Di tengah kehidupan yang penuh hinaan dan kesulitan, Xiao Chen kecil hanya memiliki satu mimpi—menjadi pendekar pedang terhebat di dunia.
Tanpa bakat luar biasa maupun latar belakang kuat, ia menapaki jalan pedang dengan tekad yang tak pernah padam. Bagi Xiao Chen, pedang bukan sekadar senjata, melainkan guru yang mengajarkannya tentang rasa sakit, pengorbanan, dan arti kehidupan.
Namun di dunia tempat kekuatan menentukan segalanya, mampukah seorang anak dari keluarga buruk mengukir namanya hingga mengguncang langit dan bumi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Hei junior
Beberapa hari berlalu setelah insiden yang menggempar di arena nomor tiga. Siang itu, terik matahari membakar wilayah luar sekte dengan sangat pekat.
Xiao Chen berdiri di sebuah area terpencil di balik tebing asrama, memegang pedang kayu standardnya dengan napas terengah-engah. Keringat bercucuran, membasahi jubah abu-abunya yang kotor akibat debu latihan.
"Hei, Adik Xiao. Kenapa kau selalu menjauhiku setiap kali aku datang? Kemarilah. Aku mendengar turnamen murid luar akan segera dilanjutkan dalam beberapa hari lagi."
Xiao Chen menghentikan gerakan pedangnya, lalu mengusap pelipisnya yang basah dengan lengan baju. Ia menoleh dan mendapati Lu Xue'er sedang duduk di atas bongkahan batu besar di bawah bayangan pohon, menatapnya dengan senyum tipis.
"Senior Lu," Xiao Chen menghela napas, berusaha mengatur detak jantungnya. "Apakah Anda tidak memiliki kegiatan lain di Faksi Inti? Beberapa hari ini, Anda selalu meluangkan waktu datang ke sini dan mengajariku banyak hal."
Lu Xue'er berdiri, menepuk-nepuk jubah putih bersihnya dari debu yang menempel, lalu berjalan ke arah Xiao Chen dengan santai.
"Untuk sekarang, tidak ada. Latihan kultivasiku sedang berada di titik jenuh," ucapnya ringan. "Lagi pula, di Faksi Inti aku tidak terlalu memiliki banyak teman yang bisa diajak mengobrol dengan bebas. Jadi... kemarilah, Junior."
Sebelum Xiao Chen sempat merespons, Lu Xue'er tiba-tiba meraih pergelangan tangan kiri Xiao Chen. Jari-jarinya yang halus menempel tepat di atas jalur meridian Xiao Chen, menyalurkan sedikit Qi murni untuk memeriksa kondisi tubuhnya.
Xiao Chen menelan ludah dengan susah payah. Jarak yang sangat dekat ini membuatnya bisa mencium aroma harum kelopak bunga plum yang samar dari tubuh Lu Xue'er. Hatinya berdebar begitu kencang hingga ia takut wanita itu bisa mendengarnya.
"Aliran Qi-mu sudah semakin tebal," gumam Lu Xue'er, matanya yang jernih menatap pergelangan tangan Xiao Chen dengan serius sebelum mendongak. "Sebentar lagi kau akan menembus Ranah Pemula Tahap Puncak, Junior. Jangan terlalu kaku dan tegang begitu dong. Aku ini baru berumur lima belas tahun. Berapa umurmu yang sebenarnya, Junior Xiao?"
Dengan telinga yang memerah sampai ke leher, Xiao Chen memalingkan wajahnya sedikit, merasa malu. "Beberapa bulan lagi... usiaku dua belas tahun, Senior."
Lu Xue'er sedikit membelalak, lalu tertawa kecil, sebuah suara yang terdengar sangat merdu di telinga Xiao Chen. "Wah, ternyata kau masih sangat muda! Namun caramu bertarung dan menatap dunia terlihat seperti pria dewasa yang sudah melewati banyak badai."
Dalam beberapa hari berturut-turut setelah pertemuan itu, Lu Xue'er terus mendatangi Xiao Chen.
Wanita itu membimbingnya, membenarkan posisi kuda-kuda pedangnya yang keliru, dan memberikan pemahaman tentang cara mengalirkan Qi tanpa membebani tulang yang retak.
Di bawah kebaikan dan perhatian tulus yang belum pernah ia rasakan sejak meninggalkan ibunya di desa, benih-benih perasaan suka perlahan mulai tumbuh di lubuk hati Xiao Chen.
Beberapa hari kemudian, gema lonceng sekte kembali bertalu. Turnamen Seleksi Murid Luar resmi dilanjutkan, langsung memasuki babak penentuan dua puluh besar. Atmosfer di sekitar arena terasa jauh lebih kompetitif dan menindas.
Bao Hu menunjukkan perkembangan yang luar biasa; dengan mengandalkan ketahanan fisiknya yang di luar nalar, ia berhasil menembus jajaran dua puluh besar.
Namun, di babak berikutnya, ia dipertemukan dengan seorang murid luar senior yang memiliki gerakan kaki yang sangat cepat dan licik.
DUAK! BUG!