Blurb
"Yang kubenci selama 6 tahun, ternyata malaikat tak bersayap"
Alina membenci Bu Kirana. Seorang guru SD sederhana yang dinikahi Papa dua tahun setelah Mama berpulang.
Selama enam tahun, Alina menolak kehadirannya. Alina menyia-nyiakan makanan yang Ibu masak, menyebarkan cerita yang menyakitkan, bahkan berteriak di depan semua orang: "Maaf Bu, aku tidak bisa memanggilmu Ibu."
Kirana tidak pernah membalas. Ia tidak pernah meninggikan suara. Ia hanya tetap ada. Memasak makanan yang sama setiap pagi, berjalan kaki menjemput Alina saat hujan, menjahit kancing baju Alina yang lepas sampai larut malam.
Sampai suatu hari, Papa kehilangan segalanya. Mansion dijual, teman-teman menghilang, orang-orang yang dulu memanggil "Tuan Aditya" kini berpaling.
Yang tetap tinggal hanya Kirana.
Perempuan yang diam-diam menjual kalung pemberian Papa, menjual motor tuanya, bekerja tiga waktu dalam sehari... hanya agar Alina tetap bisa makan, tetap bisa sekolah.
Semuanya terlambat Alina sadari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: PENYELAMATAN DI TENGAH KEGELAPAN
...BAB 18...
...PENYELAMATAN DI TENGAH KEGELAPAN...
“LEPASKAN AKU RAKA! TOLONNG…”
Teriakan Alina menggema memecah kesunyian sore yang mulai kelabu itu. Suaranya terdengar parau, serak, dan penuh kepanikan yang mencekam. Tubuhnya gemetar hebat saat punggungnya terdesak rapat ke dinding bangunan tua yang sudah lama kosong, permukaan temboknya dingin, kasar, dan penuh debu halus yang menempel di kulit serta bajunya. Napas Raka yang berat, bercampur bau rokok membuat seluruh bulu kuduk Alina berdiri tegak karena rasa jijik dan ketakutan yang meluap-luap.
“Teriak saja sepuasnya, tidak ada orang yang datang melindungi mu sekarang,” bisik Raka dengan nada suara yang rendah, kasar, dan penuh niat buruk, tepat di samping telinga Alina. Tangannya yang besar dan kasar mencengkeram kedua bahu gadis itu dengan kekuatan yang menyakitkan, sampai membuat Alina merasa tulang bahunya seakan mau patah. Tanpa belas kasihan sedikit pun, Raka menarik keras kerah baju seragam sekolah yang dipakai Alina. Sobek! Bagian bahu kiri baju itu robek lebar, memperlihatkan kulit bahu Alina yang putih bersih dan halus. Raka tersenyum lebar dengan tatapan mata yang jahat dan penuh nafsu, membuat hati Alina makin ciut ketakutan.
“Papamu dulu memang berkuasa, penuh kesombongan dan selalu meremehkanku dan keluargaku, sekarang sudah tidak punya apa-apa lagi. Jabatannya hilang, harta habis, nama baik pun sudah rusak,” ucap Raka sambil tertawa sinis. “Jadi jangan harap ada orang yang akan datang menolongmu sekarang, Alina. Kamu sudah sendirian, dan sekarang aku bisa membalas perlakuan Papamu padaku.”
Air mata mengalir deras membasahi pipi mulus Alina, jatuh satu per satu membasahi bagian baju yang sudah kotor penuh debu. Ia memejamkan mata rapat-rapat, tubuhnya kaku tak berdaya, perasaan jijik dan takut bercampur menjadi satu rasa sakit yang luar biasa di dada.
Selama ini, hidupnya selalu dilindungi dengan sempurna. Ia selalu dijemput dan diantar dengan mobil mewah, selalu dikawal oleh pengawal pribadi ke mana pun ia pergi, selalu hidup dalam kenyamanan dan keamanan yang penuh. Namun hari ini, di sudut gang yang sepi dan kotor ini, ia merasa seperti binatang buruan yang sudah terpojok dan tidak punya jalan keluar. Alina berusaha sekuat tenaga mendorong dada Raka dengan kedua tangannya yang kecil dan lemah, namun usahanya sama sekali sia-sia. Tubuh Raka lebih besar darinya.
"Ternyata apa yang dibilang Papa benar. Kau memang anak berandalan Raka! Pantas saja_ Papa selalu melarangku untuk dekat denganmu dulu!" tegas Alina, dengan deraian air mata. "Aku nyesel udah pernah suka sama kamu!" ungkap Alina, nafasnya tersengal.
"Huh! Benarkah? Tapi sekarang aku puas melihat kebangkrutan keluargamu, Alin!" seringainya.
"Lepaaaskan aku Rakaaa!" teriak Alina.
Saat wajah Raka makin mendekat, bibirnya hampir saja menyentuh pipi Alina yang basah air mata.
