NovelToon NovelToon
Sebait Doa, Sekeping Asa

Sebait Doa, Sekeping Asa

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Mengubah Takdir / Anak Genius
Popularitas:848
Nilai: 5
Nama Author: Alvinoor

"Tuhan!, tidak banyak yang ku pinta, hanya kuatkan hati ku, bimbing langkahku, agar aku selalu sabar dan ikhlas dengan semua kehendak dan ketentuan mu ini".

Kisah perjuangan hidup seorang anak manusia, seorang remaja miskin, putra dari seorang penderita odgj bernama Kaenan.

Hinaan, caci maki, fitnah dan perundungan bahkan kekerasan fisik, sudah menjadi lauk makan sehari hari.

Meskipun hidup dalam kemiskinan dan tak punya siapa siapa, satu hal yang masih di yakini Kaenan, dia masih punya Allah dan doa doa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvinoor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Dari subuh, selesai sholat, dia sudah berangkat ke pondok Syarif, dia takut sahabat sekaligus saudara angkat nya itu keburu pergi kerja ke proyek milik mang Hamit.

Selesai berzikir dan berdoa, Syarif yang mendengar suara motor berhenti di depan pondok nya, segera membuka pintu pondok nya.

Matanya terbelalak melihat siapa yang sudah berdiri didepan pintu nya itu.

"Kae?, kenapa pagi pagi kau sudah ke pondok ku?" tanya Syarif heran.

"Apakah aku tidak boleh kesini mas?" tanya Kaenan menatap kearah wajah sahabatnya itu.

Syarif buru buru memeluk tubuh Kaenan erat sekali, "tentu saja kau boleh datang kapan pun kau mau, ini kan pondok mu juga, kita saudara kan?" tanya nya.

"Terimakasih mas, jangan pernah berubah meskipun kebenaran tersingkap satu persatu, kau tetaplah saudara ku Dunia akhirat, dan itu tak akan pernah berubah, atau merubah ku mas" ucap Kaenan dalam pelukan Syarif.

"Terimakasih adikku, kau masih mau menerima aku sebagai kakak mu, padahal kau sekarang kaya raya!" air mata Syarif mengalir, air mata haru melihat kenyataan Kaenan tidak pernah berubah sedikitpun juga.

"Mas!… Yang kaya raya itu mereka, bukan aku, aku masih Kaenan adik mu, yang hidup sebatang kara, hanya memiliki kau seorang harta paling berharga ku, aku tidak akan melupakan mu mas, disaat seluruh Dunia menolak ku, hanya kau seorang yang mau menerima aku apa adanya, terimakasih mas, terimakasih kakak ku, semoga di kehidupan lain, kau menjadi kakak kandung ku" ....

Disaat Dunia sudah pada gila, namun di sudut Dunia yang terpinggirkan, masih ada ketulusan, keikhlasan, cinta dan kasih sayang yang suci, seperti embun yang turun menyapa pagi.

Jangan takut melangkah, karena beribu jalan terbentang. Ditengah kebusukan moral manusia, cinta asmara yang di tunggangi nafsu syaitan, yakinlah cinta suci dan kasih sayang yang tulus itu masih ada. Meskipun berbalut duka dan air mata, para pencinta, akan terus mencintai, meskipun tak terucap dengan kata kata. Cinta yang menjadi fitrah suci umat manusia itu akan tetap terjaga. Cinta yang bukan untuk memiliki dan menguasai, tetapi rasa yang mau menerima dan berbagi.

Syarif mengajak Kaenan masuk kedalam pondok nya, menikmati sarapan pagi nasi putih, pucuk singkong, sambal terasi dan ikan sepat kering.

Meskipun sangat sederhana, namun Kaenan merasa nikmat dan bebas tanpa aturan yang kaku.

Di pondok Syarif ini, dia merasa diakui, bukan di dikte, di manusia kan, bukan diperalat.

Lagi pula, segala apapun yang dia obrol kan berdua, terasa sangat nyambung, karena mereka nyaris satu rasa dalam kehidupan nyata.

Kaenan menceritakan kembali kepada Syarif, cerita hidup nya yang di ketahui nya dari orang orang yang mengaku sebagai keluarganya.

