NovelToon NovelToon
Datang Tanpa Dicari

Datang Tanpa Dicari

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / GXG
Popularitas:574
Nilai: 5
Nama Author: Benrycia_

Area GxG ya~
******
Satu sekolah, beda kelas, tapi ributnya bisa tiap hari. Kara dan Narisa, dua anak SMA yang sepertinya lahir tanpa kemampuan berdamai.
Awalnya semua biasa saja. Sampai suatu hari... mereka menikah.
Iya. Menikah.
Kok bisa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Benrycia_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Pulang sekolah, Narisa duduk cemberut sendirian di dalam kamar.

Tadi Cakra mendadak batal membantu bersihin taman karena ada urusan. Untung Kara memang sudah menyiapkan "pasukan cadangan", jadi hukumannya tetap beres tanpa mereka turun tangan langsung.

Fahri akhirnya yang mengantar Narisa ke rumah orang tuanya.

Rencananya simpel. Narisa mau numpang dulu di sana sampai Kara selesai latihan basket, baru nanti dijemput pulang ke rumah baru mereka.

Masalahnya, begitu sampai, rumah Nuri malah kosong. Pagar memang tidak terkunci, tapi pintu. Sedangkan dia tidak bawa kunci cadangan. Dan setelah ditelepon, ibunya ternyata sedang pergi bersama Eka entah ke mana.

Aneh sekali. Narisa masih tidak mengerti sejak kapan dua ibu itu berubah jadi duo emak-emak sosialita komplek.

Terpaksa dia balik ke rumah baru naik ojek. Mustahil minta antar Fahri, kecuali dia mau bongkar rahasia.

"Kenapa pake ada urusan coba," gerutunya sambil menggigit telinga boneka. "Gw ini pacarnya bukan sih?"

Dia mendecak sendiri.

"Belakangan makin jarang aja ketemu."

Belum selesai ngambek ke Cakra, target emosinya langsung pindah.

"Si Santen juga pake acara latihan basket segala. Biar apa? Digilain cewek-cewek? Emang ganjen jadi orang. GW jadi sendirian di sini,"

Dia memejamkan mata kesal.

"Mama juga kenapa pergi sama Tante Eka? Kapan pula mereka jadi bestie?"

Buk. Buk.

Perut boneka itu dipukul dua kali.

Krucuk.

Narisa langsung melotot ke arah perut sendiri.

"Sekarang malah laper. Lengkap banget nasib gw hari ini."

Karena tidak ingin makin terlihat menyedihkan, dia akhirnya bangkit dan pergi ke dapur. Begitu membuka kulkas.. semangat hidupnya turun lagi. Biasanya pulang langsung makan, sekarang harus mengupas bawang. Artinya? Malas.

Narisa menutup kulkas perlahan. "Hidup mandiri pala anjing."

Akhirnya dia menyerah dan memutuskan beli warteg di ujung jalan.

Saat sedang jalan santai sambil main ponsel, dia tidak sengaja berpapasan dengan pemilik rumah sebelah.

"Hai, tetangga baru ya?"

Narisa mendongak.

Wanita itu tersenyum ramah. Cantik, rapi, dan wangi. Tipe orang yang kelihatannya punya lilin aromaterapi di setiap ruangan rumah.

Narisa langsung membalas senyum.

"Iya, kak. Baru pindah kemarin,"

"Oalah, pantes baru lihat." Wanita itu mengulurkan tangan, "Femi."

Narisa buru-buru menyambut. "Narisa."

"Panggilnya Risa aja ya?"

"Boleh, kak."

"Tinggal sama orang tua?"

Narisa sempat mikir dua detik.

" Sama.." dia berdeham kecil, "sepupu."

"Ohh." Femi mengangguk santai. "Berdua aja? Masih sekolah ya? Tadi pagi Tante lihat boncengan pake seragam,"

Narisa langsung bengong sepersekian detik.

Tante? Mukanya masih cocok jadi pemeran CEO muda rebutan dua direktur.

"Iya, Kak. Kelas dua belas." Narisa nyengir kecil. "Kak, aku sebenernya pengen ngobrol lama sih, tapi lagi laper banget. Mau ke warteg depan."

"Yaudah bareng aja. Tante juga belum makan."

