Kisah romansa antara Sulthan Aditama, CEO perusahaan emas yang tampan, dingin, dan hidup dalam kemewahan, dengan Nurlia, gadis sederhana yang bekerja keras sebagai pelayan restoran demi menghidupi adiknya setelah orang tua mereka meninggal.
Berawal dari pertemuan tak terduga dan insiden kecil, Sulthan mulai tertarik pada ketulusan, keramahan, dan kekuatan mental Nurlia yang berbeda dari wanita-wanita elit yang biasa ia temui. Perlahan, pria yang hatinya beku itu mulai mencair. Ikuti perjalanan cinta mereka yang harus melewati rintangan perbedaan status sosial, rasa minder, dan cemoohan orang lain demi membuktikan bahwa cinta sejati bisa menyatukan dua dunia yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MrRabbit_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
Mobil mewah berwarna hitam legam itu melaju dengan mulus meninggalkan area parkir gedung perkantoran. Di balik kemudi, Pak Didik mengendarai mobil dengan tenang dan terampil, sementara di jok belakang, Sulthan duduk bersandar nyaman. Matanya sesekali terpejam, menikmati kesunyian sejenak setelah seharian penuh memeras otak.
Di belakang mereka, terlihat motor sport berwarna hitam yang dikendarai oleh Juniarta. Dia sengaja tidak ikut numpang mobil dinas hari ini, dan juga tidak memakai mobil pribadinya. Dia memilih naik motor.
Alasannya sederhana, dia ingin merasa lebih bebas dan santai setelah hari yang melelahkan. Selain itu, besok dia berencana akan mengecek langsung kondisi jalan ke arah Mojokerto sendirian di pagi buta, jadi lebih enak pakai motor yang lincah dan bisa masuk ke jalan-jalan sempit.
"Yaudah, aku duluan ya Bos! Assalamualaikum!" teriak Juniarta dari balik kaca jendela yang sedikit diturunkan, lalu dengan gaspol dia mendahului mobil dan membelok ke arah yang berbeda, pulang ke rumahnya sendiri.
Sulthan hanya tersenyum kecil melihat kelakuan asistennya itu. "Hati-hati, Jun," gumamnya.
Perjalanan pun berlanjut. Mobil melaju memasuki jalanan kota Surabaya yang mulai lengang namun tetap ramai. Sinar lampu jalan mulai menyala satu per satu, memantul indah di cat mobil yang mengkilap.
Tiba-tiba, perut Sulthan berbunyi nyaring. Kruukk...
Rasa lapar yang selama ini tertahan karena kesibukan kini menyerang dengan dahsyat. Ingatannya pun melayang kembali pada rasa masakan di Restoran Pak Hartono. Apalagi kemarin dia sempat makan di sana dan rasanya sangat memuaskan.
"Pak Didik..." panggil Sulthan.
"Siap, Tuan. Ada perintah apa?" jawab Pak Didik sigap tanpa melepaskan pandangannya dari jalan.
"Tolong belokkan mobilnya ke Restoran Pak Hartono ya. Saya lapar, mau makan malam dulu di sana," perintah Sulthan.
Pak Didik sedikit menoleh ke belakang lewat kaca spion, lalu mengangguk patuh. "Baik, Tuan. Siap."
Meskipun sebenarnya arah rumah Sulthan berlawanan arah, tapi sebagai sopir yang setia, dia tidak menolak. Dia pun mulai mencari celah untuk membelokkan mobil besar itu menuju arah restoran.
Krieeet...
Mobil itu membelok dengan halus, masuk ke area parkir restoran yang cukup luas dan ramai. Lampu-lampu restoran menyala terang benderang, terlihat sangat nyaman dan mengundang selera.
Pak Didik memarkirkan mobilnya di tempat yang strategis, tidak terlalu depan tapi juga tidak terlalu jauh.
"Monggo, Tuan. Sudah sampai," kata Pak Didik sambil keluar dan membukakan pintu belakang untuk bosnya.
Sulthan turun dengan langkah tegap. Angin malam menerpa wajahnya, membuatnya merasa lebih segar. Dia merapikan bajunya sedikit, lalu berjalan masuk ke dalam restoran itu dengan santai.
Setelah memastikan Sulthan masuk dengan aman ke dalam restoran, Pak Didik kembali masuk ke kabin mobil. Dia tidak ikut masuk, tugasnya adalah menjaga kendaraan dan menunggu dengan sabar. Dia menyalakan radio kecil untuk menemani waktu tunggunya, siap kapan saja jika bosnya membutuhkan sesuatu.
Di dalam restoran, Sulthan berjalan dengan langkah tegap melewati area utama. Dia tidak tertarik duduk di tempat umum yang ramai dan berisik. Matanya langsung mengarah ke tangga kecil menuju lantai dua, area khusus VIP yang lebih tenang, pribadi, dan nyaman.
