Lima tahun menikah, Stella merasa hidupnya sempurna bersama Abbas, suami yang penyayang. Kehadiran Annisa—yang diperkenalkan Abbas sebagai adik sepupu yatim piatu—bahkan disambut Stella dengan tangan terbuka layaknya adik kandung sendiri.
Namun, fatamorgana itu hancur saat Stella menemukan slip reservasi hotel di saku jas Abbas. Bukan sekadar perjalanan bisnis, slip itu mencantumkan paket Honeymoon Suite untuk Mr. Abbas & Mrs. Annisa.
Kebenaran pahit terungkap: adik sepupu yang datang ternyata adalah istri siri suaminya selama setahun terakhir. Terjebak dalam pengkhianatan di bawah atap yang sama, Stella harus memilih: bertahan demi janji suci yang telah ternoda, atau pergi demi harga diri saat Annisa mulai menuntut pengakuan sah sebagai istri kedua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
...Di sebuah rumah kecil yang pengap di pinggiran kota, ketegangan antara Abbas dan Annisa meledak. ...
...Suasana rumah yang sempit dan panas itu sangat kontras dengan kenyamanan apartemen mewah yang baru saja mereka tinggalkan....
...Abbas yang terbiasa hidup mewah mulai menyalahkan Annisa atas kemiskinannya. ...
...Ia duduk di ruang tamu yang sempit sambil menatap nanar ke arah koper-kopernya yang belum dibongkar....
..."Ini semua karena kamu, Annisa!" bentak Abbas, suaranya menggema di ruangan kecil itu. ...
..."Kalau saja kamu tidak mendesakku untuk segera menyingkirkan Stella, kalau saja kamu lebih sabar, kita tidak akan berakhir di lubang tikus seperti ini!"...
...Annisa yang sedang mencoba merapikan barang-barangnya terhenti. ...
...Matanya memerah, namun bukan lagi karena sedih, melainkan karena rasa muak yang mulai memuncak. ...
...Annisa mulai merasa menyesal karena Abbas ternyata tidak punya apa-apa tanpa Stella....
..."Kenapa jadi aku, Mas?" balas Annisa dengan suara meninggi. ...
..."Kamu yang tidak becus bekerja! Ternyata benar kata orang-orang, tanpa harta dan otak Stella, kamu itu cuma laki-laki yang tidak berguna! Aku pikir kamu kaya karena usahamu sendiri, ternyata kamu cuma benalu di hidup Stella!"...
...Mendengar kata-kata telak itu, wajah Abbas merah padam. ...
...Harga dirinya sebagai pria benar-benar diinjak-injak oleh wanita yang dulu dipujanya sebagai selingkuhan. ...
...Ia menyadari bahwa identitasnya sebagai "CEO hebat" hanyalah topeng yang kini sudah hancur berkeping-keping....
..."Sial!" umpat Abbas sambil meninju meja kayu yang sudah rapuh di depannya hingga menimbulkan bunyi berdentum....
...Ia merogoh sakunya, mencari sisa uang yang ia miliki, namun hanya menemukan beberapa lembar uang kertas yang tidak akan cukup untuk membiayai gaya hidup mewahnya bahkan untuk satu hari. ...
...Abbas menyadari pahitnya kenyataan: ia telah membuang berlian demi batu kali, dan sekarang ia terjebak di dasar jurang kemiskinan bersama wanita yang kini justru menjadi musuh dalam selimutnya sendiri....
...Rasa putus asa mulai menggerogoti akal sehat Abbas. ...
...Di tengah kemiskinan yang mencekik dan cacian Annisa, ia merasa satu-satunya jalan keluar adalah mendapatkan kembali hati Stella. ...
...Dengan sisa bahan bakar yang ada, Abbas melajukan mobilnya menuju ke rumah Stella dan berharap Stella mau rujuk. ...
...Ia merangkai kata-kata manis di kepalanya, berharap Stella yang dulu lembut akan luluh melihat penderitaannya....
...Sementara itu, Stella baru saja selesai bekerja. Ia melangkah keluar dari lobi perusahaan dengan bahu tegak, meski rasa lelah mulai terasa di punggungnya. Namun, langkahnya terhenti saat melihat sosok yang sangat familiar berdiri di samping mobil yang ia kenali....
