NovelToon NovelToon
Rahasia Di Balik Seragam Pelayan

Rahasia Di Balik Seragam Pelayan

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Obsesi / Pembantu / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:19.9k
Nilai: 5
Nama Author: SunRise510k

-Spin off 'NOVEL PURA-PURA JADI SUPIR'-

Sepuluh tahun mendekam di penjara mengubah Bianca Adytama dari nona muda angkuh menjadi wanita yang haus akan ketenangan. Membuang nama besarnya, ia pergi ke sebuah desa di Jawa Barat dan menyamar sebagai pelayan bernama Gita.
Di sebuah villa mewah milik seorang juragan perkebunan, Gita berharap bisa hidup tenang. Namun, kedatangan Arlan Dirgantara—putra sulung sang juragan yang baru bercerai—mengacaukan segalanya.
Arlan tidak buta. Ia tahu Gita bukan pelayan biasa. Gerak-geriknya terlalu elegan, bicaranya terlalu cerdas, dan sorot matanya menyimpan rahasia gelap. Dari rasa penasaran menjadi obsesi, Arlan mulai menjerat Gita dalam permainan cinta yang menegangkan.
Sanggupkah Bianca mempertahankan penyamarannya saat masa lalu yang ia kubur mulai tercium oleh pria yang terobsesi memilikinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Aroma sisa gairah dan wangi parfum mahal Stella yang menyengat perlahan menguap, digantikan kembali oleh bau tembakau kering dari cerutu Kuba yang dinyalakan Mahendra. Pria itu kini telah kembali ke singgasananya. Kemeja hitamnya sudah terkancing rapi, menyembunyikan sisi liar yang beberapa menit lalu merajai kamar tidur pribadinya. Di seberang meja, pintu ganda ruang kerja diketuk dua kali sebelum asisten pribadinya melangkah masuk dengan kepala menunduk patuh.

Ada selembar map biru tua di tangan sang asisten. Sebuah berkas yang dikumpulkan dengan tergesa-gesa oleh tim informan terbaik mereka.

"Ini hasil penyelidikan kilat mengenai wanita bernama Gita Ivara, Tuan," ucap sang asisten, menyerahkan map tersebut ke atas meja jati Mahendra dengan gestur yang sangat hati-hati.

Mahendra mengambil map itu, membukanya dengan satu gerakan tangan yang santai. Begitu matanya memindai baris-baris kalimat yang tercetak di lembar pertama, seulas senyum tipis—sebuah senyuman predator yang telah menemukan kelemahan fatal dari mangsanya—perlahan terukir di sudut bibirnya. Matanya berkilat puas.

Ia tidak langsung membaca detailnya sendirian. Dengan gerakan melempar yang anggun namun meremehkan, Mahendra meluncurkan map biru itu melintasi permukaan meja, tepat mendarat di depan Stella yang sedang duduk bersandar dengan kaki menyilang di atas sofa beludru. Stella, yang saat ini mengenakan kembali gaun merahnya sambil merapikan tatanan rambutnya, melirik map itu dengan binar mata penuh rasa ingin tahu.

"Baca itu, Stella. Tampaknya mantan suamimu yang terhormat sedang memelihara seekor anak serigala di dalam rumahnya," ujar Mahendra, suaranya bariton, rendah, dan dipenuhi nada kepuasan yang dingin.

Sang asisten yang masih berdiri di dekat meja mengambil alih penjelasan, suaranya datar layaknya mesin yang membacakan vonis hukum.

"Dari data yang kami kumpulkan, identitas wanita bernama Gita Ivara ini memiliki catatan kelam yang sangat tebal, Nyonya. Dia terdaftar pernah mendekam di balik jeruji besi selama sepuluh tahun penuh."

Gerakan tangan Stella yang sedang membetulkan antingnya mendadak terhenti. Matanya membelalak lebar saat jemarinya membuka halaman pertama berkas tersebut.

"Sepuluh tahun?" Stella mengulang kata itu dengan nada tidak percaya, suaranya meninggi satu oktav. "Kasus apa?"