"Lalu sekarang, apa rencana mu Kae?" tanya Syarif.

"Terus menjalani hidup sebagai Kaenan yang dulu mas, tidak ada yang perlu dirubah, jika mereka tak suka dengan itu, biarkan mereka yang pergi dari kehidupan ku, aku cukup bahagia dengan kehidupan ku yang sekarang ini mas, biarkan hanya kau seorang yang tahu siapa aku, agar semua orang tidak berubah sikap kepada ku!" ujar Kaenan tulus.

"Tapi dengan begitu, kau akan tetap dihina, di lecehkan, dan direndahkan, apa kau siap?" tanya Syarif.

Kaenan tersenyum menatap saudara angkat nya itu, "mas, maaf ya, jangan marah, tapi ini pendapat dan perasaan ku sendiri lho mas, bukan harus seperti itu, menurut ku, lebih baik mendapat hinaan dan cacian yang tulus dari pada pujian yang palsu, mereka merendahkan aku, karena memang martabat ku tidak tinggi, mereka menghina ku, karena memang aku tidak punya kemuliaan, aku tidak marah ataupun tersinggung dengan semua itu mas, aku sudah kenyang dengan semua nya, aku lebih senang menikmati hidup apa adanya, tanpa ada kemunafikan" Jawab Kaenan.

Syarif tidak menjawab, dia tahu, meskipun usia Kaenan terbilang sangat belia, tetapi dalam hal agama, mungkin Kaenan setingkat dengan ustadz, bahkan mungkin juga melebihi nya. Karena selain seorang Hafidzul Qur'an, dia juga lancar berbahasa Arab serta baca tulis huruf Arab gundul.

Setelah bersiap siap dengan bekal seadanya, kedua anak manusia dengan nasib yang serupa itu pergi ke proyek tempat mereka biasa bekerja ikut mang Hamit.

Di Rumah tuan besar Baskoro, pria tua itu duduk termangu di depan meja makan, setelah mendengarkan laporan dari sang istri.

"Jadi?, anak itu sudah pulang ke pondok usang itu ya mah?" tanya pria tua itu perlahan.

Nenek Carla menganggukkan kepala nya, "iya sayang, katanya mau kerja mencari pengalaman diluar dahulu, nanti sesekali akan datang menjenguk kita, lagi pula kita tidak bisa tiba-tiba memasukan dia dalam kehidupan kita begitu saja pah, kita rangkul dia pelan pelan, dia sudah banyak menderita, jangan buat dia malah menjauh dari kita gara gara kita memaksakan kehendak kepada nya, yang harus kita lakukan, biarkan hati nya yakin dan merasa aman bersama kita, tanpa harus kita paksa melakukan ini itu!" ujar nenek Carla memberi pengertian kepada sang suami nya.

Kakek Baskoro terdiam beberapa saat, mencerna ucapan istrinya itu.

"Baiklah sayang!, tapi aku akan tetap menyuruh orang orang ku menjaga nya secara diam diam, aku tidak ingin peristiwa buruk yg menimpa nya, terulang kembali!" kata pria tua itu.

"Terimakasih atas pengertian nya ya sayang!, menjaga keselamatan nya, itu memang tugas mu, tapi ingat, jangan buat dia merasa kita mata matai, biarkan dia bebas terbang, seperti burung Pipit di pagi hari" ....

Tuan besar Baskoro memeluk tubuh sang istri erat erat, wanita cantik yang telah mendampingi nya berpuluh puluh tahun, tanpa ada sekalipun muncul niatan untuk saling berkhianat.

Satu kesepakatan tercipta dalam diam dan saling pengertian, bahwa mereka memberi kesempatan kepada Kaenan untuk menentukan hidup nya, mencari pengalaman sebanyak banyak nya, namun tetap diawasi secara diam diam.

Sebenarnya berbagai fasilitas telah mereka berikan pada Kaenan, dari premium cards biasa, Gold cards hingga black cards. Namun semua itu tidak dibawa Kaenan , dia tinggal di dalam kamar nya, didalam Brankas pribadi yang hanya dia seorang yang tahu kode rahasia nya. Dia keluar hanya membawa ATM hasil tabungan nya saja bersama dengan buah kalung kenangan milik nya.

