Terlempar ke dunia yang sama sekali berbeda, gadis itu harus bertahan hidup sebagai pelayan di istana kerajaan. Takdir mempertemukannya dengan sang Raja—pemimpin yang tampak dingin namun menyimpan hati yang tersembunyi. Di antara aturan ketat dan rahasia istana, cinta tumbuh melampaui batas dunia dan kedudukan. Sebuah kisah bahwa cinta sejati tak pernah memandang siapa dirimu, melainkan hatimu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon naura hasna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Bayangan Keraguan
Setelah berhasil keluar dari wilayah Kawah Berasap, suasana di sepanjang perjalanan mulai terasa sedikit lebih baik. Tanah yang gersang perlahan mulai memunculkan rumput-rumput hijau, udara yang tadinya penuh asap kini kembali segar, dan bau belerang yang menusuk sudah tidak lagi tercium. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa kekuatan tiga permata yang telah mereka kumpulkan mulai bekerja, mengembalikan keseimbangan alam yang terganggu.
Namun meski lingkungan terasa lebih ramah, suasana di dalam rombongan terasa tidak sepenuhnya tenang. Kemenangan atas manifestasi Morgrath tadi membawa rasa lega, tapi juga menyadarkan mereka betapa besar kekuatan yang sedang mereka hadapi. Setiap langkah yang diambil kini terasa lebih berat, seolah beban harapan seluruh kerajaan sudah tergantung di pundak mereka.
Selama dua hari perjalanan menuju arah timur laut, tempat tersembunyinya Permata Angin, Elara sering kali terlihat termenung. Sejak Morgrath menyebutkan bahwa ia merasakan energi yang berbeda dari dalam dirinya, pertanyaan-pertanyaan baru terus muncul di benaknya. Mengapa ia memiliki kepekaan khusus terhadap kekuatan alam Aetheris? Apakah keberadaannya dari dunia lain ini justru menjadi alasan mengapa gangguan energi terjadi, atau justru menjadi kunci penyelesaiannya?
Suatu sore, saat mereka berhenti beristirahat di tepi hutan yang teduh, Valerius mendekati Elara yang sedang duduk sendirian memandang langit. Ia membawa cangkir berisi air segar, lalu duduk di samping gadis itu.
“Kau terlihat banyak berpikir akhir-akhir ini,” katanya lembut. “Masihkah terganggu dengan ucapan Morgrath saat itu?”
Elara menoleh, lalu mengangguk perlahan sambil menerima air itu. “Ya. Ia berkata bahwa saya bukan bagian dari dunia ini, dan energi saya bisa mengganggu keseimbangan. Kadang saya bertanya-tanya… apakah dengan kehadiran saya di sini justru membuka celah bagi kegelapan untuk masuk? Apakah jika saya tidak ada, semuanya akan tetap aman seperti sedia kala?”
Mendengar pertanyaan itu, Valerius segera memegang kedua tangan Elara dan menatap matanya dengan pandangan tegas namun penuh kasih sayang.
“Dengarkan aku baik-baik, Elara. Gangguan ini sudah ada jauh sebelum kau terlempar ke sini. Morgrath telah terkurung selama ratusan tahun, dan kekuatannya perlahan melemahkan kurungannya seiring berjalannya waktu. Kehadiranmu bukan penyebabnya, melainkan jawaban dari takdir yang mengirimkan bantuan tepat pada waktunya. Jika kau tidak ada, mungkin kami sudah terjebak dalam keraguan dan kehilangan arah.”
Namun sebelum Elara sempat menjawab, suara Kaelen memanggil mereka dari arah depan, disertai ekspresi yang serius.
“Yang Mulia, datanglah melihat ini. Ada sesuatu yang aneh di jalan setapak ke depan.”
Mereka segera berdiri dan mengikuti Kaelen menuju jalur yang akan dilalui. Di hadapan mereka terbentang jalan yang sama seperti yang tertera di peta, namun di sisi kanan dan kirinya mulai terlihat bayangan-bayangan samar yang bergerak mengikuti langkah mereka. Awalnya dianggap hanya pantulan cahaya pohon, namun semakin jauh melangkah, bayangan itu semakin jelas membentuk wujud-wujud yang mereka kenal.
Di depan mereka, tiba-tiba pemandangan berubah. Jalan setapak itu lenyap, digantikan oleh halaman istana yang megah, namun suasananya terasa dingin dan penuh ketegangan. Di tengah kerumunan bangsawan dan penasihat, terlihat sosok Valerius yang berdiri sendiri, sementara para pejabat itu menunjuk ke arahnya dengan pandangan penuh kemarahan dan kekecewaan.
“Karena dia, Raja kita melupakan tugasnya!” teriak salah satu suara. “Karena dia, kekuatan kegelapan bangkit kembali! Singkirkan dia, atau kerajaan ini akan hancur!”
Elara tertegun melihat pemandangan itu, jantungnya terasa dicengkeram kuat. Ia memandang ke samping, melihat Valerius yang juga terlihat kaku, seolah terjebak dalam ilusi yang sama.
“Ini bukan kenyataan,” bisik Valerius, berusaha meyakinkan dirinya sendiri. “Ini hanya ilusi yang dikirimkan Morgrath untuk memecah belah kita.”
Namun ilusi itu semakin terasa nyata. Dari balik kerumunan, muncul sosok yang menyerupai Elara sendiri, namun dengan wajah dingin dan tatapan kosong. Ia melangkah mendekati Valerius, lalu berbicara dengan suara yang persis sama namun penuh sarkasme.
