NovelToon NovelToon
JODOH, YANG DIJODOHKAN

JODOH, YANG DIJODOHKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Anna ceriya

Selama lebih dari tiga dekade, persahabatan antara Keluarga Lenoir dan Hadinata telah menjadi tonggak dalam kehidupan kedua keluarga. Dari berbagi suka duka hingga merencanakan masa depan bersama, ikatan mereka semakin mengakar dalam setiap aspek kehidupan. Untuk memperkokoh hubungan yang sudah terjalin erat itu, kedua kepala keluarga memutuskan untuk mengikatkan anak-anak mereka melalui perjodohan—suatu langkah yang dianggap akan menyatukan kedua keluarga menjadi satu kesatuan yang lebih kuat.

Aslan Noah Lenoir 28 tahun Pewaris Lenoir Group Dari Paris dan Alana Hadinata 20 tahun berdarah Campuran dari sang ibu ( Helena dubois ) terpaksa harus menjalani rencana perjodohan yang tidak mereka inginkan, gaya hidup mereka yang berbeda sering kali membuat Alana merasa terjebak dalam permainan Aslan yang vulgar dan penuh tantangan.
____

Bisakah dua hati yang terpaksa bertemu menemukan kedekatan yang tulus?
Ataukah perjodohan ini hanya akan menjadi beban dan merusak persahabatan keluarga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anna ceriya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22.

 

Kebahagiaan yang memancar dari wajah Annabelle seolah menjadi cahaya yang menerangi setiap sudut ruangan di mana pun ia berada. Bagi wanita itu, melihat putranya yang dulu sering terombang-ambing dalam ketidakpastian kini berdiri tegak sebagai pria yang penuh tanggung jawab, dan melihatnya berbagi senyum dengan gadis sebaik Alana, adalah hadiah terindah yang pernah Tuhan berikan. Setiap pagi ia bangun dengan rasa syukur, setiap malam ia tidur dengan harapan yang damai. Namun, di balik kebahagiaan itu, terselip satu kekhawatiran yang mulai tumbuh ketika waktu berlalu semakin cepat.

Waktu magang dan tugas akhir kuliah Alana di Swiss hampir berakhir. Hari itu, di ruang tamu vila sewaan mereka di Jenewa, Alana mengumumkan rencananya dengan nada yang lembut namun tegas.

"Setelah sidang tugas akhir minggu depan, semua kewajibanku di sini selesai, Tante... eh, Mama," ucap Alana, masih sedikit canggung namun penuh rasa hormat saat menyapa Annabelle. "Aku berencana untuk kembali ke Yogyakarta. Ayah dan Ibu pasti sudah menunggu, dan aku juga ingin memulai langkah karirku di tanah air sendiri, di mana aku tumbuh besar."

Wajah Annabelle yang tadi bersinar seketika berubah menjadi cemas. Ia segera meletakkan cangkir tehnya di meja dan menggenggam tangan Alana dengan erat.

"Tidak, Sayang, tidak bisa!" seru Annabelle, nadanya memohon. "Kenapa harus pulang ke Indonesia? Jaraknya begitu jauh. Kalian sudah sepakat untuk saling mengenal lebih dekat, bukan? Bagaimana caranya kalian melakukan itu jika kau berada di benua yang berbeda dan Aslan harus bolak-balik lintas samudra?"

Ia mendekatkan wajahnya, matanya memancarkan bujukan yang lembut namun mendesak. "Dengarkan aku, Alana. Pindahlah ke Paris. Kami memiliki kediaman besar yang indah di Neuilly-sur-Seine, tempat di mana keluarga Lenoir tinggal secara turun-temurun. Rumah itu luas, tenang, dan memiliki ruang yang cukup bagi kalian berdua untuk berkumpul tanpa gangguan. Kau bisa melanjutkan karirmu di sana juga; rumah sakit-rumah sakit di Prancis juga memiliki standar yang tinggi, dan dengan dukungan keluarga, masa depanmu akan terjamin. Di sana, kau akan menjadi bagian dari keluarga kami yang sesungguhnya, bukan orang asing yang jauh di mata."

Alana tersenyum sedih, perlahan menarik tangannya dengan gerakan yang halus agar tidak menyinggung perasaan wanita itu.

"Aku sangat menghargai tawaranmu, Mama, sungguh," jawab Alana lembut, namun tetap pada pendiriannya. "Tapi Yogyakarta adalah rumahku. Di sana ada akar keluargaku, budayaku, dan tempat di mana aku merasa paling menjadi diriku sendiri. Meskipun aku menerima perjodohan ini dan mencintai Aslan, aku tidak bisa begitu saja meninggalkan segala sesuatu yang membentuk siapa aku sekarang. Jarak mungkin jauh, tapi jika memang kita ditakdirkan untuk bersama, jarak tidak akan menjadi penghalang, bukan?"

