NovelToon NovelToon
Kkn Desa Larangan: Kami Pulang Tinggal Nama

Kkn Desa Larangan: Kami Pulang Tinggal Nama

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Mahrani

Lima mahasiswa KKN terjebak di Desa Larangan, desa gaib yang tidak ada di Google Maps.

Hari ketiga, Rani hilang dari kamar terkunci. Di kasurnya hanya ada selendang merah dan tanah kuburan. Kepala desa cuma bilang: "Tumbal pertama sudah diambil."

Setiap jam 01.00, gamelan dari hutan memanggil nama mereka. Sosok wanita berkebaya merah menatap dari sumur tua belakang balai desa.

Ternyata 7 tahun lalu ada mahasiswi KKN dibunuh dan dibuang ke sumur itu. Arwahnya menuntut 5 nyawa.

Mereka harus temukan tulang mahasiswi itu sebelum purnama, atau jadi penghuni tetap desa. Masalahnya, satu orang harus jadi tumbal sukarela untuk turun ke sumur.

Akankah mereka pulang selamat? Atau pulang tinggal nama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahrani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27 KKN 1988 DIMULAI

1 MEI 1988. SOLO.

Kantor Lurah Jagalan. Jam 9 pagi.

Kami berenam duduk di depan Pak Lurah. Rendi, Bayu, Dina, Fajar, istri gue Sari, sama gue. Meja kayu, kipas angin muter, bau kertas tua.

Pak Lurah, namanya Pak Warto, umur 50-an, kumis tebel, ngelap keringet pake sapu tangan. Dia bolak-balik baca surat kami.

“Jadi...” dia ngerutin dahi. “Sampean berlima... eh, berenam... mau jadi DPL KKN? Umur 32? KKN untuk siapa?”

“Untuk anak-anak kami, Pak,” jawab Dina. Tenang. Dia bawa map berisi ijazah Sarjana Psikologi UGM. “Program percontohan. Namanya... KKM. Kuliah Kerja Menebus. Fokus ke desa tertinggal.”

“Desa mana?” Pak Warto nyedot rokok kretek. Asepnya ngebul.

“Desa Larangan Anyar, Pak,” sahut Bayu. Dia nunjukin SK dari Kelurahan. Stempel basah. “Ini Inpres Desa Tertinggal No. 12/1988. Kami ditugaskan observasi.”

Pak Warto diem. Lama. Terus dia buka laci. Ngeluarin buku gede. Buku Induk Desa Se-Kecamatan.

Tangannya gemeter pas buka halaman L.

“Desa Larangan Anyar...” bisiknya. “Iki... iki deso sing ilang tahun 1970. Korban G30S. Diapus seko peta.”

“Betul, Pak,” potong Fajar. Dia nunjukin surat dari Koramil. “Makanya kami kesini. Atas perintah Danramil. Pengamanan wilayah eks-tapal batas. Takut ada gerakan sisa.”

Pak Warto nutup buku. Banting. “Geblek. Deso iku... dikutuk. Mbah-mbah disini ngomong, saben purnama ke-3, ono lonceng muni dewe. Terus... ono cah KKN ilang.”

“1970 terakhir, Pak?” tanya gue.

“1970. 6 cah. UNS. Ora bali. Makam e kosong. Namane...” dia baca buku, “Ardi Wijaya, Sinta Dewi, Lestari, Rendi, Bayu, Fajar.”

Kami berlima langsung beku.

Nama kami. Persis. Cuma Sinta Dewi, bukan Laras Sinta.

“Bedo Sinta-ne,” bisik Rendi.

Pak Warto tidak denger. Dia udah stempel surat kami. Tangan gemeter. “Wes... aku mung iso bantu stempel. Tapi... aku ora melu-melu. Nek ono opo-opo... aku ora ngerti.”

Surat jalan keluar. Lengkap. Stempel Lurah, Koramil, Kelurahan. Tahun 1988 birokrasi kalo lengkap malah cepet.

Keluar kantor, istri gue nangis. “Min... nama Ardi... nama anak kita...”

Gue rangkul. “Makanya kita ikut. Kita putus rantainya. 1970 mereka ilang. 1988 kita balikin.”

*3 MEI 1988. TERMINAL TIRTONADI.*

Colt bak terbuka. Jurusan Klaten-Wedi. Disewa Fajar. Di bak belakang, ada 3 anak: Laras 9 tahun, Ardi 9 tahun, Kiran 8 tahun. Duduk di tikar. Bawa ransel kecil. Di depan, kami berenam. Sopirnya temen Fajar, namanya Kang Udin. Ex-militer.

“Yakin, Ndan?” tanya Kang Udin. “Deso iku... ora ketemu neng dalan. Tau-tau nyasar.”

“Tenang, Kang,” jawab Fajar. “Kita bawa kompas.”