Bagi Kaenan, tidak ada kebanggaan berbelanja macam macam dengan uang hasil pemberian, apalagi itu uang warisan orang tua.

Sedari kecil, Kaenan diajarkan bu Limah untuk hidup dari hasil keringat sendiri, meskipun dari hasil jualan sampah plastik, itu kebanggan.

Wanita odgj itu tidak pernah mau menerima uang sedekah ataupun pemberian dari siapapun juga.

Hal itulah yang mendarah daging dalam kehidupan sehari-hari Kaenan, hidup menjunjung tinggi kejujuran. Dan itu pula lah yang membuat Kiai Nuruddin sangat menyayangi anak muda ini.

Kebanyakan orang akan berbelanja macam macam, berfoya foya membeli hal yang sebenarnya tidak di butuhkan sama sekali, hanya demi gengsi dan ambisi.

Tetapi hal itu tidak berlaku dengan Kaenan, uang berlimpah hingga tak terhitung jumlah nol nya, dan tinggal gesek saja, namun Kaenan tak menyentuh nya satu peser pun juga, bagi nya kebanggaan hidup itu, berbelanja dengan hasil keringat nya sendiri.

Baru saja Kaenan dan Syarif bersiap berangkat, handphone Kaenan berdering, panggilan dari Kiai Nuruddin. Buru buru Kaenan turun kembali dari motor, dan menerima telepon itu terlebih dahulu.

"Assalamualaikum kiai!" ....

"Wa' alaikum salam warahmatullahi wa barakatuh, apa kabar nya nak sekarang, sudah melupakan Abi ya?" sapa pria paruh baya itu dari seberang sambungan telepon.

"Ah tidak kiai, Kae lagi sibuk kerja bangunan, ikut mang Hamit, nanti Kae mampir deh, tapi sama saudara angkat kae ya Kiai, tak apa apa kan?" tanya Kaenan.

"Tentu saja tidak apa apa, kita sekalian makan malam sama sama ya?, oh iya Kae, hari kamis nanti sibuk tidak ya?" tanya Kiai Nuruddin.

"Bisa diatur sih kiai, kalau kiai perlu, saya bisa minta libur kerja dahulu, saya kan hanya asisten tukang saja kiai, ada apa ya?" ....

"Ini nak, hari kamis nanti, rencananya Abang mu Isal akan datang dari Kairo, pendidikan nya kan sudah selesai disana, digantikan dengan kakak mu Aisyah, kalau bisa, datang pagi pagi deh, kita sama sama menyambut kedatangan Abang mu di bandara, bagai mana?" tanya Kiai Nuruddin.

"Boleh deh kiai, insya Allah Kae datang, sekarang Kae mau kerja dulu ya kiai?" ....

"Iya!, iya!, iya!, terimakasih nak ya, assalamualaikum!" ....

"Wa' alaikum salam warahmatullahi wa barakatuh!" ....

Syarif menatap kearah Kaenan beberapa saat, "dari siapa Kae?" tanya nya.

"Ah ini mas, dari Kiai Nuruddin, hari kamis katanya Abang Isal putra sulung beliau datang dari Kairo Mesir, setelah selesai menimba ilmu disana selama enam tahun, dia mengajak Kae menyambut kedatangan Abang Isal di airport, mas mau ikut?" tawar Kaenan.

Syarif menggelengkan kepala nya saja, "tidak! Kau saja, kasihan tukang kan kalau kita berdua prei, salam saja untuk Kiai sekeluarga" sahut Syarif.

Baru saja Syarif menghidupkan mesin motor, dari arah jalan, muncul Niken dengan motor metik Scoopy nya.

Gadis cantik itu menyerahkan rantang dua susun kepada Syarif, "ini sekedar bekal dari mamah untuk kalian berdua, maaf hanya semur jengkol seadanya saja" ujar gadis itu.

Syarif menerima rantang itu dari tangan Niken sambil tersenyum ramah kepada gadis itu, "terimakasih ya Nik!, ini sangat luar biasa kok" sahut nya.

Setelah melihat Niken kembali ke Rumah nya, dan menghilang di tikungan jalan, barulah motor yang dikendarai oleh Syarif dan Kaenan itu pergi dari tempat itu.

