Di tengah hutan terlarang yang selalu dijauhi manusia, seorang gadis yatim piatu bernama Evelyn Eirwen hidup sendirian dalam kesunyian. Hidupnya sederhana mencari tanaman obat, berburu, dan bertahan hidup di gubuk kecil peninggalan ibunya.
Hingga pada suatu malam badai, Evelyn menemukan seorang pria misterius bersimbah darah di tepi sungai. Pria itu pendiam, dingin, dan penuh luka aneh yang tidak pernah Evelyn lihat sebelumnya. Meski takut, Evelyn tetap merawatnya dengan tulus tanpa mengetahui siapa dirinya sebenarnya.
Namun Evelyn tidak sadar. Pria yang ia selamatkan adalah Evander Nocturne Raja Vampir berdarah murni yang ditakuti seluruh dunia malam.
Bagi Evander, manusia hanyalah makhluk lemah yang pantas dibenci. Tetapi kehangatan sederhana dari seorang gadis hutan perlahan menghancurkan dinding dingin yang telah ia bangun selama ratusan tahun.
Sampai suatu hari Evelyn menghilang. Dan malam itu, seluruh dunia akhirnya mengetahui satu hal mengerikan. Raja Vampir telah murka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali
“Ciel, aku butuh jubah dan obat penawar racun,” ucap Evander setelah selesai mengisap racun di tangan Evelyn.
Bekas kemerahan di tangan gadis itu mulai perlahan memudar, walaupun wajah Evelyn masih terlihat pucat karena ketakutan dan syok.
“Baik, Yang Mulia.”
Ciel segera menundukkan kepala lalu menghilang dalam sekejap.
Sementara itu, Evander perlahan melepaskan tangan Evelyn.
Tatapannya sempat berhenti beberapa detik pada wajah gadis itu yang masih terlihat bingung dan takut.
Namun sebelum Evelyn sempat berbicara.
“Kaizer,” panggil Evander dingin. “Buat portal. Kita akan kembali ke kastel.”
“Baik, Yang Mulia.”
Kaizer langsung mengangkat tangannya.
Seketika lingkaran sihir berwarna hitam kemerahan muncul di udara. Aura gelap perlahan berputar membentuk portal besar tepat di tengah ruangan.
Evelyn langsung membelalakkan mata melihatnya.
“Itu… apa…?” gumamnya pelan.
Namun Evander tidak menjawab. Tatapannya kini mengarah ke dua bawahannya yang lain.
“Dan Raven,” ucap Evander dingin. “Bantu Luthen menghancurkan tempat ini sekarang juga.”
Mata Raven langsung menyala tajam.
“Baik, Yang Mulia.”
Brak!
Dalam sekejap, suara ledakan mulai terdengar dari berbagai penjuru bangunan.
Jeritan para vampir memenuhi desa perdagangan manusia itu. Sementara Evelyn semakin ketakutan mendengar semuanya.
“Apa… apa yang terjadi…?” lirihnya pelan.
Namun Evander justru berjalan mendekat ke arahnya. Dan tanpa memberi peringatan. Tubuh Evelyn langsung diangkat ke dalam pelukannya.
“Eh?!”
Evelyn refleks terkejut hingga memegang pakaian Evander.
“K-kamu mau membawaku ke mana?!”
“Ke tempat yang aman,” jawab Evander singkat.
Sebelum Evelyn sempat bertanya lagi, Evander melangkah masuk ke dalam portal hitam tersebut bersama dirinya.
Dan dalam hitungan detik. Keduanya menghilang dari desa perdagangan manusia itu.
Evelyn benar-benar tidak tahu dirinya berada di mana sekarang.
Tubuhnya terasa ringan. Angin dingin menerpa wajahnya cukup kuat hingga rambut panjangnya berantakan.
Dan saat Evelyn perlahan membuka matanya. Mata gadis itu langsung membelalak.
Dia berada di udara. Tepat berada dalam gendongan Evander.
“A-aku…?!” Evelyn langsung panik sambil memegang erat pakaian Evander. “K-kita terbang?!”
Di bawah mereka terlihat hutan, sungai, dan pegunungan yang tampak sangat kecil dari atas langit.
Evander tetap terlihat tenang seolah hal itu biasa baginya.
