NovelToon NovelToon
Cinta Dibalik Kontrak

Cinta Dibalik Kontrak

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: DinaSafitri

Alya Gabrielsen terpaksa menikah dengan pria asing demi menyelamatkan status keluarganya. ayahnya, Tyo, bangkrut dan terlilit hutang yang membuatnya hampir masuk penjara. Dengan paksaan sang ibu, Alya mau tak mau rela menikah di usia muda dengan pria yang sama sekali tak ia kenali. Bagaimana kisah Alya? saksikan hanya disini!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DinaSafitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CDK. 19

“Tenang, Nak. Papa percaya padamu.”

Tyo menatap Sari lekat-lekat, memperhatikan setiap gurat wajah gadis di hadapannya dengan sorot mata penuh penilaian.

“Kau… anaknya Farid?” tanyanya pelan, namun cukup tajam untuk membuat suasana terasa menekan.

Sari memutar bola matanya malas.

“Iya, kenapa? Mau mengadu ke orang tuaku? Silakan saja. Toh mereka ada di sini.” ucapnya tanpa sedikit pun menunjukkan sopan santun.

Kedua tangan Tyo mengepal kuat. Ia berusaha menahan amarah yang mulai memuncak. Rupanya sifat angkuh Farid benar-benar menurun kepada anaknya. Berbicara kepada orang yang lebih tua saja tidak memiliki etika sama sekali.

Melihat putrinya mulai terpojok, Tari segera maju membela. Dengan senyum tipis yang dipenuhi kesombongan, wanita itu menyapa,

“Selamat, Tuan Tyo… ah maaf, maksud saya Tyo.” Ia terkekeh kecil penuh kepura-puraan. “Saya lupa kalau Anda bukan lagi bos suami saya, karena sekarang Anda sudah jatuh miskin.”

Ucapan itu membuat suasana mendadak semakin panas.

“Mereka masih anak-anak,” lanjut Tari santai. “Jadi biarkan ini menjadi urusan mereka. Kita sebagai orang tua tidak seharusnya ikut campur.”

Ia melirik sinis ke arah Alya dan keluarganya.

“Lagipula, anak-anak Anda cukup liar juga sampai hal seperti ini harus disaksikan banyak orang. Memang benar, bangkai tidak bisa disembunyikan terlalu lama.”

Tari bahkan mengibaskan tangannya di depan hidung, seolah benar-benar mencium aroma busuk di sana.

“Kau—”

“Sungguh rasa percaya diri yang luar biasa, Nyonya Tari.”

Ayi memotong cepat sebelum Tyo sempat membuka suara lagi. Tatapannya tajam penuh sindiran.

“Apakah Anda benar-benar mencium bau busuk itu dari sahabat saya? Atau justru… bau itu berasal dari diri kalian sendiri?”

Sindiran itu membuat Tari mengernyit kesal.

“Apa maksudmu? Aku tidak mengerti,” elaknya.

Ayi tersenyum miring.

“Kepercayaan diri kalian memang hebat. Tapi sayangnya, akting kalian jauh lebih buruk daripada kelicikan otak kalian. Kalian sedang menggali lubang untuk mengubur diri sendiri.”

Ucapan itu membuat semua orang bingung.

Widya menyenggol lengan Ayi, meminta penjelasan lewat tatapan mata. Bahkan Tyo pun terlihat tak memahami situasi yang sedang terjadi.

“Apa maksudmu, Nak? Kamu sedang membicarakan apa?” tanya Tyo heran.

“Tenang, Om.” Ayi tersenyum penuh keyakinan. “Kebenaran bakal terungkap sekarang juga. Gue bakal buktiin kalau foto di belakang itu palsu.”

Ucapan itu justru membuat Sari tertawa terbahak-bahak.

“Wah, apa ini?” ejeknya santai. “Persahabatan setia banget. Lo mau jadi pahlawan kesiangan? Sampai segitunya nawarin diri.”

‘Ck! Ayi, Ayi… mau dibuktiin kayak gimana juga lo nggak bakal bisa. Gue udah bayar mahal supaya foto itu kelihatan asli tanpa celah sedikit pun. Jadi yang ada malah lo sendiri yang bakal malu,’ batin Sari sambil menertawakan kebodohan Ayi.

Namun Ayi sama sekali tidak terpancing. Dengan santai ia mengetik sesuatu di ponselnya.

Dan dalam sekejap… keadaan berbalik total.

Sepasang ibu dan anak itu langsung melotot syok. Bahkan Farid yang sejak tadi memilih diam ikut tersentak kaget.

Sejak awal, sebenarnya Farid sama sekali tidak berniat ikut campur. Ia datang hanya demi menjaga nama baik keluarga. Namun kini wajah di foto itu tiba-tiba berubah menjadi wajah anaknya sendiri.

“Ayi…” panggil Alya pelan.

