"Tapi, aku tidak mencintai Papa," ucap Luna bergetar di depan pria yang seharusnya menjadi ayah mertuanya.
"Tidak masalah Luna, Papa yakin lambat laun kamu akan mencintai Papa."
Dikhianati Fauzan di hari pernikahan demi wanita lain membuat Luna hancur di hadapan semua tamu. Namun, saat dunianya runtuh, sang calon ayah mertua Mahendra justru mengulurkan tangan dan mengambil alih posisi mempelai pria. Mampukah pernikahan beda usia 25 vs 50 tahun ini menyembuhkan luka Luna, atau justru menjadi awal dari konflik baru yang lebih rumit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Keesokan paginya, cahaya matahari fajar yang lembut baru saja mengintip dari balik gorden kamar penthouse.
Luna sudah terbangun lebih awal. Ia menggeliat kecil, merasakan kehangatan selimut tebal yang melindunginya sepanjang malam.
Di sampingnya, Mahendra masih bernapas teratur, tertidur pulas dengan posisi telentang yang gagah.
Luna perlahan menyibak selimut, turun dari ranjang dengan gerakan seringan mungkin agar tidak mengusik tidur suaminya.
Setelah membasuh wajahnya di kamar mandi, ia memutuskan untuk menuju ke dapur utama di lantai bawah.
Sebagai seorang istri, ada rasa tanggung jawab yang mulai tumbuh di dadanya.
Ia ingin membuatkan secangkir kopi susu hangat untuk suaminya sebelum pria itu memulai hari yang sibuk.
Suasana dapur rumah utama masih sangat sepi ketika Luna mulai menyeduh kopi.
Aroma harum biji kopi panggang berpadu manis dengan susu kental hangat, merebak ke seluruh penjuru ruangan. Namun, ketenangan pagi itu mendadak terusik oleh suara ketukan hak sepatu yang disengaja.
Kedatangan Mila dengan pakaian tidur satinnya yang mencolok langsung mengubah atmosfer dapur menjadi keruh.
Mila melangkah maju, bersandar pada meja konter dapur sembari melipat kedua tangannya di dada.
Sepasang matanya yang penuh riasan sisa semalam menatap Luna dengan pandangan meremehkan.
"Pagi-pagi sudah sibuk jadi pembantu rupanya," cibir Mila, memecah keheningan dengan suara melengkingnya yang manja.
Luna tidak menoleh. Ia tetap fokus mengaduk kopi susu di dalam cangkir keramiknya dengan tenang.
Melihat Luna yang acuh tak acuh, Mila mendengus kesal.
Ia memajukan tubuhnya, lalu berbisik dengan nada penuh racun yang sinis.
"Kamu kira Papa Mahendra menikahimu karena cinta? Dia lelaki umur lima puluh tahun, Luna. Dia sudah impoten dan tidak bisa bangun. Bisa saja dia menikahimu karena butuh pelayan," ucap Mila sambil tertawa kecil.
Ia merasa puas karena mengira kalimatnya berhasil menghantam harga diri Luna ke titik terendah.
Luna menghentikan gerakan sendoknya. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu membalikkan badannya dengan sangat tenang.
Tidak ada gurat kemarahan atau air mata di wajah cantiknya, hanya ada tatapan datar yang justru membuat Mila mati kutu.
"Sudah bicaranya?" tanya Luna dingin.
Tanpa menunggu jawaban atau memedulikan wajah Mila yang mendadak melongo karena reaksinya yang teramat santai, Luna langsung mengangkat nampan berisi cangkir kopi susu hangat itu, lalu membawanya melangkah lebar kembali menuju ke kamar utama di lantai atas.
Luna masuk ke dalam kamar dan menutup pintu rapat-rapat.
Ia meletakkan nampan kopi di atas meja nakas dengan hati-hati.
Saat berbalik menghadapi ranjang, ia melihat suaminya yang masih tertidur pulas di balik selimut tebal yang melorot hingga sebatas pinggang, menampilkan dada bidangnya yang terekam kokoh.
Kata-kata Mila di dapur tadi mendadak berputar kembali seperti kaset rusak di dalam kepala Luna. 'Dia sudah impoten dan tidak bisa bangun...'
Didorong oleh rasa penasaran yang mendadak muncul secara tidak sengaja, pandangan mata Luna perlahan turun ke bawah selimut.
Ia melihat ke arah bagian bawah perut suaminya, mencoba menilai di balik gundukan selimut tebal yang membungkus aset pria matang itu.
"Apa benar sudah tidak bangun lagi?" ucap Luna tanpa sadar, bergumam sangat lirih dengan dahi yang berkerut polos.
"Apa yang tidak bangun lagi?" tanya Mahendra tiba-tiba.
Suara baritonnya yang berat, serak khas bangun tidur, seketika menggelegar memecah keheningan kamar.
Luna tersentak hebat, hampir saja melompat dari tempatnya berdiri.
Sepasang mata tajam Mahendra rupanya sudah terbuka sempurna, menatapnya lekat-lekat dengan sudut bibir yang terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat penuh arti.
Pria itu ternyata sudah terbangun tepat saat Luna menatap ke arah bawah selimutnya.
Luna yang salah tingkah setengah mati langsung membalikkan badannya.
Wajahnya seketika memerah padam, menjalar hingga ke seluruh leher dan telinganya yang mendadak terasa luar biasa panas.