“Jangan bergerak terlalu banyak,” ucapnya datar. “Kau bisa jatuh.”
Ucapan itu justru membuat Evelyn semakin pucat.
“Aku tidak mau jatuh!”
Untuk pertama kalinya sejak tadi, kedua tangan Evelyn langsung memeluk erat leher Evander karena ketakutan.
Sementara itu.
Seseorang tiba-tiba muncul terbang di samping mereka.
“Yang Mulia, ini jubah dan obat penawarnya.”
Ciel menyerahkan sebuah jubah hitam tebal dan botol kecil berisi cairan merah gelap.
Evelyn kembali membelalakkan mata.
“O-orangmu ikut terbang juga?!” ucapnya syok.
Ciel hanya diam sambil menundukkan kepala hormat kepada Evander.
Sementara Evander langsung mengambil jubah itu lalu menyelimuti tubuh Evelyn agar tidak kedinginan terkena angin.
Setelah itu, dia menyerahkan botol kecil tadi kepada Evelyn.
“Minum sekarang obat penawarnya.”
Evelyn menatap botol itu ragu-ragu.
“Ini benar-benar obat…?” tanyanya pelan.
Tatapan Evander langsung mengarah padanya.
“Kalau aku ingin mencelakaimu,” ucap Evander tenang, “kau sudah mati sejak pertama kali kita bertemu.”
Evelyn langsung terdiam. Tidak bisa membantah.
Dengan tangan sedikit gemetar, Evelyn akhirnya meminum obat itu perlahan. Rasa pahit langsung memenuhi mulutnya hingga membuat wajahnya sedikit berubah.
“Pahit…”
Ciel yang melihat itu diam-diam menahan keterkejutannya.
Ini pertama kalinya dia melihat Raja Vampir mereka: menggendong manusia, menyelimuti manusia, bahkan memikirkan obat untuk manusia itu. Dan lebih mengejutkannya lagi, Evander membiarkan semuanya begitu saja.
**
Setelah satu jam penuh perjalanan di udara, pemandangan di bawah mereka mulai berubah.
Hutan lebat perlahan berganti dengan wilayah luas yang dipenuhi bangunan batu hitam dan taman besar.
Dan dari kejauhan.
Terlihat sebuah bangunan mewah berdiri megah di tengah wilayah itu.
Menara-menara tinggi menjulang ke langit, sementara dinding kastelnya terlihat gelap namun sangat indah.
Kabut tipis mengelilingi area tersebut, membuat tempat itu terlihat seperti kerajaan dari dunia lain.
Pagi yang perlahan menjelang siang membuat Evelyn mulai merasa sedikit mengantuk dan lelah.
Efek obat penawar yang diberikan Evander mulai bekerja di tubuhnya.
Kepalanya terasa ringan. Namun saat melihat bangunan besar itu, Evelyn tetap membelalakkan matanya kagum.
“Rumah siapa itu?” tanya Evelyn pelan kepada Evander.
Tatapan merah Evander mengarah lurus ke kastel megah tersebut.
“Itu bukan rumah,” jawabnya tenang.
Evelyn sedikit bingung.
“Lalu?”
“Itu kastel.”
“Kastel?” ulang Evelyn pelan.
Lalu beberapa detik kemudian, mata Evelyn perlahan membesar seperti baru menyadari sesuatu.
“Jangan bilang…” gumamnya pelan.
Tatapan Evander akhirnya menoleh ke arah Evelyn.
“Itu tempat tinggalku.”
Evelyn langsung membeku. Tatapannya kembali melihat kastel besar di depan sana dengan wajah syok.
“Ka-kamu tinggal di sana…?” tanyanya pelan tidak percaya.
Evander hanya menjawab singkat,
“Aku Raja Vampir, Evelyn.”
Kalimat itu membuat Evelyn langsung terdiam total. Dan untuk pertama kalinya. Dia benar-benar menyadari sebesar apa sosok Evander Nocturne sebenarnya.
“Jadi… di sana semuanya vampir?” tanya Evelyn pelan sambil menatap kastel besar di kejauhan.
“Benar,” jawab Evander tenang.
Evelyn langsung menelan ludah gugup.
