Kekaisaran Aurellian telah menikmati kedamaian selama 1500 tahun, hingga sebuah bayangan misterius jatuh tepat di atas takhta mereka. Arta Valerion, seorang penyihir muda jenius, menemukan bahwa rembulan yang selama ini dipuja kini menyimpan ancaman yang tak terbayangkan. Kehadiran sang utusan dari peradaban masa lalu yang telah binasa—membawa peringatan dingin: bahwa mereka tidak sendirian, dan mereka tidak siap.
Di ambang kehancuran yang telah menelan delapan planet sebelumnya, Aurellian harus memilih: tunduk pada teknologi asing atau menghadapi kepunahan. Bagi Arta, ini bukan lagi tentang prestasi sihir, melainkan perjuangan untuk mempertahankan senyum orang-orang yang ia cintai sebelum fajar terakhir tiba.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Manusia Ikan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ARC 2 -BAB 1 -KOTA BATU (1)
...ARC 2 -KEJAYAAN DWARF KUNO...
Di atas samudera awan yang luas, sebuah kapal terbang militer melaju dengan stabil. Berbeda dengan kapal komersial yang biasanya terbuat dari kayu, kapal ini dilapisi plat baja tipis yang terlihat mengkilap saat terkena cahaya matahari. Layar kain di atas dan kedua sisi-nya berkibar sesekali, menangkap angin untuk menjaga arah, kapal itu di tenagai oleh batu sihir Mana yang mendorong kapal dari belakang, menjadikanya kendaraan tercepat saat ini yang masih di Kekaisaran.
Kapal terbang sudah menjadi pemandangan biasa, namun Arta tahu bahwa tanpa modifikasi yang ia lakukan, kendaraan ini tidak akan sanggup bertahan di ketinggian ekstrem selama berhari-hari. Napasnya terasa sedikit lebih berat di sini, udara terasa tipis dan kering.
Di dalam kabin utama, suasana terasa kaku. Arta duduk dengan bahu yang merosot, matanya perih karena kurang tidur dan kelelahan mental yang belum hilang. Di depannya, AI Unit 0-9 memproyeksikan data digital yang berpendar pelan, menyinari debu-debu yang melayang di udara kabin.
"Jadi, kita benar-benar mencari sesuatu yang bahkan belum tentu ada?" Lilia memecah keheningan. Ia menatap Arta dengan alis berkerut, ada nada keraguan yang tidak bisa ia sembunyikan. "Materi dari zaman kuno? Arta, kita ini petarung, bukan pencari dongeng."
"Lilia benar," sahut Grom sambil memukul meja dengan kepalan tangannya. Bunyi dentum keras itu membuat Arta sedikit tersentak. "Aku ini Dwarf, meskipun aku petarung tetapi sudah ribuan logam kupukul di tungku. Aku tahu semua jenis bijih besi di planet ini. Tapi 'Materi Abadi' yang lebih kuat dari pada Adamantium? Itu cuma cerita di buku tua supaya penempa muda punya mimpi."
Arta tidak langsung menjawab. Ia menunduk, menatap jemarinya yang sedikit gemetar. Ia teringat buku usang yang ia temukan di perpustakaan kekaisaran dulu. Penulisnya anonim, catatannya penuh dengan coretan tentang tempat tempat yang keberadaan di ragukan. Dulu Arta menganggapnya hanya buku dongeng, tapi setelah ia melihat teknologi Nebula dengan mata kepalanya sendiri, logika lamanya hancur. Ia tahu ada sesuatu yang lebih besar di luar sana yang bisa ai manfaatkan.
"Aku pernah membaca catatannya," ucap Arta pelan. Suaranya terdengar kering. "Dulu aku tidak percaya, sama seperti kalian. Tapi dengan data dari Unit 0-9 dan sisa teknologi peradaban Nebula, aku sadar formula itu mungkin nyata, sama halnya seperti peradaban masa lalu yang ternyata memang di temukan. Dan Kita butuh cara untuk berpikir lebih cepat dari mesin-mesin di bulan. Jika kita tidak bisa menghentikan serangan mereka, kita harus mencari celah di dalam aliran waktu itu sendiri."
"Aku pikir tempat itu memang ada, sama seperti peradaban masa lalu yang telah di temukan Nebula di planet lain yang telah kalah. " ucap Arta dengan sedikit kegugupan, tetapi ia tetap melanjutkannya.
"Aku telah mempelajari siapa musuh kita dan kenapa peradaban yang lainnya telah kalah, itu bukan tentang kekuatan saja. Aku pikir mereka kalah dalam kecepatan berpikir dan membuat keputusan." Arta terdiam sejenak untuk memikirkan perkataan yang cocok di ucapannya.
