan dihina setiap hari oleh ibumu sendiri, hah?! Saya nggak akan sudi membiarkan kamu menyakiti Kalea lebih jauh!"
Radit menatap lurus ke dalam manik mata Hermawan, lalu melayangkan sebuah senyuman sinis yang sangat dingin dan mematikan, melempar sebuah kalimat sindiran balik yang begitu menusuk relung hati sang kepala keluarga Wijaya.
"Menyakiti Kalea, Om Hermawan?" tanya Radit dengan nada suara sarkastik yang sangat menyebalkan. "Bukankah selama dua puluh empat tahun hidup di dalam rumah neraka ini, Kalea udah terlalu biasa disakiti, dipukul, dicambuk, dan dihina sebagai anak haram oleh Anda dan seluruh anggota keluarga Anda sendiri? Jadi jangan berlagak sok menjadi ayah yang peduli sekarang, karena perlindunganku jauh lebih aman buat dia daripada hawa beracun di rumah ini!"
DEG!
Kalimat telak dari mulut Radit seketika memukul mundur mental Hermawan. Pria paruh baya itu langsung terdiam membisu, tubuh tegapnya kaku membatu di tempat dengan helausan napas panjang yang sangat berat karena tidak bisa membantah kebenaran kelam masa lalu yang baru saja dibongkar oleh sang Dokter Bedah genius.
"Eh, tunggu dulu! Saya menolak keras Kalea menikah dengan Dokter Radit?!"
Sebuah suara bariton lain mendadak menginterupsi jalannya perdebatan panas dari arah pintu masuk. Semua pasang mata di ruangan itu langsung menengok serentak dengan wajah terkejut setengah mati. Pria yang baru saja melangkah masuk dengan pakaian kantor kasual yang berantakan itu tidak lain adalah Fandi Achmad Mahendra.
Fandi yang baru saja mendapat kabar dari Shinta lewat pesan rahasia langsung melesat pulang dari kantornya demi mencegah pernikahan Kalea. Obsesi kotor dan hasrat gilanya kepada Kalea membuat dadanya terbakar api cemburu yang luar biasa hebat, dia tidak rela kecantikan mata biru Kalea harus jatuh ke dalam dekapan Radit. Melihat semua orang menatapnya dengan raut wajah terkejut, Fandi dengan sangat licik langsung memasang wajah paling memelas dan melontarkan kalimat palsu yang dipenuhi taktik manipulasi agar seluruh orang di ruangan itu percaya pada bualannya.
"Papa, Mama, Fitri sayang... tolong dengerin Fandi!" ucap Fandi dengan suara yang bergetar penuh sandiwara kebohongan, berjalan mendekati sofa Hermawan. "Fandi melarang Kalea menikah dengan Dokter Radit murni karena Fandi nemu bukti kalau Kalea ini sebenernya punya niat busuk! Dia sengaja mau nikah sama Dokter Radit cuma buat memoroti harta keluarga Baskara, setelah itu dia berencana pakai kekuasaan Dokter Radit buat ngehancurin perusahaan pialang saham milik Fandi dan bisnis Papa Hermawan dari dalam sebagai bentuk balas dendam atas masa lalunya! Kalea itu licik banget, Pa! Jangan percaya sama wajah polosnya!"
Hermawan yang mendengar penjelasan kompak dari menantunya yang selama ini dia anggap sebagai anak emas, langsung menganggukkan kepalanya perlahan dengan wajah datar. "Kalau begitu... Papa setuju sama perkataan Fandi. Pernikahan ini harus dibatalkan!"
Fandi yang melihat respon mertuanya langsung tersenyum mengejek yang sangat tipis dan licik tersembunyi, menatap lurus ke arah Radit dengan pandangan mata yang seolah menertawakan ketidakberdayaan sang Direktur Utama dalam hatinya. Mampus kamu, Dokter Sombong! Kalea cuma boleh jadi milikku, bukan milikmu! batin Fandi penuh kemenangan egois.
Seketika itu juga, seluruh orang di ruang tamu—Sarah, Shinta, Fitri, dan Ambarwati—kembali kompak menyerang Kalea dengan rentetan kalimat hinaan, makian, dan caci maki yang sangat kejam, menyebutnya sebagai perempuan murahan, gatel, anak haram tidak tahu diri, dan iblis pembawa sial yang mau merusak dua keluarga besar sekaligus. Suasana ruangan benar-benar menjadi sangat bising dan menguras emosi batin.
