NovelToon NovelToon
Bahkan Di 2 Kehidupan Aku Tidak Bisa Memiliki Mu

Bahkan Di 2 Kehidupan Aku Tidak Bisa Memiliki Mu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Reinkarnasi / Romantis
Popularitas:229
Nilai: 5
Nama Author: Velin Agustiningtias

Selama 500 tahun, seorang arwah wanita dikutuk oleh dewa menjadi “Roh Bulan” dan disegel di dalam lukisan kuno di sebuah kuil akibat kesalahan fatal yang dilakukannya di masa lalu. Hidup dalam kesunyian abadi, ia hanya bisa melihat dunia dari balik lukisan tanpa mampu menyentuh siapa pun.
Hingga suatu malam, seorang pria tanpa sengaja membebaskannya dari segel kuno. Semakin lama bersama, arwah wanita itu mulai jatuh cinta padanya. Namun keduanya perlahan menyadari bahwa mereka ternyata telah terikat sejak 500 tahun lalu, dan pria itu mungkin adalah alasan sebenarnya di balik kutukan Roh Bulan yang menghancurkan hidup mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 18 Pelukan Pertama di Taman Senja

Malam mulai turun di luar rumah sakit. Cahaya lampu kota memantul samar dari jendela kamar rawat Ravin yang masih dipenuhi suara alat monitor berdetak pelan. Ayah Ravin berdiri dekat jendela dengan wajah lelah, sementara ibu Ravin duduk di samping ranjang anaknya sambil menggenggam tangan Ravin erat seperti takut kehilangan lagi.

“Kita nggak bisa terus begini,” ucap ayah Ravin pelan namun berat. “Aku sudah cari informasi rumah sakit luar negeri yang mungkin bisa menangani kondisi Ravin lebih baik.”

Ibu Ravin langsung menggeleng cepat. Matanya memerah karena terlalu sering menangis beberapa hari terakhir.

“Tidak,” katanya lirih namun tegas. “Perjalanan sejauh itu terlalu berisiko untuk kondisi Ravin sekarang.”

“Tapi kalau di sini tidak ada perkembangan?” ucap ayahnya lagi, suaranya menahan frustasi.

“Aku yakin anak kita akan sadar,” jawab ibu Ravin cepat, seolah kalimat itu satu-satunya yang membuatnya tetap bertahan. “Ravin pasti bangun. Dia nggak mungkin ninggalin kita.”

Ayah Ravin terdiam lama, lalu menghela napas pasrah. “Kalau begitu, kalian pulang saja malam ini. Aku yang jaga dia.”

Selina yang sejak tadi berdiri di sudut ruangan langsung menoleh. “Ayah nggak apa-apa sendiri?” tanyanya pelan.

“Ayah cuma ingin menemani kakakmu,” jawabnya singkat.

Ibu Ravin akhirnya berdiri, tapi tangannya masih enggan melepaskan tangan Ravin. Ia menunduk lama, lalu berbisik hampir tak terdengar.

“Aku akan kembali besok. Kamu harus bangun ya…”

Selina menatap ke arah ranjang dengan mata basah. “Kak Ravin…” ucapnya lirih.

Namun sebelum mereka benar-benar keluar, ibu Ravin tiba-tiba berhenti di pintu. Alisnya mengernyit, seperti baru menyadari sesuatu yang sejak tadi mengganggu pikirannya.

“Ngomong-ngomong…” katanya pelan, “Arum ke mana ya?”

Selina langsung terdiam, lalu ikut berpikir. “Iya… sejak hari itu dia nggak terlihat lagi.”

Ruangan kembali hening. Nama itu menggantung aneh di udara, seperti ada sesuatu yang hilang tanpa jejak.

“Semoga dia baik-baik saja,” gumam ibu Ravin pelan sebelum akhirnya benar-benar pergi.

Suasana berbeda terasa di kediaman Aruna. Malam sudah tenang ketika Ravin duduk sendiri di ruang dalam, tatapannya kosong menatap lantai seolah pikirannya terlalu penuh untuk disusun. Semua cerita dari Arkara masih berputar di kepalanya—tentang cinta yang berantakan, politik kerajaan, dan nama Arum yang terus muncul di setiap celah.

Pintu terbuka pelan.

Selir Ratih masuk membawa nampan kecil berisi kue sederhana.

“Aku membuat ini untukmu,” ucapnya lembut sambil tersenyum tipis.

Ravin menatapnya beberapa detik. “Kenapa repot-repot?”

Selir Ratih hanya tersenyum lebih hangat. “Kamu selalu suka ini sejak kecil,” katanya pelan.

Ravin menerima kue itu lalu menatapnya lama sebelum menggigit sedikit. Rasanya sederhana, tapi anehnya menenangkan. Seperti ada sesuatu yang familiar di dalamnya, meski ia sendiri tidak tahu apa.

“Bagaimana perasaanmu hari ini?” tanya Selir Ratih lembut.

“Berantakan,” jawab Ravin jujur.

Wanita itu tertawa kecil, lalu mengusap rambutnya pelan. “Kalau kamu lelah, istirahatlah.”

Sentuhan itu membuat Ravin terdiam sesaat. Hangat. Terlalu hangat untuk sesuatu yang ia rasa tidak pantas ia dapatkan.