"Kasus percobaan pembunuhan berencana, Nyonya," lanjut sang asisten tanpa ekspresi. "Korban dari tindakannya tidak lain adalah anggota keluarganya sendiri. Sebuah skandal keluarga besar yang diredam dengan sangat rapi oleh pihak kuasa hukum mereka sepuluh tahun lalu. Setelah masa hukumannya selesai beberapa bulan yang lalu, wanita ini mengubah seluruh sisa hidupnya, pindah ke sebuah desa terpencil di kaki gunung Jawa Barat, dan entah bagaimana berhasil menyusup menjadi pelayan di villa pribadi milik orang tua Arlan Dirgantara."

Stella meletakkan dokumen itu kembali ke atas lututnya, wajahnya yang cantik kini terdistorsi oleh kombinasi rasa terkejut dan tawa kemenangan yang getir. Ia menatap Mahendra dengan binar mata yang berkilat-kilat, dipenuhi rasa benci yang selama ini tertahan.

"Arlan... Arlan... pria yang selalu mengagungkan kebersihan nama baik, pria yang menceraikanku hanya karena aku mencoba mengamankan sisa hartanya, sekarang justru menampung seorang mantan narapidana di sampingnya?" Stella terkekeh, sebuah tawa melengking yang terdengar sangat sinis. "Dia sudah menampung orang yang salah! Bagaimana bisa seorang CEO Dirgantara Group yang skeptis dan paranoid itu membiarkan seorang kriminal wanita tidur di bawah atap yang sama dengannya, bahkan membawanya ke kantor pusat sebagai asisten pribadi?!"

Mahendra menuangkan sisa wiski ke dalam gelas kristalnya, mengocoknya perlahan hingga es batu di dalamnya berdenting pelan menepuk dinding kaca.

"Itu justru bagian terbaiknya, Sayang," potong Mahendra, senyumnya kini melebar menjadi sebuah seringai mematikan. Ia bersandar pada kursi kerjanya, menatap langit-langit ruangan seolah sedang membayangkan runtuhnya sebuah kerajaan.

"Arlan sangat bangga dengan proyek agro-resort mewah baru kita di Jawa Barat. Dia sedang mencoba meyakinkan para pemegang saham asing bahwa Dirgantara Group memiliki integritas moral dan stabilitas mutlak untuk mengelola kawasan elite tersebut."

Mahendra memajukan tubuhnya, menatap Stella lekat-lekat. "Bayangkan apa yang akan terjadi jika berita ini bocor ke lantai bursa besok pagi. Seorang pengusaha sukses yang dingin, yang memecat puluhan karyawan hanya karena kesalahan kecil dalam laporan keuangan, ternyata mempercayakan sistem forensik data lahannya kepada seorang wanita pembunuh yang baru keluar dari penjara. Ini bukan sekadar skandal asmara, Stella. Ini adalah peluru yang akan menghancurkan seluruh reputasi Arlan di mata dewan komisaris."

"Lalu, kapan kita akan menembakkan peluru ini?" tanya Stella, jarinya mengetuk-ngetuk foto Gita Ivara yang buram di atas kertas dokumen. "Aku sudah tidak sabar melihat wajah angkuh pelayan itu berubah menjadi pucat di depan semua orang."

"Jangan terburu-buru," bisik Mahendra, matanya menggelap penuh perhitungan. "Kita akan membiarkan mereka masuk ke dalam perangkap itu terlebih dahulu. Di sana, di tempat yang jauh dari jangkauan tim hukum pusat Jakarta, kita akan menjatuhkan mereka berdua sekaligus."

**

Malam beringsut kian larut, menyisakan kesunyian yang merayap di sela-sela dinding kamar apartemen mewah itu. Di luar jendela, Jakarta belum sepenuhnya tertidur, namun di dalam ruangan sempit ini, waktu seolah berjalan melambat. Hawa dingin dari pendingin ruangan terasa menggigit kulit, membuat Bianca merapatkan selimut kain tipis yang membungkus bahunya.

Ia duduk di tepi ranjang tunggalnya, menatap layar ponsel pintarnya yang mendadak berkedip tanpa suara di kegelapan kamar. Sebuah panggilan masuk dari nomor dengan kode area Surabaya.

"Ya, laporkan," bisik Bianca, suaranya terdengar sangat rendah namun sarat akan ketegasan yang mutlak—sisi dingin dari seorang putri mahkota dinasti Adytama yang tidak pernah benar-benar hilang.

"Selamat malam, Nona Bianca," suara bariton yang akrab dan terdengar sangat patuh menyahut dari seberang lini telepon.

