Aiden "The Ghost" Volkov adalah definisi dari kesempurnaan yang mematikan. Sebagai raja mafia penguasa jalur perdagangan gelap Eropa, ia dikenal dingin, tak tersentuh, dan sangat mencintai keteraturan. Hidupnya adalah tentang strategi, senjata, dan keheningan.
Namun, tatanan hidup Aiden hancur berantakan saat ia bertemu dengan Ziva, seorang gadis Indonesia yang tinggal di luar negeri dan bekerja sebagai kurir makanan paruh waktu. Pertemuan mereka dimulai dengan bencana: Ziva secara tidak sengaja menabrak konvoi mobil baja Aiden dengan skuter bututnya, lalu malah memarahi Aiden karena "merusak spion estetiknya".
Ziva bukan cewek tangguh yang jago bela diri; dia hanyalah gadis dengan tingkat keberuntungan negatif dan mulut yang tidak punya rem. Di saat musuh-musuh Aiden menggunakan peluru, Ziva menggunakan ketidaksengajaan—seperti menjatuhkan vas kuno seharga jutaan dollar tepat di kepala pembunuh bayaran yang sedang mengincar Aiden.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesalahan Fatal Sang Raja Dingin
Mansion Volkov telah kembali ke fungsinya semula sebagai markas operasi gelap, namun bayang-bayang tepung dan aroma seblak dari kejadian di markas Moretti masih menyisakan trauma psikologis bagi para pengawal bersenjata. Aiden Volkov duduk di ruang kerjanya yang luas, dikelilingi oleh layar monitor yang menampilkan pergerakan saham dan rute pengiriman senjata di pasar gelap. Namun, untuk pertama kalinya dalam satu dekade, sang "Raja Dingin" melakukan sebuah kesalahan fatal: ia membiarkan konsentrasinya terpecah oleh suara nyanyian sumbang dari lantai bawah.
Ziva, sang asisten pribadinya yang tidak resmi namun permanen, sedang mencoba "mendekorasi" ulang ruang tamu mewah Aiden.
"Ziva! Apa yang kau lakukan dengan vas dinasti Ming itu?!" suara Marco terdengar berteriak dari kejauhan.
Aiden menghela napas, menutup laptopnya dengan dentuman pelan. Ia tahu bahwa membawa Ziva masuk ke dalam lingkaran dalamnya adalah sebuah perjudian besar. Namun, kesalahan fatal yang dimaksud bukanlah soal membiarkan Ziva menghancurkan barang antik, melainkan sebuah keputusan taktis yang ia ambil pagi ini: Aiden memutuskan untuk membawa Ziva ke pertemuan rahasia dengan Aliansi Nordik.
"Tuan, Anda yakin?" Marco bertanya saat mereka bersiap di lobi. "Aliansi Nordik adalah sekumpulan pria tua yang sangat kaku. Mereka menghargai protokoler lebih dari nyawa mereka sendiri. Membawa... Nona Ziva... bisa dianggap sebagai penghinaan."
Aiden merapikan dasi sutranya di depan cermin. "Mereka menganggapku terlalu terprediksi, Marco. Ziva adalah variabel acak. Musuh tidak bisa merencanakan serangan terhadap seseorang yang bahkan tidak tahu apa yang akan dilakukannya semenit ke depan."
Ziva muncul dengan mengenakan setelan jas wanita yang dipaksakan Aiden untuk ia pakai. Ia tampak seperti anak kecil yang sedang menyamar menjadi CEO. "Bang Don, ini celananya ketat banget di bagian paha. Gue kalau mau salto susah nih."
"Kau tidak akan melakukan salto, Ziva. Kau hanya perlu berdiri di belakangku, terlihat profesional, dan yang paling penting: tutup mulutmu," Aiden memberikan penekanan pada kalimat terakhir.
"Dih, galak amat. Iya, iya. Gue bakal diem kayak patung pancoran. Janji!" Ziva melakukan gerakan mengunci bibir dan membuang kuncinya secara imajiner.
Kesalahan fatal pertama Aiden: Ia mempercayai janji Ziva.
Pertemuan berlangsung di griya tawang Hotel Kristal, tempat paling eksklusif di Milan. Di dalam ruangan yang berlapis emas, empat pemimpin mafia Nordik duduk dengan wajah sekeras granit. Mereka adalah orang-orang yang mengatur alur uang di belahan utara dunia.
Aiden duduk dengan wibawa yang tak tertandingi. Ziva berdiri di belakangnya, mencoba memasang wajah serius yang justru terlihat seperti orang yang sedang menahan buang air besar.