...Khan menjemputnya. Pria itu bersandar pada pintu mobil dengan tangan bersedekap, menatap Stella dengan senyum tenang yang seolah mampu menghapus seluruh beban kerja seharian ini....
..."Khan, kenapa kamu di sini? Aku bisa pulang sendiri," ucap Stella sambil berjalan mendekat. ...
...Meski bibirnya melayangkan protes, matanya tidak bisa menyembunyikan rasa senang melihat kehadiran Askhan. ...
..."Bukankah jadwalmu di rumah sakit sangat padat hari ini?"...
...Askhan menegakkan tubuhnya dan membukakan pintu untuk Stella dengan gerakan yang sangat natural....
..."Tugas dokter adalah memastikan pasiennya tidak memaksakan diri," jawab Askhan tenang. ...
..."Dan sebagai pria yang mencium tanganmu tadi pagi, tugasku adalah memastikan kamu sampai di rumah dengan selamat untuk beristirahat. Ayo masuk, aku tidak menerima penolakan untuk kedua kalinya hari ini."...
...Stella terkekeh pelan dan akhirnya masuk ke dalam mobil. ...
...Tanpa mereka sadari, dari kejauhan, sebuah mobil tua yang dikendarai Abbas baru saja sampai di area tersebut....
... Abbas mencengkeram kemudinya dengan erat, matanya memerah melihat betapa bahagianya Stella saat berada di dekat Askhan—pria yang jauh lebih segalanya dibandingkan dirinya. ...
...Pemandangan itu bagaikan tamparan keras yang menyadarkan Abbas bahwa pintu maaf Stella mungkin sudah tertutup rapat dan terkunci dari dalam....
...Suasana yang tadinya tenang di depan lobi perusahaan seketika berubah mencekam. ...
...Abbas turun dari mobil dan menghampiri mereka berdua dengan langkah terburu-buru, wajahnya tampak kuyu dan dipenuhi keputusasaan yang dipaksakan....
..."Sayang, ayo kita rujuk. Aku minta maaf. Tolong kasih aku satu kesempatan lagi," ucap Abbas dengan suara gemetar, mencoba meraih tangan Stella seolah tidak terjadi apa-apa sebelumnya....
...Stella menggelengkan kepalanya dengan tegas. Ia mundur selangkah, menatap pria yang pernah ia cintai itu dengan rasa jijik yang tak lagi bisa disembunyikan....
..."Kamu sudah menghancurkan semuanya, Mas," desis Stella dingin. ...
..."Kamu berusaha membunuhku. Kamu meracuniku perlahan dan mengkhianatiku di rumah kita sendiri. Tidak ada kesempatan untuk monster seperti kamu."...
...Melihat Stella yang begitu keras, Abbas beralih menatap Askhan dengan tatapan penuh kebencian. Khan meminta Abbas untuk menjauhi Stella, melangkah maju untuk melindungi wanita itu di belakang punggungnya....
..."Kamu jangan ikut campur!" teriak Abbas yang sudah gelap mata karena cemburu dan harga diri yang terluka....
...Bugh!...
...Tanpa peringatan, Abbas melayangkan pukulannya ke wajah Khan. ...
...Pukulan itu mendarat telak di sudut bibir Askhan hingga pria itu terhuyung, namun Askhan tetap berdiri tegak, tak sedikit pun berniat membalas karena ia tahu kekerasan tidak akan menyelesaikan apa pun di depan Stella....
..."Hentikan!!" teriak Stella histeris. Ia segera menarik lengan Abbas agar menjauh. ...
..."Kamu tidak bisa berubah, Mas! Dan maaf, aku tidak mau rujuk! Pergi dari sini sebelum aku memanggil keamanan untuk menyeretmu ke penjara sekarang juga!"...
...Dengan napas memburu karena amarah, Stella mengajak Khan masuk ke dalam mobil, mengabaikan teriakan frustrasi Abbas yang masih memanggil namanya di belakang. ...
...Khan melajukan mobilnya dengan tenang, meski sudut bibirnya mulai mengeluarkan darah dan membiru....
