NovelToon NovelToon
Terjerat Perjodohan Sang CEO Mafia

Terjerat Perjodohan Sang CEO Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Aliansi Pernikahan / Bad Boy / Action
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Orang_Cuman_Cerita

​"Aku bisa membeli apa pun di dunia ini, termasuk dirimu dan kebebasanmu. Mulai detik ini, kamu adalah milikku."
​Kehidupan tenang Aletta hancur lebur dalam semalam ketika ayahnya menjaminkan dirinya demi melunasi hutang triliunan rupiah. Tanpa bisa menolak, Aletta dipaksa menandatangani kontrak perjodohan dengan Xavier—seorang CEO miliarder berdarah dingin yang memimpin perusahaan raksasa di siang hari, dan menjadi ketua sindikat mafia paling ditakuti di dunia bawah tanah pada malam hari.
​Di dalam mansion mewah yang terasa seperti sangkar emas berlapis berlian, Aletta harus bertahan dari sikap arogan dan posesif sang suami. Xavier awalnya hanya menganggap Aletta sebagai jaminan hutang belaka. Namun, sifat keras kepala dan ketangguhan Aletta perlahan mengusik hati es sang penguasa kegelapan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Orang_Cuman_Cerita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Langkah Pertama Sang Ratu

Gema seruan puluhan anak buah Xavier perlahan memudar di lobi mansion, menyisakan keheningan magis yang menggetarkan udara. Aletta masih berdiri di anak tangga terbawah, tangannya berada dalam genggaman hangat dan kokoh suaminya. Tatapan mata orang-orang yang berlutut di hadapannya bukan lagi tatapan meremehkan atau mengasihani, melainkan ketundukan mutlak.

​Xavier mengangkat tangannya sedikit, memberi isyarat tak kasatmata. Dalam hitungan detik, seluruh pekerja dan pengawal bangkit berdiri, lalu membubarkan diri kembali ke pos masing-masing dengan gerakan teratur dan nyaris tanpa suara.

​Hanya tersisa Diego yang berdiri tak jauh dari mereka.

​"Siapkan ruang pertemuan utama, Diego," titah Xavier memecah keheningan. "Para Capo dari empat divisi sudah tiba, bukan?"

​"Benar, Bos. Mereka sedang menunggu di ruangan," jawab Diego seraya membungkuk kecil sebelum berlalu pergi.

​Aletta menoleh menatap Xavier. Jantungnya kembali berdegup sedikit lebih cepat. Capo adalah sebutan untuk para pemimpin divisi atau bos bawahan dalam struktur sindikat mafia.

​"Kau ada pertemuan penting. Aku akan kembali ke kamar," ucap Aletta pelan, berniat menarik tangannya.

​Namun, Xavier justru mengeratkan genggamannya. Pria itu menarik pinggang Aletta, memaksanya untuk tetap berada di sisinya.

​"Tidak, Sayang. Kamarmu bukan lagi tempat persembunyian," bisik Xavier, matanya berkilat penuh dominasi. "Kau baru saja dinobatkan sebagai Ratu. Dan seorang Ratu tidak bersembunyi saat rajanya sedang mengumpulkan para panglima perang. Kau ikut denganku."

​Aletta menelan ludah. "Tapi, Xavier... aku tidak tahu apa pun tentang urusan bisnismu."

​"Kau tidak perlu tahu. Kau hanya perlu duduk di sampingku, bernapas, dan membiarkan mereka melihat siapa yang berkuasa atas hidup dan mati mereka sekarang," potong Xavier tegas. Pria itu menuntun Aletta melangkah menyusuri lorong sayap kiri mansion yang berujung pada sepasang pintu baja berlapis kayu jati.

​Begitu pintu terbuka, udara di dalam ruangan itu terasa sangat berat. Ruang pertemuan tersebut didesain layaknya ruang rapat eksekutif, dengan meja marmer panjang di tengahnya. Empat pria paruh baya dengan setelan jas mahal, bekas luka yang tak bisa disembunyikan, dan aura membunuh yang kental, sedang duduk mengelilingi meja.

​Melihat kedatangan Xavier, keempat pria itu serentak berdiri dan menundukkan kepala. Namun, saat ekor mata mereka menangkap sosok Aletta yang berjalan anggun di sisi bos mereka, keterkejutan dan pandangan meremehkan melintas kilat di wajah para petinggi mafia itu.

​Xavier menarik kursi utama di ujung meja, lalu dengan gestur yang sangat tidak terduga, ia menarik satu kursi lain di sebelah kanannya dan mempersilakan Aletta duduk lebih dulu.

​Para Capo saling berpandangan dalam diam. Di dunia mereka, wanita hanyalah pajangan atau pelacur yang tidak pernah diizinkan menginjakkan kaki di ruang sakral ini.

​"Duduk," perintah Xavier dingin seraya menempati kursinya sendiri.

​Keempat pria itu kembali duduk.

​"Aku mengumpulkan kalian untuk membahas pembagian wilayah Pelabuhan Timur setelah El Cuervo hancur," Xavier memulai rapat dengan suara baritonnya yang datar, memancarkan otoritas mutlak. "Namun sebelum itu, perkenalkan. Ini Aletta Vassiliev. Istriku. Mulai detik ini, dia memiliki otoritas yang sama denganku atas klan ini."

​Keheningan yang canggung menyelimuti ruangan. Salah satu Capo—pria bertubuh gempal dengan bekas sayatan melintang di rahangnya yang bernama Roman—berdeham keras, menatap Xavier dan Aletta bergantian.

