NovelToon NovelToon
Suami Untuk Shanum

Suami Untuk Shanum

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:61k
Nilai: 5
Nama Author: elaretaa

Shanum gadis desa yang harus bekerja keras untuk kebutuhan hidupnya dan juga keluarganya. Di tengah kesulitan ekonominya, ia terus menjadi perbincangan orang-orang disekitarnya karena di usianya yang akan menginjak 30 tahun, ia belum saja menikah.

Karena merasa malu, Ibunya meminta tolong salah satu orang yang dikenal sebagai mak comblang di desanya agar mencarikan laki-laki untuk Shanum, hingga akhirnya mak comblang tersebut memperkenalkan Shanum dengan seorang pria yang merupakan cucu dari salah satu warga desa yang terpandang di desa.

Bagaimana kelanjutannya? Apakah Shanum akan menerima pria tersebut? Siapakah pria itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sudah Siap Semuanya?

Sepeda motor yang dikendarai Abi melaju perlahan membelah jalanan desa yang mulai temaram, angin sore Klaten yang membawa aroma tanah persawahan menerpa wajah Shanum, namun kali ini rasanya tidak lagi menyesakkan. Di depannya, punggung tegap Abi menjadi tameng dari tatapan-tatapan tajam yang masih saja menghujam dari teras-teras rumah warga.

​Saat melewati pos ronda dekat balai desa, kerumunan pria dan ibu-ibu seketika menghentikan pembicaraan mereka, mata mereka membelalak dan mengikuti pergerakan motor yang dikendarai Abi.

​"Lihat itu, si Shanum. Benar-benar jadi Nyonya ya sekarang," bisik Bu Febby dengan nada yang kental akan rasa iri, tangannya yang sedang memegang keresek sayuran sampai tertahan di udara.

​"Iya, ya. Padahal kemarin-kemarin dibilang nggak laku. Kok bisa dapat yang ganteng, gagah dan kaya begitu? Pakai pelet apa ya?" timpal Bu Vita sambil mencibir, meski matanya tak lepas menatap jaket mahal yang dikenakan Abi.

​Shanum mendengar sayup-sayup bisikan itu refleks ia menundukkan kepala dan mencoba bersembunyi di balik pundak suaminya hingga menjauh dari kerumunan tersebut.

Beberapa saat kemudian, Abi dan Shanum sampai di rumah Mbah Wira. Shanum turun dari motor dengan gerakan yang masih kaku, ia memegang tas kain berisi pakaiannya seolah itu adalah satu-satunya pegangan hidup yang tersisa. Di teras rumah joglo, lampu-lampu gantung antik mulai menyala dan memberikan kesan agung yang selalu sukses membuat nyali Shanum menciut.

​"Masuklah, simpan barang-barangmu. Saya mau mengembalikan motor Om Panji sebentar ke garasi belakang," ucap Abi datar.

Suaranya tidak kasar, tapi cara bicaranya seringkali membuat Shanum bingung harus merespons seperti apa selain mengangguk.

​"Iya, Mas," jawab Shanum lirih.

​Shanum melangkah masuk ke dalam rumah, keadaan di dalam cukup sibuk, di mana Manda sedang asyik menutup koper besarnya di ruang tengah sambil bersenandung kecil, dan begitu melihat Shanum, Manda mendongak lalu tersenyum manis.

​"Eh, Mbak Shanum! Sudah selesai pamitannya? Duh, Mbak, siap-siap ya, Bandung itu dingin, tapi nggak sedingin kulkas kok. Nanti kalau sudah di sana, kita jalan-jalan ke mall ya!" seru Manda ceria.

​Shanum tersenyum canggung. "I-iya," jawab Shanum.

​Di sudut lain, Bunda Rina terlihat sedang mengawasi asisten rumah tangga yang sedang membungkus oleh-oleh berupa beras merah dan emping melinjo pesanan teman-temannya di Bandung.

Begitu matanya bertemu dengan mata Shanum, senyum ramah yang tadi ditujukan pada asisten rumah tangga itu mendadak memudar dan digantikan tatapan kaku pada menantunya itu.

