NovelToon NovelToon
PARTNER SIALAN!

PARTNER SIALAN!

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / CEO / Enemy to Lovers / Komedi
Popularitas:341
Nilai: 5
Nama Author: Dedik Januari Purnomo

"Dedikasi Aruna Pradipta adalah mahasiswa Teknik yang jago musik dengan otak serupa prosesor komputer. Baginya, cinta adalah variabel yang tidak logis. Namun, dunianya yang presisi hancur berantakan saat bertemu Reyna Salsabila, mahasiswa Akutansi yang kebanyakan tugasnya sebagai auditor keuangan bar-bar yang hobi makan seblak dan punya suara frekuensi tinggi.

Dari lab riset di Desa Pinus hingga drama sosialita di Singapura, mereka terjebak dalam audit perasaan yang penuh sabotase saus sambal dan teror terasi. Apakah logika Dedik sanggup menghitung besarnya cinta untuk partner sialannya? Atau justru Reyna yang akan meng-audit hati sang Robot Aquarius?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dedik Januari Purnomo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19: Refreshing Kognitif Di Kusrsi Nomor 13

Gua berdiri di depan cermin kostan selama hampir satu jam. Ini rekor.

Biasanya gua cuma butuh lima belas menit buat dandan, tapi entah kenapa pagi ini, Sagitarius di dalem diri gua lagi pengen tampil "sempurna secara visual" di depan si "Manusia Logika".

Gua milih pake dress bunga-bunga kecil warna biru muda dan sepatu kets putih. Rambut gua kuncir kuda tinggi, biar kelihatan fresh.

Tin tin! 

Suara klakson motor bebek Dedik yang khas kedengeran dari depan gerbang. Gua langsung nyambar tas selempang gua dan lari turun.

Di sana, Dedik udah nunggu. Kali ini dia nggak pake flanel. Dia pake kaos polo warna gelap yang pas banget di badannya, bikin bahunya kelihatan lebih tegap.

"Pagi, Ded!" sapa gua sambil senyum lebar.

Dedik ngelihatin gua dari bawah ke atas selama tiga detik. Terus dia benerin kacamatanya.

"Logikanya, baju lo terlalu tipis buat ruangan auditorium yang AC-nya punya kapasitas pendinginan 24.000 BTU. Lo bakal kedinginan dalam waktu dua puluh menit."

"Dih! Bukannya bilang 'Reyna kamu cantik hari ini', malah bahas BTU!" gua manyun, tapi tetep naik ke boncengan motornya.

"Gua cuma menyampaikan fakta termodinamika, Rey," sahutnya sambil tancap gas. "Pegangannya jangan di baju, ntar kusut. Di pinggang aja."

Gua senyum-senyum sendiri di belakang punggungnya. Modus lo, Ded!

***

Auditorium kampus udah mulai rame sama anak-anak UKM Film. Film yang diputer hari ini adalah Casablanca.

Film klasik item putih yang menurut gua romantis banget, tapi menurut Dedik pasti cuma soal "distorsi pencahayaan zaman dulu".

Kita dapet kursi di barisan tengah, nomor 12 dan 13. Pas banget pas lampu mulai diredupin.

"Kenapa kita nonton ginian, Ded? Lo suka film romance?" bisik gua pas film mulai main.

"Gua mau meneliti struktur naratifnya. Katanya film ini punya rasio dialog dan emosi yang paling seimbang," jawabnya sambil fokus ke layar.

Tapi sepuluh menit film jalan, gua ngerasa AC ruangan emang beneran gila dinginnya. Gua mulai meluk tangan gua sendiri, menggigil dikit.

Dedik nengok ke gua. Dia ngehela napas, tipe helaan napas yang bilang "kan gua udah bilang".

Tanpa ngomong apa-apa, dia ngelepas jaket tipis yang dia bawa di tasnya, terus dia selimutin ke paha dan bahu gua.

"Pakai. Jangan protes. Gua nggak mau riset kita keganggu gara-gara vokalisnya flu," bisiknya dingin, tapi tangannya sempet nepuk pundak gua pelan.

Gua ngerasain kehangatan dari jaket itu dan juga wangi sandalwood yang sama kayak kemarin. Gua nyenderin kepala gua ke sandaran kursi, mencoba fokus ke film.

Tapi di tengah film, pas adegan perpisahan yang sedih banget, gua ngerasa tangan Dedik pelan-pelan bergerak di atas armrest kursi.

Jari kelingking dia nyenggol kelingking gua.

Gua diem, jantung gua udah kayak mau meledak. Gua nggak narik tangan gua. Gua malah bales nyangkutin kelingking gua ke kelingking dia.