Kompas beneran. Sama taring Asu Kober di kotak kayu. Taring itu... jarumnya. Nunduk ke Utara, tapi kadang muter sendiri. Ngadep ke... entah.

Colt jalan. Lewat jalan batu. Goyang. Debu ngebul. Radio kaset nyetel lagu Nike Ardilla.

Laras, Ardi, Kiran di belakang malah ketawa. Main tebak-tebakan. Tidak tau mereka mau KKN beneran. Kita bilang, “Piknik ke desanya Mbah.”

2 jam jalan. Hutan jati. Sepi. Tidak ada angkot lain.

Kang Udin ngerem mendadak.

“Astaga...”

Di depan, jalan... habis. Ketutup kabut. Kabut putih. Tebel. Jam 11 siang tapi kayak jam 5 subuh.

Di pinggir jalan, ada gapura. Kayu jati. Baru. Tulisan dipahat:

“SELAMAT DATANG”

“DS. LARANGAN ANYAR”

“PENDUDUK: 6”

“KKM 1988”

Penduduk: 6. Kami berenam. Anak-anak tidak diitung?

Taring di kotak... nyala. Biru. Terang sampe nembus kayu.

Dari dalem kabut, suara.

Tung...

Kenong. Satu ketukan.

Terus muncul orang.

Baris. 6 orang. Pake seragam SMA 70-an. Abu-abu putih. Klise.

Wajahnya...

Ardi. Rendi. Bayu. Fajar. Sinta. Lestari.

Versi umur 17 tahun. Kelas 3 SMA.

Mereka senyum. Seragam rapi. Tapi... mata mereka item semua. Tidak ada putihnya.

“Selamat datang, DPL,” kata yg muka Ardi. Suaranya... stereo. Kayak 6 orang ngomong bareng. “Kami... panitia penyambutan KKM 1988.”

Kang Udin langsung istighfar. “Ndan... kui... demit...”

Fajar udah cabut pistol. Pistol dinas. “Jangan gerak!”

Yg muka Sinta ketawa. Kikik. “Pistol... tidak mempan... Pak Tentara. Kami... sudah mati 1970.”

Mereka angkat tangan. Nunduk. Hormat.

“Silakan masuk. Anak-anak... sudah ditunggu di Balai Desa.”

Kami noleh ke belakang.

Bak colt... kosong.

Laras, Ardi, Kiran... hilang.

“ASU!” Rendi loncat. “Anakku!”

Sari, istri gue, pingsan. Dina nangkap.

Yg muka Bayu nunjuk ke kabut. “Tenang... Om... Tante... Mereka... aman. Sedang... orientasi desa. Bersama... Kepala Desa.”

Kepala Desa Ardi Wijaya. Ardi yg umur 21, yg harusnya udah mati.

Gue ngeluarin taring. Nyala biru. Gue acungin ke 6 “panitia” itu.

“Balikin. Anak-anak kami. Atau...”

“Atau apa, Om Min?” Yg muka Lestari maju. “Mau lawan... desa? Desa ini... kami. Kami... desa.”

Dia nginjek tanah.

Dari tanah, muncul tangan. Ratusan. Tangan manusia. Busuk. Nyakar-nyakar.

“Ini... penduduk asli. Korban... 1970. 1965. 1948. Semua... yg dikubur... tanpa nama. Mereka... pondasi.”

Desa ini hidup. Dibangun dari tumbal.

Taring di tangan gue... panas. Terus... ngomong. Suara Asu Kober Asli. Di kepala gue.

“...Min... aja... diwenehke... Taringku... colok... neng... gapura...”

Jangan dikasih. Taringku... tancepin... ke... gapura...

Gue lari. Ke gapura kayu.

6 panitia jerit. Melengking.

“JANGAAAANNN!!!”

Gue tancepin taring Asu Kober ke kayu gapura. Pas di tulisan “DS. LARANGAN ANYAR”.

JLEB!

Kayu... menjerit. Kayak orang.

Dari gapura, keluar darah. Item. Kental. Bau anyir.

Kabut... buyar. Kesedot masuk ke taring.

6 panitia... kebakar. Api biru. Tidak ada asap. Jeritannya... suara kenong pecah. Terus... jadi debu. Debu tulang.

Tangan-tangan di tanah... lemes. Masuk lagi ke dalem. Tanah rata.

Hening.

Colt... masih ada. Kang Udin... pingsan di setir.

Dari dalem desa, jalan setapak kebuka. Tidak ada kabut lagi. Cuma hutan jati biasa. Di ujung jalan, ada Balai Desa. Kayu. Kecil. Di depannya...

Laras, Ardi, Kiran. Duduk di tangga. Main bekel. Ketawa.

Sehat. Utuh.

Di sebelah mereka, duduk orang. Pake seragam Lurah. Muka... Ardi Wijaya. Umur 21. Tapi... matanya normal. Coklat. Senyum. Tidak serem.

