NovelToon NovelToon
Zee Dan Kamera Tua

Zee Dan Kamera Tua

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Time Travel / Mengubah Takdir
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: _SyahLaaila

Setelah bertahun-tahun tak pernah dibuka, gudang tua di belakang rumah akhirnya kembali disentuh Zee. Dia hanya berniat merapikan peninggalan kedua orang tuanya yang telah lama tiada. Di antara debu dan kardus usang, Dia menemukan sebuah kamera analog tua yang tak pernah Dia ingat sebelumnya, kamera itu masih menyimpan satu gulungan film.

Karena penasaran, Zee mencoba memotret halaman belakang rumahnya, tempat sumur lama yang sudah kering berdiri sunyi di dalam pagar, tidak ada yang aneh saat Dia menekan tombol rana. Namun saat hasil cetaknya muncul, Dia terkejut.

Di dekat sumur kering itu, tampak sebuah pintu tua transparan, berdiri tegak tanpa dinding, seolah-olah mengarah tepat ke bibir sumur, pintu itu tidak ada saat Dia memotret.

Zee bingung apa maksud dari jepretan kamera tua itu? Penasaran lanjutan cerita nya? Yukk ikutin kelanjutan ceritanya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon _SyahLaaila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20.

Siang harinya, Zee melangkah menuju ke toko kecilnya yang berdiri di samping rumahnya. Bangunan itu sederhana, namun tertata rapi. Rak-rak kayu sudah terisi berbagai sembako yang siap dijual.

Dia mulai memeriksa satu per satu barang dagangannya. Beras, gula, minyak goreng, mie instan, kopi, sabun mandi, sabun cuci, sampo, hingga kebutuhan sehari-hari lainnya yang ditata dengan teliti. Sesekali juga, Dia merapikan kembali posisi barang agar terlihat lebih menarik dan mudah di jangkau.

Besok, Dia berencana membuka tokonya. Ada alasan sederhana di balik keputusannya, Dia merasa iba melihat warga sekitar yang harus pergi jauh ke pasar kecamatan, hanya untuk membeli kebutuhan sehari-hari.

Perjalanan pulang pergi yang melelahkan, ongkos yang tidak sedikit, serta harga barang yang kadang lebih mahal.

Zee juga berharap, dengan adanya tokonya ini, bisa sedikit membantu warga sekitar. Mempermudah langkah mereka, menghemat waktu, dan jika bisa, Dia juga bisa menjual dengan harga yang lebih terjangkau dengan kualitas yang terbaik.

Setelah memastikan semuanya cukup dan sesuai kebutuhan, Zee mengangguk puas.

Dia lalu masuk ke dalam rumah dan menemui Bu Maya.

"Bu Maya, saya mau keluar sebentar ya. Mau ke Kecamatan dulu, mungkin pulangnya agak sore." ucapnya.

Bu Maya menoleh, lalu mengangguk. "Baik Neng."

"Oh iya Bu, nanti kalau Bu Maya dan Pak Ali mau makan siang, makan saja dulu. Kalau ada sisa, bawa pulang saja untuk anak-anak di rumah. Saya akan makan di luar... nanti makan malam saya pesan saja." lanjut Zee.

"Baik Neng."

Zee tersenyum tipis, lalu bergegas naik ke lantai dua. Dia mengambil tas, dompet dan kunci mobil. Tak lama kemudian, mobilnya sudah melaju meninggalkan halaman rumah menuju Kecamatan Rambutan.

Di tengah perjalanannya, sebuah notifikasi muncul dari A1, robot asistennya.

Zee sedikit mengernyit membaca pesan itu.

*Peringatan: Desa Pesisir di perkirakan akan memasuki musim barat, dalam satu bulan ke depan. Potensi gelombang tinggi dan angin kencang.

Zee langsung menepi sebentar. Dia memarkirkan mobilnya di pinggir jalan, dengan hembusan napas yang berat.

