Dunia Damai Sentosa, gadis cantik yang ceria itu menyimpan banyak luka masa lalu. Tak pernah ada yang tahu, di balik senyumnya yang ceria itu, Nia —panggilan akrabnya—, ternyata menyimpan luka tentang siapa dirinya.
Pertemuannya kembali dengan Angkasa Biru Cakrawala, ternyata tak seperti yang dia bayangkan. Aang —panggilan akrab Angkasa— seperti orang lain, orang baru, bukan seperti Aang yang Nia kenal dulu.
Akankah kehidupan Nia dewasa dapat menjadi obat bagi luka masa lalunya? Akankah senyuman Nia dapat mengembalikan bahagia dalam hidup Aang?
Simak kisah selengkapnya dalam Dunia Angakasa!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sister Complex dan Doa Bu Melati
"Mau kemana, Bay?" tanya Nyonya Lestari pada Bayu yang terlihat sudah rapih dan bersiap.
"Mau jemput Nia di panti, Ma," jawab Bayu. Nyonya Lestari menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Biarkan saja. Jarang-jarang dia liburan sendiri," kata Nyonya Lestari sambil mengambil roti bakar yang tersedia di meja makan.
"Tapi, Maa..."
"Lagian dia nginep di panti. Bukan di hotel melati. Panik banget sih kamu," kata Nyonya Lestari heran.
"Nggak panik, Ma,"
"Tapi?"
Bayu terdiam.
"Nia semalem chat Mama, katanya hari ini dia dianter pulang sama Angkasa setelah mampir ke kediaman Mahendra terlebih dahulu. Nyonya Mahendra pengen ketemu Nia katanya," kata Nyonya Lestari berusaha menghentikan Bayu. Bayu menghela napas panjang.
"Ya udah kalo gitu," kata Bayu menyerah. Nyonya Lestari tersenyum.
"Mama kadang khawatir sama kamu," kata Nyonya Lestari pada Bayu sambil menikmati roti bakar sarapannya.
"Kamu kadang suka terlalu over protective sama Nia. Nia kan sudah dewasa. Dia tau mana yang baik dan buruk," lanjut Nyonya Lestari. Bayu duduk disebelah mamanya, mengoleskan selai cokelat di atas roti bakarnya.
"Nia juga pasti bisa jaga diri," tambah Nyonya Lestari.
Bayu hanya diam sambil makan roti bakarnya. Dia tak ingin mamanya tahu kenyataan pahit dan kelam di balik rasa cemas berlebihannya terhadap Nia. Tragedi empat tahun lalu cukup menjadi rahasia antara Bayu, Nia, Tuan Laksono, dan Tuhan.
"Bayu cuma khawatir aja, Ma," kata Bayu. Nyonya Lestari tersenyum.
"Lhoh? Nia belum bangun?" tanya Tuan Laksono saat turun ke ruang makan.
"Belum dateng anaknya," kata Nyonya Lestari sambil tersenyum. Tuan Laksono menaikkan kedua alisnya.
"Bukannya Bayu jemput kemarin?" tanya Tuan Laksono.
"Nianya nggak ada," kata Bayu singkat. Tuan Laksono menatap isterinya seolah meminta penjelasan lebih lanjut. Nyonya Lestari tersenyum.
"Nia dibawa kabur," kata Nyonya Lestari lalu meminum segelas susu.
"Dibawa kabur? Sama?" tanya Tuan Laksono.
"Calon suaminya lah. Siapa lagi yang bikin Bayu nggak bisa berkutik?" kata Nyonya Lestari sambil melirik Bayu. Bayu memakan roti bakarnya dengan tenang.
Tuan Laksono manggut-manggut lalu duduk dan mengambil roti bakarnya. Bayu melirik sekilas ke arah papanya. Bayu yakin, papanya merasa tak nyaman dengan perjodohan Nia dan Angkasa.
'Kalau sampe Tuan Muda Mahendra itu tau, entah apa yang akan terjadi dengan keluarga kita,'
***
Kamu pulang jam berapa?
Kakak jemput sekarang. Oke?
"Sister complex," komentar Angkasa yang entah sejak kapan berdiri tepat di belakang Nia sambil membaca isi pesan singkat dari Bayu untuk Nia.
"Eh?"
"Kakak kamu itu nggak punya pacar?" tanya Angaksa pada Nia. Nia menggelengkan kepalanya.
"Suruh dia cepet cari pacar. Biar nggak sering gangguin kamu kalo pas lagi jalan sama aku," kata Angkasa lalu berlalu menuju ke halaman bermain bersama anak-anak panti.
"Eh?"
Nia tertegun. Nia benar-benar dibuat bingung dengan sikap Angkasa. Terkadang terasa menjauh. Terkadang tiba-tiba terlalu dekat. Membuat Nia bingung apa yang harus dia lakukan dengan sikap Angkasa yang seperti itu.