Itu adalah Haryo, pria paruh baya yang menjadi orang kepercayaan paling setia yang tersisa dari lingkaran lama ayahnya. "Saya harus melaporkan hal penting. Beberapa jam yang lalu, tim intelijen siber kami mendeteksi adanya aktivitas mencurigakan. Seseorang dari Jakarta sedang menggali dan menyelidiki latar belakang mengenai identitas 'Gita Ivara' langsung ke basis data wilayah Bandung dan Jawa Barat."

Jantung Bianca berdesir tajam. Tangannya mengepal kuat pada sprei kasur. "Siapa? Apakah orang-orang Arlan?"

"Bukan, Nona. Pergerakan ini terlalu agresif dan terkesan ceroboh untuk ukuran tim hukum Tuan Arlan Dirgantara. Berdasarkan pelacakan alamat IP, pencarian ini diperintahkan dari dalam gedung Mahendra Korpora. Tampaknya musuh bisnis Tuan Arlan sedang mencari celah untuk menyerang beliau melalui Anda," jelas Haryo tenang. "Namun, Anda tidak perlu khawatir. Saya telah bergerak lebih cepat. Semua berkas asli, catatan sipil, hingga jejak digital mengenai perpindahan Anda ke desa terpencil itu sudah saya tutup dan kunci dengan enkripsi tingkat tinggi. Mereka hanya berhasil mendapatkan secuil informasi permukaan yang bias. Sebuah umpan hukum yang sengaja saya sisakan agar mereka tidak curiga."

Mendengar hal itu, Bianca mengembuskan napas lega. Ketegangan di bahunya sedikit mengendur. Kedewasaan dan ketegaran yang ia pelajari selama bertahun-tahun di dalam ruang sunyi masa lalunya membuatnya tidak mudah panik.

"Bagus, Pak Haryo. Kerja yang bersih," ucap Bianca, matanya menatap lurus ke dinding kosong dengan tatapan dewasa yang tegar. "Ingat, jangan biarkan siapa pun—termasuk Mahendra, Stella, atau bahkan Arlan sekalipun—tahu siapa sosok Gita Ivara yang sesungguhnya. Biarkan Gita tetap menjadi misteri, seorang gadis yatim piatu dari kaki gunung yang tidak memiliki apa-apa."

"Dipahami, Nona. Rahasia Anda aman bersama saya," jawab Haryo patuh. Ada jeda sejenak di seberang telepon sebelum Haryo kembali bersuara, kali ini dengan nada yang jauh lebih cerah. "Ada kabar baik lainnya dari Surabaya, Nona. Ini mengenai Adytama Properti."

Mendengar nama perusahaan ayahnya disebut, binar mata Bianca mendadak melembut. Ada rasa haru yang menyelinap di relung hatinya yang paling dalam.

"Bagaimana keadaannya?"

"Perusahaan berkembang dengan sangat pesat dan stabil sekarang, Nona. Kinerja kuartal pertama tahun ini melampaui target. Saat ini, kepemimpinan operasional sedang dipegang penuh oleh Tuan Bram. Seperti yang Anda ketahui, beliau adalah mantan asisten pribadi Tuan Raditya Mahardika yang sekarang telah resmi menjabat sebagai CEO Adytama Properti."

Bianca mengangguk pelan, seulas senyum penuh rasa syukur terukir di bibirnya yang tipis. Ia tahu betul siapa Bram—pria tangan kanan kakak iparnya, Raditya, yang memiliki kecerdasan forensik bisnis luar biasa dan integritas yang tidak perlu diragukan lagi.

"Aku mengerti. Aku sangat bersyukur Mbak Kirana dan Mas Raditya menempatkan orang-orang terbaik mereka untuk menjaga dan memajukan Adytama Properti," lirih Bianca, matanya sedikit berkaca-kaca karena luapan emosional yang pas. Pengorbanannya melepas seluruh hak waris dan memilih hidup mandiri tanpa sepeser pun harta keluarga sebagai bentuk penebusan dosa masa lalu terasa tidak sia-sia, selama perusahaan itu tetap hidup dan menghidupi ribuan karyawan.

"Jika saya boleh bertanya... kapan Nona Bianca akan menyudahi semua ini dan kembali ke Surabaya? Tempat yang seharusnya menjadi milik Anda?"

