NovelToon NovelToon
Istri Rahasia Sang Idola Kampus

Istri Rahasia Sang Idola Kampus

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Perjodohan
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: MochiFlora

"Kamu hanya aib dalam hidupku!"

Itu kalimat pertama yang Raden Rangga Wijaya ucapkan pada istri sahnya.

Rangga—mahasiswa hukum tampan, presiden BEM, idola kampus yang dikejar ratusan perempuan, terpaksa menikahi gadis yang paling dibencinya. Meysa Putri Mahendra. Si miskin culun berkulit kusam yang tidak pantas berdiri di sampingnya.

Meysa juga tidak mau. Menikah dengan pria arogan yang memandangnya seperti sampah? Tapi ancaman pencabutan KIP dan warung neneknya yang jadi taruhan membuatnya pasrah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MochiFlora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

IRIK

"Meysa, tolong jaga Rangga baik-baik."

Meysa mengangguk. "Baik, Ayah..."

Pak Soerya tersenyum tipis, lalu menatap Rangga di kursi depan. "Ayah pulang dulu, jangan bikin Meysa kecapean ngurus kamu."

Rangga tidak berkutik sedikitpun..

Begitu keluar dari mobil, Rangga berjalan menuju lift tanpa menunggu Meysa. Langkahnya masih sedikit pelan, kakinya belum sepenuhnya pulih, tapi ia tidak mau menunjukkan kelemahan di depan perempuan itu.

Lift naik perlahan. Mereka berdiri berseberangan, tidak ada yang bicara. Hingga Pintu kembali terbuka.

Udara di dalam ruangan itu terasa lebih dingin, dan sedikit pengap. Meysa segera membuka jendela, membiarkan angin malam masuk menggantikan aroma sepi yang mengendap.

"Mas, tunggu dulu ya, aku bersihkan dulu kamarnya!"

Rangga tetap diam, dengan wajah yang dingin..

Meysa tidak mau ambil pusing, dan segera pergi ke kamar Rangga, mengganti seprai dengan yang baru, mengatur bantal, menata selimut.

Setelah selesai, ia keluar dan mengambil keranjang pakaian kotor di kamar mandi. Pakaian Rangga selama di rumah sakit belum sempat dicuci. Meysa memisahkan warna putih dan hitam, lalu memasukkannya ke dalam mesin cuci.

Tombol ditekan. Mesin bergemuruh pelan.

Lalu ia pergi ke dapur, membuka ponsel, dan memesan makanan dari restoran favorit Rangga yang dulu sempat ia lihat saat membersihkan meja belajar suaminya. Sate kambing dan nasi kebuli. Mahal. Tapi Meysa tidak peduli. Uang sakunya masih tersisa sedikit, dan ia pikir Rangga pantas mendapat makanan enak setelah sekian lama di rumah sakit.

Tiga puluh menit kemudian, makanan datang. Meysa menyusunnya di atas meja makan, merapikan sendok dan garpu, lalu berjalan ke ruang tamu.

"Mas, makan dulu, nanti minum obatnya."

Rangga berdiri dari sofa. Ia berjalan menuju meja makan, duduk, lalu mulai menyantap makanannya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Setelah selesai makan, Rangga meletakkan sendoknya. Ia mengangkat wajah, dan matanya menatap Meysa.

Tapi tidak ada kehangatan di sana.

Rangga memperhatikan Meysa. Gadis itu duduk dengan tubuh yang tampak lebih kecil dari biasanya. Tulang selangkanya menonjol di balik kemeja putih lengan panjang. Pipinya yang dulu sedikit berisi, kini tampak cekung. Lingkaran hitam di bawah matanya tebal, seperti orang yang berbulan-bulan tidak tidur nyenyak.

"Dia semakin kurus." batin Rangga.

Tapi pikiran itu tidak berlanjut menjadi rasa iba. Yang muncul justru sebaliknya.

"Kenapa dia terus memaksakan dirinya untuk terus berada disini? Dan sampai kapanpun gue gak akan pernah mau nerima dia!!"

Rangga membuang muka. Ia berdiri, meninggalkan piring kotor di atas meja, lalu berjalan menuju kamarnya.

"Jangan terus memaksakan diri untuk tetap berada disini, percuma saja kamu tidak akan mendapatkan apa yang kamu mau dari saya!" ucap Rangga

Pintu kamar tertutup dengan suara keras, tapi tetap terasa seperti benturan di dada Meysa.

Ia masih duduk di meja makan, menatap piring kotor yang ditinggalkan Rangga.

"Jangan terus memaksakan diri untuk tetap berada di sini, percuma saja kamu tidak akan mendapatkan apa yang kamu mau dari saya!"

Kalimat itu terngiang di kepalanya seperti kaset rusak, yang berputar berulang kali

"Tapi Mas, aku hamil anakmu." batinnya menjerit, sampai dadanya terasa sesak."Bagaimana aku bisa pergi?"