"Volkov," ucap Olaf, pemimpin aliansi yang memiliki janggut putih panjang. "Kami mendengar tentang kekacauan di markas Moretti. Mengapa kau membiarkan markas rivalmu berubah menjadi... toko roti?"
Aiden tetap tenang. "Itu adalah pesan, Olaf. Sebuah pesan bahwa aku bisa menghancurkan martabat musuhku tanpa perlu mengeluarkan satu peluru pun."
Ziva, yang mulai bosan mendengarkan pembicaraan soal persentase keuntungan dan jalur logistik, mulai memperhatikan Olaf. Matanya terpaku pada janggut panjang pria itu. Ia melihat ada sisa remah-remah biskuit yang tersangkut di sana.
Aduh, itu remah-remah ganggu banget estetika gue, batin Ziva. Ia mencoba menahan diri, namun jiwanya yang semprul meronta-ronta.
Aiden sedang menjelaskan tentang kontrak baru saat ia merasakan gerakan di belakangnya. Ziva tiba-tiba melangkah maju, melewati bahu Aiden, dan mendekati Olaf. Seluruh pengawal Nordik langsung meraba senjata mereka.
"Eits, santai Bang! Jangan tegang gitu," ucap Ziva santai. Sebelum Aiden bisa menghentikannya, Ziva sudah menjulurkan tangannya dan... memetik remah biskuit dari janggut Olaf.
"Nih, Bang Olaf. Ada sisa biskuit di jenggot lu. Sayang kan kalau dimakan semut, nanti jenggot lu gatel-gatel terus lu jadi mafia pemarah," Ziva menunjukkan remah itu di depan hidung Olaf yang merah karena terkejut.
Hening. Ruangan itu mendadak kehilangan oksigen.
Aiden Volkov merasa dunianya seolah berhenti berputar. Ini adalah kesalahan fatal kedua: Ia meremehkan dorongan impulsif Ziva untuk "memperbaiki" hal-hal kecil di sekitarnya.
Olaf menatap Ziva, lalu menatap Aiden. "Volkov... siapa wanita ini?"
Aiden berdeham, mencoba menyelamatkan martabatnya yang sudah hancur berkeping-keping. "Dia adalah... spesialis deteksi ancaman mikroskopis."
Ziva mengangguk mantap. "Betul! Nama gue Ziva. Tugas gue mastiin Bos Don dan relasinya tetep bersih dan kinclong. Lu mau jenggot lu gue kasih vitamin rambut nggak, Bang? Biar halus kayak sutra."
Ketegangan itu pecah bukan karena kemarahan Olaf, melainkan karena tiba-tiba pintu ruangan diledakkan dari luar. Pasukan Moretti yang tersisa, yang ingin membalas dendam atas insiden "markas tepung", menyerbu masuk.
"VOLKOV! KAU AKAN MATI HARI INI!" teriak salah satu tentara bayaran Moretti.
Aiden langsung menarik Ziva ke bawah meja kayu ek yang tebal. Peluru mulai berterbangan, menghancurkan gelas-gelas kristal dan botol wine seharga ribuan dolar.
"Tuh kan! Baru juga mau nawarin vitamin jenggot, udah ada yang main petasan lagi!" teriak Ziva sambil menutup telinganya.
Aiden mengeluarkan dua pistolnya. "Ziva, tetap di sini! Jangan bergerak!"
"Bang, itu orang yang di pojok mau lempar sesuatu!" Ziva menunjuk ke arah seorang pria yang sedang menyiapkan granat gas air mata.
Aiden menembak pria itu, namun gas air mata tersebut tetap terlepas, memenuhi ruangan dengan asap putih yang menyengat. Pandangan menjadi kabur. Aiden kehilangan jejak Ziva di tengah kabut asap.
"ZIVA! DIMANA KAU?!" teriak Aiden panik. Rasa takut yang tulus merambat di nadinya—perasaan yang seharusnya tidak dimiliki oleh seorang raja mafia.
Kesalahan fatal ketiga: Aiden menyadari bahwa ia lebih takut kehilangan gadis semprul ini daripada kehilangan seluruh wilayah kekuasaannya.
Di tengah asap gas air mata, Ziva bukannya bersembunyi, ia malah merangkak menuju meja prasmanan. Ia menemukan sebuah nampan berisi saus mustard yang sangat pedas dan beberapa botol soda berkarbonasi tinggi.
"Lu main gas, gue main kimia dapur!" gumam Ziva.
Ia mengocok botol soda itu sekuat tenaga, lalu mengarahkannya ke arah musuh yang sedang mendekat.
POP!
