NovelToon NovelToon
Bukan Menantu Pilihan Umi

Bukan Menantu Pilihan Umi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Perjodohan
Popularitas:508
Nilai: 5
Nama Author: Mrs. Fmz

Apakah selembar kain jilbab cukup untuk menghapus masa lalu yang dianggap cacat?
Bagi Hana, pernikahan adalah gerbang lembaran suci. Namun, kenyataan menamparnya begitu menginjakkan kaki di kediaman suami. Sebagai wanita modern, ia dinilai miskin ilmu agama dan tidak bernasab terhormat. Sang Umi pun menganggapnya sebagai perusak masa depan putra kesayangan.
Kini, Hana harus menghadapi penolakan dingin dan upaya mertua mengembalikan kekasih lama suaminya. Ia hanya ingin bertahan demi membuktikan keikhlasan berbenah diri.
Jika gagal, Hana akan kehilangan pria tercinta sekaligus merelakan kesehatan jiwanya hancur. Di tengah jepitan konflik, sang suami dipaksa memilih antara bakti orang tua atau melindungi belahan jiwanya.
Akankah ketulusan Hana melunakkan kerasnya hati sang Umi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrs. Fmz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31: Ketika Sarah Mengambil Alih Posisi Istri

Ketika Sarah mengambil alih posisi istri pengasuh pesantren secara sepihak di depan umum membuat Hana hanya bisa tersenyum getir menyaksikan kelancangan wanita itu. Tanpa permisi, Sarah merebut map dokumen hukum adat dari tangan Azzam, lalu mengibas kipas sutra hijaunya dengan lagak seorang nyonya besar pemilik yayasan. Ruang pamer butik muslimah yang semula tenang mendadak berubah riuh oleh bisik bisik tajam para staf yang merasa geram melihat intimidasi mental tersebut. Kehadiran Azzam yang berlumur debu jalanan justru dimanfaatkan oleh Sarah untuk menyudutkan posisi Hana sebagai pihak yang dituduh tidak peduli pada keselamatan keluarga surau.

"Azzam sengaja mengorbankan kesehatannya demi mengejarmu ke kota, sementara Umi sedang berjuang melawan maut di ruang bedah," seru Sarah dengan nada suara melengking yang sengaja dikeraskan agar didengar lingkungan sekitar.

Hana melirik perban putih yang membungkus telapak tangan kanan suaminya, merasakan secuil denyut keprihatinan yang langsung ia tepis dengan keangkuhan sikap. "Saya tidak pernah meminta Ustaz Azzam untuk datang ke sini, jadi silakan bawa calon suami Anda ini pulang sekarang juga sebelum saya memanggil petugas keamanan pertokoan."

"Hana, demi tuhan, kedatangan saya ke sini bukan untuk memperkeruh suasana melainkan untuk menyelesaikan kesalahpahaman ini," sela Azzam dengan kepasrahan batin yang mendalam.

"Kesalahpahaman apa lagi yang ingin Anda luruskan sewaktu wanita ini sudah berani menentukan tanggal pengosongan posisi saya?" sahut Hana sambil menunjuk wajah Sarah dengan ujung jemari yang kokoh.

Sorot mata Hana yang dingin laksana es kutub membuat nyali Azzam terasa menciut, menguapkan seluruh wibawa yang biasanya ia miliki di depan ratusan santriwati. Sarah yang merasa mendapat angin segar langsung melangkah mendekati deretan gaun pengantin sutra putih, lalu menyentuh kain brokat tersebut dengan gerakan tangan yang sangat meremehkan estetika kota. Tindakan provokatif itu merupakan sebuah deklarasi perang terbuka yang sengaja dilemparkan Sarah untuk memancing kemarahan fisik Hana di hadapan suaminya sendiri. Namun, sang wanita kota tetap berdiri tegak dengan kepala terangkat tinggi, memancarkan kedewasaan emosi seorang pengusaha mandiri yang tidak mudah runtuh oleh drama murahan.

Sementara itu, di koridor rumah sakit daerah yang diliputi bau karbol menyengat, desas desus mengenai keretakan rumah tangga sang ustaz muda sudah menyebar luas ke kalangan keluarga besar pengurus. Ayah Sarah tampak sibuk mengumpulkan tanda tangan para sesepuh yayasan guna melegitimasi draf pemecatan Azzam dari struktur kepemimpinan utama jika sang putra mahkota menolak menikahi putrinya. Konspirasi domestik yang digerakkan oleh kelompok oportunis ini berjalan sangat masif memanfaatkan momen kelengahan Umi Kalsum yang masih belum sadarkan diri pasca tindakan pembedahan jantung. Keberpihakan materi para donatur kolot secara perlahan mulai menggeser nilai nilai ketulusan perjuangan surau yang dahulu dibangun oleh almarhum ayah Azzam dengan darah dan air mata.

"Kita harus bergerak cepat sebelum Azzam membawa kembali wanita pembangkang itu ke dalam lingkungan pesantren ini," bisik ayah Sarah kepada salah seorang kerabat senior surau yang duduk di kursi panjang.

Lelaki paruh baya itu mengangguk setuju, menyimpan berkas bermaterai resmi tersebut ke dalam tas kulit hitamnya dengan senyuman penuh kelicikan sosial. "Azzam terlalu lemah sebagai pemimpin, dia membutuhkan pendamping yang tunduk total pada aturan adat leluhur kita laksana Sarah."

"Pertemuan pleno besok malam akan menjadi pembuktian mutlak bagi silsilah suci keluarga kita," tambah ayah Sarah seraya memandangi pintu ruang operasi yang masih tertutup rapat.