Dedik nggak nengok. Dia tetep natap layar dengan muka serius, tapi gua bisa liat dari pantulan cahaya layar kalau rahangnya mengeras, dia lagi nahan salting tingkat dewa.

Kita duduk kayak gitu, cuma kelingking yang bertautan, selama sisa film. Bagi gua, itu lebih berisik daripada konser EDM Arlan.

Pas film selesai dan lampu nyala, kita berdua langsung lepasin tangan secepat kilat. Suasananya jadi awkward kuadrat.

"Gimana... filmnya?" tanya gua pas kita jalan keluar auditorium.

"Secara teknis, plot hole-nya banyak. Tapi... resonansinya lumayan," jawab Dedik pendek. Dia jalan cepet banget ke arah parkiran.

Tapi pas kita baru nyampe di area parkiran yang agak sepi, tiba-tiba ada sebuah motor sport item, bukan punya Arlan, ini lebih gede berhenti di depan kita. Dua orang turun, pake jaket kulit item dan helm full face.

"Dedikasi Aruna?" tanya salah satu dari mereka. suaranya berat dan nggak ramah.

Dedik langsung narik gua ke belakang punggungnya. Postur tubuhnya berubah jadi mode waspada. "Ya. Ada urusan apa?"

"Bos kami mau bicara. Soal flashdisk yang lo kasih ke Dekan tadi pagi."

Gua lemes. Ini pasti orang-orang korporasi sponsor yang dibilang Rendy kemarin. Ternyata mereka nggak main-main.

"Logikanya, kalau bos lo mau bicara, dia bisa kirim surat resmi ke Universitas, bukan kirim orang di parkiran hari Minggu," sahut Dedik tenang, tapi gua bisa liat tangannya ngepal kenceng.

"Jangan banyak bacot. Serahin copy datanya sekarang, atau cewek di belakang lo bakal dapet masalah di jalan pulang."

Dedik maju satu langkah. "Gua nggak punya copy-nya. Semua udah di tangan pihak hukum kampus. Lo telat."

Salah satu orang itu maju mau narik baju Dedik, tapi tiba-tiba suara sirine satpam kampus kedengeran dari kejauhan. Kak Tiara ternyata udah denger kabar kalau ada orang asing di parkiran dan lapor satpam.

"Sialan! Cabut!"

Dua orang itu langsung naik ke motor dan melesat pergi sebelum satpam nyampe. Gua gemeteran hebat, hampir jatoh kalau Dedik nggak langsung meluk gua.

"Rey, lo nggak apa-apa? Ada yang luka?" tanya Dedik panik. Matanya yang biasanya datar sekarang penuh sama rasa cemas yang nyata.

"Gua... gua takut, Ded. Mereka tau gua..."

"Tenang. Gua di sini. Gua nggak bakal biarin mereka nyentuh lo," Dedik meluk gua erat banget, kali ini dia nggak peduli soal "logika jarak sosial". Dia ngusap rambut gua pelan.

"Gua bakal laporin ini ke Pak Dekan. Kita butuh perlindungan ekstra."

Gua nyembunyiin muka gua di dadanya. "Ded... kenapa jadi makin rumit gini? Kita cuma mau riset bambu, bukan mau perang sama mafia."

Dedik diem sebentar, terus dia nangkup muka gua pake kedua tangannya. Dia natap mata gua dalem banget.

"Karena suara lo itu berharga, Rey. Dan riset kita itu ancaman buat mereka yang mau jualan teknologi palsu. Gua bakal jagain lo. Lo percaya sama gua?"

Gua ngangguk pelan. "Gua percaya sama lo, Partner Sialan."

Dedik senyum tipis, terus dia ngecup dahi gua sekilas. Cuma sedetik, tapi rasanya kayak dunia berhenti berputar.

"Ayo balik. Gua bakal temenin lo di kostan sampe lo ngerasa aman. Gua bakal ngerjain kodingan gua di depan gerbang kostan lo kalau perlu."

Gua ketawa kecil di tengah tangis gua. Itulah Dedik. Cara dia melindungi emang aneh, tapi itu yang bikin gua jatuh cinta sama dia.

Sore itu, di bawah langit kampus yang mulai mendung, gua sadar kalau petualangan kita baru aja dimulai.

Bukan lagi soal nilai A atau sponsor, tapi soal bertahan hidup dan ngejaga frekuensi yang udah kita bangun bareng-bareng.

***

 Ancaman korporasi makin nyata! Dedik dan Reyna sekarang jadi target utama.

Apakah Pak Dekan bisa ngasih perlindungan, atau mereka harus kembali "sembunyi" ke Desa Pinus buat nyelesein riset ini secara rahasia? Dan gimana kelanjutan perasaan mereka setelah 'cupikan' dahi di parkiran tadi?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!