Ambarwati Baskara berdiri dari duduknya, menunjuk tepat ke arah wajah Kalea dengan pandangan mata yang sangat kaku dan penuh penolakan mutlak. "Pokoknya sampai nyawaku hilang sekalipun, aku tetep MENOLAK kalian menikah! Keluar kamu dari sini perempuan darah kotor?!"
Di tengah-tengah badai hinaan keji yang terus memojokkannya, Kalea Azzahra Putri yang sejak tadi diam membeku mendadak menarik napas panjang sekali. Sisi tangguh, tegas, dan bar-barnya menyala total hari ini. Dia menolak untuk menyerah pasrah pada kelicikan mereka. Dengan gerakan yang sangat berani, tegas, dan mengejutkan semua orang, Kalea justru semakin mempererat genggaman tangannya pada jemari Radit, lalu memalingkan wajah cantiknya melemparkan sebuah tatapan mata biru yang sangat sinis, mengejek, dan dipenuhi rasa muak yang mendalam tepat ke arah wajah pucat Fandi.
"Aku... aku tetep bakal MENIKAH dengan Mas Radit besok pagi, Mas Fandi!" ucap Kalea dengan suara yang sangat lantang, jelas, dan memotong seluruh kebisingan ruangan dengan telak. Kalea tersenyum mengejek, memperlihatkan binar mata birunya yang berkilat indah menantang iparnya. "Urus aja mulut kotormu yang penuh kebohongan itu, Mas Fandi! Mau kamu teriak sampai urat lehermu putus sekalipun, takdirku udah resmi terkunci sama Mas Radit! Aku nggak peduli sama bualan palsumu?!"
DEG!
Mendengar keputusan berani dan tantangan terbuka dari mulut Kalea yang menyebut nama 'Mas Radit' dengan begitu mesra, Fandi seketika mengepalkan kedua tangan kekarnya kuat-kuat di samping tubuhnya. Rahang tegasnya mengeras kuat dengan urat leher yang menegang kaku, matanya berkilat memancarkan amarah dan dendam yang luar biasa membara karena tidak terima obsesi gilanya dihancurkan dalam sekejap mata oleh kata-kata sinis adik iparnya tersebut.
"Kalea!!! Jaga bicaramu ya! Mas nggak terima kamu—" Fandi baru saja mau melangkah maju memaki marah, namun Fitri langsung memegang lengan suaminya dengan wajah bingung bercampur cemburu.
"Mas Fandi... kenapa kamu kelihatan marah banget sampai segitunya sih pas Kalea mau nikah sama Dokter Radit?" tanya Fitri menaruh curiga pada pembawaan suaminya yang luar biasa emosional sejak tadi.
Fandi yang menyadari posisinya mulai terancam, dengan cepat memutar otak manipulasinya. Dia langsung membalikkan tubuh tegapnya, melingkarkan lengannya di sekeliling bahu Fitri, lalu memberikan pengertian palsu dengan kata-kata manis yang sangat lembut tepat di depan istrinya yang bodoh tersebut. "Ya Allah, Fitri sayang... Mas marah begini murni karena Mas peduli sama kamu dan Dokter Radit sebagai bos kamu di rumah sakit! Mas nggak mau bos dari istri tercinta Mas ini harus ketipu sama kelicikan Kalea yang mau memoroti hartanya! Mas cuma mikirin keselamatan karir kamu, Fitri sayang, demi Allah cuma kamu yang ada di hati Mas." Fandi sengaja mengeraskan suaranya sambil mencium pipi Fitri dengan mesra untuk meredam curiga.
Fitri yang dasarnya sangat buta akan cinta langsung tersenyum lega, menganggukkan kepalanya dengan bodoh mempercayai seratus persen seluruh rayuan maut suaminya yang sangat busuk tersebut. "Iya, Mas Fandi sayang... makasih ya udah selalu mikirin aku."