Tatapannya perlahan beralih ke Ciel yang masih terbang tidak jauh dari mereka.
“Lalu… orang-orangmu itu juga—”
“Iya,” potong Evander. “Mereka juga vampir.”
Evelyn langsung terdiam.
Entah kenapa tubuhnya kembali sedikit menegang. Dia masih belum bisa melupakan kejadian pagi tadi di desa perdagangan manusia.
Tatapan para vampir itu. Cara mereka melihat manusia. Dan ucapan mereka tentang darah.
Namun Evander kembali membuka suara.
“Tapi mereka tidak akan meminum darahmu.”
Tatapan merah gelapnya perlahan mengarah pada Evelyn.
“Karena kami berbeda dari vampir lainnya.”
Evelyn terlihat bingung.
“Berbeda bagaimana?”
“Klan Nocturne memiliki aturan,” jawab Evander tenang. “Kami tidak memburu manusia sembarangan.”
Ciel yang mendengar itu langsung menundukkan kepala hormat.
“Klan Nocturne melindungi wilayah manusia sejak ratusan tahun lalu,” tambahnya pelan.
Evelyn sedikit terkejut mendengarnya.
“Melindungi… manusia?”
Evander mengangguk kecil.
“Tidak semua vampir menikmati pembantaian.”
Angin kembali berembus cukup kuat saat mereka semakin mendekati kastel. Tatapan Evelyn perlahan kembali melihat bangunan besar itu.
Walaupun masih takut.
Entah kenapa, ucapan Evander tadi membuat hatinya sedikit lebih tenang. Namun beberapa detik kemudian, Evelyn kembali teringat sesuatu.
“Tunggu…” gumamnya pelan sambil menatap Evander. “Kalau semuanya vampir…”
Wajahnya perlahan memucat.
“A-aku satu-satunya manusia di sana?”
“Iya,” jawab Evander tenang. “Kau akan menjadi satu-satunya manusia di sana.”
Evelyn langsung membeku.
Tatapannya perlahan kembali melihat kastel besar yang semakin dekat di depan mereka.
Dan sekarang.
Perasaan gugupnya justru semakin besar.
“Dan tidak ada yang akan berani menyentuhmu,” lanjut Evander.
“K-kenapa begitu?” tanya Evelyn bingung.
Tatapan merah gelap Evander perlahan turun ke arah tangan Evelyn.
“Tanganmu.”
Evelyn refleks ikut melihat tangannya sendiri.
Di bagian pergelangan yang tadi terkena racun vampir, kini muncul tanda berwarna hitam kemerahan yang samar membentuk simbol aneh.
Mata Evelyn langsung membesar.
“I-ini apa…?”
“Simbol pemilik Raja Vampir,” jawab Evander tenang.
“Hah?!”
Evelyn langsung panik sambil mencoba mengusap tanda itu.
“Ke-kenapa ada tanda seperti ini di tanganku?!”
“Itu muncul saat aku mengisap racun vampir dari tubuhmu.”
Evelyn masih terlihat syok.
“Ta-tapi kenapa disebut tanda pemilik?!”
Ciel yang terbang di samping mereka langsung menundukkan kepala lebih dalam.
“Itu simbol yang hanya dimiliki seseorang yang berada dalam perlindungan langsung Raja Vampir,” jelasnya pelan.
“Siapa pun yang melihat tanda itu… akan tahu bahwa Anda milik Yang Mulia.”
Wajah Evelyn langsung memerah campur panik.
“A-apa?!”
Tatapannya langsung menoleh cepat ke arah Evander.
“Aku bukan barang!”
Untuk pertama kalinya.
Sudut bibir Evander sedikit terangkat samar.
“Tenang saja,” ucapnya tenang. “Aku tidak menganggapmu barang.”
“Lalu kenapa simbolnya seperti itu?!”
“Karena bangsa vampir sangat menjaga wilayah dan kepemilikannya.”
Jawaban datar itu membuat Evelyn semakin tidak tenang. Sementara Ciel diam-diam menatap mereka dengan keterkejutan kecil.
Sudah ratusan tahun bersama Evander.
Dan ini pertama kalinya dia melihat Raja Vampir mereka menjelaskan sesuatu sepanjang itu kepada seseorang.