Akhirnya mereka jalan berdua ke ujung jalan. Baru beberapa menit ngobrol, suasananya sudah cair seperti kenalan lama.

"Kakak tinggal sendiri?" Narisa mulai kepo. "Apa sama keluarga?"

Femi menelan makanannya dulu sebelum menjawab.

"Berdua sama saudara." Lalu dia tertawa kecil. "Kamu manggil kakak terus, Tante jadi berasa muda lagi."

Narisa langsung melotot kecil. "Eh emang umur kakak berapa?"

"Udah kepala empat."

Narisa hampir keselek kangkung. "Hah?!"

"Kalau Tante punya anak, mungkin udah seumuran kamu." Femi tersenyum santai. "Sayangnya belum nikah."

Narisa langsung takjub. Dia serius mengira wanita ini paling mentok umur dua puluhan akhir. Entah memang awet muda, atau perawatannya gila-gilaan.

Begitu selesai makan, Narisa baru mau mengambil uang saat Femi sudah lebih dulu membayar semuanya.

"Lah, Tan. Dibayarin?"

Femi mengangguk ringan. "Anggap aja perkenalan."

Mata Narisa langsung berbinar.

Cantik.

Ramah.

Dan tidak pelit.

Fix, ini tetangga terbaik yang pernah dia punya. Bahkan Narisa sudah mulai berpikir, kalau mamanya nanti datang bawa lauk, dia bakal berbagi ke rumah sebelah juga.

~

Sementara itu di sekolah, Kara yang baru selesai latihan basket sudah bersiap pulang. Kaosnya masih sedikit basah saat Andi mendekat sambil mengusap keringat pakai handuk kecil.

"Nongkrong dulu gak?" tanyanya. "Mumpung anak-anak lengkap."

Kara sempat diam sebentar. Lalu dia ingat satu makhluk cerewet yang sekarang kemungkinan sendirian di rumah. Tadi Narisa mengirim pesan kalau dia batal ke rumah orang tuanya.

"Lain kali deh," jawab Kara akhirnya. "Hari ini gw gak bisa "

"Oh, yaudah." Andin mengangguk santai. "hati-hati pulangnya."

Begitu Andin pergi, giliran Cantika datang menghampiri. Bedanya, cewek itu sudah rapi lagi seolah tadi bukan ikut latihan basket, melainkan habis photoshoot sambil pegang bola.

"Kak, udah mau pulang?"

"Iya." Kara memasukkan botol minum ke tas. "Kamu gak pulang?"

"Ini mau..." Cantika terlihat ragu sebentar. "Kak, anter bisa gak? Hari ini aku gak dijemput."

"Rumah mana?"

Begitu Cantika menyebut alamatnya, Kara langsung menahan napas pendek. Bukan masalah mengantar. Cuma rumah Cantika arahnya kebalik total dari rumahnya.

"Gak bisa ya, kak?" Cantika langsung memasang muka murung.

"Bisa kok. Ayok."

Wajah Cantika langsung cerah lagi. "Makasih ya, Kak "

"Belom nyampe udah makasih aja."

Mereka akhirnya jalan berdampingan menuju parkiran. Baru beberapa langkah, suara teriakan muncul dari belakang.

"Woy, bro! Main cabut aja. Biasanya bareng."

Kara refleks menoleh. Harum datang sambil setengah lari.

"Gw mau anter Cantika dulu "

"Ohhh." Harum langsung menyeringai tengil sambil merangkul pundak Kara. "Inget bro. Meski yang sah lebih cantik, godaan lebih menarik."

Kara langsung menepis tangan itu. "Apaan sih lo? Makin hari mulut lo makin miring aja."

Harum ngakak puas.

"Titip salam buat bini negara!"

"Najis."

Harum langsung kabur ke arah motornya sebelum ditendang beneran.

Di perjalanan, Kara dan Cantika lebih banyak diam. Cuaca panas, jalanan rame, dan angin motor membuat ngobrol terasa malas.

Sekitar dua puluh menit kemudian mereka sampai di rumah Cantika. Begitu turun dari motor, Cantika buru-buru menahan Kara.

"Kak, duduk dulu bentar ya. Aku bikinin minuman dingin."

Kara sebenarnya ingin langsung pulang, tapi tenggorokannya memang terasa kering. Akhirnya dia mengangguk kecil lalu duduk di teras rumah.