Ayi hanya bergumam kecil tanpa menoleh, seolah berkata, Tenang, gue masih di sini.

“Apa?!” teriak Sari histeris. “Nggak! Ini nggak mungkin! Lo… lo berani-beraninya ngubah foto itu jadi muka gue?! Lo nyari mati, ya?!”

Ayi malah tersenyum meremehkan sambil bersedekap.

“Nyari mati?” ulangnya santai. “Gue… atau lo?”

Sari langsung bungkam.

Ayi melangkah maju, lalu berseru lantang kepada semua orang.

“Dengerin gue baik-baik! Foto yang sekarang kalian lihat ini adalah gambar asli. Real, tanpa editan!”

Ia menunjuk layar besar di belakang mereka.

“Memang nggak ada perubahan selain bagian wajah yang diedit. Tapi percayalah, foto pertama yang kalian lihat tadi itu versi palsu yang sengaja diedit buat memfitnah Alya!”

“Nggak! Itu bohong!” Sari berteriak panik. “Jangan percaya sama dia! Jangan mau dibohongi jalang itu!”

Tari langsung memberi kode mata kepada kedua guru untuk menyelamatkan putrinya.

Hendru maju dengan wajah serius.

“Benar! Jangan percaya omongan gadis itu.” Ia berbicara lantang agar semua orang mendengar. “Saya dan Bagas adalah saksi. Kami korban Alya. Jelas-jelas kami yang bermain dengannya. Mana mungkin kami nggak mengenali wanita yang bersama kami?”

Perkataan Hendru terdengar masuk akal bagi sebagian orang.

Bisik-bisik kembali terdengar memenuhi ruangan, membuat Alya semakin dipandang hina. Sementara itu, Sari mulai bernapas lega karena merasa keadaan kembali memihaknya.

“Sangat yakin dengan ucapanmu?”

Suara berat itu tiba-tiba terdengar dari arah lain.

“Lalu… bagaimana dengan ini?”

Semua orang langsung menoleh.

Dari ujung ruangan yang remang, Max berjalan masuk diikuti beberapa anak buahnya. Jayden berjalan setia di sampingnya.

Langkah pria itu tenang, namun memancarkan tekanan luar biasa. Tubuh jangkungnya berdiri tegap dengan dagu terangkat angkuh. Tatapan matanya tajam menusuk siapa pun yang berani menatap balik.

Satu per satu orang di ruangan itu dibuat merinding.

Max berhenti tepat di samping Alya.

“T-Tuan Max…?” Farid bersuara pelan. “Apa yang Anda lakukan di sini?”

Max menoleh dingin.

“Apa yang saya lakukan di sini bukan urusan Anda.”

Nada suaranya datar, namun begitu menekan.

“Dan apa yang akan saya lakukan di sini juga terserah saya.”

Ia melirik Alya sekilas.

“Calon istri saya ada di sini menghadiri acara. Jadi… apakah kehadiran saya masih perlu dipertanyakan?”

Skakmat.

Farid langsung terdiam tanpa mampu membalas sepatah kata pun. Ia hanya bisa merutuki kebodohannya sendiri.

Di sisi lain, wajah Sari berubah tidak suka melihat Alya dibela secara terang-terangan oleh Max. Gadis itu segera memasang sikap manja, berusaha membalikkan keadaan.

Dengan sengaja ia menyenggol Alya dan menggantikan posisi gadis itu di sisi Max.

Sari bergelayut manja di lengan kekar pria tersebut sambil menggoyangkannya pelan seperti anak kecil.

“Tuan—ah, maksudku Max,” ucapnya dibuat malu-malu. “Aku tahu kamu datang ke sini buat lihat aku. Aku senang banget.”

Ia tersenyum puas ke arah semua murid, sengaja memamerkan kedekatannya dengan pria itu.

“Tolong jelasin ke mereka kalau video itu bukan aku. Itu cuma editan.”

Sari menunjuk Alya dengan manja.

“Dan bilang juga kalau sebenarnya kamu itu milikku, bukan dia. Apalagi sampai ngaku-ngaku jadi tunanganmu.”

Farid sampai melotot melihat tingkah putrinya sendiri.

Sari sengaja berbicara keras agar semua orang mendengarnya dengan jelas.

Sementara Alya? Gadis itu sama sekali tidak cemburu. Yang ia rasakan justru jijik melihat sikap Sari yang terlalu pick me.

Widya dan Ayi bahkan sudah bersiap ingin muntah.

“Baik,” ucap Max tiba-tiba. “Saya akan menjelaskannya.”

Bukannya langsung menepis tangan Sari, pria itu justru membiarkannya sesaat, membuat Alya semakin tidak habis pikir.

Apa sebenarnya yang sedang dipikirkan pria ini?

“Pertama,” lanjut Max dingin, “foto yang pertama kali kalian lihat memang editan.”