​"Sudah bawa semua bajumu, Shanum? Pastikan tidak ada yang tertinggal. Di Bandung nanti, kamu tidak akan punya waktu untuk bolak-balik ke sini hanya untuk mengambil baju lama," ucap Bunda Rina.

​"Sudah, Bunda. Hanya satu tas ini," jawab Shanum sambil menunjukkan tas kainnya.

​Bunda Rina menatap tas kain yang nampak kusam itu dengan alis yang bertaut sedikit, "Hanya itu? Ya sudah, nanti Abi yang urus sisanya," ucap Bunda Rina.

​Shanum merasa seperti duri di tengah hamparan sutra, ia segera naik ke kamar atas untuk menghindari tatapan menghakimi yang ia rasakan dari Ibu mertuanya. Di dalam kamar, Shanum duduk di pinggir ranjang, menatap tas kainnya yang diletakkan di lantai jati yang mengkilap.

.

Pagi harinya, Abi sekeluarga sudah bersiap-siap untuk berangkat, di mana ia mukai bersiap setelah salat subuh.

​"Sudah siap semuanya?" tanya Abi yang muncul dari kamar mandi dengan wajah segar setelah berwudhu.

​"Sudah, Mas," jawab Shanum pelan.

​Di bawah, suasana perpisahan terasa mengharukan, Mbah Dyah memeluk Shanum sangat erat, matanya berkaca-kaca. "Nduk, jaga dirimu baik-baik di sana. Sabar sama Abi, ya. Sering-sering telepon Mbah," bisik Mbah Dyah.

Shanum hanya bisa mengangguk, tenggorokannya tercekat oleh rasa haru yang luar biasa. Baginya, Mbah Dyah adalah malaikat yang menariknya dari jurang kehinaan di desanya sendiri.

​Pukul 5 pagi tepat, mobil SUV hitam milik Ayah Aris sudah terparkir di halaman depan dengan bagasi yang penuh sesak. Dengan barang-barang bawaan, mulai dari koper pakaian hingga kardus berisi oleh-oleh khas Klaten, memenuhi hampir setiap sudut kendaraan.

​"Ayo, semuanya masuk. Perjalanan jauh, kita harus ngejar waktu supaya nggak terjebak macet di jalanan nanti," ucap Ayah Aris sambil mengecek kunci pintu rumah.

Sesuai pembagian posisi, Abi mengambil alih kemudi, Ayah Aris duduk di kursi penumpang depan. Sementara itu, di baris belakang, keadaan nampak sangat padat, Bunda Rina duduk di sisi kiri, Manda di tengah dan Shanum di sisi kanan, mepet dengan pintu.

Di sela-sela kaki mereka dan di sisi kosong kursi belakang, terjepit beberapa tas jinjing dan plastik berisi makanan ringan untuk di jalan.

​"Duh, sempit banget ya, Mbak Shanum? Maaf ya, barang bawaan Bunda banyak banget, soalnya pesanan temen arisannya harus dibawa semua," celetuk Manda sambil mencoba menggeser tas punggungnya agar tidak menekan paha Shanum.

​"Nggak apa-apa, Manda," jawab Shanum dengan senyum tulus, meski bahunya sudah bersentuhan langsung dengan tumpukan barang.

​Mobil mulai bergerak perlahan meninggalkan halaman luas rumah Mbah Wira. Dari kaca spion, Shanum melihat Mbah Wira dan Mbah Dyah melambai hingga sosok mereka hilang ditelan tikungan jalan desa.

​Sepanjang perjalanan keluar dari wilayah Klaten, suasana di dalam mobil cukup tenang. Abi fokus menyetir dengan tangan yang stabil di lingkar kemudi, Ayah Aris sesekali berbincang ringan dengan Abi tentang rute tol yang akan diambil. Namun, di baris belakang, ketegangan kecil mulai terasa.