Tanpa membuang waktu untuk menjawab, ia langsung berlari sekencang mungkin masuk ke dalam kamar mandi dan membanting pintunya rapat-rapat.
Di atas ranjang, Mahendra bangkit dan menyandarkan punggung tegapnya pada kepala ranjang.
Pria paruh baya itu tertawa kecil—sebuah tawa bariton yang renyah dan penuh kemenangan saat melihat istrinya yang salah tingkah akibat tertangkap basah sedang mengagumi miliknya di pagi hari.
Di balik pintu kamar mandi yang tertutup, Luna bersandar pada dinding marmer yang dingin dengan napas memburu.
Kedua telapak tangannya menangkup pipinya yang masih terasa membara.
Jantungnya berdegup begitu kencang hingga rasanya ingin melompat keluar.
Setelah beberapa saat mencoba menenangkan diri di bawah guyuran air, Luna akhirnya menyelesaikan mandinya.
Namun, begitu ia memutar knop dan membuka pintu, langkah kaki Luna seketika membeku. Setelah mandi, ia dikejutkan dengan suaminya yang sudah berdiri tegap tepat di depan pintu kamar mandi, seolah sengaja menunggunya keluar sejak tadi.
"Apa yang tidak bangun lagi?" tanya Mahendra penasaran.
Suara baritonnya yang berat dan serak khas bangun tidur terdengar begitu mengintimidasi sekaligus seksi di indra pendengaran Luna.
Bersamaan dengan kalimat itu, dengan gerakan yang sangat santai namun penuh pesona maskulin, Mahendra melepaskan kaos santai hitamnya, melemparkannya ke atas keranjang pakaian kotor.
Pemandangan itu seketika membuat pasokan oksigen di sekitar Luna menguap.
Di hadapannya kini, tubuh Mahendra yang sixpack dan tegap terpampang dengan jelas—membuktikan bahwa di usia 50 tahun, ia tetap memiliki fisik prima yang jauh lebih atletis daripada pria muda pada umumnya.
Luna menelan salivanya dengan susah payah. Matanya meliar, mencoba mencari alasan yang pas untuk membuka suaminya tidak curiga akan obrolan tak bermutu antara dirinya dan Mila di dapur tadi.
"M-mas..."
Luna terbata-bata, meremas pinggiran kimono handuknya demi menyembunyikan getar di jemarinya.
"Ada apa, Sayang?" tanya Mahendra dengan nada rendah yang menggoda.
Pria berusia setengah abad itu melangkah maju satu pijakan.
Dengan gerakan yang dominan, Mahendra mendorong perlahan tubuh istrinya kembali ke ambang kamar mandi, mengurung Luna di antara tubuh tegapnya dan dinding pintu.
Tatapan matanya yang tajam mengunci netra bening Luna, menyiratkan rasa penasaran sekaligus gairah yang tertahan.
Luna yang mulai panik mencoba memutar otaknya.
"M-mas... Mas lekas mandi. Aku akan menyiapkan pakaian kerja untukmu di luar," ucap Luna cepat, mencoba mengalihkan perhatian suaminya agar bisa meloloskan diri dari situasi yang menjebak ini.
Bukannya menjauh, Mahendra justru menggenggam tangan istrinya dengan erat.
Kulit telapak tangannya yang hangat dan kokoh menyalurkan desiran aneh yang seketika membuat jantung Luna berdetak dua kali lebih kencang.
Kepala Mahendra sedikit merunduk, mengikis jarak hingga ujung hidung mereka nyaris bersentuhan.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu kamar yang konstan mendadak memecah ketegangan yang mendebarkan di antara mereka.
"Tuan Besar, sarapan pagi sudah siap di bawah," seru suara pelayan dari balik pintu luar.
Luna seketika menghela napas panjang dan mengembuskannya lega. Ia merasa sangat bersyukur karena diselamatkan oleh kedatangan bibi pelayan di waktu yang sangat tepat. Ketegangan di dadanya perlahan sedikit mengendur.
Mahendra melirik ke arah pintu luar, lalu kembali menatap istri kecilnya yang tampak sangat lega itu.
Sudut bibirnya terangkat, membentuk seulas senyum tipis yang penuh kegemasan.
"Lekas mandi, Mas," bisik Luna lagi, kali ini dengan nada memohon yang amat dalam.
Mahendra yang gemas tidak tahan lagi melihat tingkah salah tingkah Luna.
Tanpa aba-aba, ia memajukan wajahnya dan mencium bibir istrinya dengan lembut namun penuh penekanan selama beberapa detik.
Sebuah kecupan pagi yang hangat, sukses membuat tubuh Luna mendadak kaku dan membeku di tempat.
Sebelum Luna sempat memprotes atau memukul dadanya, Mahendra sudah melepaskan tautan bibir mereka dengan kekehan rendah yang seksi.
Memanfaatkan celah itu, Luna segera keluar dari kungkungan suaminya, melesat keluar, lalu menutup pintu kamar mandi dengan cepat dari luar.
Sambil memegangi bibirnya yang masih terasa hangat, Luna berjalan menuju lemari besar untuk menyiapkan pakaian kerja terbaik bagi suaminya yang perkasa itu.
terimakasih thor dah double up 🙏❤️
bener" y si Kunti mil", beuh gertakkan doang ga kena, liat aja ntar klo Mahendra sehat ....abis kau.
kan sudah buang Azura anda faizan
biar duo Kunti, satu kuyang tdk meremehkan mu lagi