Takdir membawa seorang gadis yang polos harus mengorbankan masa mudanya demi kesembuhan sang nenek.
Tawaran dari majikan tempat ia bekerja sangat menggoda. Dengan berbagi pertimbangan gadis itu menyetujui tawaran majikanya.
"Lahirkan seorang cucu buat saya."
"Cucu, bagaiman caranya nyonya?" tanya gadis yang bernama Laras.
"Meniakh dengan putra saya."
"Tapi tuan muda bukanya sudah punya istri nyonya, harusnya yang melahirkan seirang anak itu istrinya." sanggah Laras.
"Kalau dia mau saya tidak akan menawari kamu."
Laras yang sangat membutuhkan uang untuk biaya pengobatan neneknya menandatangi kontrak dari majikanya.
Apakah hidup Lars akan bahagia atau sebaliknya.
Di tunggu komentar dari kk² semua😘😘🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ima susanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Hari hampir magrib saat Dafa dan Laras sampai di rumah. Laras nampak kelelahan karna perjalanan kali ini menyedot banyak tenaganya. Dulu enak saja ia jalan sana sini berasa kuat aja tapi kali ini ia cepat merasa lelah mungkin karna kali ini ia tengah berbadan dua makanya ia cepat merasa lelah.
"Mau makan apa," tanya Dafa lembut.
"Bakso kayanya enak deh, sayang." Laras membayangkan betapa segarnya kuah bakso masuk kedalam kerongkongan.
"Baik, nanti aku bakal suruh bik Siti membuatkannya. Sekarang sebaiknya kita bersih - bersih dulu." tanpa mendegar jawaban dari istrinya Dafa mengendong istrinya masuk kedalam kamar mandi. Laras tentu saja kaget oleh kelakuan suaminya tapi ia memilih diam.
Mandi yang Dafa katakan tentu berbeda dengan mandi yang sebenarnya. Harusnya hanya sebentar jadinya lama karna Panca mengajak istrinya main basah - basahan dulu baru mandi yang sebenarnya.
Selesai mandi Dafa membantu istrinya mengeringkan tubuhnya dan memakaikan pakaian baru setelah itu Dafa memakai pakaiannya sendiri.
Laras bermaksud mengeringkan rambutnya dengan hairdry tapi Dafa sudah mengambil alih. Hairdry berpindah tanganya, lelaki itu begitu memanjakan istrinya. Laras tersenyum akan perhatian dari suaminya yang dulu dingin dan cuek sekarang berubah jadi bucin.
"Sayang lapar." cicit Laras.
"Kalau gitu ayo kita keluar , bik Siti pasti sudah menyiapkan bakso yang seperti kamu minta." Laras bergelayut mesra di lengan suaminya menuju meja makan. Bakso yang mengepulkan uap panas mengugah selera apalagi aromanya membuat perut Laras semakin lapar dan tak sabar untuk di isi.
"Makasih ya, bik." ucap Laras lalu menyendok bakso buatan kok Siti. Ia begitu menikmati betapa segar kuah bakso dan saat mengunyah bakso terasa kenyal dan pas.
"Gimana enak tidak?" tanya Dafa.
"Mantap, sayang mau tidak?" tawar Laras pada suaminya.
"Kamu aja, mas ga suka bakso." Dafa memang menghindari makanan yang mengandung lemak saat malam hari, ia begitu menjaga penampilannya. Tapi ia bahagia melihat istrinya makan begitu lahap.
"Berarti ini buat aku semuanya? ujar Laras dengan mata berbinar.
"Silahkan. Tapi makanya pelan - pelan."
Dua mangkok bakso ludes tak bersisa. Laras mengelus perutnya yang sudah mulai membuncit. Nafsu makanya belakangan ini memang agak meningkat.
Berbeda dengan Dafa belakangan ini nafsu makanya sedikit mengalami penurunan. Makanan yang biasa ia makan terasa kurang cocok dilidahnya terkadang perutnya juga tiba - tiba mual.
"Alhamdulillah, kenyang." Laras meminum jus jeruk hangat seperti yang ia minta hingga gelas itu kosong.
"Sayang ga makan?" tanya Laras heran melihat suaminya sama sekali tak makan hanya minum segelas susu.
"Lagi tidak berselera, susu aja udah cukup." kekeh Dafa.
"Ooh." Laras tak ingin tau lebih jauh, takutnya ia salah.
"Ke kamar yuk." ajak Laras selesai makan.
"Kamu duluan aja, mas mau kerumah kerja sebentar."
"Ok!"
Laras masuk ke dalam kamar, Dafa masuk kedalam ruang kerjanya. Sesampai di rumah kerjanya Dafa bergegas ke kamar mandi memuntahkan isi perutnya. Sudah hampir seminggu setiap habis magrib ia akan merasa mual dan memuntahkan isi perutnya. Ia sudah memeriksakan diri pada dokter keluarga tapi tak di temukan penyakit apapun. Tapi kenapa mual itu tak kunjung pergi.
Setelah tak ada lagi yang mau ia keluarkan Dafa menyeka mulutnya dan membasuh wajahnya. Setelah mengeringkan wajahnya Dafa kembali kekamar untuk istirahat.
Saat membuka pintu nampak istrinya sudah tertidur dengan damainya. Dafa ikut masuk kedalam selimut, merebahkan diri di samping istrinya. Dan tak lupa ia mencium kening istrinya baru Dafa memejamkan matanya dan tak lama ia turut tertidur hingga pagi kembali menyapa.
...****************...
Assalamualaikum kk terimakasih supportnya dan jangan lupa tinggalkan jejak berupa like dan komen serta vote yang banyak biar thor semakin semangat untuk melanjutkannya bab berikutnya 💪🙏😘