Elfesya terjebak perjodohan paksa dengan Ravion Arshaka, CEO angkuh yang terus menghinanya. Luka semakin dalam saat Elfesya tahu ayah Ravionlah yang menghancurkan bisnis ayahnya. Ia melarikan diri ke pesisir, hidup nestapa sebagai buruh ikan demi harga diri.
Sadar akan dosanya, Ravion melepaskan kemewahan demi menyusul Elfesya ke gubuk reyot. Di tengah bau laut dan kemiskinan, ego sang CEO runtuh demi meraih kembali hati sang sekretaris. Ini adalah kisah tentang pengkhianatan korporasi, penebusan dosa yang perih, dan cinta yang akhirnya berlabuh di dermaga ketulusan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penebusan di bawah terik matahari
Satu minggu berlalu, dan sosok Ravion Arshaka bukan lagi menjadi tontonan asing bagi warga desa nelayan itu. Kulitnya yang dulu putih bersih kini mulai kecokelatan terpanggang matahari pesisir. Ia tidak lagi canggung mengenakan kaos oblong murah dan celana kain yang digulung. Pria yang biasanya memegang kendali atas ribuan karyawan itu kini belajar memegang jaring yang kasar dan mengangkat keranjang ikan yang beratnya menguras tenaga.
Ravion benar-benar membuktikan ucapannya. Ia tidak hanya datang untuk menjemput, tapi untuk berjuang.
Pagi itu, Elfesya baru saja selesai mencuci pakaian di sumur umum saat ia melihat Ravion sedang membantu beberapa nelayan mendorong perahu ke bibir pantai. Keringat mengucur deras dari pelipisnya, membasahi seluruh punggungnya. Meski wajahnya menahan lelah, ia tidak mengeluh. Saat perahu itu akhirnya menyentuh air, nelayan-nelayan di sana menepuk bahu Ravion dengan akrab—sebuah pengakuan yang tidak bisa dibeli dengan uang Arshaka.
"Elfesya!" panggil Ravion saat melihat istrinya berdiri di kejauhan. Ia berlari kecil menghampiri, mengabaikan kakinya yang basah terkena air laut.
"Kenapa belum istirahat? Pekerjaanmu di gudang pengolahan baru selesai jam dua nanti, kan?" tanya Ravion, suaranya kini terdengar lebih mantap, tanpa nada memerintah.
"Saya hanya ingin mengambil jemuran," jawab Elfesya singkat. Ia menatap wajah Ravion yang kini tampak lebih "hidup" meski terlihat sangat lelah. "Kenapa Anda melakukan ini? Bapak bisa saja pulang dan memerintahkan pengacara untuk menyelesaikan urusan kita."
Ravion berdiri tepat di depan Elfesya, menghalangi cahaya matahari yang menyengat agar tidak langsung mengenai wajah istrinya. "Aku sudah bilang, aku tidak butuh pengacara. Aku butuh kamu. Aku ingin menunjukkan bahwa kamu tidak sendirian. Selama ini kamu memikul beban dunia di pundakmu demi Elric, sekarang biarkan aku yang memikulnya bersamamu."
"Bapak melakukan ini karena rasa bersalah soal ayah Bapak?" tanya Elfesya dengan nada menyelidiki.
"Awalnya mungkin iya," aku Ravion jujur. "Tapi sekarang, setiap kali aku melihatmu berkeringat atau melihatmu makan dengan lahap, aku hanya ingin memastikan bahwa tidak akan ada lagi orang yang merendahkanmu. Termasuk diriku sendiri. Aku ingin menjadi suamimu karena aku mencintaimu, Elfesya. Bukan karena kontrak, bukan karena Nenek."
Mendengar kata 'cinta' keluar dari mulut Ravion, jantung Elfesya berdegup tidak keruan. Ia memalingkan wajah, tidak ingin Ravion melihat kegoyahan di matanya.
Sore harinya, badai kecil melanda pesisir. Angin kencang membuat atap seng gubuk yang ditinggali Elfesya berderit hebat. Air hujan mulai merembes masuk melalui celah-celah kayu yang sudah lapuk. Elric yang masih dalam masa pemulihan mulai menggigil kedinginan.
Tiba-tiba, pintu diketuk dengan keras. Saat Elfesya membukanya, ia menemukan Ravion berdiri di sana dengan tubuh basah kuyup, membawa lembaran plastik tebal dan peralatan pertukangan.
"Atapnya bocor, kan? Aku lihat tadi dari luar," ucap Ravion tanpa menunggu izin. Ia segera naik ke atas kursi, mencoba menambal bagian atap yang merembes.
"Hati-hati, Ravion! Lantainya licin!" teriak Elfesya cemas.
Ravion mengabaikan rasa takutnya pada ketinggian atau petir yang menggelegar. Ia bekerja dengan cepat, memastikan tidak ada lagi air yang menetes ke arah tempat tidur Elric. Setelah selesai, ia turun dengan tubuh yang gemetar karena kedinginan, namun matanya memancarkan kepuasan.
Ia mendekati Elric, menyelimuti bocah itu dengan kain yang lebih tebal. "Tidurlah, Elric. Kakak iparmu ada di sini. Tidak akan ada yang terjadi," ucapnya lembut.
Elric, yang selama ini selalu memusuhi Ravion, kali ini hanya terdiam. Ia melihat bagaimana tangan pria itu terluka terkena pinggiran seng yang tajam demi melindungi mereka. Untuk pertama kalinya, Elric tidak mengusirnya.
Ravion kemudian berbalik menatap Elfesya. Di tengah suara hujan yang berisik, suasana di dalam gubuk sempit itu mendadak menjadi sangat sunyi.
"Kamu punya aku, Elfesya," bisik Ravion, suaranya tenggelam dalam gemuruh badai di luar. "Aku tahu aku punya banyak dosa di masa lalu. Aku tahu nama Arshaka mungkin berbau busuk di telingamu. Tapi pria yang berdiri di depanmu sekarang ini adalah milikmu. Apapun yang terjadi, aku tidak akan membiarkanmu berjuang sendirian lagi."
Elfesya menatap tangan Ravion yang berdarah. Ia mengambil sebuah kain bersih, lalu menarik tangan suaminya itu untuk dibersihkan. Ia tidak menjawab dengan kata-kata cinta yang puitis, namun cara ia mengobati luka Ravion dengan perlahan menunjukkan bahwa dinding pertahanannya mulai runtuh.
"Besok jangan ikut ke laut," ucap Elfesya pelan sambil membalut luka Ravion. "Tanganmu harus sembuh dulu."
Ravion tersenyum, meski tubuhnya kedinginan, hatinya merasa sangat hangat. Penebusan ini mungkin akan memakan waktu lama, namun di bawah atap gubuk yang bocor itu, Ravion Arshaka akhirnya menemukan arti dari kata "pulang" yang sesungguhnya.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...