Atmosfer pengkhianatan yang kental di rumah sakit berbanding lurus dengan ketegangan yang terjadi di dalam butik modern Hana yang kian memuncak. Azzam yang menyadari kelancangan Sarah segera menarik lengan wanita itu agar menjauh dari pajangan busana muslimah milik istrinya dengan gerakan kasar yang jarang ia perlihatkan. Tindakan tegas Azzam seketika membuat Sarah memekik kecil, memandang sang ustaz muda dengan raut muka yang tidak percaya akan menerima perlakuan tegas di depan rivalnya. Hana menyaksikan drama domestik tersebut dengan tatapan kosong, merasa bahwa semua pembelaan yang ditunjukkan oleh suaminya kini sudah tidak memiliki arti apa pun bagi masa depannya.

"Keluar dari butik ini sekarang juga, Sarah, jangan pernah menggunakan nama Umi untuk memuaskan ketamakan pribadimu," bentak Azzam dengan suara rendah yang bergetar hebat menahan amarah mutlak.

Sarah menghempaskan tangannya dengan geram, wajah ayunya memerah padam akibat luapan rasa malu yang teramat sangat dalam. "Kamu akan menyesali tindakan kasarmu ini, Azzam, karena besok malam seluruh hak asuh yayasanmu akan dicabut total oleh dewan sesepuh."

"Saya tidak peduli pada jabatan duniawi tersebut selama saya bisa menjaga keadilan di atas syariat yang lurus," tegas Azzam tanpa ada keraguan sedikit pun di wajahnya.

Sarah membalikkan tubuhnya, melangkah cepat keluar dari pintu kaca butik dengan menghentakkan kaki jengklitnya laksana seorang nyonya besar yang kalah bertaruh. Setelah kepergian Sarah, kesunyian yang mencekam kembali menguasai ruangan pamer busana, menyisakan sepasang suami istri yang saling berhadapan dalam jarak psikologis yang sangat jauh. Azzam mencoba melangkah mendekati Hana, bermaksud menjelaskan draf surat pengunduran diri yang masih tersimpan di dalam saku jubah abu tuanya yang kotor. Namun, langkah kakinya terhenti ketika Hana mengangkat tangan kanan sebagai isyarat mutlak agar suaminya tidak memperkecil jarak fisik di antara mereka.

"Hana, saya mohon dengarkan penjelasan saya mengenai draf wasiat Umi yang sengaja dimanfaatkan oleh keluarga Sarah untuk menghancurkan kita," lirih Azzam dengan sepasang mata yang mulai berkaca kaca.

Hana menarik napas panjang, mencoba mengusir rasa sesak yang menyumbat rongga dadanya akibat akumulasi kebohongan yang terlalu sering ia telan. "Semua sudah terlambat, Mas, karena saat ini fokus hidup saya adalah menyelamatkan martabat diri saya dari cemoohan masyarakat pertokoan ini."

"Saya siap melepas seluruh fasilitas pesantren demi hidup bersamamu di ruko kecil ini, Hana," janji Azzam dengan nada suara yang teramat tulus penuh kepasrahan.

"Janji manismu itu terasa hambar sewaktu saya mengingat cangkir teh pertama yang beraroma dingin dari ibundamu," ucap Hana dengan senyuman pahit yang menusuk kalbu Azzam.

Kata kata Hana laksana hantaman gada besi yang meruntuhkan sisa sisa kekuatan mental yang dimiliki oleh sang ustaz muda malam itu. Azzam tertunduk lesu, memandangi perban tangannya yang mulai merembeskan warna merah darah akibat terbukanya kembali luka lecet pasca ketegangan fisik barusan. Hana yang melihat hal tersebut segera memanggil Neti untuk mengambilkan kotak pertolongan pertama, menunjukkan bahwa sisi kemanusiaan dalam dirinya belum sepenuhnya mati oleh dendam. Meskipun ia membantu mengobati luka fisik suaminya, namun gerakan jemari tangan Hana terasa sangat kaku tanpa disertai kehangatan cinta laksana seorang perawat asing yang menjalankan tugas mekanis.

Setelah proses pengobatan selesai, Azzam bangkit berdiri dengan tubuh yang tampak kian ringkih akibat didera kelelahan fisik dan tekanan batin yang bertubi tubi. Ia melangkah gulai menuju pintu keluar butik, memandangi wajah Hana untuk terakhir kalinya sebelum kembali ke rumah sakit daerah menghadapi sidang pleno keluarga besar. Hana mengunci kembali pintu kaca dari dalam, bersandar pada dinding marmer dengan air mata yang akhirnya luruh dalam keheningan sore kota besar yang mulai meredup. Ia tahu bahwa keputusan mempertahankan jarak ini akan memicu badai konflik yang jauh lebih besar, namun cemburu yang tertahan demi menjaga syariat kini telah bertransformasi menjadi kekuatan mutlak untuk mandiri.

Malam kembali merayap membawa hawa dingin yang menusuk tulang, mengiringi kepulangan Azzam ke lingkungan rumah sakit dengan berkas keputusan pleno yang kian memberat di sakunya. Sesampainya di depan ruang perawatan, ia dikejutkan oleh kehadiran seluruh jajaran pengurus senior asrama putra yang sudah duduk melingkar menghadapi ayah Sarah. Sebuah pengumuman sepihak mengenai rencana pernikahan darurat antara Azzam dan Sarah telah ditempelkan di papan informasi utama yayasan tanpa persetujuan tertulis dari sang pengasuh utama. Keadaan darurat ini sengaja diciptakan untuk memaksa posisi Azzam agar bertekuk lutut di bawah kendali modal finansial para sesepuh kolot.

Azzam mengepalkan kedua belah tangannya, melangkah mantap menembus lingkaran para pengurus senior dengan tatapan mata yang memancarkan kilatan perlawanan mutlak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!