NovelToon NovelToon
Sembilan Phoenix Agung : Jalan Kultivasi Terlarang

Sembilan Phoenix Agung : Jalan Kultivasi Terlarang

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas Dendam / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nugraha

Lin Chen, seorang pemuda yang dianggap sampah karena memiliki Meridian Spiritual rusak, secara tidak sengaja menyentuh Phoenix bayi yang sedang bereinkarnasi. Pertemuan itu justru memberinya warisan terlarang tertinggi — "Sembilan Ikatan Phoenix Abadi".

Teknik kultivasi ini mengharuskan ia menikahi dan melakukan kultivasi ganda dengan Sembilan Phoenix Agung. Semakin banyak Phoenix yang ia taklukkan, semakin kuat ia. Namun, teknik ini dianggap melanggar tatanan langit, sehingga seluruh dunia kultivasi ingin membunuhnya.

"Dunia bilang aku terlarang? Baiklah… aku akan menikahi semua Phoenix dan membakar langit ini hingga hangus!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 : Malam di Dalam Gua Batu

Gua yang ditemukan Huo Ling'er berada di sisi sebuah tebing curam dan hanya bisa dicapai dengan sedikit pendakian.

Lokasinya cukup strategis.

Siapa pun yang mencoba mendekat dari bawah akan mudah diketahui sebelum mencapai pintu masuk.

Mulut gua itu sempit, hanya cukup dilalui satu orang dalam satu waktu. Namun bagian dalamnya jauh lebih luas daripada yang terlihat dari luar.

Cukup untuk dua orang beristirahat dengan nyaman.

Dinding batu di dalamnya kering dan dingin.

Di salah satu sudut, terdapat beberapa jejak yang menunjukkan bahwa Huo Ling'er pernah bermalam di sana sebelumnya.

Tumpukan daun kering dijadikan alas sederhana.

Sebuah kantong air yang hampir kosong terletak di dekat dinding.

Sementara dua batu kecil yang disusun rapi tampaknya digunakan sebagai penanda arah.

Tanpa perlu mengucapkan sepatah kata pun, Lin Chen dan Huo Ling'er memilih duduk di sisi yang berlawanan.

Bukan karena mereka saling menghindar.

Hanya saja, keduanya sama-sama terbiasa menjaga ruang pribadi.

Jarak yang mereka pilih terasa cukup nyaman tanpa menimbulkan kesan saling menjauh.

Malam datang dengan cepat di Pegunungan Cang Lei.

Cahaya yang masuk dari mulut gua perlahan berubah dari jingga keunguan menjadi gelap pekat.

Tak lama kemudian, hanya kegelapan yang tersisa di luar sana.

Lin Chen menyalakan api kecil di tengah gua.

Bukan untuk pamer kemampuan.

Hanya sebagai sumber cahaya dan sedikit kehangatan.

Huo Ling'er melirik nyala api itu sebentar, lalu kembali diam.

Mereka makan dalam keheningan.

Lin Chen mengeluarkan beberapa potong roti kering dari persediaannya.

Sementara Huo Ling'er mengeluarkan buah-buahan kering yang dibawanya.

Tidak ada percakapan.

Tidak ada basa-basi.

Namun keheningan itu tidak terasa canggung.

Justru terasa alami.

Seperti dua orang yang telah melalui terlalu banyak hal dalam satu hari dan sama-sama membutuhkan waktu untuk menenangkan pikirannya.

Api kecil di antara mereka ber-keretak pelan.

Cahayanya menari di dinding batu.

Beberapa saat kemudian, Lin Chen akhirnya membuka pembicaraan.

"Mengapa mereka memburumu?"

Huo Ling'er tidak langsung menjawab. Ia meluruskan kedua kakinya sebelum berkata,

"Darah Phoenix." Nada suaranya datar. Namun ada hawa dingin yang tersembunyi di balik kata-kata itu.

"Seseorang bersedia membayar mahal untuk mendapatkannya." Tatapan matanya menjadi lebih tajam. "Dan mereka tidak peduli bagaimana cara memperolehnya."

Lin Chen mengangguk pelan. "Mereka sudah mengejarmu cukup lama?"

"Tiga hari." Huo Ling'er menatap nyala api di depan mereka. "Aku tidak tahu bagaimana mereka menemukan jejakku."

Lin Chen tidak membutuhkan waktu lama untuk menjawab. "Aura energimu."

Huo Ling'er mengangkat alis.

"Kualitas api yang kau gunakan berbeda dari elemen api biasa." Lin Chen menambahkan, "Seseorang yang cukup berpengalaman dan tahu apa yang harus dicari akan menyadarinya."

Huo Ling'er terdiam.

