Sepuluh tahun lalu, tragedi berdarah menghancurkan keluarga Samudra. Langit Bumi Samudra (7 tahun) tewas dalam sabotase kecelakaan mobil, sementara adiknya, Cakrawala Bintang Samudra (3 tahun) dinyatakan hilang dan dianggap tewas juga oleh publik. Nyatanya, Sang Kakek menyembunyikan Cakra di luar negeri dengan identitas rahasia demi melindunginya dari musuh.
Kini, Cakrawala kembali sebagai pemuda tampan dan jenius. Di bawah nama samaran Gala Putra Langit, ia menyusup ke dunianya sendiri sebagai mahasiswa biasa. Ia harus menghadapi pengkhianatan Om dan Tantenya sendiri yang haus harta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon puput11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Reruntuhan
Keheningan yang mencekam Aula Utama Universitas Samudra selama beberapa detik, sebelum akhirnya meledak dalam riuh kepanikan. Angka merah di papan skor digital berkedip tanpa ampun, menunjukkan hilangnya nilai aset milik kelompok Kenzo sebesar tujuh puluh persen. Dana lima puluh miliar rupiah yang disuntikkan secara ilegal oleh Om Bramantyo menguap menjadi abu finansial hanya dalam hitungan detik.
Kenzo berdiri kaku di tengah panggung, mikrofon di kerah jepitnya menangkap suara napasnya yang memburu dan terputus-putus. Wajahnya yang semula merah padam karena tawa kepongahan kini berubah pucat pasi. Matanya membelalak lebar, menatap layar monitor raksasanya sendiri yang menampilkan grafik garis tegak lurus ke bawah.
"Gak mungkin... ini nggak mungkin! Sistemnya eror! Komputer gue diretas!" teriak Kenzo histeris, suaranya melengking tinggi memecah kegemparan aula. Ia berbalik, menendang kursi kerjanya hingga terguling ke lantai marmer dengan bunyi braaakk yang keras.
"Davin! Kenapa lo nggak jual lot nikelnya tadi?! Kenapa diam aja, sialan?!"
Davin yang terduduk di depan komputer hanya bisa memegangi kepalanya yang pening, tubuhnya gemetar hebat menghadapi amukan Kenzo. "Nggak bisa, Ken! Pergerakannya terlalu cepat! Akun kita langsung terkunci batas auto rejection bawah!"
Di seberang panggung, Gala perlahan berdiri dari kursinya. Ia membetulkan letak kacamata tebalnya dengan jari tengah, lalu memasukkan kedua tangannya ke saku celana jins hitamnya. Senyum manis nan slengean kembali terukir di wajah tampannya, memandang Kenzo yang sedang mengamuk layaknya anak kecil yang kehilangan mainan.
"Udah gue bilang, kan? Menari di atas awan itu emang seru, tapi jatuhnya bikin tulang remuk," ucap Gala dengan nada suara yang sangat tenang namun bergema dingin ke seluruh sudut aula, menghantam langsung mental Kenzo yang sudah hancur.
Aluna di sebelah Gala menghembuskan napas lega yang sangat panjang, tangannya yang tadi bergetar kini mengepal puas melihat portofolio mereka melonjak naik ke peringkat pertama dengan keuntungan tiga ratus persen.
"Gala... lo beneran monster pasar saham," bisik Aluna dengan binar mata yang penuh kekaguman sekaligus rasa penasaran yang semakin dalam.
Adit langsung menggebrak meja kelompok mereka sembari tertawa terbahak-bahak. "Hahaha! Aduh, Putra Mahkota kita kok mukanya mendadak pucat begitu? Katanya tadi darah bangsawan bisnis, masa kena sentil regulasi pemerintah langsung sawan!" ledek Adit bersemangat, sengaja memanaskan suasana.
Di barisan kursi VVIP, situasi tidak kalah meledak. Om Bramantyo melompat dari kursinya, wajah pria paruh baya itu memerah padam, urat-urat di lehernya menegang kaku karena tidak terima dana raksasa miliknya amblas dalam sekejap.
"Ini manipulasi! Ini insider trading! " bentak Bramantyo murka, melangkah lebar menghampiri meja juri dan Rektor Hardianto sembari menggebrak pembatas.
BRAK!
"Bagaimana bisa anak beasiswa miskin itu tahu regulasi menteri akan keluar tepat di menit itu?! Hardianto! Diskualifikasi kelompok Gala sekarang juga! Mereka pasti mencuri informasi rahasia negara!"
Tante Ratna ikut berdiri, wajah cantiknya kini dipenuhi kedengkian yang amat sangat saat menatap Gala di atas panggung. "Benar! Anak haram itu pasti curang! Segera panggil tim keamanan kampus untuk menyeretnya keluar!"
Sebelum Rektor Hardianto sempat menjawab, sebuah ketukan tongkat kayu cendana berukir kepala naga terdengar bergaung berat di lantai aula.
TAK!
Suasana yang tadinya bising langsung senyap seketika. Kakek Wijaya berdiri perlahan dari kursi dibantu oleh pegangan sigap dari Tuan Baskara di sisi kanannya. Sang Singa Tua membalikkan tubuhnya menghadap Bramantyo dan Ratna, memancarkan aura intimidasi mutlak yang membuat kedua anak dan menantunya itu langsung membeku di tempat.
"Bramantyo, Ratna, jaga ucapan kalian di altar akademik ini," suara Kakek Wijaya berat, berwibawa, dan sangat dingin hingga sanggup membuat bulu kuduk meremang.
Kakek menatap menantunya dengan pandangan menusuk. "Regulasi menteri itu sudah dibahas di berita nasional sejak tiga hari lalu, bagi siapa saja yang mau membaca data dengan becus. Jika anakmu terlalu bodoh dan serakah hingga menaruh semua telur dalam satu keranjang, jangan salahkan orang lain atas kebodohannya sendiri."
Bramantyo menelan ludah dengan susah payah, cengkeramannya pada pembatas perlahan mengendur di bawah tatapan sang mertua. "Tapi Ayah... dana kita..."
"Duduk, atau aku sendiri yang akan mencopot posisimu di pengelolaan kampus ini sekarang juga," potong Kakek Wijaya tanpa bantahan.
Bramantyo dan Ratna hanya bisa terdiam dengan wajah menahan malu yang luar biasa, perlahan kembali duduk di kursi mereka dengan kepalan tangan yang bergetar penuh dendam.
Sementara itu, dari sudut panggung, Gala menatap tajam ke arah om dan tantenya. Skenario penghancuran pertama telah berhasil ia selesaikan, namun dari kilat mata Bramantyo yang dipenuhi amarah, Gala tahu para serigala ini akan segera menggunakan cara kotor yang lebih ekstrem di luar area bursa saham.