Asha, seorang gadis SMA yang gemar membaca, tanpa sengaja menemukan sebuah novel romantis bergenre dark yang langsung menarik perhatiannya. Awalnya hanya iseng, ia mulai membaca kisah kelam penuh obsesi, cinta yang beracun, dan tokoh antagonis yang kejam namun memikat. Tanpa sadar, ia terbawa suasana hingga larut malam.
Namun saat ia terbangun, dunia di sekelilingnya terasa asing.
Asha terkejut ketika menyadari bahwa dirinya bukan lagi berada di dunianya sendiri, melainkan masuk ke dalam novel yang semalam ia baca. Lebih buruk lagi, ia bukan tokoh utama yang memiliki perlindungan plot, juga bukan antagonis yang berkuasa melainkan hanya seorang figuran.
Seorang figuran yang dalam cerita aslinya dikenal karena satu hal: tergila-gila pada sang antagonis.
Dan yang paling mengerikan, Asha tahu persis bagaimana akhir dari karakter itu nasib paling mengenaskan yang bahkan tak layak disebut sebagai akhir bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18
Suara notifikasi ponsel yang nyaring tiba-tiba memecah keheningan, bertindak seperti siraman air es yang menyadarkan Melody dari buaiannya. Ia tersentak, napasnya tersengal, dan langsung menjauhkan wajahnya dari Kaisar dengan gerakan panik.
Kaisar tidak terlihat terganggu sama sekali. Ia justru menyeringai tipis, lalu dengan sangat santai, ibu jarinya menyentuh ujung bibir Melody untuk mengusap sisa lumatannya tadi.
"Aduh, iman gue goyah! Gue bener-bener terbuai nikmat dunia, jantung tolong ya jangan disko di sini!" jerit Melody dalam hati, mukanya sudah merah padam sampai ke telinga.
Masih dalam posisi duduk di pangkuan Kaisar—karena ia terlalu lemas untuk langsung berdiri—Melody berusaha menetralkan suaranya yang bergetar. "Gue... gue ke sini cuma mau bilang thanks udah nolongin gue kemarin," ucapnya sambil membuang muka, tak berani menatap mata elang itu.
Kaisar menaikkan satu alisnya, tangannya masih betah melingkar di pinggang ramping Melody. "Cuma thanks doang?" tanya Kaisar dengan nada menuntut yang rendah.
"Iyalah! Mau dikasih apa lagi? Elo kan udah kaya, keluarga lo juga berkuasa banget, nggak butuh apa-apa kan dari rakyat jelata kayak gue?" sahut Melody tanpa sadar keceplosan soal latar belakang pria itu.
Tubuh Kaisar mendadak menegang. Atmosfer di sekitar mereka berubah menjadi dingin dan mencekam dalam sekejap. Ia mencengkeram pinggang Melody sedikit lebih kuat, menatapnya dengan pandangan mengintimidasi yang sangat tajam.
"Dari mana lo tau?" desis Kaisar. Identitas klan Luca adalah rahasia yang terkubur rapat; tak ada siswa di sekolah ini yang berani atau tahu tentang dunia bawahnya.
Melody tersentak, menyadari mulutnya baru saja membocorkan rahasia negara. Ia terdiam sejenak, otaknya berputar mencari alasan paling masuk akal. "Ya... ya keliatan lah! Dari wajah lo itu, auranya kayak penguasa komplek! Galak, sombong, kaya! Pokoknya itu!" ucap Melody ngasal sambil berusaha melepaskan diri.
"Pokoknya khamsamida ya!" teriak Melody sambil melompat turun dari pangkuan Kaisar meski pinggangnya sedikit protes. Ia langsung ngacir lari keluar perpustakaan seolah dikejar setan, meninggalkan jaket kaisar yang masih tergeletak di sofa.
Sementara itu, di dalam perpustakaan yang kembali sunyi, Kaisar masih duduk di posisinya. Ia menyentuh bibirnya sendiri menggunakan ujung jari. Pikirannya mendadak kacau. Ia sadar baru saja mencium gadis yang selama ini ia anggap sebagai pengganggu yang menyebalkan.
Bahkan kepada Zoya—gadis yang selama ini dianggap semua orang sebagai tambatan hatinya—Kaisar tidak pernah membayangkan sentuhan sejauh itu. Tapi tadi... rasanya berbeda.
"Sial," umpat Kaisar rendah.
Ia memejamkan mata, namun sensasi manis dan lembut dari bibir Melody seolah masih tertinggal di sana. Ada rasa candu yang mulai merayap, sesuatu yang berbahaya bagi pria sepertinya yang seharusnya tidak memiliki kelemahan. Di saat yang sama, ia merasa terancam karena Melody tampaknya tahu lebih banyak tentang dirinya daripada yang ia duga.
Melody duduk di kantin sambil menyesap jus jeruknya dengan santai, mengabaikan tatapan menginterogasi dari Rere dan Rhea yang sudah siap menyidangnya.
"Elo kemana aja sih tadi? Baru nongol pas jam istirahat gini, mana muka lo merah banget lagi kayak abis direbus!" semprot Rere penuh curiga.
"Gue ke UKS lah, tidur! Nih pinggang encok butuh istirahat, jangan berpikir yang iya-iya deh," sahut Melody bohong demi keselamatan nyawanya. Mana mungkin dia bilang habis "sedekah bibir" sama pangeran kegelapan di perpus.
Pandangan Melody kemudian beralih ke arah meja tengah yang selalu menjadi pusat perhatian. Di sana ada Zoya yang baru saja duduk manis bersama kedua sahabatnya, Cindy dan Andin. Di meja yang sama, geng Amours—termasuk Kaisar dan Galen—sudah duduk dengan gaya angkuh mereka.
"Jadi dia si protagonis itu? Cantik sih, tapi gue belum tahu banget ini Zoya beneran malaikat tanpa sayap kayak yang dibilang penulisnya, atau tipikal polos-polos bangsat yang main halus," batin Melody sambil menopang dagu, matanya sibuk memindai gerak-gerik Zoya.
Namun, ketenangan itu tak berlangsung lama. Tiba-tiba...
BYURRR!
Satu gelas minuman berwarna merah tumpah tepat di atas kepala Zoya, membasahi rambut dan seragam putihnya. Suasana kantin yang tadinya berisik mendadak hening seketika.
"Ups! Sori, tangan gue licin. Lagian lo sih, berani banget duduk di deket Galen gue!" teriak Natasya, si antagonis kelas kakap yang sudah lama terobsesi dengan Galen. Natasya berdiri dengan wajah angkuh, memegang gelas kosong sambil menatap jijik ke arah Zoya.
Zoya tersentak, wajahnya mulai memerah dan matanya berkaca-kaca, terlihat sangat malang. Sementara itu, Galen dan Kaisar langsung menoleh dengan tatapan yang berbeda.
"Busett... tontonan novel tapi versi live!" gumam Melody antusias, matanya berbinar-binar. "Kurang popcorn doang ini mah. Ayo, ayo, pahlawannya mana nih yang mau maju? Kaisar atau Galen?"