Ia menjentikkan jarinya.

Layar besar kembali berubah, menampilkan foto yang sama dengan wajah berbeda.

“Dan ini versi aslinya.”

Suasana langsung gaduh.

“Foto sebelumnya telah diedit sedemikian rupa menggunakan teknologi berkualitas tinggi agar tampak nyata tanpa celah.”

Max berhenti sejenak sebelum melanjutkan,

“Kedua, ini adalah video berdurasi panjang. Jika kalian memperhatikannya baik-baik, ada beberapa bagian yang sama persis dengan foto tadi. Artinya, foto itu hanyalah hasil screenshot yang kemudian diedit menjadi wajah Alya.”

Ia menatap semua orang satu per satu.

“Ketiga.”

Suara Max semakin tajam.

“Alya adalah tunangan saya yang sebenarnya. Jadi jika kalian berani membuat masalah dengannya… itu berarti kalian juga membuat masalah dengan saya.”

Ruangan mendadak sunyi mencekam.

Tatapan Max lalu beralih pada Sari. Dengan ekspresi datar, ia melepaskan tangan gadis itu dari lengannya seolah sedang menyingkirkan sesuatu yang menjijikkan.

“Keempat,” lanjutnya dingin, “saya tidak memiliki hubungan apa pun dengan Anda.”

Sari langsung membeku.

“Tunangan saya hanya Alya seorang.”

Max menatapnya tajam tanpa ampun.

“Dan kita tidak sedekat itu sampai Anda berani menyebarkan rumor bahwa Anda adalah tunangan saya.”

Napas Sari tercekat.

“Saya masih menghargai Anda hanya karena ayah Anda bekerja sama dengan perusahaan kami. Kalau bukan karena itu…”

Tatapan Max berubah mengerikan.

“Anda sudah lama menghilang dari muka bumi ini.”

Tubuh Sari langsung gemetar.

“Dan satu lagi.”

Max melangkah maju sedikit.

“Trik murahan yang Anda gunakan benar-benar kampungan dan sudah ketinggalan zaman.”

Senyum tipis penuh ancaman terukir di bibirnya.

“Anda ingin bermain lempar batu sembunyi tangan?”

Ia mengangkat dagunya sedikit.

“Baik. Saya tunjukkan permainan yang sebenarnya.”

Max tidak memberi celah sedikit pun bagi lawannya untuk mengelak.

Bahkan Jayden sampai terpukau melihat bosnya berbicara sepanjang itu. Dalam sejarah hidupnya, ini benar-benar rekor pertama.

Layar besar kembali berubah.

Kini terpampang puluhan foto dan video baru.

Dan dalam sekejap, wajah Sari langsung pucat pasi.

Foto-foto itu memperlihatkan kehidupan gelap Sari bersama Meysa dan Laras. Mereka ternyata menjadi simpanan pria-pria tua demi memenuhi gaya hidup hedon mereka.

Meski berasal dari keluarga kaya, uang mereka tetap tidak pernah cukup untuk memenuhi kemewahan yang mereka inginkan.

Bukan hanya foto dan video panas yang tersebar.

Di layar juga muncul laporan rumah sakit.

Bukti aborsi.

Bukan sekali. Berkali-kali.

Setiap kali hamil, Sari diam-diam menggugurkannya.

Satu demi satu bukti bermunculan tanpa ampun.

Sari akhirnya jatuh terduduk di lantai. Seluruh tubuhnya gemetar hebat. Wajahnya pucat penuh syok.

Ia tak mampu menyangkal apa pun lagi.

Semuanya terlalu jelas.

Bahkan untuk berdiri saja, kakinya sudah tidak kuat menopang tubuhnya sendiri.

“Nggak… nggak…!”

Air mata mengalir deras di pipinya.

“I-ini semua bohong…!” Sari menggeleng panik sambil menatap Max penuh ketakutan.

“Max… jangan memfitnah aku…”

1
Neng Nosita
apa yg drencanakan max? apakah pernikahan hanya dijadikan alat bagi mereka yg berkuasa?
Barru Kab
mana kelanjutannya thor
Dina Safitri: OTW yaa🤭
total 1 replies
Neng Nosita
semoga nanti Max mengetahui kelicikan ibu mertuanya
Neng Nosita
wah..siapa tuh?
Neng Nosita
lamaran yang jauh dari kata romantis,...😄
Neng Nosita
sak sek syok pasti si Alya...
Neng Nosita
uuuh..seru thor👍
Dina Safitri: MasyaAllah terimakasih sudah mampir kakak. mohon untuk saran keritikan nya😍

cerita ini masih dalam proses kontrak, begitu kontrak turun aku akan melanjutkan ceritanya. sekali lagi terimakasih karena sudah mampir🙏
total 1 replies
pieyyy
bgs kak, sini mampir bntr kak aku baru keluarin karya baruku, makasihh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!