Tanpa membuang waktu, Dia membuka aplikasi AetherShop. Jarinya bergerak cepat, memeriksa saldo koinnya, ternyata jumlahnya masih sangat besar, lebih dari cukup.

Dia lalu mencari opsi pembangunan rumah yang sederhana, kokoh, dan tahan terhadap angin kencang. Setelah menemukan yang sesuai, Dia langsung mengambil keputusan.

Empat puluh tujuh rumah, untuk seluruh warga Desa Pesisir.

Tak hanya itu, Zee juga memesan pembangunan tanggul untuk menahan ombak agar tidak naik ke pemukiman.

Dia bahkan mengatur agar posisi rumah-rumah baru dibangun sedikit lebih jauh dari garis pantai, agar lebih aman dari terjangan gelombang.

Semua Dia lakukan, hanya dalam hitungan menit.

Setelah pesanan sedang di proses, ada rasa lega yang mengalir di dadanya. Tanpa menunda lagi, Dia menyalakan kembali mobilnya dan melanjutkan perjalanan menuju ke Kecamatan Rambutan.

Tujuannya kali ini adalah pasar. Sesampainya di sana, Zee tidak langsung membeli. Dia justru berjalan perlahan, mengamati setiap sudut. Dari pedagang yang menawarkan dagangan, hingga para pembeli yang sibuk menawar.

Dia mencatat dalam hati, apa saja yang paling dibutuhkan. Apa yang paling sering di cari, dan bagaimana harga-harga disana.

Meski Dia tahu tokonya mungkin sudah lebih lengkap, Dia tetap ingin memastikan semuanya lagi. Dia tidak ingin salah langkah dalam menentukan barang dagangan.

Sementara itu, jauh di Desa Pesisir... sebuah kapal besar kembali datang, membawa muatan yang lebih banyak dari sebelumnya.

Namun kali ini, semuanya sudah dipersiapkan.

Sebelum kapal itu tiba, A1 telah lebih dulu memberi kabar kepada Pak Sam. Tentang rencana pembangunan rumah gratis dari Nona Zee untuk seluruh warga Desa Pesisir.

Tidak ada yang tertinggal, ataupun tidak ada yang dikecualikan.

Pembangunan pun dimulai. Rumah-rumah lama di bongkar, digantikan dengan bangunan baru yang lebih kokoh. Untuk sementara, warga diungsikan ke kapal Pesiar milik Zee yang di kelola oleh A1 dan A2.

Selama seminggu, Desa Pesisir mulai berubah. Dari deretan rumah sederhana di tepi pantai... menjadi pemukiman baru yang lebih aman dan tertata.

Kembali ke Zee, setelah cukup lama berkeliling di pasar, Dia akhirnya berhenti. Perutnya mulai terasa kosong sejak tadi.

Dia tersenyum kecil. "Sepertinya... waktunya makan."

Zee pun mulai mencari rumah makan atau warung di sekitar pasar, tempat sederhana untuk mengisi perutnya yang sejak tadi tak henti protes.

Zee melangkah perlahan menyusuri deretan warung di sekitar pasar. Arom masakan yang bercampur, dari gorengan hangat, ikan bakar, hingga kuah soto, yang membuat perutnya semakin tak sabar.

Matanya berhenti pada sebuah warung sederhana di sudut jalan. Tidak terlalu besar, namun terlihat bersih dan cukup ramai pengunjung.

Tanpa ragu, Zee menghampiri dan memilih duduk di salah satu kursi kayu yang masih kosong.

"Selamat siang Neng, mau pesan apa?" tanya seorang ibu pemilik warung dengan ramah.

Zee tersenyum sopan. "Siang Bu. Saya pesan nasi, ikan bakar, sayur dan air putih saja ya Bu."

"Baik Neng, tunggu sebentar."

Zee mengangguk, lalu menyandarkan tubuhnya sejenak di kursi. Suasana pasar yang ramai terasa berbeda dari ketenangan rumahnya.