"karena itu, meski ini terdengar konyol—tetapi aku akan membangun Relik Magitech yang dapat menghentikan waktu, agar aku dapat membuat keputusan yang jauh lebih cepat dari mereka, aku... "
Raylen menggelengkan kepala, tangannya terus memilin ujung mantelnya—kebiasaan yang ia lakukan saat merasa cemas. "Menghentikan waktu? Arta, itu terdengar berbahaya. Apa kita tidak bisa menunggu tim Kekaisaran meneliti kapal Nebula yang jatuh saja?"
"Tidak! Kekaisaran akan butuh waktu puluhan bahkan ratusan tahun hanya untuk menyalakan mesinnya, Raylen," sahut Arta dengan suara berat.
Elian, Ia menatap Arta dengan lurus, mencoba mencari kepastian di mata kekasihnya itu. "Arta, aku hanya ingin tahu satu hal. Apa ini benar-benar rencana, atau hanya pelarianmu karena merasa bersalah?"
Arta balas menatap Elian. Dadanya terasa sesak sejenak, namun ia berusaha tetap tenang. "Aku tidak sedang lari, Elian. Aku hanya mencari jalan yang paling masuk akal. Jika Kekaisaran mau belajar dari mesin itu, silakan. Tapi kita butuh sesuatu yang lebih kuat dari itu."
"Tapi di lautan barat? di sana bahkan tidak ada pulau" Lilia menyilangkan tangannya, wajahnya tampak tegang.
"Itu karena mereka tidak punya koordinat yang tepat," jawab Arta singkat.
Arta menunjuk ke arah proyeksi Unit 0-9. "Koordinat dan energi asing telah terkunci di sana. Menurut teori yang telah Arta kembangkan, materi itu adalah satu-satunya wadah yang tidak akan hancur saat kita mencoba memanipulasi waktu, akan tetapi menurut literasi dari catatan buku lama, tempat itu seperti nya semacam kuil atau dungeon." Ucap Unit 0-9.
Reldia menyeringai, tampak tidak peduli dengan perdebatan teknis itu. Selama ada kata 'Dungeon', ia tertarik. "Sudahlah, kalian berisik sekali. Kalau si jenius ini bilang barangnya ada di sana, aku ikut. Setidaknya berkelahi dengan penjaga kuil lebih baik daripada duduk diam menunggu dunia kiamat."
Perdebatan berlanjut dengan keluhan Grom dan kecemasan Raylen yang tak kunjung hilang. Namun akhirnya, Elian berdiri dan berjalan menuju arah kemudi.
"Arta, aku akan mempercayaimu kali ini," ucap Elian tegas. "Tapi kalau situasi mulai tidak terkendali, kita langsung mundur. Aku tidak mau kehilangan anggota lagi."
Atas perintah Elian, kru mulai menyesuaikan layar. Kapal baja itu perlahan berbelok, meninggalkan jalur aman menuju lautan barat yang asing. Di kejauhan, di balik kabut tebal, sebuah bangunan raksasa mulai terlihat berdiri tegak di tengah laut. Arta menatap bangunan itu sambil meremas pinggiran meja. Jantungnya berdegup kencang—campuran antara rasa takut dan tekad yang tersisa.
akan aku lanjut baca malam nanti, mau serius up cerita ku dulu KK😭😭
“…jadi kalian benar-benar memanggil Titan ke dunia ini.”
Bukan penolakan, justru sebaliknya. Sudut bibirnya terangkat tipis. “Menarik...”
Karena setiap dunia yang mulai menyentuh kekuatan Titan… biasanya tidak akan pernah kembali sama.
“Jaga mereka baik-baik. Titan bukan sekadar kekuatan... mereka adalah awal dari perubahan.”
—Arven, Mechanist of Legacy🔥
"Sepertinya monster di dunia ini, sangat terobsesi dengan kekayaan.. bahkan serangganya pun. dari batu mahal." sahut Alice sembari duduk di singgasananya dengan anggun.
"Kalau aku disana, apa pisau ku bisa membelah mereka?" Violet tiba-tiba menatap kumpulan pisau lempar di pinggangnya.
"Bisa atau tidak, yang jelas kita kaya kalau disana!!" Xena mulai berlarian tak jelas, membuat Arthur menahan emosi.
"huuh... apa-apaan dunia ini?!" Arthur memijat pelipisnua, merasakan gejolak membara (bah?) maksudnya merasakan emosi panas yang mengalir sampai ke ubun-ubun.
"Santailah, Arthur. kau terlalu emosional!" gumam Albertio, nadanya begitu tenang bahkan sangat tenang untuk situasi absurd saat ini.
"We.. wee.. udah capek...!!! bubar!!!" Alice berteriak kesal, membubarkan pertikaian di Kuil dewi itu segera. Teriakannya menggema ke pikiran Author yang menulis cerita ini.
salut sama kak manusia ikan🐳
semangat