Sulthan duduk di kursi empuk di meja nomor satu, tepat di dekat jendela kaca besar yang bisa melihat pemandangan jalan di bawah tapi tidak terlihat dari luar.
Di sisi lain, suasana hati Nurlia sedang sangat baik. Hari ini dia memutuskan untuk lembur. Padahal jadwal kerjanya seharusnya sudah selesai sejak jam 4 sore tadi. Tapi mengingat kebutuhan rumah yang banyak dan ingin menabung sedikit lebih banyak untuk masa depan serta keperluan Adelia, dia rela menambah jam kerjanya sampai malam.
"Siapa tahu rezeki malam hari lebih berkah," pikirnya optimis sambil mengelap gelas dengan bersih.
Tiba-tiba dari arah dapur, temannya berteriak memanggil. "Lia! Cepat ke lantai dua VIP! Ada tamu penting baru datang!"
"Iya, sebentar!" sahut Nurlia sigap. Dia segera merapikan apronnya, menyisir rambutnya sedikit dengan jari agar terlihat rapi, lalu berjalan cepat menuju tangga.
Saat kakinya melangkah masuk ke area VIP dan matanya menangkap sosok yang sedang duduk membelakangi pintu...
Nurlia langsung berhenti melangkah. Napasnya seketika tertahan di tenggorokan.
Itu dia... Pria itu datang lagi.
Sulthan Aditama.
Pria itu sedang menatap keluar jendela, siluet wajahnya yang tegas dan tampan terlihat sangat sempurna di bawah cahaya lampu yang remang-remang elegan. Bahunya yang lebar, postur tubuhnya yang tinggi besar, dan aura kekayaan serta wibawa yang memancar darinya membuat Nurlia terpaku.
Jantungnya... DUG... DUG... DUG...
Berdegup kencang bukan main, seakan mau melompat keluar dari rongga dada. Nurlia merasa aneh dengan dirinya sendiri. Kenapa bisa segugup ini? Padahal dia hanya seorang pelayan dan pria itu adalah pelanggan. Tapi entah kenapa, melihat pria itu duduk begitu gagah, Nurlia merasa seolah sedang melihat sosok yang begitu sempurna, begitu jauh di atasnya, namun begitu memikat hati.
"Ma... Mas... Eh, Pak..." Nurlia mencoba bersuara tapi suaranya tercekat. Tangannya yang memegang buku menu pun sedikit gemetar.
Mendengar suara gadis yang terdengar terbata-bata itu, Sulthan pun menoleh. Matanya bertemu langsung dengan mata Nurlia.
Sulthan sedikit mengernyitkan dahi. Dia melihat wajah gadis ini terlihat familiar, ya dia ingat, ini pelayan yang melayaninya dua hari lalu. Tapi kenapa hari ini tingkahnya aneh sekali? Wajahnya memerah, matanya melotot sedikit tak berani menatap, dan badannya terlihat kaku seperti patung.
Dengan santai dan sedikit usil, Sulthan hanya mengangkat sebelah alisnya tinggi-tinggi, memberikan tatapan heran dan bertanya tanpa kata, "Ada apa? Kenapa kamu melihatku seperti itu?"
Tatapan tajam itu membuat Nurlia makin panik dan makin salah tingkah. Dia buru-buru menundukkan kepala, berusaha mengendalikan detak jantungnya yang tak mau tahu aturan.
"Ma... Maaf, Pak. Silakan dilihat menunya," ucap Nurlia sedikit serak sambil menyodorkan buku menu dengan tangan yang masih sedikit gemetar.
Sulthan mengambil menu itu tanpa banyak bicara. Dia membuka lembar demi lembar dengan santai. Karena perutnya memang sangat lapar dan dia orang kaya, dia tidak perlu berpikir lama soal harga.
"Saya mau Sop Iga Spesial, tambah porsi dagingnya. Lalu Nasi putih hangat, dan Udang Goreng Tepung untuk camilan," perintah Sulthan dengan suara berat dan rendah yang terdengar sangat seksi di telinga Nurlia.
"Ba... baik, Pak. Catat."
"Minumnya, siapkan Jus Alpukat Kocok dengan tambahan keju dan susu kental manis yang banyak. Yang dingin ya," tambah Sulthan lagi. Itu minuman favoritnya yang harganya memang cukup mahal di restoran ini.
"Siap, Pak. Sudah dicatat semua."
Dengan terburu-buru namun hati-hati, Nurlia segera berbalik badan. Dia ingin segera lari ke dapur supaya jantungnya bisa berdetak normal lagi. Rasanya tidak kuat berlama-lama berada di dekat pria itu, aromanya yang wangi, ketampanannya, dan kekayaannya seolah menyedot seluruh kesadaran Nurlia.
•••
Waktu berlalu beberapa menit, namun rasanya seperti berjam-jam bagi Nurlia yang terus gelisah di dapur. Jantungnya belum juga tenang sejak melihat wajah Sulthan tadi.