​"Maafkan kelancangan saya, Bos," suara Roman terdengar berat dan serak. "Kami menghormati pernikahan Anda. Tapi kami mendengar rumor... bahwa pria tua yang bertanggung jawab atas kematian Nyonya Besar lima tahun lalu, ayah dari wanita ini, masih dibiarkan bernapas. Klan menuntut darah dibayar darah, Bos. Jika wanita ini yang membuat Anda menjadi lunak—"

​DOR!

​Suara tembakan yang memekakkan telinga meledak di dalam ruangan.

​Aletta terkesiap hebat, matanya membelalak ngeri. Asap tipis mengepul dari ujung laras pistol perak yang kini berada di tangan Xavier. Pistol itu diarahkan lurus, dan pelurunya baru saja menembus ujung sandaran kursi Roman, hanya berjarak satu inci dari pelipis pria gempal itu.

​Roman membeku pucat pasi, keringat dingin sebesar biji jagung menetes dari dahinya. Tiga Capo lainnya menahan napas, tak berani bergerak sedikit pun.

​"Lanjutkan kalimatmu, Roman," desis Xavier, suaranya sangat tenang, justru itulah yang membuatnya terdengar seperti malaikat maut. "Satu kata lagi kau berani menyebut istriku sebagai 'wanita ini', peluru berikutnya akan bersarang di lidahmu."

​Aletta menatap Xavier yang membelanya tanpa ragu, mempertaruhkan kesetiaan anak buahnya sendiri. Aletta menyadari satu hal: Xavier bisa saja membunuh orang ini, tapi itu akan memicu keretakan internal. Jika ia ingin bertahan hidup di dunia suaminya, ia tidak bisa membiarkan Xavier menjadi satu-satunya tameng. Ia harus menjadi pedang.

​Dengan tangan yang sedikit bergetar di bawah meja, Aletta menarik napas panjang. Ia menegakkan punggungnya, menyingkirkan sisa-sisa gadis lemah yang selama ini menjajah dirinya.

​"Turunkan senjatamu, Suamiku," ucap Aletta tiba-tiba. Suaranya terdengar jernih, memotong ketegangan di udara.

​Xavier menoleh perlahan, sebelah alisnya terangkat melihat ketegasan di mata istrinya, namun ia mematuhi ucapan itu. Xavier meletakkan pistolnya ke atas meja marmer.

​Aletta lalu menatap lurus ke arah Roman dengan pandangan sedingin es.

​"Kau menuntut darah, Roman?" tanya Aletta, nada suaranya mengalun tenang namun penuh intimidasi. "Kau pikir sebuah peluru di kepala adalah hukuman yang setimpal untuk seorang pengkhianat? Kematian itu terlalu cepat. Kematian adalah sebuah kedamaian."

​Roman menelan ludah, tidak berani menyela. Para Capo lainnya menatap Ratu baru mereka dengan pandangan yang perlahan berubah dari meremehkan menjadi waspada.

​"Ayahku... pria tua yang kau bicarakan itu," Aletta melanjutkan, menahan rasa perih di hatinya saat mengucapkan kata-kata itu, "kini berada di fasilitas isolasi maksimum Tartarus. Dia tidak akan pernah melihat matahari, tidak akan mendengar suara manusia, dan akan membusuk di dalam kegelapan hingga kewarasannya terkikis habis setiap detiknya. Itu bukan pengampunan. Itu adalah siksaan seumur hidup."

​Aletta mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Roman seolah pria itu hanyalah kerikil di bawah sepatunya. "Atau kau merasa kebijaksanaan suamiku dalam memberikan hukuman yang lebih menyiksa ini keliru? Kau meragukan Bosmu, Roman?"

​Skakmat.

​Roman buru-buru menundukkan kepalanya dalam-dalam, tubuhnya bergetar ketakutan karena ia baru saja secara tidak langsung dituduh meragukan keputusan Xavier. "T-tidak, Nyonya! S-saya sama sekali tidak meragukan Bos. Saya memohon ampun atas kelancangan lidah saya."

​"Bagus," potong Aletta dingin, lalu menyandarkan kembali punggungnya ke kursi dengan anggun. "Kalau begitu, mari kita lanjutkan pembahasan tentang Pelabuhan Timur."

​Di sebelahnya, bibir Xavier melengkung membentuk senyuman miring yang sangat mematikan. Kepuasan, kebanggaan, dan obsesi yang semakin gila terpancar dari mata kelabu pria itu saat menatap Aletta. Istri kecilnya baru saja membungkam seorang bos mafia tanpa perlu melepaskan satu peluru pun.

​Xavier mengangkat gelas air minumnya. "Kalian dengar Ratu kita. Buka peta Pelabuhan Timur sekarang."

​Rapat itu berlanjut, namun dinamikanya telah berubah total. Tidak ada lagi yang berani melirik Aletta dengan sebelah mata. Di balik gaun elegan dan wajah cantiknya, Aletta perlahan mulai menyerap racun dari dunia Xavier, mengubah dirinya menjadi sosok yang sama berbahayanya dengan sang iblis itu sendiri.

1
Nurwana
go go go Alleta....
Nurwana
semangat Alleta......
Nurwana
kayaknya makin berat hidupmu alleta....
Nurwana
alleta......
Nurwana
jangan cepat percaya alleta, selidiki dulu tentang kebenarannya. jangan sampai itu surat tipuan dari musuh suamimu.
Nurwana
saya mampir Thor.
Orang_Cuman_Cerita: Ok Semagat Ya 💪
total 1 replies
fatmawati (pipit)
disini aletta blm menguasai dunia IT apa untuk menemukan siapa yg menjadi dalang penjebakan
Orang_Cuman_Cerita
GOKIL💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!