“Jangan pergi tanpa kabar lagi,” ucap Selir Ratih tiba-tiba, suaranya sedikit bergetar. “Ibu takut kehilanganmu.”

Ravin menunduk. Kata “ibu” itu terasa asing, tapi entah kenapa tidak membuatnya ingin menolak.

“Aku akan coba,” ucapnya pelan.

Namun di dalam pikirannya, satu hal justru semakin jelas.

Kalau ia benar-benar Aruna… maka hidup ini bukan miliknya.

Di ruang latihan ballerina, suasana mulai sepi. Musik piano masih terdengar pelan, namun Dewi sudah duduk di lantai kayu dengan napas berat, rambutnya basah keringat setelah latihan panjang yang tak ada habisnya.

“Kamu belum pulang?” suara Juna terdengar dari pintu.

Dewi menoleh sebentar lalu menghela napas. “Latihan diulang terus gara-gara aku kemarin nggak datang.”

Juna mendekat lalu mengulurkan tangan. “Ayo makan dulu.”

Dewi menggeleng pelan. “Aku capek banget.”

Juna menatapnya lama. “Kamu belum makan dari tadi.”

“Sebentar lagi,” jawab Dewi sambil tersenyum kecil, tapi jelas dipaksakan.

Juna tidak memaksa lagi, hanya mengangguk pelan. “Kalungnya cocok untukmu,” katanya kemudian.

Dewi memegang kotak kecil di tangannya. “Terlalu mahal,” ucapnya lirih. “Aku jadi nggak enak pakainya.”

“Aku membelinya karena aku ingin kamu memakainya,” jawab Juna tenang.

Dewi terdiam, lalu hanya mengalihkan pandangan sambil menyembunyikan senyum kecilnya.

Namun lelahnya terlalu berat. Setelah beberapa saat, ia akhirnya pamit pulang.

Sementara itu di dunia kerajaan, Ravin tiba di kediaman keluarga Arum. Di halaman, Ajeng sudah bersiap dengan pakaian bangsawan, wajahnya tenang namun jelas ada ketegangan kecil di matanya.

“Pangeran Aruna,” katanya sopan.

Ravin hanya mengangguk singkat.

“Putri Ajeng akan ke istana,” ucap pelayan di sampingnya. “Untuk persiapan pernikahan dengan putra mahkota.”

Ravin tidak bereaksi banyak. Matanya malah mencari-cari seseorang lain.

“Arum di mana?” tanyanya langsung.

Ajeng sedikit terdiam, lalu menjawab pelan. “Di taman belakang.”

Tanpa menunggu lama, Ravin langsung berjalan melewati mereka.

Ajeng menatap punggungnya lama. Ada sesuatu yang tidak ia mengerti di dalam dirinya sendiri saat melihat cara Aruna mencari Arum seperti itu.

Taman belakang dipenuhi cahaya senja yang hangat. Arum duduk sendiri di tepi kolam, wajahnya cemberut sejak tadi, seperti menahan sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.

Lalu langkah cepat terdengar.

“Arum!”

Ia langsung menoleh.

“Ravin…” ucapnya pelan.

Ravin tersenyum kecil lalu mendekat. Namun sebelum sempat berkata apa-apa—

Arum langsung berlari dan memeluknya erat.

Ravin membeku.

“Aku khawatir,” ucap Arum lirih. “Kamu di istana itu… aku nggak tenang.”

Ravin terdiam cukup lama, lalu perlahan mengangkat tangannya dan membalas pelukan itu.

“Aku baik-baik saja,” katanya pelan.

Di kejauhan, Ajeng yang baru saja keluar dari rumah melihat pemandangan itu. Tatapannya berhenti cukup lama, seolah ada sesuatu yang tidak bisa ia pahami sepenuhnya.

Malam di istana mulai dipenuhi persiapan besar. Aula utama terang oleh cahaya emas. Yudra berdiri diam dalam pakaian kebesaran, wajahnya tenang tapi matanya kosong.

Besok adalah ritual pernikahan.

Sang ratu tersenyum puas di tengah ruangan, menikmati setiap persiapan yang berjalan sempurna.

“Semua akhirnya kembali ke jalurnya,” ucapnya pelan.

Yudra tidak menjawab.

Namun di dalam dadanya, ada sesuatu yang semakin berat.

Di taman kecil rumah Arum, malam itu Ravin dan Arum duduk berdampingan.

“Masih kepikiran istana?” tanya Arum.

Ravin tertawa kecil. “Bukan cuma itu.”

“Apa lagi?”

Ravin menatap langit lama. “Aku merasa semua ini terlalu rumit.”

Arum diam mendengarkan.

“Aku nggak ingat siapa Aruna sebenarnya,” lanjut Ravin pelan. “Tapi dunia ini seolah memaksaku jadi dia.”

Arum menunduk. “Aku juga nggak ingat banyak.”

Keheningan turun di antara mereka.

Lalu Ravin berkata pelan, “Kalau Aruna dan Arum asli masih ada… ke mana mereka sekarang?”

Arum terdiam.

Pertanyaan itu menggantung lama di udara malam.

“Aku takut jawabannya nggak sesederhana itu,” katanya akhirnya.

Ravin menghela napas. “Aku juga.”

Dan malam itu, di bawah langit yang tenang, keduanya mulai sadar bahwa mereka tidak hanya terjebak di dunia lain… tapi juga di kehidupan yang bukan milik mereka sejak awal.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!