NovelToon NovelToon
Ketika Sang Penindas Jadi Bucin

Ketika Sang Penindas Jadi Bucin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Vina Melani Sekar Asih

Bagi Hani, diterima wawancara di perusahaan besar adalah impian. Namun, impian itu berubah jadi ketegangan saat ia tahu sang pewawancara adalah Reza, cowok nakal yang sering membully-nya saat SMA, yang ternyata adalah anak pemilik perusahaan.

Reza awalnya pangling melihat Hani yang kini bertransformasi menjadi sangat cantik dan memikat. Namun, begitu membaca nama lengkap Hani di CV, Reza langsung ingat bahwa mereka dulu sekelas. Terpesona oleh kecantikan Hani sekarang sekaligus dihantui rasa bersalah masa lalu, Reza langsung meloloskan Hani dan bertekad menebus dosanya.

Reza melakukan segala cara untuk meminta maaf dan mengambil hati Hani. Sayangnya, Hani bukan perempuan lemah yang mudah luluh. Akankah sikap dingin Hani runtuh oleh perjuangan Reza, ataukah Reza harus menerima kenyataan bahwa beberapa luka masa lalu memang mustahil disembuhkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vina Melani Sekar Asih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Undangan beludru merah maroon di atas meja kerja Hani laksana sebuah tiket menuju panggung sandiwara terbesar dalam hidupnya. Di satu sisi, acara malam penganugerahan minggu depan adalah momen yang paling ia nantikan. Hari di mana nama almarhum ayahnya akhirnya bersih secara mutlak di mata publik.

Namun di sisi lain, lembaran dokumen Proyek-X yang tersembunyi di dalam laci mejanya terus berbisik, mengingatkannya bahwa keadilan yang ia genggam saat ini mungkin hanyalah sebuah ilusi yang dirancang dengan sangat rapi.

Seharian penuh, Hani tidak bisa fokus pada pekerjaannya. Setiap kali ia melihat logo Baskara Group yang terpatri di dinding kantor atau mendengar stafnya membicarakan kebaikan Pak Narendra, dadanya terasa sesak.

Pertanyaan-pertanyaan tak terjawab itu terus berputar, membentuk labirin baru yang kian mengaburkan akal sehatnya.

Kenapa tanda tangan pihak ketiga itu sengaja dipotong? Dan apa yang sebenarnya dicari Pak Narendra di ruang arsip bawah tanah semalam?

Tok... Tok...

Ketukan di pintu kaca membuyarkan lamunan Hani. Siska melangkah masuk dengan raut wajah yang sedikit tegang, memegang sebuah buket mawar putih yang baru.

"Bu Hani... maaf mengganggu," ucap Siska ragu-ragu. "Ini ada kiriman bunga lagi dari Pak Reza. Tapi... ada seseorang yang menunggu Ibu di lobi lantai lima sejak satu jam yang lalu. Dia tidak mau menyebutkan namanya dan bersikeras ingin memberikan dokumen tambahan untuk divisi administrasi."

Jantung Hani seketika berdegup kencang. Firasatnya mengatakan bahwa ini ada hubungannya dengan si pengirim gelap atau pria misterius di lorong restoran kemarin.

"Apa ciri-cirinya, Sis?" tanya Hani, mencoba terdengar tenang.

"Seorang pria paruh baya, mengenakan jaket kasual dan topi abu-abu. Dia bilang... dia adalah mantan rekan kerja almarhum ayah Anda," jawab Siska pelan.

Mendengar kalimat terakhir Siska, Hani langsung bangkit berdiri dari kursinya tanpa berpikir panjang. "Biar saya temui dia di lobi sekarang. Siska, tolong jaga ruangan saya."

Hani melangkah terburu-buru menyusuri koridor lantai lima, tumit sepatu hak tingginya berketuk nyaring di atas lantai marmer. Begitu sampai di area lobi yang bernuansa modern dengan sofa-sofa kulit, pandangan mata Hani langsung menyapu ruangan.

Di sudut lobi dekat jendela besar yang menghadap ke jalan raya, duduk seorang pria paruh baya dengan topi abu-abu yang ditarik agak rendah, persis seperti yang digambarkan oleh Siska.

Hani menarik napas dalam-dalam, mencoba mengendalikan gemetar di tangannya, lalu melangkah mendekati sofa tersebut. "Selamat sore. Saya Hani Adisa. Apakah Anda yang mencari saya?"

Pria itu perlahan mendongakkan kepalanya. Wajahnya dipenuhi guratan usia dan tampak sangat lelah, namun sepasang matanya memancarkan kewaspadaan yang tinggi. Begitu melihat Hani, pria itu langsung berdiri dan membungkuk sedikit penuh hormat.

"Nona Hani... Anda sangat mirip dengan almarhum," bisik pria itu, suaranya parau dan rendah, seolah takut ada telinga lain yang mencuri dengar di lobi yang cukup sepi itu.

"Nama saya Tedi. Delapan tahun lalu, saya adalah staf logistik yang bekerja di bawah arahan ayah Anda di Proyek-X."

Tedi. Nama itu pernah Hani lihat sepintas di dalam daftar manifes arsip digital lama.

Hani mengajak Tedi untuk duduk kembali, memilih posisi sofa yang agak tersembunyi dari pandangan meja resepsionis. "Pak Tedi, apa yang sebenarnya terjadi delapan tahun lalu? Dan... apakah Anda yang mengirimkan amplop cokelat di restoran kemarin?"