Namun Annabelle bukanlah wanita yang mudah menyerah. Ia melihat ini sebagai masalah yang bisa diselesaikan dengan diskusi, dan siapa lagi yang bisa membantunya jika bukan orang tua Alana sendiri?

Malam harinya, setelah Alana kembali ke asrama, Annabelle mengambil telepon dan menekan nomor yang sudah ia hafal di luar kepala—nomor pribadi Helena Dubois, ibu Alana, yang juga merupakan sahabat lamanya.

"Halo, Helena! ini aku, Annabelle," serunya riang begitu sambungan terhubung.

"Annabelle! Wah, kabar baik apa yang kau bawa hari ini?" suara Helena terdengar hangat dan akrab di seberang sana.

"Banyak kabar baik, Sayang, tapi ada satu hal yang ingin aku bicarakan," ucap Annabelle, lalu mulai menjelaskan tentang rencana Alana pulang ke Yogyakarta dan keinginannya agar gadis itu tinggal di Paris. "Helena, tolong pahami, ini bukan hanya soal kenyamananku. Ini soal masa depan anak-anak kita. Bagaimana jika mereka terpisah dan perasaan mereka meredup? Aku punya ide bagus. Mengapa kau dan Samuel tidak datang ke Paris? Ayo kita adakan pertemuan keluarga besar di kediaman kami di Neuilly-sur-Seine. Kita bisa membicarakan semua ini sambil merayakan kebahagiaan mereka. Anggap saja ini perayaan awal untuk kesepakatan kita yang sudah berjalan bertahun-tahun."

Helena tertawa lembut di seberang talian. "Kau memang selalu punya rencana, ya, Annabelle. Baiklah, aku akan bicara dengan Samuel. Sepertinya ini ide yang bagus. Kami juga sudah lama ingin bertemu kalian dan melihat sendiri bagaimana perkembangan hubungan mereka. Kami akan datang."

Mendengar jawaban itu, hati Annabelle berbunga-bunga. Rencananya berjalan lancar.

********

Beberapa minggu kemudian, rencana itu menjadi kenyataan. Kedua keluarga telah berkumpul di kediaman megah keluarga Lenoir di Neuilly-sur-Seine, Paris. Rumah besar itu yang biasanya terasa sunyi kini dipenuhi suara tawa dan percakapan hangat. Samuel dan Marcel duduk di ruang kerja sambil menyeruput anggur berkualitas dan membahas berbagai hal, sementara Helena dan Annabelle sibuk berbagi cerita di ruang tamu.

Alana, dengan sifatnya yang suka membantu dan rendah hati, merasa tidak enak jika hanya duduk diam sementara pelayan rumah sibuk bersiap-siap untuk jamuan makan malam. Ia pun menyelinap masuk ke dapur yang luas dan terang benderang itu, mengenakan pakaian santai namun tetap anggun.

"Biar aku yang bantu menyiapkan salad dan menyusun piring-piring ini," kata Alana kepada koki kepala yang awalnya menolak, namun akhirnya menyerah melihat ketegasan yang lembut dari gadis itu. Alana bekerja dengan cekatan, rambut panjangnya diikat rapi, keringat halus mulai muncul di dahinya karena suhu dapur yang hangat. Ia begitu asyik dengan tugasnya hingga tidak menyadari bahwa pintu dapur di belakangnya telah terbuka dan tertutup kembali.

Tiba-tiba, ia merasakan kehadiran seseorang di belakangnya—suatu aura yang sangat ia kenal, bau wangi kayu cendana dan aroma maskulin yang khas. Sebelum Alana sempat berbalik, tubuhnya sudah ditarik lembut namun kuat, dan sepasang lengan kekar melingkar erat di pinggang rampingnya, menempelkan punggungnya tepat ke dada bidang milik Aslan.

"Kau mencari masalah di sini, ya?" bisik suara berat dan serak Aslan tepat di telinga Alana, membuat bulu kuduk gadis itu meremang seketika.

Alana menahan napas, tubuhnya menegang. Jantungnya langsung berpacu kencang, seolah ingin melompat keluar dari rongga dadanya.

"Aslan... lepaskan, tolong..." bisiknya panik, suaranya hampir tak terdengar. Tangannya berusaha mendorong lengan pria itu, namun kekuatannya tidak sebanding. "Orang-orang ada di sana. Ayahku, Ibu, Papa Marcel, Mama Annabelle... mereka bisa masuk kapan saja. Kita tidak boleh melakukan ini."

Ia benar-benar takut. Takut jika ada yang melihat, takut jika batasan yang mereka buat dilanggar terlalu jauh, dan yang paling menakutkan, ia takut dirinya sendiri tidak akan memiliki kekuatan untuk menolak jika Aslan terus melanjutkan sentuhan itu.