"Mas!, gadis itu baik ya?" pancing Kaenan saat di perjalanan.

Syarif tidak menjawab, hanya ber hm saja.

"Wajah nya cantik, akhlak nya baik, ramah lagi, seperti nya dia ada perhatian khusus padamu mas" ujar Kaenan lagi.

"Dia memang cantik, baik hati, ramah, namun kalau dibandingkan dengan ku, seperti pungguk merindukan rembulan, aku takut dengan jurang kehidupan yang terbentang teramat besar di depan mata kami, takut mencintai dalam angan dan terhalang restu orang tua, lebih baik kita sadar diri lah!" jawab Syarif seadanya tanpa dibuat buat.

"Kau benar mas, jika memang jodoh, Allah pasti akan mendekat yang yang paling jauh sekalipun, namun jika bukan jodoh kita, yang paling dekat sekalipun akan menjauh!" jawab Kaenan.

...****************...

1
Was pray
langkahmu masih panjang kae ! tapi semua harus dirajut sejak dini, sepotong baju butuh beberapa proses untuk mewujudkannya, mulai dari seirat dipintal menjadi benang, benang ditenun menjadi kain baru kain dijahit menjadi baju, jadi semua butuh ikhtiar untuk mewujudkannya, berdoa tanpa usaha berarti pemalas, berusaha tanpa doa berarti sombong, jadi ikhtiar dan doa harus berjalan beriringan, benang tak akan jadi baju jika hanya diam tanpa mau dirajut demikian juga cinta dan cita2 kae
Hentri Gunawan
bagus dan buat pelajaran
Was pray
kapan kaenan mau hidup damai? waktu miskin diinjak injak oleh ortunya sendiri, setelah diketahui kae anak orang kaya bukan makin tenang hidup kae malah tambah runyam, diperalat oleh keluarga ortunya demi harta
Was pray
harta adalah fitnah yg mempirak porandakan segalanya, harta bisa menjadi barokah tapi juga gak laknat jika ditangan yg serakah
Was pray
memaafkan belum tentu harus menerima kehadirannya kyai! takdir anak dan orangtua kandung memang tidak bisa diubah kyai, mengakui tidak harus menerima, durhaka itu jika si anak gak mau mengakui kalau dia orangtuanya kemudian berbuat dholim kepadanya , tidak berbakti terhadap kedua orangtuanya yg Sholeh/Sholehah, juga jika kamu diposisi kaenan apakah yg kau katakan sanggup kau lakukan kyai Nurudin? ceramah itu mudah melaksanakan apa yg diceramahkan itu yg belum tentu bisa
Was pray
kelurga pak Irfan yg waras akal budinya cuma Bu shanty, pak Irfan hanya kebetulan darahnya mengalir di tubuh kaenan, syafea bukan kakak kaenan hanya takdir yg membuat keduanya terpaksa lahir dari ibu dan bapak yg sama, orang2 seperti gak pantas dapat gelar ayah dan kakak kandung, luka hati dan penderitaan yg disebabkan oleh sosok orang yg terpasang berkedudukan jadi ayah dan kakak kandung lebih dalam lukanya dan tak kan hilang selamanya , pak Irfan syafea lebih rendah dari binang babi yg najis dan haram
Was pray
nasib tragis tahfid. Al-Qur'an , hilang dari orangtuanya sampai2 ortunya gak nyadar, biasanya ortu akan ada ikatan batin dengan anak kandungnya sendiri,ini ortu apaan sih pak Irfan itu?disiksa ortu dan kakak kandung sendiri. cek cek cerita tragis bagi umat muslim yg taat beibadah
Was pray
yah MC nya lemah .. apagunya IQ tinggi tapi gak ada nyali untuk membela diri, umat Islam memang diajarkan untuk selalu welas asih terhadap sesama, mengalah demi kebaikan tapi ya jangan keterlaluan dengan pasrah menerima nasib ketika dilecehkan dan direndahkan oleh orang tanpa sedikitpun membela diri, lama2 mati konyol tuh kaenan, miskin harta gak apa2 tapi Islam tetap mengajarkan umatnya untuk membela diri jika itu sudah melati batas
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!