"Nah, pesanan meja nomor 1 VIP sudah siap! Cepetan diantar, Lia!" seru koki kepala sambil menyodorkan nampan besar berisi makanan yang masih mengepul dan segelas jus alpukat kocok yang dingin, penuh dengan krim dan keju parut di atasnya.
"Siap, Pak!" jawab Nurlia cepat.
Dengan hati-hati dia mengangkat nampan itu. Kakinya melangkah menaiki tangga menuju ruang VIP, berusaha menenangkan diri. "Tenang Lia, tenang. Jangan gemetar lagi. Ini cuma kerjaan biasa," bisiknya berkali-kali pada diri sendiri.
Namun, nasib berkata lain. Sepertinya hari ini memang belum berpihak padanya.
Saat sampai di meja Sulthan, Nurlia mencoba meletakkan gelas tinggi berisi jus itu dengan hati-hati. Tapi karena tangannya yang masih sedikit gemetar dan mungkin lantai licin sedikit di sepatunya, tangan Nurlia tersentak tak sengaja.
BYURRR!!!
Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih. Seluruh isi gelas jus alpukat itu tumpah ruah tepat ke arah Sulthan. Cairan hijau kental itu langsung membasahi jas biru tua dan kemeja putih yang dipakai pria itu.
Noda hijau besar dan kotor langsung terlihat jelas di bahu dan dada Sulthan. Bahannya yang mahal dan kering kini menjadi basah, lengket, dan berantakan.
"AAAA!! YA AMPUN!!" Nurlia menjerit kaget, matanya terbelalak ngeri melihat apa yang baru saja terjadi.
"Ya Tuhan... maaf! Maafkan saya, Pak! Saya tidak sengaja!" Nurlia langsung panik setengah mati. Wajahnya pucat pasi, keringat dingin langsung membasahi dahinya.
Tanpa pikir panjang, dia langsung mengambil tisu dalam jumlah banyak di atas meja, lalu dengan refleks dia membungkuk dan mencoba mengelap jas mahal itu dengan kasar dan terburu-buru.
"Biarkan saya bersihkan, Pak! Maaf... maafkan saya bodoh sekali!" isaknya panik, tangannya bergerak liar menyapu noda itu.
Tapi baru beberapa kali usapan, tangan Nurlia tiba-tiba terhenti.
Tangan kekar dan dingin Sulthan mencengkeram pergelangan tangan kanannya dengan sangat kuat dan kencang. Cengkeramannya begitu erat hingga membuat Nurlia merasa sakit dan tidak bisa bergerak sedikitpun.
"Sudah! Jangan!" bentak Sulthan dengan suara rendah namun penuh wibawa dan tegas.
Nurlia langsung menunduk ketakutan, bahunya gemetar hebat. Dia siap dimarahi habis-habisan, siap dipecat, atau bahkan siap dituntut ganti rugi yang harganya pasti selangit.
Sulthan menatap bajunya yang kotor, lalu menatap wajah gadis di depannya yang sudah pucat dan siap menangis. Sebenarnya dia sangat kesal dan marah. Jas ini adalah jas branded impor yang harganya bisa untuk gaji Nurlia berbulan-bulan. Dan noda susu serta alpukat itu sangat sulit hilang kalau tidak segera dicuci dengan cara khusus, percuma saja dilap pakai tisu kering.
Tapi melihat Nurlia yang ketakutan setengah mati seperti melihat hantu penasaran, rasa marah Sulthan sedikit tertahan. Dia tidak tega melihat gadis secantik ini menangis histeris di depannya.
"Percuma saja dilap pakai tisu, tidak akan bersih!" suara Sulthan terdengar keras dan sedikit membentak, membuat Nurlia makin ciut nyalinya. "Lihat apa yang kamu lakukan? Baju saya jadi kotor semua karena kecerobohanmu!"
"Maafkan saya Pak... saya benar-benar minta maaf..." Nurlia sudah mulai menangis, air matanya jatuh membasahi pipi. Dia benar-benar takut, merasa bersalah luar biasa.
Sulthan menghela napas panjang menahan emosi. Dia melepaskan cengkeraman tangannya dari lengan Nurlia dengan kasar.
"Sudah! Jangan menangis!" perintahnya singkat. "Kamu pergi saja dari sini! Masuk ke dapur! Cepat!"
Sulthan tidak memarahinya lebih jauh, tidak juga memukul atau mengata-ngatai. Dia hanya menyuruhnya pergi karena kalau Nurlia masih di sini, takutnya dia akan benar-benar meledak marah dan berkata kasar. Lebih baik dia menenangkan diri sendiri dulu.
Mendengar perintah itu, bagaikan mendapat ampunan, Nurlia langsung mengangguk berkali-kali sambil menunduk hormat tak berani angkat wajah.
"Maaf... maafkan saya Pak..." bisiknya terbata-bata.
Tanpa menunggu lama, Nurlia langsung berbalik badan dan berlari kecil keluar dari ruangan VIP dengan perasaan yang campur aduk.