"Aku akan terus berusaha supaya kamu mau nerima aku. Bukan untuk diriku sendiri, tapi untuk anak yang ada di dalam perutku. Dia berhak punya ayah. Dia berhak tahu bahwa ia dilahirkan dari sebuah pernikahan yang sah, meskipun pernikahan itu tidak pernah kamu inginkan."

Ia tidak mengucapkan itu semua dengan suara. Ia hanya menangis dalam diam, dengan punggung tangan yang terus mengusap pipi basah.

Meysa berdiri. Ia mengangkat piring-piring kotor itu, membawanya ke dapur dan mencucinya..

Sementara di balkon apartemen, angin malam berhembus dengan kencang..

Rangga berdiri dengan tangan bersilang di dada, menatap kerlap-kerlip lampu kota di kejauhan. Pikirannya tidak kunjung tenang. Ada sesuatu yang mengganjal, sesuatu yang sejak tadi berusaha ia abaikan tapi tidak bisa.

Malam itu...

Ia mencoba mengingat. Potongan-potongan kenangan muncul samar, seperti gambar yang buram karena terkena air.

Pintu apartemen terbuka kencang. Tubuhnya oleng. Ada seorang perempuan di hadapannya. Dia memanggil nama Emily. Perempuan itu menjawab dengan suara yang sedikit gemetar. Lalu ia memeluknya. Menciumnya. Membawanya ke sofa.

Rangga menutup matanya. Wajah perempuan itu mulai terbentuk dalam ingatannya. Bukan Emily. Bukan.

Meysa.

Wajah Meysa yang pucat, mata yang membulat penuh ketakutan, dan tubuh mungil yang tidak bisa melawan.

"Tidak," desis Rangga sambil menggeleng. Ia membuka matanya dan menatap langit malam yang gelap. "Itu tidak pernah terjadi..."

Tapi bukti itu ada. Noda darah di sofa. Perubahan sikap Meysa yang semakin pendiam. Tubuhnya yang semakin kurus, seolah sedang menanggung beban yang tidak terlihat.

Drrtt...drt....

Rangga membuka ponselnya, menampilkan sebuah notifikasi dari nomor yang tidak ia kenal...

Ia membuka pesan itu..

Seketika Rangga membeku.

Matanya menatap layar ponselnya tanpa berkedip. Foto itu diambil dari jarak cukup dekat, cukup jelas untuk melihat detail wajah siluet. Di dalam foto itu, dua orang sedang duduk di bangku bawah pohon pinggir jalan.

"Lihatlah, bagaimana bisa seorang istri yang meninggalkan suaminya ketika suaminya sedang berada di rumah sakit, demi laki-laki lain?"

Jantung Rangga berdetak lebih kencang. Bukan karena cemburu, ia tidak akan pernah mengakui perasaan seenek itu.

Ia memperbesar foto itu. Mencari-cari kejanggalan. Tapi tidak ada satupun keanehan disana. Yang terlihat hanyalah Renal yang tengah menatap Meysa..

"Kapan foto ini diambil?"

1
Emi Sudiarni
kok sedikit bangat up ny
partini
lah Ternyata ada yg tidak suka sama mereka berdua,,jangan menyerah be strong maysa kalau kamu pergi tanda nya kamu kalah sama tuh curut
Humaira
Ya ampun Thor sedikit banget bacanya
Emi Sudiarni
makanya jdi suami jgn jhat..
partini
jahat banget sih di tendang,biar tuh sia Rangga hidup dalam penyesalan
MochiFlora: Terkutuklah kamu Rangga 🤣
total 1 replies
Emi Sudiarni
lanjutkan seru bngat
MochiFlora: Terima kasih kaka 🙏🥰
total 1 replies
Humaira
Bagus pak Soerya buat anakmu menyesal
Humaira
Lagi lagi dibikin keguguran
semoga setelah ini Meysa sadar dan mau meninggalkan si Rangga
jangan lemah mey
Emi Sudiarni
ksihan meysa
Ranita Rani
mumet q liat cwe kya gini,,,,
Ranita Rani
karakter meysa terlalu lemah,,,
partini
WTF gila kamu. ga
Emi Sudiarni
emang kelewatan rangga ini
Emi Sudiarni
ksihan meysa
Rian Moontero
mampiiirrr👍👍
MochiFlora: Terima kasih sudah mampir kakak 🙏🥰
total 1 replies
Humaira
Sumpah gereget banget sama si Meysa
partini
giman mau di kasih tau orang nya aja najis lihat dia
Emi Sudiarni
lanjut kak seru ceritany
Emi Sudiarni
hadir kan kak author cwok yg naksir meysa biar rangga cmburu
Humaira
APASIH NGESELIN BANGET SI ULAT BULU EMILY 😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!