Rahangnya sedikit menegang, Jelas ia sudah pernah memikirkan kemungkinan itu.

Namun mendengar orang lain mengatakannya secara langsung tetap membuatnya tidak nyaman.

Terutama karena orang itu adalah Lin Chen.

Seseorang yang baru dikenalnya.

"Kau tahu cukup banyak untuk seseorang yang baru mendapatkan warisan beberapa hari lalu." Nada suaranya terdengar curiga.

Lin Chen tidak tersinggung.

"Warisan itu bukan hanya teknik kultivasi." Ia memandang api kecil di depan mereka. "Ada pengetahuan yang ikut diwariskan."

"Tentang Phoenix."

"Tentang masa lalu."

"Dan tentang banyak hal yang sudah lama hilang dari dunia."

Huo Ling'er menyandarkan punggungnya ke dinding gua.

"Kalau tidak tercatat di mana pun, bagaimana kau bisa yakin itu benar?"

Lin Chen tersenyum tipis. "Karena tidak semua sejarah hilang karena waktu, karena sebagian sengaja dihapus."

Kalimat itu membuat Huo Ling'er terdiam cukup lama.

Api terus menyala di antara mereka.

Sesekali bara kecil meloncat dari kayu yang terbakar.

Akhirnya Huo Ling'er memejamkan matanya.

Bukan untuk tidur, melainkan seperti seseorang yang sedang menata pikirannya.

Beberapa saat kemudian, ia berbicara lagi.

Suaranya lebih pelan dari sebelumnya.

"Sejak kecil...Aku sering melihat hal-hal yang tidak bisa kupahami."

Ia menarik napas perlahan.

"Tempat-tempat yang tidak pernah kukunjungi."

"Wajah-wajah yang tidak pernah kutemui."

"Gambaran-gambaran yang terasa begitu nyata."

Kedua tangannya perlahan mengepal.

"Dan selalu ada api."

Matanya masih tertutup. "Api dengan warna yang tidak pernah bisa kuhasilkan."

Keheningan kembali menyelimuti gua. Hanya suara kayu yang terbakar yang terdengar.

"Aku selalu menganggapnya mimpi." Huo Ling'er tersenyum pahit. "Atau mungkin khayalan."

Lin Chen menatap nyala api di depannya. "Itu bukan mimpi."

Huo Ling'er membuka matanya.

Tatapannya mengarah ke langit-langit gua, untuk beberapa saat, ia tidak mengatakan apa pun.

Lalu sebuah helaan napas panjang keluar dari bibirnya.

"Aku tahu, aku sudah lama tahu bahwa itu bukan mimpi biasa."

Matanya tampak lebih tenang dibanding sebelumnya. Seolah ada beban yang akhirnya mulai ia akui keberadaannya.

"Aku hanya belum siap menerima kenyataan di baliknya."

Lin Chen tidak menjawab. Karena terkadang seseorang tidak membutuhkan jawaban.

Mereka hanya membutuhkan waktu untuk menerima kebenaran.

Api kecil di antara mereka kembali berkelip. Nyala merah keemasannya bergoyang pelan.

Sesaat, Lin Chen merasakan sesuatu.

Bukan angin.

Bukan aliran energi biasa.

Melainkan resonansi yang sangat samar.

Getaran yang muncul dari dalam dirinya dan dari dalam Huo Ling'er secara bersamaan.

Seolah dua bagian dari sesuatu yang telah lama terpisah akhirnya mulai saling mengenali.

Tidak ada yang mengatakan apa pun.

Namun keduanya merasakan hal yang sama.

Dan jauh di dalam diri mereka, sesuatu yang telah tertidur selama ribuan tahun perlahan mulai terbangun.

1
Green Boy
ayo lanjut lagi thor🙏🙏
Daryus Effendi
bosan bacanya terlalu lambat alzrnya.bertele tele
Hadi Hadi
up up 👍
Hadi Hadi
up up 😍😍
Anonymous
lanjut thor seru ceritanya🙏
Si Suka Baca
Vote meluncur
Ihwan12
mantap lanjut lagi thor💪💪👍👍
Xiao Lin—Gold Author
satu mawar 🌹
Xiao Lin—Gold Author
niceeeee👍👍👍
Xiao Lin—Gold Author
Mantap👍👍👍
Xiao Lin—Gold Author
Suyin mungkin udah ketagihan sama pedang ajaib Wei Hao🤔/Sly//Doge/
Celestial Quill: /Facepalm/
total 1 replies
Xiao Lin—Gold Author
Mantap👍
Shu Qing
Luar biasa
Fatih Al
awal yang bagus👍👍
Green Boy
Bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!