(Tokoh utama Pria+Wanita)
Raka Pradipta adalah seorang suami yang selama menikah hanya menjadi alat penghasil uang bagi keluarga istrinya, ia di paksa membiayai kehidupan seluruh keluarga istrinya. Tapi karena rasa cinta yang sangat besar Raka menjalani kehidupannya dengan sepenuh hati tanpa mengeluh sedikitpun. Namun, ketika sebuah kenyataan pahit menghantamnya, rasa sayang yang selama ini hanya ia simpan untuk istrinya lenyap seketika ketika istrinya lebih memilih berkhianat dengan seorang pria yang lebih segalanya darinya, Raka pun di paksa menceraikan sang istri lalu ia di usir tanpa hormat oleh keluarga istrinya itu.
Namun, tak ada yang menyangka jika Raka adalah seorang anak dari penguasa jaringan bisnis di negaranya, dan apakah identitas aslinya itu akan di ketahui keluarga mantan istrinya?
ayo simak cerita baru author yang satu ini, semoga para reader suka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mochamad Fachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Bertemu Doni
Tidak ada lagi yang mencoba menyela, bahkan Kevin yang sejak tadi tampak ingin berargumen akhirnya hanya merapikan berkas di depannya sambil menundukkan pandangan.
Raka melirik sekilas seluruh ruangan sebelum menutup map di hadapannya dengan senyap.
“Kalau tidak ada lagi yang ingin disampaikan,” ucapnya tenang, “maka keputusan ini mulai berlaku minggu depan.”
Tatapannya beralih ke layar presentasi.
“Evaluasi menyeluruh akan berjalan selama tiga bulan pertama. Semua divisi wajib menyerahkan laporan mingguan, anggaran yang tidak relevan dihentikan, dan penilaian kinerja akan dilakukan ulang tanpa pengecualian.”
Ia berhenti sesaat, lalu melanjutkan dengan nada tetap datar. “Keputusan ini sudah final.”
Tidak ada yang membantah, Herman menarik napas panjang sebelum mengangguk kecil, Kevin pun ikut terdiam, jelas menyadari arah situasi sudah tidak bisa diubah.
Tuan Rendra yang sejak tadi memperhatikan hanya menyandarkan tubuh santai di kursinya.
“Kalau begitu rapat selesai,” ucapnya singkat.
Kursi-kursi mulai bergeser perlahan, para direksi berdiri satu per satu, beberapa langsung menghampiri Raka untuk memberi salam formal, sementara yang lain memilih diam sambil membawa pulang pikiran masing-masing.
“Selamat bekerja, Tuan muda.”
“Kami akan segera menyesuaikan.”
“Laporan awal akan kami kirim secepatnya.”
Raka hanya mengangguk seperlunya, tak lama kemudian ruang rapat mulai kosong. Selina yang sejak tadi sibuk mencatat beberapa poin mendekat sambil membawa tablet di tangannya.
“Kamu langsung pulang?” tanyanya sambil mengangkat alis.
Raka melirik jam tangannya singkat. Hari belum terlalu sore, tetapi kepalanya sudah terasa cukup penat untuk hari pertama.
“Ada beberapa hal yang ingin kupikirkan,” jawabnya tenang.
Selina mengangguk kecil. “Aku masih harus mengurus dokumen restrukturisasi dengan timku. Jadi mungkin pulang sedikit malam.”
Raka hanya mengangguk. “Jangan terlalu memaksakan diri.”
Kalimat sederhana itu membuat Selina sedikit berhenti sebelum buru-buru mengalihkan wajah.
“Sok perhatian,” gumamnya pelan sambil mendecak kecil.
Sudut bibir Raka bergerak samar sebelum ia melangkah pergi.
***
Beberapa menit kemudian, Bugatti hitam miliknya melaju meninggalkan area basement eksekutif, jalanan ibu kota mulai ramai oleh kendaraan sore hari, sementara satu mobil hitam berisi Jack dan pengawal mengikuti dari belakang dengan jarak aman.
Raka mengemudi sendiri dalam diam, satu tangan berada di setir sementara pikirannya melayang tanpa arah yang jelas. Hari pertama kembali ke perusahaan berjalan jauh lebih cepat dari yang ia bayangkan.
Lampu lalu lintas berubah merah, mobil perlahan melambat. Dan tepat ketika pandangannya bergerak ke sisi jalan, sesuatu membuat alisnya sedikit berkerut.
Seorang anak laki-laki dengan seragam sekolah tampak berjalan di trotoar sambil membawa kotak besar berisi gorengan. Kemejanya sedikit kusut, tas sekolah menggantung di satu bahu sementara langkahnya terlihat lelah.
Doni.
Raka langsung mengerem pelan lalu menepikan mobil beberapa meter di depan, pintu terbuka ia turun tanpa banyak berpikir.
“Doni.”
Langkah anak itu langsung berhenti, bocah itu menoleh refleks, awalnya tampak bingung sebelum matanya membesar.
“Mas Raka?” ucapnya terkejut.
Tatapannya langsung bergerak naik turun, jelas tidak langsung mengenali pria di depannya. Jas hitam rapi, mobil mewah yang terparkir di sisi jalan, dan aura tenang yang terasa sangat berbeda.
Namun beberapa detik kemudian wajah Doni berubah cerah. “Mas Raka!” serunya lebih cepat kali ini.