Nia menatap Angkasa yang dengan ceria bermain di tengah halaman bersama anak-anak. Nia segera mengaktifkan kamera di ponselnya dan merekam video Angkasa yang sedang asyik bermain secara diam-diam.
"Kalian beneran tunangan?" tanya Bu Melati pada Nia tiba-tiba, membuat Nia terkejut. Nia segera menghentikan aksinya merekam Angkasa diam-diam.
"Bisa dibilang begitu, Bu," kata Nia. Nia menoleh menatap Angkasa yang masih asyik bermain.
"Nia nggak nyangka bisa ketemu Aang lagi. Bahkan dengan takdir yang seperti ini. Sungguh... seperti mimpi," kata Nia sambil menatap Angkasa.
Bu Melati mengikuti kemana arah mata Nia tertuju. Bu Melati melihat seorang pria yang masa kecilnya sungguh menyedihkan. Bu Melati masih mengingatnya masa ketika Angkasa setiap sore menanti ibunya menjemputnya. Bu Melati tak sampai hati menyampaikan bahwa ibunya tak berniat menjemputnya sama sekali.
Ibu Angkasa pergi, dengan menitipkan Angkasa ke panti untuk diasuh orang lain. Ibunya berkata pada Bu Melati bahwa dirinya tak sanggup menghidupi Angkasa dan ingin memulai awal hidup baru tanpa Angkasa. Bu Melati kemudian mengurus semua berkas yang diperlukan termasuk surat pernyataan bahwa ibunya telah menyerahkan Angkasa sepenuhnya kepada pihak panti untuk diasuhkan kepada keluarga lain.
Sejak hari dirinya meninggalkan panti, ibu Angkasa tak pernah lagi datang atau menghubungi pihak panti untuk sekedar menanyakan keadaan Angkasa. Maka, saat pasangan Tuan dan Nyonya Mahendra ingin mengasuh Angkasa, Bu Melati memberitahukan fakta tentang ibunya pada Angkasa.
"Anak itu... sudah terlalu lama terluka," kata Bu Melati. Nia menoleh, menatap Bu Melati yang masih menatap Angkasa.
"Mungkin dia pikir, ibunya membuangnya. Padahal ibunya hanya ingin dia mendapat kehidupan yang layak," lanjut Bu Melati. Nia kembali menatap Angkasa.
"Doa ibunya dikabulkan Tuhan ya, Buk?" kata Nia. Bu Melati mengangguk.
"Memang sudah tugas kami untuk memberikan seleksi ketat terhadap orangtua asuh. Baik secara finansial dan moral," kata Bu Melati. Nia tertunduk.
"Ibuk memastikan, anak-anak disini mendapat orangtua asuh yang tidak hanya kuat secara materi tapi juga mental," lanjut Bu Melati.
"Karena menjaga anak, apalagi yang bukan darah daging sendiri, itu nggak mudah," kata Bu Melati. Nia kembali mengangkat kepalanya mengarahkan pandangannya pada Angkasa yang ternyata menatapnya dari halaman.
"Kalian... selalu Ibuk anggap anak Ibuk sendiri. Sampai kapanpun," kata Bu Melati sambil menatap Nia. Nia menoleh, menatap Bu Melati yang selalu memberi kasih sayang tanpa batas kepadanya selama di panti. Nia memeluk Bu Melati.
"Makasih ya, Buk. Udah merawat Nia dari bayi sampe besar," ucap Nia. Bu Melati mengangguk.
"Kalo kalian beneran tunangan, Ibuk ikut seneng," kata Bu Melati sambil melepaskan pelukannya. Nia tersenyum.
"Kebetulan mama jadi investor di perusahaan Tuan Mahendra. Trus, Nyonya Mahendra pengen jodohin Angkasa sama Nia," kata Nia mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi.
"Begitu. Takdir memang lucu," kata Bu Melati.
"Tapi, dulu Ibuk memang sering mikir kalo kalian bakalan menikah nantinya," kata Bu Melati.
"Jadi, sebenernya... diem-diem Ibuk doain kita biar nikah?" tanya Angkasa yang sudah berdiri di tangga teras.
"Eh?"
Bu Melati tersenyum.
"Kalian buruan sarapan. Katanya mau pulang," kata Bu Melati lalu berjalan masuk ke dalam panti.
Nia melirik ke arah Angkasa yang juga meliriknya.
"Makan. Lalu pulang," kata Angkasa sambil berjalan masuk mengikuti Bu Melati.
Nia melihat punggung Angkasa. Nia masih belum bisa terbiasa dengan status sebagai tunangan Angkasa. Selama ini, Angkasa adalah teman masa kecilnya. Nia tak pernah membayangkan akan menikah dengan Angkasa suatu hari nanti.
'Teman hidup dari teman masa kecil. Ku rasa nggak ada yang lebih baik dari ini,'
***