Langit sore terlihat terlalu tenang untuk hari yang seharusnya dilupakan.
Jarinya membeku sesaat.
“Kalau mereka mulai menghubungimu langsung, berarti kita sudah terlambat.”
Dan mungkin memang sudah terlambat.
Di tempat lain, Han duduk di dalam mobil gelap, membongkar pistol dengan gerakan yang terlalu tenang untuk seseorang yang sedang diburu. Ponselnya bergetar.
48 jam!
Tidak ada nama. Tidak perlu.
Ia menatap kota di balik kaca depan. Lampu-lampu kota menyala seperti jebakan yang sengaja dibuat indah.
“Aku mau kamu ingat.”
Suara itu masih tertinggal di kepalanya.
Mereka tahu kebiasaannya. Pesanan kopinya. Jalur pulangnya. Bahkan ketakutan yang tidak pernah ia ucapkan.
“Kalau aku mundur sekarang, apa yang akan terjadi?”
“Mereka akan tetap datang.”
Karena sejak pesan pertama dikirim, semuanya sudah bergerak ke arah yang sama.
Dan beberapa pertemuan, tidak pernah dimaksudkan untuk menyelamatkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon roster espe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 19
Suara mesin mobil di ujung jalan, kembali membuat seluruh ruangan menjadi tegang. Damar langsung bergerak ke jendela lalu membuka tirainya sedikit.
Sebuah SUV hitam berhenti di mulut jalan yang sempit di distrik lama. Tidak masuk lebih jauh. Ada siluet dua pria yang masih duduk di dalam sedang mengamati keadaan.
“Bangsat,” gumam Damar pelan.
Arga reflek ikut berdiri dari sofa.
“Kalau mereka sampe keluar mobil, gue resmi panik.”
Han masih tetap tenang. Ia menatap tajam ke arah jalan di bawah selama beberapa detik sebelum akhirnya kembali duduk di samping meja.
“Mereka belum tahu pasti posisi kita.”
“Kedengarannya kok ngga terlalu meyakinkan,” kata Nara pelan.
“Kalau mereka sudah tahu pasti…” Han mengambil pistolnya lalu memasukkan magazen dengan bunyi klik yang pelan. “…mereka pasti ngga akan duduk diam di dalam mobil.”
Nara memperhatikan gerakan Han yang masih tenang dan terukur. Tapi sekarang ia mulai bisa melihat sesuatu yang sebelumnya tidak terlalu jelas: Han sebenarnya juga lelah tapi ia sudah sangat terbiasa menyembunyikannya kelelahan-nya.
Damar menoleh dari jendela.
“Mereka mungkin sedang nunggu tim lain.”
“Atau menunggu kita panik,” jawab Han.
Arga memotong omongan dengan cepat, “….kalau bagian paniknya sih, gue udah panik dari tadi.”
Damar hampir tertawa. Hampir, tapi suasana terlalu tegang sekarang. Han berjalan mendekati Arga.
“Kamu masih aman kok.”
Arga mengernyit.
“Hah, maksud lu?”
“Helios cuma tahu aku dan Nara.”
Nara langsung memahami maksudnya.
“Mereka belum tahu wajah Arga.”
Han mengangguk mengiyakan ucapan Nara.
“Selama ini dia selalu kerja di balik layar.”
Arga terlihat sedikit bangga sekarang.
“keren-kan? kemampuan antisosialku akhirnya berguna juga.”
“Jangan terlalu senang,” kata Han datar. “Kalau mereka sudah mulai curiga, itu bisa berubah dengan cepat.”
Tetap saja, informasi itu sedikit melegakan. Setidaknya salah satu dari mereka masih punya ruang bergerak yang lebih bebas.
Damar bersandar kecil di dekat jendela.
“Dia hacker?”
Nara langsung melirik Arga.
“Kamu belum cerita?”
“Aku suka misteri.”
Han menjawab datar, “Dia cuma paranoid.”
“Itu juga.”
Damar mengamati Arga beberapa detik.
“Pantas muka lu kelihatan jarang kena matahari.”
“Profesi profesional itu menuntut pengorbanan.”
Untuk pertama kalinya sejak SUV itu muncul, suasana sedikit mencair. Hanya sedikit tapi cukup buat meredakan ketegangan. Han duduk kembali lalu menatap Arga.
“Kamu masih punya akses?”
Arga langsung tahu maksudnya.
“Sebagian,” jawab Arga sambil mengangguk
“Bisa cek pergerakan mereka?”