Kalea yang menyaksikan adegan pelukan kebodohan Fitri dan kelicikan Fandi hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan kekehan sinis yang penuh rasa jijik mendalam. Radit di sampingnya ikut melayangkan sebuah senyuman mengejek yang sangat meremehkan ketidakberdayaan Fandi di bawah kakinya.
"Keputusan kami udah bulat, Om Hermawan, Mommy," tegas Radit sekali lagi dengan suara baritonnya yang berat, merapatkan tubuh jangkungnya melindungi Kalea seutuhnya. "Besok pagi, Kalea bakal resmi jadi istri sah seorang Raditya Evan Baskara!"
"RADITYA EVAN BASKARA!!! KAMU BENER-BENER ANAK DURHAKA!!! KELUAR KAMU ANAK HARAM SIALAN DARI KEHIDUPAN ANAKKU?!" teriakan histeris Ambarwati Baskara memecah ruangan dengan volume maksimal akibat murka yang sudah melampaui batas kemampuan tubuh paruh bayanya menahan emosi.
Tiba-tiba, di tengah lengkingan amarahnya, wajah Ambarwati mendadak memucat sempurna bagaikan kertas. Kedua tangannya bergerak refleks mencengkeram erat area dada kirinya dengan napas yang mendadak terengah-engah kaku menahan sakit yang luar biasa hebat akibat serangan jantung mendadak. Hanya dalam hitungan dua detakan jantung, mata Ambarwati memutar ke atas dan seluruh tubuh paruh bayanya langsung ambruk, pingsan total jatuh di atas sofa beludru.
"MOMMY?!" Radit berteriak panik, sifat dokter bedah vaskular setianya langsung mengambil alih seluruh kesadarannya. Radit dengan cepat melepaskan genggaman erat tangan mungil Kalea, lalu berlari kesetanan menerobos meja untuk menangkap dan memeriksa denyut nadi di leher ibunya yang sudah tidak sadarkan diri.
Sarah Wijaya yang melihat kesempatan emas ini langsung melompat berdiri, menunjuk tepat ke arah wajah Kalea dengan pandangan mata yang dipenuhi oleh fitnah kejam yang baru. "Tuh, kan! Lihat itu, Radit! Ini semua gara-gara perempuan anak haram ini! Kalea yang udah bikin Mommy kamu jantungan dan pingsan begini! Kalea itu emang pembawa sial pembawa kematian di mana pun dia berada?!"
"TUTUP MULUTMU, NYONYA SARAH!!! JANGAN BERANI-BERANI MEMFITNAHKU ATAS KONDISI BELIAU?!" bentak Kalea balik dengan suara parau menahan amarah yang meledak, mata birunya berkilat tajam menolak disalahkan atas situasi darurat medis ini.
Radit tidak memedulikan di sekitarnya. Dengan gerakan yang sangat cekatan, kuat, dan luar biasa cepat, Radit langsung mengangkat dan menggendong tubuh ibunya yang pingsan ke dalam dekapan lengan kekarnya. Dia melangkah lebar setengah berlari menerobos pintu keluar menuju mobil mewahnya. "Kalea! Buka pintu mobil! Fitri, siapkan peralatan darurat di jok belakang! Kita harus bawa Mommy ke IGD Rumah Sakit Pusat Harapan Medika sekarang juga sebelum terlambat?!" teriakan bariton Radit menggema keras membelah kepanikan siang itu.
...****************...
Pesan darurat mengenai pingsannya Ambarwati langsung menyebar cepat ke seluruh anggota keluarga. Hanya dalam hitungan menit, koridor depan ruang tunggu IGD Rumah Sakit Pusat Harapan Medika mendadak ramai dan penuh sesak. Di sana sudah berkumpul Hermawan, Sarah, Fandi, Shinta, serta Dimas dan Amanda yang baru saja tiba dari tempat kerja mereka masing-masing.
Kalea duduk menyudut di kursi besi panjang bersama Radit yang setia menemani di sampingnya. Radit sengaja duduk merapat, mencoba memberikan ketenangan bagi Kalea yang napasnya masih memburu akibat rentetan kejadian gila di rumah Wijaya tadi.