Bianca terdiam cukup lama. Tatapannya beralih pada seragam pelayan kain drill berwarna krem yang tergantung rapi di balik pintu lemarinya. Seragam yang baginya bukan sebuah penghinaan, melainkan jubah kedamaian yang melindunginya dari kepalsuan dunia luar. Namun, bayangan wajah Arlan yang tegas, tatapan pria itu yang protektif, dan cengkeraman tangannya yang posesif di dapur tadi mendadak melintas di benaknya, membuat dadanya berdegup dengan ritme yang tidak menentu.

"Aku tidak tahu, Pak Haryo," jawab Bianca akhirnya, suaranya mengalun pelan, mengalir bersama hembusan angin malam. "Aku masih sangat menikmati kebebasanku saat ini. Menjadi Gita, hidup mandiri dengan upah yang kuhasilkan sendiri di tengah kebun teh terpencil Jawa Barat itu... memberiku ketenangan yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Aku belum siap untuk kembali menjadi Bianca."

"Baiklah, Nona. Saya mengerti. Segera hubungi saya jika Tuan Arlan mulai menunjukkan tanda-tanda yang mencurigakan di sekitar Anda. Selamat malam, Nona."

Panggilan terputus. Bianca menurunkan ponselnya, kembali menyelimuti dirinya dalam keheningan kamar. Namun, rasa tenang itu tidak bertahan lama. Di dalam dadanya, ada pergulatan emosi yang kian meruncing. Intensitas Arlan yang seolah terus mengejarnya, sikap posesif pria itu yang penuh perlindungan di kantor siang tadi, perlahan-lahan mulai mengikis pertahanan hatinya. Bianca mulai menahan perasaannya dengan susah payah. Ia tahu, semakin lama ia tinggal di samping Arlan, semakin besar risiko badai rahasia ini meledak dan menghancurkan mereka berdua.

***

1
ms. yati74
Stella pewangi ruangan cari gara gara....weees cepet di bejek bejek sak Mahendra nya di bikin jadi gelandangan yooo bang Ar
Mukeseh
hajar stella arlan 🤣🤣🤣 q suka list keributan besar pokoke 😂😂😂
Anisa Sudarwanto
lnkut thorr
Mundri Astuti
Kirana coba muncul sama Raditya yak
Verawati Naycyl
Stella kamu salah memilih lawan.....bisa bisa kamu sama Mahendra bakalan di bikin nangis darah
fatmawati (pipit)
stella kamu blm mengenal keluarga adytama, jari lentik seseorang bisa membuka tabir kebusukan mu dan keluarga mu dlm pencurian aset milik arlan
Mundri Astuti
lanjut thor 🙏
Mukeseh
stella belum ae siapa gita ivara 🤣🤣 apalagi kalau mahendra tau apa gak syok dia 🤭
Sri Murtini
Byanka tenang saja blm saatnya kau kembali ke Surabaya
ryuka
adduuhhh duuhh bianca gimana ini 🤭🤭🤭🤭🤭
Mukeseh
lagi thorr
fatmawati (pipit)
stella kau blm mengenal bianca secara seluruhnya, mungkin dia di penjara bukan karna kemauannya karna ada seseorang yg menjebak dia dan keluarga adytama hancur
mungkin juga karna musuh raditya
fatmawati (pipit): yg itu aku lupa🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
fatmawati (pipit)
kau blm mengenal biaca adytama (gita Ivana) kau ingin menjatuhkan bianca maka kau akan berhadapan dengan sisi lainnya bianca
ryuka
aduuhhh bianca kamu berhak bahagia 🫠🫠🫠🫠🫠
Mundri Astuti
Mahendra minta dikepret ma Kirana dan raditya
Mundri Astuti
jangan harap bisa nyentuh Bianca kaya si bunglon Stella Mahendra, krn da Raditya, Kirana dan Aditama ...
mudah"an Kirana cepet tau dan mintol Radit buat kasih bodyguard jaga Bianca dari jarak jauh
Mukeseh
huuuu 😂😂semoga atrlan bisa mrlindu gi
Verawati Naycyl
gak sabar nunggu kelanjutannya thor....bakalan di apain Bianca sama Arlan..
Verawati Naycyl
lanjut thor..
Mundri Astuti
diihhhh Arlan, Gita atau Bianca ga terus terang itu krn privasinya, emang selama ini dia ngerugiin kamu kaya mantanmu itu...ngga kan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!