“Ini bukan kenyataan,” bisik Valerius, berusaha meyakinkan dirinya sendiri. “Ini hanya ilusi yang dikirimkan Morgrath untuk memecah belah kita.”
Namun ilusi itu semakin terasa nyata. Dari balik kerumunan, muncul sosok yang menyerupai Elara sendiri, namun dengan wajah dingin dan tatapan kosong. Ia melangkah mendekati Valerius, lalu berbicara dengan suara yang persis sama namun penuh sarkasme.
“Lihatlah, Valerius. Semua orang benar. Aku hanyalah pengganggu yang datang dari tempat asing. Aku membawa perubahan, tapi perubahan itu justru mendatangkan bencana. Jika kau mencintaiku, berarti kau harus memilih antara aku atau kerajaannya. Bisakah kau benar-benar melupakan kewajibanmu hanya demi seorang gadis yang bahkan tidak berasal dari duniamu sendiri?”
Suara itu bergema di udara, menusuk langsung ke keraguan yang selama ini tersembunyi di lubuk hati mereka masing-masing. Bagi Valerius, terlintas pertanyaan: apakah ia telah terlalu memihak perasaannya hingga mengabaikan tanggung jawabnya sebagai pemimpin? Bagi Elara, rasa bersalah dan takut menjadi beban semakin membesar di dadanya.
Sementara itu, ilusi juga menyelimuti Kaelen dan para prajurit. Mereka melihat wujud musuh yang tampak seperti kawan sendiri, membuat mereka ragu untuk mengangkat senjata atau melangkah maju. Kabut tebal mulai turun, membuat jarak di antara mereka terasa semakin jauh, seolah dipisahkan oleh tembok yang tak terlihat.
“Jangan percaya apa yang kau lihat!” seru Valerius sekuat tenaga, mencoba menembus suara-suara yang memutarbalikkan pikiran. “Itu hanya gambaran dari apa yang paling kau takuti, bukan kenyataan!”
Namun ilusi itu semakin kuat. Di hadapan Elara, muncul bayangan ibunya dan keluarganya dari dunia asal, memanggilnya dengan suara sedih.
“Kau lihat?” bisik suara Morgrath yang terdengar lembut namun menusuk. “Keraguan adalah musuh terbesar kalian. Selama hati kalian masih menyimpan tanya, selama ikatan itu masih bisa diragukan, maka kalian tidak akan pernah bisa menguasai kekuatan permata sepenuhnya. Melepaskan saja beban itu, dan semuanya akan berakhir dengan damai.”
Namun tepat saat Elara hampir mengikuti panggilan ilusi itu, ia merasakan denyutan hangat yang tiba-tiba muncul di dadanya. Itu adalah sisa energi dari ketiga permata yang ia bawa dalam ikatan batinnya dengan Valerius. Ia teringat janji yang mereka ucapkan, perjalanan yang telah mereka lalui bersama, dan cara Valerius selalu mempercayainya meski banyak orang yang meragukannya.
Ia menggeleng keras, menutup matanya rapat-rapat dan berteriak di dalam hatinya: “Ini bukan kebenaran! Saya tahu siapa saya, dan saya tahu mengapa saya ada di sini!”
Dengan segenap kekuatan yang tersisa, ia membuka matanya kembali dan memancarkan cahaya putih terang dari dalam dirinya sendiri, bukan hanya dari permata yang dibawanya. Cahaya itu menyapu seluruh ilusi di sekelilingnya, membakar kabut dan menghancurkan bayangan-bayangan palsu itu satu per satu.
Begitu ilusi menghilang, jalan di antara mereka terbuka kembali. Valerius segera berlari dan memeluk Elara erat-erat, keduanya terengah-engah seolah baru saja melewati pertarungan yang lebih berat daripada menghadapi kekuatan fisik apa pun.
“Kau baik-baik saja?” tanya Valerius dengan nada cemas.
Elara mengangguk, napasnya masih terasa pendek namun tatapannya kembali jernih dan mantap. “Saya baik-baik saja. Ia mencoba menyerang kita dari dalam, bukan dari luar. Ia tahu bahwa jika kita tetap bersatu, ia tidak akan pernah bisa mengalahkan kita.”
Kaelen dan para prajurit juga perlahan memulihkan kesadaran mereka, menyadari bahwa apa yang mereka alami hanyalah jebakan untuk memecah belah kepercayaan.
“Morgrath sudah mengubah strateginya,” kata Valerius sambil memandang ke arah jalan yang terbentang di depan dengan pandangan waspada. “Ia menyadari bahwa kekuatan fisik tidak cukup, jadi ia akan menyerang kelemahan yang paling tersembunyi: keraguan, rasa takut, dan rasa bersalah. Kita harus lebih waspada lagi, bukan hanya dengan mata dan telinga, tapi juga dengan hati.”
Mereka melanjutkan perjalanan dengan langkah yang lebih mantap, namun kini dengan kewaspadaan baru. Jalan menuju tempat Permata Angin tidak lagi terlihat berbahaya secara kasat mata, namun mereka tahu bahwa bahaya yang paling sulit dikalahkan bukanlah yang terlihat, melainkan yang bisa menyusup ke dalam pikiran dan perasaan.
Di kejauhan, puncak bukit tempat tersimpannya permata keempat mulai terlihat samar. Namun mereka juga sadar, ujian sesungguhnya baru saja dimulai — ujian untuk tetap percaya satu sama lain, bahkan ketika segalanya tampak berusaha memisahkan mereka.