Dimas yang baru saja melangkah masuk ke lorong IGD dengan napas terengah-engah langsung mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Begitu sepasang mata elangnya menangkap sosok wanita berhijab yang duduk di samping abangnya, Dimas langsung tersentak kaget. Langkah kaki sang rektor muda seketika membeku di atas lantai selasar. Matanya membelalak sempurna, menatap tidak percaya pada sosok wanita yang wajah cantiknya terus berputar-putar di kepalanya sejak kemarin malam.
Kalea yang menyadari kehadiran seseorang perlahan mendongakkan kepalanya. Begitu mata birunya bersitatap secara langsung dengan Dimas, Kalea ikut terperanjat setengah mati. Tubuh mungilnya refleks bangkit berdiri dari kursi tunggu dengan wajah yang dipenuhi rasa syok yang luar biasa besar.
"Dimas?!" tanya Kalea dengan nada suara yang sangat terkejut, matanya melotot tidak percaya. "Kenapa... kenapa kamu bisa ada di rumah sakit ini?!"
Dimas melangkah maju dua langkah dengan gerakan yang kaku, wajah tampannya dipenuhi rasa bingung yang amat mendalam. "Kalea?! Kamu sendiri ngapain ada di sini?! Kenapa kamu bisa barengan sama keluarga Wijaya?!"
Mereka berdua bener-bener sama-sama melongo membeku di tengah koridor rumah sakit, saling melempar tatapan mata yang dipenuhi oleh badai keterkejutan. Malam itu di pinggir jalan yang sunyi, mereka hanya saling bertukar nama panggilan pendek tanpa menceritakan latar belakang keluarga masing-masing. Kalea sama sekali nggak tahu kalau pria hangat yang menolong motornya kemarin malam ternyata adik kandung Radit. Begitupun Dimas yang sama sekali nggak tahu siapa identitas asli cewek bermata biru yang telah mencuri hatinya pada pandangan pertama tersebut.
Di saat Kalea dan Dimas sedang terjebak dalam rasa syok, Shinta yang kelicikannya selalu menyala melihat peluang langsung bergerak cepat. Shinta melangkah dengan gaya anggunnya yang dibuat-buat, menghampiri Amanda yang sedang berdiri cemas di dekat pintu kaca resusitasi. Dengan senyuman manis yang dipaksakan, Shinta mengulurkan tangannya di depan Amanda.
"Halo... kenalin, namaku Shinta," ucap Shinta dengan nada suara yang sengaja dibuat sangat lembut dan ramah, mencoba mencari sekutu baru.
Amanda yang dasarnya adalah seorang desainer fashion muda yang supel, langsung membalas uluran tangan itu dengan senyuman ramah. "Eh, hai. Aku Amanda. Salam kenal ya, Shinta."
Setelah berkenalan secara singkat, raut wajah Shinta mendadak berubah drastis menjadi sangat sedih dan dipenuhi kedengkian yang tersembunyi. Shinta memajukan tubuhnya, menatap Amanda dengan pandangan penuh rahasia. "Amanda... kamu pasti bingung ya kenapa suasananya jadi tegang banget begini? Kamu tahu nggak, sebenernya siapa perempuan bermata biru yang lagi berdiri sama Mas Dimas di sudut sana itu?"
Amanda mengernyitkan dahinya bingung, menengok ke arah Kalea. "Siapa emangnya? Aku beneran nggak tahu. Dia ada hubungannya sama keluarga kamu?"
Shinta langsung tersenyum licik dalam hati, lalu menunjuk tepat ke arah Kalea menggunakan jari lentiknya dengan gerakan yang sengaja dikeras-keraskan. "Dia itu Kak Kalea, kakak aku! Amanda harus tahu, dia itu cewek gatel yang licik banget! Tadi di rumahku, dia tiba-tiba dateng bareng Dokter Radit. Dokter Radit bilang kalau Kalea itu pacarnya dan mereka nekat mau nikah kilat di KUA besok pagi! Kak Kalea sengaja ngejebak Dokter Radit demi bisa memoroti harta keluarga Baskara! Tadi di depan Mommy-mu, Kak Kalea ngelontarin kata-kata kejam dan fitnah busuk yang bikin Mommy syok berat sampai jantungan dan pingsan total kayak sekarang! Dia itu perempuan pembawa sial yang mau ngebunuh Mommy kamu secara perlahan, Amanda!"