Cairan soda yang menyembur deras mengenai wajah para penyerang, membuat mereka buta sesaat. Ziva kemudian mengambil nampan mustard dan mulai mengoleskannya ke lantai di depan pintu masuk.
"Ayo, silakan lewat! Lantainya licin dan pedas!" sorak Ziva.
Para tentara Moretti yang mencoba masuk terpeleset di atas mustard, berguling-gantungan seperti pemain sirkus amatir. Aiden, yang sudah mengenakan masker gas, muncul dari balik pilar dan melihat pemandangan itu dengan takjub.
Ia melihat Ziva sedang memukuli kepala seorang penyerang menggunakan botol soda kosong sambil berteriak, "AMPUN NGGAK?! GANTI SPION GUE NGGAK?!"
Aiden segera mendekat, menembak dua orang yang mencoba membidik Ziva dari belakang, lalu menyambar pinggang Ziva dan menggendongnya seperti karung beras.
"Lepasin gue, Bang! Gue belum selesai ngasih pelajaran taktik gerilya dapur!" protes Ziva.
"Kita pergi dari sini sekarang!" perintah Aiden.
Mereka melompat ke dalam lift layanan dan meluncur turun menuju basemen. Di dalam lift yang sempit, Aiden menyandarkan tubuhnya ke dinding, napasnya memburu. Ia menatap Ziva yang wajahnya penuh noda mustard dan rambut yang semakin mirip sarang burung.
"Kau gila," bisik Aiden. "Kau benar-benar gila, Ziva."
Ziva merapikan bajunya yang berantakan. "Gue nggak gila, Bang. Gue cuma nggak suka ada orang yang ganggu waktu makan gue. Lagian, lu tadi panik banget ya nyariin gue? Gue denger suara lu gemeteran."
Aiden membuang muka. "Itu karena aku tidak mau kehilangan asisten yang sudah kubayar mahal."
"Halah, ngaku aja. Lu sayang kan sama gue? Lu takut kan kalau gue kenapa-napa?" Ziva menusuk-nusuk lengan Aiden yang berotot.
Aiden menangkap tangan Ziva, menggenggamnya erat. Matanya menatap tajam ke dalam mata Ziva. "Iya. Aku takut. Itulah kesalahan fatalku, Ziva. Aku membiarkan seseorang sepertimu masuk ke dalam hidupku yang penuh darah ini. Sekarang, kau adalah kelemahanku."
Ziva tertegun. Untuk pertama kalinya, ia melihat sisi manusiawi Aiden yang begitu rapuh di balik topeng esnya. Ia tidak lagi ingin bercanda.
"Bang Don... kalau gue jadi kelemahan lu, berarti gue harus jadi lebih kuat lagi biar bisa jagain lu balik," ucap Ziva dengan nada serius yang jarang ia gunakan. "Tenang aja, selama ada gue, nggak ada mafia yang bakal berani nyentuh lu. Kalau ada yang berani, bakal gue colok matanya pakai sambal terasi."
Aiden tersenyum tipis—kali ini benar-benar senyuman, bukan sekadar tarikan bibir. "Aku percaya padamu."
Saat pintu lift terbuka di basemen, Marco sudah menunggu dengan mobil antipeluru. Mereka segera melesat pergi meninggalkan hotel yang kini dikepung polisi.
Di dalam mobil, Aiden duduk diam, membiarkan Ziva tertidur di bahunya karena kelelahan setelah "perang mustard". Ia menatap keluar jendela, menyadari bahwa hidupnya tidak akan pernah sama lagi.
Kesalahan fatal sang raja dingin bukanlah tentang taktik militer yang salah atau diplomasi yang gagal. Kesalahan fatalnya adalah jatuh cinta pada sebuah bencana berjalan bernama Ziva. Namun, saat Aiden merasakan kehangatan kepala Ziva di bahunya, ia menyadari bahwa ini adalah kesalahan yang paling indah yang pernah ia lakukan.
"Marco," panggil Aiden pelan agar tidak membangunkan Ziva.
"Ya, Tuan?"
"Cari pengrajin emas terbaik di Italia. Suruh dia membuat spion motor dari emas 24 karat. Dan... pastikan ada ukiran bunga matahari di sana."
Marco tersenyum tipis melalui spion tengah. "Baik, Tuan. Akan segera saya laksanakan."
Raja Dingin itu kini telah meleleh, dan ironisnya, ia mencair karena seorang gadis semprul yang bahkan tidak tahu cara membedakan wine mahal dengan jus anggur kemasan. Perang melawan Moretti mungkin masih berlanjut, tapi di dalam mobil itu, Aiden merasa ia sudah memenangkan pertempuran yang paling penting: pertempuran melawan kesepiannya sendiri.