Dia melambai ke kami.

Sari sadar. Dia lari. Ngerangkul Ardi anak kami. Nangis.

Dina ngerangkul Kiran. Rendi, Bayu, Fajar ngecek Laras.

Gue jalan ke Ardi Wijaya yg Lurah.

Taring masih nancep di gapura. Tapi udah tidak nyala. Jadi taring biasa.

“Sampean... sinten?” tanya gue.

Ardi Lurah senyum. “Aku... Ardi. Sing pertama. Sing... gagal mulih 1970.”

“Terus?”

“Kancaku... Rendi, Bayu, Fajar, Sinta, Lestari... wes mulih. 9 tahun kepungkur. Mergo... sampean... wis... nebus.”

“Tapi... sampean kok nang kene?”

“Aku... milih. Dadi... Kuncen. Kuncen Asli. Ngganteni... Asu Kober. Soale... deso iki... nek ora ono sing jogo... bakal... nggolek tumbal dewe.”

Dia Kuncen baru. Kuncen yg baik. Dia yg kirim TV, yg bikin desa aktif. Bukan buat nyulik. Buat... minta tolong.

“Deso iki... isine... dudu demit. Isine... sejarah. Korban. Nek ditutup terus... dendame... mbludak. Dadi... penyakit. KKN 1988 iki... dudu... KKN biasa.”

Dia nunjuk 3 anak.

“Iki... KKM. Kuliah Kerja Menebus. Tugase... nulis... jeneng. Jenenge... kabeh korban. Neng... buku deso. Ben... diakoni negara. Ben... tenang.”

Buku desa. Bukan tumbal. Nama.

Mereka cuma mau namanya ditulis. Diakui. Biar tidak jadi hantu gentayangan.

Ardi Lurah ngeluarin buku tebel. Buku Letter C. Kosong.

“Tulisen, Om Min. Sampean... penulis. 6 DPL... dadi saksi. 3 bocah... dadi... pewaris cerita.”

Gue ambil buku. Mesin tik jadul udah disiapin di Balai Desa.

Gue duduk. Masukin kertas.

Mulai ngetik.

“DAFTAR NAMA PENDUDUK DS. LARANGAN ANYAR”

“1. ARDI WIJAYA - 21 TH - MAHASISWA - GUGUR 1970”

“2. SINTA DEWI - 21 TH - MAHASISWA - GUGUR 1970”

“3. LESTARI - 21 TH - MAHASISWA - GUGUR 1970”

“4. ...”

Gue ngetik seharian. Dibantu Dina, Rendi, Bayu, Fajar, Sari. Kami nulis 243 nama. Dari arsip Koramil, dari cerita Pak Warto, dari bisikan... entah dari mana.

Laras, Ardi, Kiran... tugasnya stempel. Stempel jempol mereka. Cap tiga jari. Di tiap halaman.

Malamnya, purnama.

Begitu nama terakhir ditulis, Balai Desa... terang. Tidak ada lampu, tapi terang.

Dari tanah, keluar... orang. Ratusan. Bukan pocong. Orang biasa. Pake baju 45, 65, 70. Senyum. Melambai.

Terus... satu-satu... jadi cahaya. Naik ke bulan.

Ardi Lurah... ikut senyum. Badannya... transparan.

“Tugas... selesai, Om. Kulo... pamit. Titip... deso... ben... dadi... deso biasa.”

“Sampean arep neng ndi?” tanya gue.

“Nyusul... konco-konco. Mbak Dewi... Lestari... Paklik... Asu Kober... Nunggu neng... segoro.”

Dia melambai. Terus... hilang. Jadi kunang-kunang.

Desa Larangan Anyar... seketika jadi desa biasa. Ada kandang ayam, ada suara radio, ada anak kecil lari-lari. Penduduknya... beneran. Manusia. Transmigran baru. Tidak tau apa-apa.

Gapura... udah tidak ada tulisan. Kosong.

Taring Asu Kober... jatuh. Jadi batu. Batu akik biru.

Gue pungut. Dingin.

KKN 1988... selesai. Sehari.

1
Devilgirl
asli bulu kudukku berdiri merinding😭😭😭kak tanggungjawab lho aku ketakutan😭😭
Devilgirl: Tenang,tenang...karya banyak tapi kejar target kak...ini aja Masih dua novel belum update 😂 kalau kakak butuh saran atau stuck alurnya bisa Tanya ke aku...aku juga suka genre horor tapi jiwaku malah lari ke kultivasi ceritanya🤣🤣
total 6 replies
Devilgirl
Thor,ini kenapa ucapannya diulangi lagi ya...tadi diatas sudah kan seharusnya lanjutannya kamar Rani yang terkunci Dari dalam
Devilgirl: 🤣🤣gak kemana mana kok tenang saja tetep stay disini
total 6 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!