Sarah yang berdiri di sebelah Shinta nggak mau kehilangan momen emas ini buat menjatuhkan Kalea. Sarah langsung ikut menimpali dan melebih-lebihkan cerita palsu demi membakar emosi Amanda. "Iya, Amanda! Apa yang dibilang Shinta itu seratus persen bener! Tante sendiri saksinya tadi di rumah! Kalea itu di rumah emang genit banget, hobi ngerusak hubungan orang! Tadi dia sengaja maki-maki Jeng Ambarwati sampai Jeng Ambar pegang dada dan pingsan ambruk di sofa! Dia bener-bener iblis pembawa sial di dalam dua keluarga kita!"
Mendengar rentetan fitnah keji dan tuduhan luar biasa kejam dari mulut Shinta dan Sarah, Amanda langsung kehilangan seluruh akal sehatnya. Darah mudanya bergejolak hebat akibat panik bercampur emosi tingkat tinggi. Wajah cantiknya memerah padam menahan murka yang meledak-ledak.
Amanda melompat maju, berlari kesetanan menerobos lorong tunggu menuju ke arah posisi duduk Kalea.
PLAK!!!
Sebuah hantaman tamparan yang luar biasa keras, telak, dan membabi buta dari telapak tangan Amanda mendarat mulus menghantam pipi kiri Kalea hingga menimbulkan suara nyaring yang menggema di sepanjang koridor. Jilbab voal hitam milik Kalea seketika bergeser berantakan.
Radit yang duduk di samping Kalea langsung terkejut setengah mati melihat tindakan nekat adiknya. Dengan gerakan refleks yang sangat cepat dan protektif, lengan kekar Radit langsung menarik tubuh mungil Kalea dan menyembunyikan wanita itu dengan aman di balik punggung tegapnya, menjadi perisai hidup bagi Kalea. Radit membusungkan dadanya, lalu menatap tajam lurus ke arah mata Amanda dengan pandangan mata elang yang sangat dingin, menusuk, dan memancarkan aura intimidasi yang mengerikan.
Amanda yang tertahan oleh tatapan membunuh kakaknya hanya bisa berdiri mematung, lalu melemparkan tatapan mata yang sangat sinis dan penuh kebencian ke arah Kalea yang berada di belakang punggung Radit. Di sudut koridor, Shinta dan Sarah saling melirik, lalu kompak mengulas senyuman licik yang penuh kemenangan karena merasa provokasi mereka berhasil memojokkan Kalea.
Di saat yang sama, kalimat tentang 'Kalea adalah pacar Radit dan mereka mau menikah' mendadak terserap sempurna ke dalam indra pendengaran Dimas.
DEG!
Bagai disambar petir di siang bolong, fakta kejam itu seketika meruntuhkan seluruh dunia indah di dalam dada Dimas Narendra Baskara. Tubuh tegap sang rektor muda langsung membeku kaku laksana patung batu.
"Jadi cewek bermata biru yang dibilang Mas Radit dan Mommy semalam... adalah Kalea? Cewek yang aku cintai pada pandangan pertama di pinggir jalan kemarin... ternyata adalah calon istri dari abang kandungku sendiri?" batin Dimas menjerit frustrasi dengan jantung yang berdegup kencang. Kepedihan batin yang luar biasa besar langsung mengunci seluruh rongga dadanya.
Dimas perlahan-lahan melangkah maju satu langkah, menatap lekat-lekat ke arah Kalea yang tampak memegangi pipinya yang memerah di belakang Radit. Di balik kehancuran hatinya, sifat hangat Dimas tetap menolak melihat Kalea disakiti.
"Kalea..." panggil Dimas dengan nada suara yang mendadak berubah jadi sangat lembut, pelan, namun terdengar penuh getaran kepedihan batin. "Pipi kamu...merah banget. Amanda tadi bener-bener udah keterlaluan." Dimas memalingkan wajah tampannya, menatap tajam ke arah adiknya sendiri dengan pandangan menegur yang kaku. "Amanda! Minta maaf sekarang juga! Kamu nggak punya hak buat mukul orang di tempat ini tanpa tahu kebenaran yang sesungguhnya!"