Tedi menggelengkan kepala dengan cepat. "Bukan saya yang mengirimkan amplop itu, Nona. Saya bahkan tidak tahu ada orang lain yang mengawasi Anda. Tapi, saya ke sini karena saya mendengar nama Papah Anda akan dipulihkan minggu depan. Saya merasa berdosa jika harus terus menyimpan rahasia ini sampai mati."

Pria paruh baya itu meraba saku jaketnya, mengeluarkan sebuah amplop putih kecil yang sudah agak lusuh, lalu menggesernya di atas meja kaca ke arah Hani.

"Apa ini?" tanya Hani, menatap amplop itu dengan dada yang bergemuruh.

"Itu adalah salinan nota dinas pengeluaran dana taktis yang tidak pernah masuk ke dalam sistem audit resmi perusahaan," jelas Tedi, suaranya kian merendah penuh penekanan yang menusuk.

"Delapan tahun lalu, ayah Anda menolak keras untuk menandatangani pencairan dana ini karena tahu uang itu akan dialirkan ke rekening pribadi Surya Adiguna untuk membiayai kampanye politik dan ekspansi bisnisnya. Ayah Anda dijebak oleh Hendra Baskara karena beliau memegang bukti otentik siapa dalang sejati di balik kerja sama ilegal itu."

Hani membuka amplop tersebut dengan tangan yang dingin. Di dalamnya terdapat selembar kertas memo internal dengan kop surat Baskara Group. Matanya menyapu deretan angka miliaran rupiah yang tertera di sana, hingga akhirnya pandangannya terkunci pada bagian paling bawah, tepat di atas kolom tanda tangan otorisasi tertinggi yang dicap rahasia.

Tanda tangan itu adalah milik Narendra Baskara.

Petir seolah menyambar kesadaran Hani untuk kesekian kalinya. Tubuhnya mendadak kaku, dan dunianya serasa berputar dengan kejam. Jadi... Pak Narendra benar-benar terlibat? Kolom tanda tangan yang dipotong secara fisik di ruang arsip semalam adalah milik pria yang selama ini ia panggil dengan penuh rasa hormat?

"Pak Narendra tahu semuanya sejak awal, Nona Hani," lanjut Tedi dengan nada penuh penyesalan yang tampak sangat meyakinkan.

"Beliau sengaja mengorbankan Hendra Baskara minggu lalu karena posisi Hendra sudah terlalu serakah dan mengancam keselamatan Reza. Dengan menjebloskan adiknya sendiri ke penjara, Pak Narendra bisa mencuci tangannya dengan bersih, terlihat seperti pahlawan di mata Anda dan publik, sekaligus mengubur keterlibatan Surya Adiguna yang memegang rahasia masa lalunya."

Tedi bangkit berdiri, membetulkan letak topi petnya. "Saya harus pergi, Nona. Saya hanya ingin Anda tahu... berhati-hatilah di malam penganugerahan nanti. Jangan sampai Anda menjadi pion berikutnya dalam permainan mereka."

Pria itu melangkah cepat meninggalkan lobi, menghilang di balik pintu lift sebelum Hani sempat mengeluarkan satu kata pun dari tenggorokannya yang terasa sangat kering.

Hani kembali ke ruang kerjanya dengan langkah kaki yang goyah, menyeret tubuhnya seperti raga tanpa jiwa. Ia duduk di kursi kerjanya, menatap kosong ke arah kertas memo lusuh yang kini bersanding dengan foto tua dan Proyek-X di atas mejanya.

Lalu... bagaimana dengan Reza?

Setitik air mata murni lolos dari pelupuk mata Hani, membasahi permukaan memo lusuh di hadapannya. Pertanyaan itu adalah duri yang paling tajam yang menusuk lubuk hatinya.

Apakah Reza tahu tentang semua kelicikan ayahnya? Apakah perhatian, perlindungan, dan taruhan nyawa yang dilakukan Reza di gang malam itu hanyalah bagian dari sandiwara hebat untuk memenangkan kepercayaannya?

Logika Hani menjerit, terseret arus hasutan kejam yang mengaburkan kebenaran asli. Hatinya berontak hebat. Mengingat bagaimana genggaman tangan Reza yang hangat saat terbangun dari koma, dan bagaimana pria itu selalu berdiri paling depan untuk membelanya dari Rachel.

Brak!

Pintu ruang kerja Hani mendadak terbuka lebar tanpa ketukan, membuat Hani tersentak hebat dalam kepanikan yang luar biasa. Dengan gerakan instan yang refleks, ia langsung menyapu seluruh dokumen manipulatif di atas meja dan memasukkannya secara acak ke dalam laci mejanya, lalu menutupnya dengan bantingan keras.

Reza Baskara berdiri di ambang pintu. Pria itu mengenakan kemeja putih dengan dasi hitam yang sudah sedikit dilonggarkan. Wajahnya yang semula tampak cerah seketika berubah penuh selidik saat menangkap basah kepanikan yang luar biasa di wajah Hani dan suara hantaman laci yang keras.

Reza melangkah masuk dengan perlahan, sepasang mata tajamnya mengunci pandangan Hani tanpa ampun. Suasana di dalam kubikel kaca itu mendadak berubah menjadi sangat dingin dan mencekam.

"Hani..." suara Reza terdengar sangat rendah, mengabaikan segala bentuk guratan canda yang biasanya ia bawa. Pria itu berjalan mendekati meja kerja, menatap laci meja yang baru saja ditutup kasar oleh Hani, lalu beralih menatap lurus ke dalam manik mata wanita yang dicintainya itu.

"Apa yang sebenarnya sedang kamu sembunyikan dariku?"

1
Bu Dewi
up lagi kak😍😍😍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!