Bocah itu berjalan mendekat dengan ekspresi campur aduk antara kaget dan senang. “Kak... eh, Mas kok di sini?” tanyanya bingung.
Raka melirik kotak gorengan di tangan Doni sebelum menatap seragam sekolahnya. “Kamu pulang dari sekolah?” tanyanya tenang.
Doni mengangguk cepat. “Iya.”
Tatapan Raka kembali turun pada kotak besar itu.
“Terus ini?” tanyanya pelan. “Kenapa kamu jualan di jalanan?”
Ekspresi Doni berubah sedikit canggung, jemarinya mengerat pada pegangan kotak kardus.
“Ehm...” bocah itu menunduk sebentar. “Di rumah lagi banyak masalah, Mas. Kata Ibu... aku harus bantu-bantu.”
Raka terdiam beberapa detik, tatapannya sedikit berubah. “Sekolahmu bagaimana?” tanyanya lagi. “Masih masuk seperti biasa?”
Doni buru-buru mengangguk. “Masih, kok,” jawabnya cepat, lalu tersenyum kecil. “Aku cuma bantu jualan sepulang sekolah.”
Namun senyum itu terlihat terlalu dipaksakan untuk anak seusianya. Di belakang, mobil Jack ikut berhenti perlahan.
Jack turun sambil memperhatikan situasi, lalu sedikit mengangguk saat mengenali Doni, sementara Doni sendiri masih tampak kagum sekaligus bingung melihat penampilan Raka hari itu.
“Mas...” ucapnya ragu sambil melirik mobil di belakang. “Mas sekarang kerja di tempat keren, ya?”
Tatapannya kembali ke jas Raka dan mobil mewah di samping mereka, jelas penuh kebingungan sekaligus rasa penasaran.
Raka merasa teriris melihat Doni melakukan pekerjaan seperti itu, tanpa sadar air matanya nyaris menetes dan ia segera memalingkan wajahnya.
”Mereka tega membiarkan Doni seperti ini,” batin Raka.
Lalu Raka segera memperbaiki sikapnya dan menyunggingkan senyum untuk menutupi kesedihannya itu.
“Yaa, mas Raka sekarang bekerja di tempat yang keren, kalo kamu mau nanti kamu bisa bekerja disana,” jawab Raka sambil menoleh ke arah Jack dan memberikan isyarat kecil.
Mata Doni terlihat berbinar mendengar itu, dan di balik senyumnya Raka tahu bahwa Doni menyimpan banyak kesedihan setelah kepergian dia dari rumah itu.
“Wahh, beneran mas ya? Doni janji bakalan belajar lebih rajin lagi, biar bisa kaya mas Raka,” serunya dengan ekspresi wajah yang sudah lama tak pernah ia lihat.
Raka menepuk pundak Doni pelan, Jack mendekat ke arah mereka sambil membawa amplop coklat yang cukup tebal, setelah itu Jack memberikan amplop itu kepada Raka.
“Doni, ingat. Ini uang sekolahmu, jangan biarkan Ibu dan kakak mu tahu...” ucapnya terhenti, “sembunyikan uang ini, dan jika kamu butuh pertolongan, telpon mas Raka,” lanjutnya sambil memberikan amplop berisi uang itu.
Doni mematung beberapa saat, sambil melirik ke arah amplop di tangan Raka dan gorengan yang masih terlihat hangat.
“I-ini uang untuk apa mas?” tanya Doni memastikan.
Raka menarik tangan Doni dan memberikannya kepada anak itu.
“Ini masukan saja ke dalam tasmu, dan jangan ada yang tahu, sekarang kita pulang, mas Raka akan antar kamu,” ucap Raka sekaligus mengakhiri percakapan mereka.
Doni menatap ke arah gorengannya.
“Lalu... ini gimana mas?” tanya Doni sambil menatap kotak gorengannya yang masih penuh.
Raka terkekeh pelan. “Itu tinggalkan di mobil mas saja, bilang saja jualanmu sudah habis, yaa sudah ayo masuk."
Doni mengangguk singkat, ia tidak pernah menyangka akan menaiki sebuah mobil mewah yang hanya bisa ia lihat di poster atau televisi saja. Begitu ia duduk di kursi penumpang, Doni merasakan kesan yang sangat mewah.
“Mas Raka, ini mobil punya Mas Raka?” tanya Doni sambil memperhatikan interior mobil milik Raka itu, bahkan untuk menyentuh beberapa bagian saja ia segan karena takut mengotori mobil tersebut.
Raka menoleh sambil terkekeh pelan, begitu melihat reaksi Doni. “Yaa, ini mobil Mas Raka, suatu hari juga kamu pasti bisa membeli mobil yang lebih keren dari ini.”
kite cuhi2 waktu bace
masih sj menyalahkan raka
pdhal! sjk nikah raka jd sapi perah di kel rasti, tp msh tetep diam sj
Hati hati Doni mending ditabung saja, kalau perlu deposito kan.
hati 2 lo ilang, lagian raka bukannya kasih ATM sj lbh simpel ya, ni dion pergi2 bw uang banyak lo, takutnya di smbil. nenek. lampir
siap2 ya farhan km nanggung hutang jel rasti🤣🤣🤣puyeng puyeng deck km