Amanda merengut kesetanan, menolak keras perintah abangnya. "Nggak mau! Mas Dimas kok malah ngebela cewek pembawa sial ini sih?!"
Dimas tidak memedulikan banyahan adiknya. Dia kembali menatap lurus ke dalam manik mata biru Kalea dengan seulas senyuman tipis yang dipaksakan demi menahan sesak di dadanya. "Kalea... atas nama adikkku Amanda, aku bener-bener minta maaf yang sebesar-besarnya ya atas tamparan tadi. Tolong dimaafkan ya..."
Kalea menatap ketulusan yang bercampur kepedihan di mata Dimas. Rasa gugup dan bersalah mendadak merayap di dadanya, namun dia mencoba memaksakan seulas senyuman manis yang tipis. "Nggak apa-apa, Dimas... terima kasih ya udah nahan adikmu tadi. Aku nggak apa-apa kok."
CEKLEK!
Di saat ketegangan batin itu membubung, semua pasang mata langsung menengok serentak ke arah pintu ruang resusitasi darurat IGD yang mendadak terbuka. Sosok Fitri melangkah keluar dengan wajah kaku yang dipenuhi oleh kelelahan medis, didampingi oleh beberapa perawat senior setelah berhasil menstabilkan kondisi Ambarwati di dalam.
Amanda langsung menghambur maju. "Dokter Fitri! Gimana kondisi Mommy di aku?!"
Fitri menghela napas panjang, menatap jajaran keluarga Baskara dengan pandangan prihatin seorang dokter. "Kondisi Nyonya Ambarwati saat ini udah berhasil melewati masa kritis utamanya setelah diberikan tindakan kejut jantung darurat dan injeksi epinefrin tadi. Namun, penyumbatan di pembuluh darah jantung utamanya ternyata sangat parah. Beliau saat ini harus dipindahkan ke ruang ICU vaskular untuk pemantauan intensif selama dua puluh empat jam ke depan sebelum bisa diputuskan tindakan operasi bypass lanjutannya."
Mendengar penjelasan detail dari Fitri, Amanda dan Dimas langsung bergegas melangkah masuk menembus pintu kaca ruang resusitasi untuk melihat kondisi ibunya yang mulai dipindahkan.
Setelah adik-adiknya masuk, Radit membalikkan tubuh tegapnya menghadap lurus ke arah Kalea. Sifat dingin dan kakunya melunak, berganti menjadi sebuah kelembutan yang hangat. Radit mengulurkan tangan kanannya, menyentuh lembut pergelangan tangan Kalea. "Kalea, ayo ikut aku masuk ke dalam. Kita liat kondisi Mommy bersama."
Kalea terdiam sejenak, lalu menggelengkan kepalanya perlahan dengan helauan napas panjang yang kaku, menolak ajakan tersebut karena sadar kehadirannya di dalam hanya akan memicu amarah baru bagi Amanda. "Nggak, Mas... aku tunggu di luar aja ya. Nggak baik kalau aku masuk sekarang, situasi di dalam pasti lagi sensitif banget setelah kejadian tadi."
Radit menatap lekat mata biru Kalea, memahami kedewasaan berpikir wanita kontraknya tersebut. Pria berusia 29 tahun itu tidak memaksakan kehendaknya. Sebaliknya, Radit justru mengulas sebuah senyuman tipis yang sangat manis dan menawan, memperlihatkan lesung pipinya yang dalam seolah memberikan suntikan kekuatan batin bagi Kalea. "Ya udah, kalau itu maumu. Kamu tunggu di sini sebentar ya, aku nggak bakal lama di dalam."
Kalea yang melihat senyuman manis dari pria sedingin Radit mendadak merasakan jantung wanitanya kembali berdegup kencang dengan ritme yang manis. Dia menganggukkan kepalanya, lalu membalas senyuman Radit dengan sebuah senyuman manis yang tulus dari bibir ranumnya. "Iya, Mas. Aku tunggu di sini."
Radit menepuk pelan bahu Kalea sekali, lalu berbalik tubuh melangkah masuk menembus pintu kaca IGD dengan wibawa penuh seorang putra sulung. Kalea kembali mendudukkan diri di kursi besi tunggu, memandangi kepergian Radit dengan perasaan campur aduk.