Namun tiba-tiba dari ujung gang yang sempit itu terdengar suara langkah kaki yang cepat, berat, dan sangat tegas. Disusul dengan sebuah bentakan lantang, keras, dan penuh wibawa yang membuat Raka serta merta refleks menoleh dengan kaget.
“HEH! LEPASKAN DIA!”
Di mulut gang itu, berdiri seorang pemuda tinggi tegap, postur tubuh atletis. Ia mengenakan seragam putih abu-abu SMA Al Azhar, dengan jaket hitam yang terbuka resletingnya, rambutnya pendek rapi, hitam tebal, dan tatapan matanya tajam, dingin, namun penuh keberanian. Itulah Farhan, siswa kelas akhir SMA Al Azhar, sekaligus kakak tingkatnya Dimas. Saat itu, Farhan memang sedang lewat di daerah itu, ia baru saja selesai membeli buku pelajaran tambahan di toko buku kecil di ujung jalan, tidak pernah menyangka akan melihat pemandangan yang mengerikan di dalam gang sempit itu.
Melihat ada orang lain yang datang, wajah Raka berubah marah dan kesal. Ia melepaskan cengkeramannya di bahu Alina, lalu melangkah maju menghadang Farhan dengan sikap yang sombong dan menantang.
“Minggir kamu, anak muda! Ini urusan pribadi kami, tidak ada urusanmu di sini. Lebih baik kamu pergi selagi masih aman, sebelum kamu dapat celaka!” ancam Raka dengan suara menggelegar, ia mengira Farhan hanyalah siswa sekolah biasa yang lemah dan mudah ditakut-takuti.
Namun Farhan sama sekali tidak gentar. Ia melangkah maju perlahan, matanya tetap menatap tajam ke arah Raka, tanpa rasa takut sedikit pun. Farhan bukan siswa biasa, ia adalah juara karate tingkat provinsi yang sudah berlatih bela diri sejak masih berusia sepuluh tahun. Tubuhnya yang kuat dan teknik bela dirinya yang mahir sudah sering menyelamatkan dirinya maupun orang lain dari bahaya.
“Urusan kamu menyakiti perempuan lemah, itu bukan urusan pribadi. Itu perbuatan pengecut, dan aku tidak akan diam saja melihatnya,” jawab Farhan tegas. “Aku beri kesempatan sekali saja, pergi dari sini dan jangan pernah mendekati dia lagi. Kalau tidak, kamu yang akan menyesal.”
Raka makin marah mendengar tantangan itu. Tanpa berpikir panjang, ia langsung mengayunkan kepalan tangannya yang besar ke arah wajah Farhan dengan kekuatan penuh. Namun, dengan gerakan yang cepat, luwes, dan terlatih, Farhan dengan mudah menghindari serangan itu. Ia memutar tubuhnya sedikit, lalu menggunakan tenaga pinggang untuk memberikan satu tendangan keras tepat ke dada Raka.
Bukh!
Suara benturan tubuh terdengar keras. Raka terlempar mundur beberapa langkah, sampai akhirnya jatuh terjerembap ke tanah berdebu dengan wajah merah padam karena kesakitan dan kaget. Ia berusaha bangkit kembali, tapi Farhan sudah berdiri tepat di depannya dengan sikap siap bertarung. Satu gerakan tangan saja dari Farhan, sudah cukup membuat Raka sadar betapa besar perbedaan kekuatan di antara mereka.
Melihat ia sama sekali tidak akan bisa menang, Raka akhirnya menelan rasa malunya. Ia melotot tajam ke arah Alina dan Farhan, lalu menggeram dengan suara kesal.
“Kamu pikir ini selesai begitu saja? Awas kalian! Aku tidak akan membiarkan ini berlalu begitu saja!” teriak Raka, lalu dengan cepat ia bangkit dan lari tertatih-tatih meninggalkan gang itu, takut diserang lagi oleh Farhan.
Setelah sosok Raka lenyap dari pandangan, suasana kembali hening. Farhan segera berbalik badan, lalu berjalan cepat menghampiri Alina yang masih bersandar lemas di dinding, tubuh gadis itu masih gemetar hebat, wajahnya pucat pasi, dan matanya masih berkaca-kaca karena ketakutan yang belum hilang.
“Kamu tidak apa-apa, Nona?” tanya Farhan dengan nada suara yang lembut dan perhatian, ia tidak berani mendekat terlalu dekat agar tidak membuat Alina merasa takut lagi.
Alina mencoba membuka mulut untuk menjawab, tapi suaranya hilang sama sekali. Seluruh tenaganya habis terkuras karena rasa takut yang luar biasa, ditambah ia pun sudah tidak makan dan kurang minum sejak pagi hari. Tubuhnya terasa sangat lemas, kepalanya terasa berputar dan berat. Ia hanya bisa menggeleng pelan, lalu perlahan kakinya kehilangan kekuatan, tubuhnya mulai melorot mau jatuh ke tanah.