Arga mengangguk kecil lalu mengambil laptop dari dalam tasnya yang sejak tadi tergeletak dekat sofa. Nara baru sadar benda itu hampir tidak pernah lepas dari Arga.
“Please, jangan bilang sekarang kamu bakal melakukan hal keren,” katanya.
“Gue selalu melakukan hal keren.”
“Terakhir kali hal kerenmu, kemarin hampir bikin listrik apartemen mati.”
“Itu masalah teknis.”
Laptop menyala pelan. Cahaya layarnya membuat wajah Arga terlihat sangat fokus sekarang. Berbeda jauh dari sikapnya yang santai tadi. Jarinya bergerak cepat di atas keyboard. Han memperhatikan layarnya selama beberapa detik.
“Kamu masih pakai jalur lama?”
“Yang baru terlalu ramai.”
Damar menggeleng pelan.
“Gue ngga ngerti setengah percakapan kalian.”
“Itu masih sehat,” jawab Han.
Ruangan kembali tenang sementara yang terdengar hanya suara ketikan memenuhi ruangan. Nara memperhatikan mereka satu per satu. Han dengan kewaspadaannya. Arga dengan laptopnya. Damar yang sesekali mengecek jalan bawah.
Aneh.
Kelompok ini terasa mustahil. Tapi entah bagaimana, sekarang ini mereka bekerja bersama seolah sudah saling kenal lama.
“Ketemu,” kata Arga tiba-tiba.
Semua langsung menoleh menatap Arya yang memutar laptopnya sedikit
“Apa yang ketemu?”
“Mobil tadi terdaftar atas nama perusahaan jasa keamanan palsu.” Ia mengetik lagi cepat. “Dan… yup. Masih terhubung sama salah satu cabang Helios.”
Han menghela napas pelan.
“Sudah aku duga.”
“Tunggu.” Arga memperbesar data lain di layar. “Mereka bukan tim cleaning service.”
Han langsung fokus.
“Maksudmu?”
“Mereka tim pencari.”
Nara mengernyit, “...apa bedanya?”
Arga menatap layar beberapa detik lagi sebelum menjawab, “...kalau tim pencari yang turun…” wajahnya perlahan berubah serius, “…artinya mereka masih ingin targetnya hidup.”
Nara merasakan hawa dingin kembali menjalar pelan di tengkuknya. Han juga diam beberapa detik.
“Itu lebih buruk,” katanya akhirnya.
“Kenapa?” tanya Nara cepat.
Han menatapnya, “…karena mereka butuh sesuatu darimu.”
Kalimat itu membuat suasana kembali berubah. Nara memalingkan wajahnya. Bayangan data itu lagi. Data yang bahkan belum sepenuhnya ia pahami.
Damar mengusap dagunya dengan pelan.
“Kalau gitu mereka ngga bakal langsung menyerang.”
“Belum,” jawab Han.
Arga menutup laptop sebentar lalu bersandar ke sofa.
“Oke. Gue punya ide buruk.”
“Itu kalimat yang paling mengkhawatirkan,” gumam Nara.
“Kita bisa manfaatin, secara fakta mereka ngga tahu wajah gue.”
Han langsung mengerti arah pikirannya.
“Tidak.”
“Han…”
“Terlalu berisiko.”
“Gue cuma observasi luar.”
“Tidak.”
Arga mendecakkan lidah frustrasi.
“Kalau kita cuma ngumpet terus, mereka bakal makin sempitin area gerak kita.”
Han diam, karena Arga benar dan itu masalahnya. Nara memperhatikan mereka berdua.
“Aku ngga suka bagian di mana semua ide mulai terdengar berbahaya.”
“Selamat datang di hidup Han,” jawab Arga.
Damar tiba-tiba mengangkat tangan kecil.
“Diam dulu.”
Ruangan langsung sunyi. Semuanya mendengar dengan seksama. Ada suara langkah kaki yang terdengar seperti beberapa orang yang berjalan melewati jalan di bawah gedung.
Pelan dan tidak terburu-buru. Namun cukup teratur untuk membuat Han langsung berdiri lagi. Damar mengintip dari balik tirai kecil. Tatapannya langsung berubah dingin, dan memberi kode diam.
“…orang pusat.”
Napas Nara tertahan.
Tiga orang pria berpakaian rapi berjalan menyusuri jalan sempit sambil melihat sekitar dengan santai. Terlalu santai malah seolah mereka tahu tidak ada yang akan berani menghentikan mereka. Salah satu pria berhenti tepat di depan gedung mereka, lalu perlahan lahan mengangkat pandangannya ke lantai atas.