Dari dalam sempat terdengar suara perempuan.

"Pulang sama siapa, Ca?"

"Sama senior, Ma."

Tidak lama kemudian, seorang wanita keluar menghampiri Kara sambil tersenyum ramah.

"Eh, pacar Caca ya?" katanya sambil tertawa kecil. "Ganteng banget. Kok duduk di luar?"

Karena Kara tipe yang malas bikin salah paham kepanjangan, dia langsung meluruskan.

" Saya cewek, Tante. Jadi bukan pacar."

Wanita itu langsung melongo sebentar.

"Eh? Astaga iya ya," Dia memperhatikan Kara lagi lebih teliti. "Maaf, Tante siwer."

Kara cuma tersenyum tipis sambil mengangguk. Dalam hati dia menggerutu: Perasaan gw masih punya tete dah.

"Gak duduk di dalam aja?" tanya wanita itu lagi. "Panas di luar."

"Di sini aja, Tan. Enak kena angin."

"Oalah yaudah," Wanita itu mengangguk santai. "Tante tinggal ke dalam dulu ya."

"Iya, Tan."

Sambil menunggu, Kara membuka ponselnya. Benar saja. Ada pesan dari Narisa.

"Udah sore peak. Lo ngamen dulu apa gimana? Gw gak mau sendirian sampe gelap ya. Gw takut."

Kara membalas cepat.

"Perkiraan jam enam nyampe rumah."

Balasannya datang secepat kilat.

"Itu udah gelap! Gak mau tau gu. Lo telat gw aduin ke Om Bram, biar dibikin cere kita. "

Kara terkekeh pelan tanpa sadar. Baru dia mau membalas lagi, Cantika sudah keluar membawa nampan.

"Silakan, Kak."

Di atas meja ada jus jeruk dingin dan puding.

"Repot amat," kata Kara, tapi tangannya langsung menyambar gelas jus. "Jadi enak gini."

Cantika tertawa kecil. "kebetulan lagi ada. Kalau enggak paling cuma es teh."

"Itu juga udah bagus. Yang penting dingin,"

Cantika tiba-tiba mengulurkan telapak tangan. "Aku juga dingin nih coba."

Kara menatap tangan itu beberapa detik sebelum akhirnya menyentuh sekilas.

"Gak ada dingin-dinginnya."

Dia langsung menarik tangannya lagi. Cantika malah senyum-senyum sendiri. Tipis-tipis, lumayan bisa pegang tangan senior idaman.

"Kak..." Cantika menurunkan suara, "Di kamar aku aja.. mau?"

Kara langsung menoleh.

"Mau ngapain?"

Cantika menggigit bibir bawahnya pelan.

"Ngulang yang waktu itu."

Kara langsung melongo.

"Hah?"

~

Kara benar-benar baru sampai rumah jam enam lewat lima belas menit.

Bukan karena dia mampir aneh-aneh ke kamar Cantika. Tapi rumah cewek itu memang beda arah jauh dari rumahnya sekarang. Belum lagi tadi ibu Cantika tiba-tiba ikut nimbrung ngobrol soal basket sampai panjang.

Dan Cantika? Bukannya memutus obrolan, malah sibuk promosiin Kara seperti sales calon menantu. Baru di situlah Kara sadar Cantika hafal seluruh prestasinya di bidang basket.

Begitu motor masuk garasi, Kara langsung sadar semua lampu rumah sudah menyala.

Oke. Berarti Bonar belum mati ketakutan. Syukur dah.

Dia memarkir motor lalu mengunci pagar. Baru juga membuka pintu depan... Narisa sudah berdiri di sana sambil melipat tangan. Auranya seperti ibu kos yang baru tahu penyewa nunggak tiga bulan.

"Gw bilang jangan telat! Ini udah gelap! Lo sengaja ya bikin gw takut biar gw gak betah tinggal di sini? Keberatan banget lo serumah sama gw? Gw juga sama kali!" omelnya langsung nyerocos tanpa napas. "Gak usah sok kebagusan lo jadi orang, musti banget gw tungguin-"

"Dih. Berisik amat."

Kara langsung jalan nabrak Narisa pelan supaya minggir dari pintu.