Farhan yang sigap langsung berlari maju, menopang tubuh Alina dengan kedua tangannya agar tidak jatuh. Saat wajah gadis itu terlihat jelas di dekat matanya, hati Farhan sedikit terkejut. Ia mengenali wajah itu. Wajah cantik dengan ciri khas yang sama persis… Farhan ingat betul, setahun lalu saat rapat pertemuan orang tua dan wali murid di Yayasan Pendidikan Al Azhar, gadis ini pernah datang ke sekolah untuk mengambil laporan hasil belajar Dimas. Saat itu, Farhan yang sedang membantu petugas administrasi sempat melihat nama di kartu identitasnya: Alina, kakak tiri dari Dimas Aditya, teman sekelas dan adik tingkat yang sangat dihargai Farhan.
“Kamu… Kamu Alina, kakak tirinya Dimas kan?” tanya Farhan pelan, memastikan kecurigaannya.
Alina hanya mengangguk lemah, matanya sudah mulai terasa berat untuk dibuka. Rasa lelah fisik yang luar biasa, rasa lelah batin karena masalah keluarga yang tiada habisnya, ditambah rasa lapar yang sudah ditahan berjam-jam, semuanya berkumpul menjadi satu beban berat di tubuhnya. Sebelum sempat mengucapkan sepatah kata pun, pandangan matanya perlahan menjadi kabur, lalu tubuhnya ambruk, dan akhirnya ia pingsan di pelukan Farhan.
Farhan kaget setengah mati. Ia memegang tubuh Alina yang dingin dan lemas itu dengan hati-hati, bingung dan tidak tahu harus berbuat apa. Ia sama sekali tidak tahu dimana tempat tinggal Dimas sekarang, nomor ponsel Dimas pun ia tidak punya, karena Dimas memang tidak punya ponsel. Di sekolah, ia hanya mengenal Dimas sebagai teman dan adik kelas yang baik, tapi tidak pernah tahu detail kehidupan pribadi maupun tempat tinggal keluarganya.
Setelah berpikir sejenak dengan cepat, Farhan mengambil keputusan yang paling tepat. Ia tidak mungkin meninggalkan Alina yang pingsan begitu saja di tempat sepi itu. Ia mengangkat tubuh gadis itu dengan hati-hati, lalu berjalan keluar dari gang sempit itu menuju jalan raya, untuk segera membawanya ke klinik kesehatan terdekat yang jaraknya tidak jauh dari sana.
Sesampainya di klinik kecil itu, perawat segera memeriksa kondisi Alina. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa Alina hanya pingsan karena kelelahan fisik yang ekstrem, tekanan batin yang berat, serta kekurangan cairan dan makanan. Setelah diberi obat penenang, cairan infus ringan, dan diberi makanan lunak, perlahan-lahan kesadaran Alina kembali pulih.
Saat Alina sudah bisa duduk dengan baik, Farhan duduk di samping ranjang perawatannya, lalu bertanya dengan sopan.
“Syukurlah kamu sudah sadar, Alina. Maaf kalau tindakanku tadi membuatmu kaget. Sekarang kamu sudah merasa lebih baik?”
Alina mengangguk pelan, wajahnya masih tampak lesu namun sudah ada sedikit warna merah di pipinya.
“Terima kasih banyak… Tanpa kamu, aku tidak tahu apa yang akan terjadi sama aku. Terima kasih sudah menolongku,” ucap Alina dengan suara lembut penuh rasa terima kasih yang tulus.
“Sama-sama. Kebetulan saja aku lewat di sana,” jawab Farhan ramah. “Sekarang, boleh aku minta alamat rumahmu? Aku akan segera mengantarmu pulang dengan selamat, supaya keluargamu tidak cemas mencarimu.”
Mendengar kata ‘pulang’ dan ‘keluarga’, ekspresi wajah Alina seketika berubah menjadi sedih dan muram. Ia menundukkan pandangannya ke bawah, jari-jarinya saling memutar gugup.
“Aku… Aku tidak mau pulang ke rumah,” jawab Alina pelan, suaranya terdengar sedih dan enggan. “Di rumah itu, tidak ada tempat yang nyaman buatku, tidak ada orang yang benar-benar peduli sama aku. Aku mohon… Tolong antarkan aku saja ke kosanku. Di sana aku bisa istirahat dengan tenang sendirian.”
Farhan terdiam melihat kesedihan yang terlihat jelas di wajah gadis itu. Ia tidak bertanya lebih lanjut, ia paham pasti ada masalah berat yang sedang dialami Alina dan keluarganya. Sebagai orang yang sudah menolongnya, ia menghargai keinginan dan keputusan Alina.
“Baiklah, aku mengerti. Kalau itu keinginanmu, aku akan antarkan ke tempat kosanmu. Tapi pastikan tempatnya aman dan nyaman ya,” ucap Farhan lembut.
Bersambung ....
Suami istri tidur terpisah, istri sakit tidak tau, istri begadang tidak tau, lalu buat apa menikaaaahhhh..???? 🙄🙄🙄