...Di tengah perjalanan, Stella meminta berhenti. Ia tidak tega melihat Askhan terluka hanya karena melindunginya dari kegilaan mantan suaminya....
..."Berhenti di pinggir jalan itu sebentar, Khan," pinta Stella lembut....
...Setelah mobil berhenti, ia mengambil kotak P3K dari laci dasbor. ...
...Dengan tangan yang sedikit bergetar karena emosi yang tersisa, Stella mulai mengobati sudut bibir Khan yang terluka....
..."Maafkan aku, Khan. Gara-gara aku, kamu jadi terluka seperti ini," bisik Stella sambil menempelkan kapas alkohol dengan sangat hati-hati....
...Askhan hanya tersenyum tipis meski terasa perih. Ia menatap Stella dengan sorot mata yang menenangkan. ...
..."Luka ini tidak ada apa-apanya dibandingkan luka yang dia berikan padamu selama bertahun-tahun, Stella. Aku tidak apa-apa selama kamu aman."...
...Stella terdiam, matanya berkaca-kaca menatap ketulusan Askhan. ...
...Di pinggir jalan yang mulai temaram itu, Stella menyadari bahwa pembelaan Askhan jauh lebih berarti daripada ribuan kata maaf palsu yang diteriakkan Abbas tadi....
...Di dalam mobil yang terparkir di bawah temaram lampu jalan, suasana mendadak senyap. ...
...Hanya terdengar deru napas Stella yang masih sedikit memburu akibat kejadian tadi. ...
...Tangannya yang memegang kapas masih berada di dekat wajah Askhan, namun gerakan jemarinya terhenti seketika saat Askhan menatapnya dengan intensitas yang berbeda dari biasanya....
..."Stella, ayo kita menikah," ucap Khan dengan nada suara yang rendah namun sarat akan kesungguhan. Tidak ada keraguan dalam matanya, seolah kalimat itu sudah mengendap di hatinya selama bertahun-tahun....
...Stella sedikit terkejut atas ajakan Khan. Matanya membelalak, dan ia perlahan menarik tangannya kembali, menunduk menatap kotak P3K di pangkuannya. ...
...Jantungnya berdegup jauh lebih kencang daripada saat ia menghadapi Abbas tadi....
..."Tapi Khan, aku hanya seorang janda," bisik Stella dengan suara bergetar. ...
...Ia merasa tidak pantas. Bayang-bayang kegagalan rumah tangganya dan statusnya yang baru saja resmi berpisah membuatnya merasa memiliki beban yang besar untuk pria sehebat Askhan. ...
..."Kamu dokter yang sukses, masa depanmu cerah. Sedangkan aku, baru saja keluar dari reruntuhan yang mengerikan."...
...Askhan tidak membiarkan Stella menjauh. Ia meraih kedua tangan Stella, menggenggamnya dengan hangat, memaksa wanita itu untuk kembali menatapnya....
..."Stella, aku tidak peduli," tegas Askhan. "Aku sudah menyukaimu dari dulu, bahkan jauh sebelum pria itu merusak hidupmu. Selama ini aku hanya bisa berdiri di bayang-bayang, melihatmu terluka tanpa bisa berbuat banyak karena statusmu."...
...Askhan menghela napas, jemarinya mengusap punggung tangan Stella dengan lembut. ...
..."Aku ingin melindungimu dari Abbas, dari siapa pun yang berniat menyakitimu lagi. Aku tidak melihat statusmu, Stella. Aku melihat wanita tangguh yang ingin kuhabiskan sisa hidupku bersamanya. Beri aku izin untuk menjadi tempatmu pulang, bukan hanya sebagai doktermu, tapi sebagai suamimu."...
...Air mata yang sejak tadi ditahan Stella akhirnya jatuh juga. ...
...Di tengah luka di bibir Askhan yang baru saja ia obati, Stella menemukan sebuah penyembuhan bagi jiwanya sendiri. ...
...Kehadiran Askhan bukan sekadar pelarian, melainkan jawaban atas doa-doa yang pernah ia sampaikan di saat-saat paling gelap dalam hidupnya. ...
...Di bawah langit malam itu, tawaran Askhan terasa seperti sebuah jangkar yang siap menjaganya agar tidak lagi hanyut oleh badai....