Narisa terdorong satu langkah ke belakang. Dan posisi mereka jadi seperti orang lagi pelukan setengah jadi. Narisa langsung mundur.

"WOI!"

Kara melirik malas.

"Lo ngambil kesempatan buat meluk gw?"

"Apa sih." Kara cuek masuk ke kamar.

Narisa yang masih belum puas langsung nyusul.

Brak!

Pintu kamar terbuka keras sampai Kara menoleh kaget.

"Bagus ya. Minta maaf kagak, malah kabur."

Kara melempar tas ke kasur. "Gw tadi nganterin Cantika pulang. Makanya telat."

Narisa langsung menyala lagi.

"Ohhh... selingkuh?"

Kara bengong.

"Lo telat gara-gara selingkuh?" ulang Narisa, makin kesal.

Alis Kara langsung berkerut. Ingin membalas, tapi energinya sudah habis buat debat. Saking capeknya, sampai mandi pun rasanya berat.

"Denger ya," lanjut Narisa sambil nunjuk-nunjuk. "Mulai besok gw gak mau lagi lo tinggalin sendirian sampe gelap."

"Ini belum malem,"

"INI UDAH GELAP!"

"Lo kenapa sih?"

Kara akhirnya mendekat. Narisa refleks mundur.

"Bahas cere. Bahas selingkuh."

Kara maju lagi. Narisa mundur lagi.

"Segala marah gw pulang telat."

Satu langkah lagi dan punggung Narisa langsung mentok tembok. Kara berdiri dekat banget sekarang.

"Ini baru sehari," katanya pelan tapi kesal. "Lo mulai posesif gitu?"

"Gw gak serius tadi, peak..." suara Narisa mulai turun. "Gw cuma takut, makanya ngomel apa aja biar puas. Lo ngerti dong."

"Gw juga gak bakal tiap hari pulang jam segini. Sabar jadi orang."

Narisa masih manyun, "Yaudah, terus kenapa lo ikutan nyolot? Tinggal minta maaf aja susah banget."

"Maap." Jawabannya datar.

Narisa langsung mendelik. "Lo minta maaf kagak ikhlas-"

"Gw capek banget, Bonar."

"Gw juga capek ketakutan dari tadi. Lo pikir enak? Kali ini lo selamat. Tapi kalau sekali lagi lo pulang malem..."

Narisa masih ngoceh waktu Kara tiba-tiba bergerak cepat dan-

Cup.

Otak Narisa langsung blank. Mata cewek itu membulat sempurna. Kara baru saja membungkam mulutnya pakai... bibir.

Cuma sebentar, tapi cukup buat Narisa seperti kena setrum PLN satu kecamatan. Begitu Kara menjauh, Narisa langsung menunjuk dengan jari gemetar.

"Lo.. lo.. "

Kara malah santai. "Apa? Mau protes? Lo bini gw. Halal ini."

"HALAL DARI MANANYA, GOBLOK?! Kita sama-sama cewek- "

Cup.

Dicium lagi. Narisa langsung freeze.

"Makanya jangan bawel." Kara mengambil handuk dari lemari. "Gw gak selalu bisa nampung cerewet lo itu. Gw beneran lagi capek."

Narisa cuma bisa berdiri mematung sambil memegang mulut sendiri. Sedangkan Kara sudah jalan keluar kamar menuju kamar mandi seperti habis tidak melakukan dosa apa-apa.

Tapi sebelum benar-benar keluar, dia menoleh lagi. "Gw minta maap. Udah kan?"

Kali ini kalimat maaf itu keluar lebih tulus. Narisa masih terdiam, tidak bisa men jawab. Baru saat pintu kamar mandi hampir tertutup, Narisa akhirnya tersadar. Dan rumah kecil itu langsung diguncang teriakan.

"SANTEN BANGSAAAAAT!!"

Di dalam kamar mandi, Kara mendengus sambil membuka kaos.

"Udah gw duga. Baru digituin udah ngamuk."

1
Suka GL
Seru deh
Zye Rava
Aduh knp bos bramantyo kepo nikah segender ya mana anak orang lgi yang dinikahkan. agak lain ini orang 🤣
Inayah🥰
Ceritax ga kalah seru sm yg satux thor 😍 yg ini dua2x bar2
Felafel
Ceritamu seru semua thor next ya💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!