[y/n] adalah seorang gadis yang hidup dalam topeng sempurna. Baginya, dunia adalah panggung sandiwara di mana senyumnya, ketenangannya, bahkan tatapan matanya hanyalah kepalsuan yang disusun rapi tanpa celah. Namun, benteng yang ia bangun bertahun-tahun mendadak retak saat ia menginjakkan kaki di sekolah barunya.
Seorang pemuda bernama Ariel—si berandal jenius yang ugal-ugalan namun memiliki insting tajam—menjadi satu-satunya orang yang mampu melihat di balik topeng tersebut. Di saat semua orang tertipu oleh keramahan [y/n], Ariel justru menantangnya untuk jujur.
Akankah hidup [y/n] berubah setelah rahasianya mulai terkelupas satu per satu? Mengapa ia begitu terobsesi dengan kepalsuan? Dan rahasia gelap apa yang sebenarnya ia sembunyikan di balik helai rambut birunya? Temukan jawabannya dalam perjalanan penuh rima, luka, dan perlindungan yang tak terduga...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mondᓀ‸ᓂ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
tante salah alamat
Seisi kelas 12 D—kelasnya [y/n] dan Ariel—masih riuh dengan tawa dan siulan godaan untuk pasangan "Cie-Cie" terbaru di SMA Pelita. Yupi dan Amu bahkan sudah mulai menyusun rencana untuk "menculik" mereka berdua ke kantin saat istirahat nanti.
Wajah [y/n] masih memerah padam, sementara Ariel kembali menenggelamkan wajahnya di lipatan tangan, berpura-pura tidur untuk menutupi rasa malu yang luar biasa.
TOK! TOK! TOK!
Suara ketukan pintu yang cukup keras memotong tawa Yupi. Pintu kelas terbuka, dan Bu Yeni masuk dengan wajah datarnya yang biasa. Di belakangnya, berdiri sesosok siswi yang langsung membuat seisi kelas senyap total.
Murid baru lagi. Padahal [y/n] sendiri belum genap sebulan masuk ke SMA Pelita.
Tapi murid baru yang satu ini benar-benar mencolok. Rambutnya dicat warna pirang terang yang menyilaukan mata di bawah lampu kelas.
Bibirnya dipoles liptint warna merah menyala yang terlalu menor untuk ukuran anak sekolah, dan seragamnya... yah, dikecilkan sedemikian rupa hingga terlihat sangat ketat.
Dia melangkah masuk dengan penuh percaya diri, matanya menyapu seisi kelas dengan tatapan meremehkan, berbanding terbalik dengan [y/n] yang dulu masuk dengan bahu merosot bergetar dan senyum manis.
"Anak-anak, diam sebentar. Hari ini kita kedatangan satu murid baru lagi," ucap Bu Yeni malas. "Silakan perkenalkan diri kamu."
Si Pirang itu tersenyum manis, senyum yang dipaksakan dan terlihat sangat artifisial. Dia mengibaskan rambut pirangnya pelan, membuat aroma parfum yang terlalu menyengat tercium sampai ke bangku depan.
"Halo semuanya!" sapa gadis itu dengan suara yang dibuat-buat imut, high-pitched, dan... yah, pick-me. "Kenalin, nama aku Velora. Aku pindahan dari sekolah swasta elit di Jakarta Pusat. Aku surprised banget ternyata SMA Pelita... hm, 'unik' ya, nggak se-elit sekolah aku dulu. Tapi nggak apa-apa deh, aku harap kalian bisa jadi teman aku, soalnya aku easygoing banget orangnya, nggak kayak cewek-cewek lain yang suka drama."
Velora melirik ke arah Yupi dan Amu, lalu tatapannya berhenti di meja [y/n]. Dia mengerutkan kening sedikit, menatap perban di tangan [y/n] dan susu stroberi di mejanya.
"Eh, cewek yang di pojok itu... kok berantakan banget sih penampilannya? Rambutnya kusam, terus perban itu... duh, serem banget. Kamu habis berantem ya? Iuw, aku paling nggak suka cewek yang hobi kekerasan, nggak ladylike banget," ucap Velora tanpa dosa, langsung melancarkan serangan pick-me pertamanya pada [y/n].
Seisi kelas tertegun. Yupi dan Amu langsung melotot, siap melompat dari bangku mereka buat ngelabrak si anak baru ini. [y/n] cuma bisa mengerjapkan mata, bingung harus merespons apa pada serangan tiba-tiba ini.
Tiba-tiba, terdengar suara decakan keras dari bangku belakang. Ariel mengangkat kepalanya, menatap Velora dengan tatapan dingin sedingin es kutub utara.
"Berisik. Masuk kelas orang langsung ngebacot nggak jelas. Pergi sana ke kantin, pesen garem biar mulut lu asin," ketus Ariel rendah, matanya menatap tajam Velora, tanpa peduli kalau cewek itu baru saja datang.
Velora tertegun, matanya langsung berbinar melihat Ariel. "Eh? Cowok yang di belakang... kamu bad boy ya? Aku suka deh sama bad boy, mereka lebih seru daripada cowok-cowok alim drama di sekolah lama aku."