Di sini, semuanya hidup... suara tawar-menawar, tawa anak-anak, hingga panggilan para pedagang yang menawarkan dagangan mereka.

Tak lama, pesanannya datang. Aroma ikan bakar yang menggoda langsung menyeruak. Zee mulai makan perlahan, menikmati setiap suapan. Entah karena lapar atau memang masakannya enak, Dia merasa makan siang kali ini begitu nikmat.

Setelah selesai makan, Zee membayar dan berterima kasih kepada pemilik warung. Dia tidak langsung pergi, melainkan kembali berjalan ke arah pasar.

Beberapa kali Dia berhenti di lapak pedagang, bertanya harga, bahkan membeli beberapa barang sebagai sampel rempah-rempah. Cemilan lokal, hingga beberapa jenis sayuran yang terlihat segar.

Dia ingin tokonya tidak hanya lengkap, tetapi juga sesuai dengan selera warga sekitar.

Setelah dirasa cukup, Zee kembali ke mobilnya. Dia meletakkan belanjaannya di kursi belakang, lalu duduk di balik kemudi.

Namun, sebelum menyalakan mesin, Dia kembali membuka ponselnya.

AetherShop.

Notifikasi baru muncul.

*Progres pembangunan Desa Pesisir: 65%.*

Zee menatap angka itu beberapa detik, lalu tersenyum tipis.

"Cepat juga..." gumamnya pelan.

Dia menutup aplikasi, lalu menyalakan mobil. Matahari mulai condong ke barat, cahayanya terasa lebih hangat di banding siang tadi.

Perjalanan pulang terasa lebih tenang. Sesampainya di rumah, Zee disambut dengan aroma dari taman bunga yang tertiup angin sore, dan aroma masakan yang tersisa dari dapur.

Dia pun melangkah masuk. "Bu Maya, saya pulang," ucapnya.

Dari dapur, Bu Maya muncul sambil mengelap tangan. "Alhamdulillah, Neng sudah pulang. Capek ya?"

Zee menggeleng kecil sambil tersenyum. "Lumayan Bu, tapi seru juga koh."

Dia lalu menyerahkan beberapa barang belanjaannya. "Ini ada beberapa tambahan, nanti kita cek lagi untuk tokonya."

"Baik Neng."

Zee mengangguk, lalu melangkah menuju kamarnya di lantai dua. Namun, sebelum masuk, langkahnya terhenti sejenak.

Pandangan matanya mengarah ke kejauhan, ke arah taman buah, bunga dan sumur tua.

Angin sore berhembus pelan. Dan di balik ketenangan itu, Zee tahu... sesuatu yang besar sedang Dia persiapkan.

Bukan hanya untuk dirinya, tapi untuk banyak orang.

1
Ida Kurniasari
Doble up thorr
Ida Kurniasari
Doble up thor
Ida Kurniasari
Doble up dong thorr😍
keyza formoza
lanjut thoorr
Ida Kurniasari
sangat sangat menarik thor
SyahLaaila: siap kak☺️
total 1 replies
Ida Kurniasari
bagus banget thorr,lanjutt up😍
Ida Kurniasari
😍
Chen Nadari
The best Thorr
SyahLaaila: makasih kak☺️
total 1 replies
Ida Kurniasari
baru bab satu aja udah deg degan thor,ceritamu bikin penasaran
Musdalifa Ifa
menguji kesabaran
Andira Rahmawati
mau nabung dulu biar puas entar bacanya👍👍💪💪💪
Andira Rahmawati
trusss semangat💪💪💪 lanjuttt
Andira Rahmawati
lama amattt jadi penasaran...
Andira Rahmawati
hadir thorr
Twis G
semangat author 🌹🌹🌹
Narina
lanjut thor semakin penasaran 😍😍
Narina
cerita nya seru thor lanjut 🌷🌷🌷
SyahLaaila: siap kak ☺️
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!