Namun Aslan seolah tidak mendengar permohonan itu, atau mungkin ia sengaja mengabaikannya karena rasanya sendiri sudah terlalu lama menahan rindu. Alih-alih melepaskan, ia malah menarik tubuh Alana semakin dekat, hingga tidak ada ruang kosong sedikit pun di antara tubuh mereka. Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher gadis itu, menghirup dalam-dalam aroma bunga mawar yang selalu melekat pada kulit Alana—aroma yang kini menjadi candu baginya.

"Mereka sibuk mengobrol dan tidak akan datang ke sini," gumam Aslan, napasnya hangat menyentuh kulit leher Alana yang mulai memerah. "Dan bagiku, tidak ada tempat yang lebih tepat selain di sampingmu, di mana pun itu."

Alana merasa seolah otaknya berhenti bekerja. Tatapan mata biru Aslan, suaranya yang rendah, dan setiap sentuhan tangannya yang bergerak perlahan mengusap pinggangnya seolah memiliki kekuatan hipnotis yang kuat. Ia tahu ini salah, ia tahu mereka harus berhati-hati, namun tubuhnya seolah kehilangan kendali, menyerah pada pesona pria di belakangnya. Aslan seolah tahu persis di mana letak titik terlemah dirinya—tempat di mana rasa takut bertemu dengan rasa cinta yang begitu besar hingga menyakitkan.

Perlahan, dengan gerakan yang membuat Alana hampir tidak bernapas, Aslan memutar tubuh gadis itu hingga mereka berhadapan. Dinding dapur berada tepat di belakang punggung Alana, memojokkannya, sementara Aslan menopang tubuhnya dengan kedua tangan yang diletakkan di sisi kiri dan kanan kepala gadis itu, membentuk sangkar perlindungan sekaligus penjara manis.

Wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter. Mata Aslan menatap bibir Alana dengan hasrat yang tak lagi bisa disembunyikan, lalu kembali menatap manik mata coklat yang kini dipenuhi ketakutan dan kerinduan yang sama.

"Aslan, jangan..." ucap Alana lemah, meskipun matanya tidak mampu beralih dari wajah pria itu. "Kita sudah berjanji..."

"Aku tahu," jawab Aslan parau, suaranya bergetar menahan emosi yang meledak-ledak. "Aku tahu semua janjiku. Tapi melihatmu di sini, di rumahku, di dapurku, terlihat begitu cantik dan alami... rasanya pertahananku runtuh seketika."

Tanpa memberi waktu bagi Alana untuk memprotes lagi, Aslan menundukkan wajahnya perlahan. Ia tidak memberikan ciuman yang panjang atau menuntut seperti dulu. Sebaliknya, ia hanya menyentuhkan bibirnya ke bibir Alana—sekilas saja, secepat kepakan sayap kupu-kupu, namun cukup berat dan penuh makna untuk membuat seluruh tubuh Alana terasa lemas seolah tulang-tulangnya dicairkan.

Ciuman itu singkat, namun dampaknya dahsyat. Jantung Alana berdegup begitu kencang hingga ia yakin Aslan bisa mendengarnya. Rasa hangat dan listrik menyebar dari bibir mereka ke seluruh pembuluh darah, membuat kepalanya pening dan pikirannya kacau.

Segera setelah sentuhan itu terjadi, Aslan langsung menarik wajahnya kembali. Ia menyadari bahwa jika ia menahan satu detik pun lebih lama, ia tidak akan bisa berhenti. Napasnya memburu, keringat dingin muncul di pelipisnya, dan ia bisa merasakan betapa beratnya menahan diri saat segala sesuatu yang ia inginkan ada tepat di hadapannya. Ia menempelkan keningnya ke kening Alana, matanya terpejam erat, berusaha mengendalikan setiap syaraf yang menuntut untuk menyentuh, memeluk, dan memiliki lebih jauh lagi.

"Maaf..." bisik Aslan, suaranya berat dan penuh perjuangan. Tangannya yang tadinya memojokkan Alana kini turun, kembali menggenggam tangan gadis itu dengan lembut namun erat, seolah itu adalah satu-satunya cara baginya untuk tetap terhubung tanpa melanggar batas. "Aku harus berhenti. Aku harus menjagamu seperti janjiku. Tapi Tuhan tahu, Alana... menahan diri ini adalah hal tersulit yang pernah aku lakukan."

Alana masih berdiri mematung di sana, tangan terangkat menyentuh bibirnya yang masih terasa hangat dan berdenyut, matanya terbelalak tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi, namun di dalam hatinya, ada perasaan lega bercampur rindu yang semakin dalam. Ia tahu, perjalanan mereka masih panjang, dan setiap detik penantian ini adalah bukti bahwa cinta mereka nyata dan layak diperjuangkan.

1
Mia Camelia
lanjut thor👍
Anna ceriya: terimakasih atas support nya kaka🙏💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!