​Bunda Rina tampak sibuk dengan ponselnya da sesekali beliau membetulkan posisi duduknya yang terasa sempit, setiap kali kakinya tak sengaja menyentuh tas kain milik Shanum yang diletakkan di bawah, ia akan mendengus pelan dan menggesernya dengan ujung sepatu hak rendahnya.

​"Abi, nanti kita berhenti di rest area ya. Bunda mau beli kopi, kepala Bunda agak pusing karena desak-desakan begini," ucap Bunda Rina dengan nada yang sengaja dikeraskan.

​"Iya, Bun. Nanti di kilometer depan kita berhenti sebentar," jawab Abi tanpa menoleh.

​Shanum hanya bisa diam, ia merasa bersalah karena kehadirannya membuat ruang di mobil itu semakin sesak, ia mencoba mengecilkan tubuhnya dan menyandarkan kepalanya pada kaca jendela yang dingin.

​Begitu mobil memasuki area parkir rest area yang luas, Abi mematikan mesin. Ayah Aris langsung turun untuk meregangkan otot-ototnya dan disusul Manda yang tampak sangat bersemangat.

​"Ayo, Mbak Shanum turun! Biar kakinya nggak kaku," ajak Manda ceria, di mana ia sudah turun melalui pintu sebelah kiri.

.

.

.

Bersambung.....

1
muthia
😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
muthia
Alhamdulillah saya dulu nikahnya di umur 32 walaupun di kampung ada aja yg mencibir to orang tua dan keluarga besar mensuport🙏
Yuliana Tunru
akhir x kabar gembira itu datang selamat ya calon bpk dan ibu 👍
Naufal Affiq
lanjut kak
Naufal Affiq
hamilllll
mamayasna
Horeeeee anak e kembar y thor😄😄
Yuliana Tunru
kyk x tanda2 shanum hamil ..👍👍
Naufal Affiq
buat anak aja lah lebih bagus abi ketimbang terlalu banyak masalah yang di hadapi keluarga istrimu
Naufal Affiq
lanjut kak
Naufal Affiq
untung dapat suami yang pengertian,entar kalau ibu pulang shanum,kamu harus tegas,jangan diam aja
Naufal Affiq
terlalu banyak masalah hidup mu shanum,untung lah suami baik dan mengerti tentang keluarga mu shanum
Yuliana Tunru
abi mmg baik bgt bersyykur jodoh shanum kko tdk gmn nasib diva dan pandu ..smoga shanum segera hamil thorr biar abi makin cinta
Naufal Affiq
banyak kali lah masalah mu shanum,gak habis-habis,aku yang baca aja,sampai sesak,ada aja yang mengganggu keluarga kecil mu
Naufal Affiq
mesummmmm abi
Yuliana Tunru
ya ampun bu laila saking o sesi dgn uang samle segitu x dfn ank2 x smoga shanum dan ade2 x sukses syukur punya suami kyk abi yg mapan dan klga baik2 jika orabg lain gmn hidup shanum dan ade2 x makin miris z jgn sampe kelak klo ada apa2 nyusahi shanum lg si bu laila
Eva Tigan
Kalo gitu bolehlah satu ronde sebelum Abi berangkat kerja😄
Eva Tigan
ah..kok ini sih berlebihan pengertian nya..malah jadi aneh ..Abi gak jadi menyentuh istrinya
Naufal Affiq
hahaha,abi-abi sudah di suguh kan yang halal,masih nolak,alasan biar istri istirahat,gak tahan juga kan,makanya gas aja terus,mumpung geratis
Naufal Affiq
mimpi
Nurminah
dunia novel laki-laki bisa nahan syahwat nggak egois dunia
nyata aku malah ada suami yang nyuruh istrinya masak mie instan saat istrinya pulang lahiran dan iya santai aja jujur liat kayak gitu miris liatnya sampe takut punya suami
banyak modelan lain yg lebih menyesakkan
jujur wanita desa kebanyakan patuh sekali ama suami sampe ditindas dan dizholimi banget
Alhamdulillah punya suami yg didikan orang tua nya membiasakan menolong pekerjaan istrinya walaupun istrinya tidak bekerja
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!