Yun Zhu hanyalah seorang murid rendahan dari Sekte Qingyun. Tanpa orang tua, tanpa latar belakang yang berarti—ia hanya bisa masuk sekte itu secara kebetulan setelah sebuah bencana menghancurkan hidupnya.
Akar spiritualnya lemah, bakatnya pun nyaris tak terlihat. Di mata orang lain, ia tak lebih dari sampah yang tak layak diperhitungkan. Tatapan meremehkan dan hinaan telah menjadi bagian dari kesehariannya.
Namun takdir mulai berbalik arah ketika Yun Zhu secara tak terduga memperoleh sebuah kekuatan misterius—kekuatan yang perlahan akan mengubah nasibnya… dan mengguncang dunia yang selama ini merendahkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chizella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Pemilihan
Keesokan harinya, langit Kota Zhiyang tampak cerah saat Yun Zhu melangkah menuju pusat keramaian. Tempat yang dituju adalah sebuah alun-alun luas yang terletak tepat di depan gerbang megah kediaman keluarga Han.
Ribuan orang sudah memadati area tersebut, menciptakan lautan manusia yang saling sikut demi mendapatkan posisi terdepan.
Di tengah halaman yang sangat luas dan dijaga ketat oleh barisan prajurit berbaju zirah perak, tiga sosok jenius berdiri dengan angkuh. Mereka adalah perwakilan dari tiga keluarga besar yang akan memasuki Makam Abadi.
Aturannya sederhana namun kejam, masing-masing jenius berhak memilih satu pendamping tambahan, namun kesempatan bagi orang biasa untuk terpilih nyaris tidak ada.
Yun Zhu berdiri di tengah kerumunan, melipat kedua tangannya di depan dada dengan sikap tenang. Matanya yang tajam mengamati tiga sosok di tengah lapangan itu.
"Hei kau tau, aku berharap bisa dipilih oleh Nona Shi."
Seorang pria bertubuh tambun di dekat Yun Zhu berbisik dengan nada penuh harap.
"Kau? Nona Shi memilihmu? Itu mimpi, hahaha!" temannya menyahut sambil tertawa mengejek.
"Nona Shi tidak mungkin memilih orang sembarangan."
Bisik-bisik mulai menjalar seperti api di antara kerumunan. Pandangan Yun Zhu tertuju pada sosok wanita bernama Nona Shi.
Ia berdiri dengan sangat tegak, mengenakan gaun sutra berwarna biru laut yang membalut tubuh rampingnya dengan sempurna.
Tangan kanannya sesekali memainkan ujung kipas lipat yang indah, sementara mata jernihnya menatap kerumunan dengan pandangan yang tampak acuh tak acuh namun penuh selidik.
"Lalu bagaimana dengan Tuan Muda Qin?"
"Orang itu terlalu percaya diri, dia sangat sombong."
Pria yang disebut Tuan Muda Qin itu berdiri di sisi lain. Ia mengenakan jubah emas yang mencolok, tangan kirinya bertumpu pada gagang pedang permata yang tergantung di pinggangnya.
Dagu perkasanya terangkat tinggi, menunjukkan sikap meremehkan kepada siapa pun yang memandangnya.
"Nona Han?"
"Dia selalu memilih pengawal yang disiapkan keluarga."
"Lalu bukankah kita tidak memiliki kesempatan sama sekali!?"
Suara-suara putus asa itu terdengar jelas di telinga Yun Zhu. Ia memindahkan fokusnya pada sosok ketiga, Nona Han. Wanita itu tidak lain adalah Han Ping'er.
Ia mengenakan pakaian tempur ringkas yang mengekspos lengan putihnya yang mulus. Rambut putih saljunya diikat tinggi, memberikan kesan gagah namun tetap mempesona. Jemari mungilnya bergerak gelisah, seolah ia sedang mencari sesuatu—atau seseorang—di antara ribuan wajah di hadapannya.
Ketiga jenius itu berdiri dengan aura yang menekan, menunjukkan kekuatan kultivasi mereka yang sudah berada di puncak Foundation Establishment.
Namun, ada satu posisi yang masih kosong, posisi keempat yang seharusnya diisi oleh keluarga Sheng yang kini misterius.
Yun Zhu tetap diam, menunggu saat yang tepat untuk menunjukkan kemampuannya di tengah persaingan para jenius yang penuh harga diri ini.
Suasana di halaman kediaman keluarga Han semakin tegang saat para jenius mulai melakukan pergerakan. Tuan Muda Qin melangkah maju satu tindak, matanya yang tajam meneliti barisan orang di kerumunan seolah sedang menilai ternak.
Tak lama kemudian, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang angkuh saat pandangannya tertuju pada seorang pria bertubuh kekar dengan otot lengan yang menonjol.
"Aku pilih dia."
Jari telunjuk Tuan Muda Qin menunjuk lurus ke arah pria itu. Seketika, wajah pria kekar itu berseri-seri penuh kemenangan. Ia segera berlari kecil keluar dari kerumunan, membungkuk hormat, dan berdiri dengan gagah di belakang punggung Tuan Muda Qin.
Di sisi lain, Shi Yun bergerak dengan keanggunan yang berbeda. Ia tidak terburu-buru, tangan halusnya memainkan ujung kipas sutra sambil memindai energi spiritual yang terpancar dari kerumunan.
Matanya yang jernih berhenti pada seorang wanita pendiam yang berdiri di sudut. Shi Yun merasakan fluktuasi energi yang unik dari wanita itu, sesuatu yang tersembunyi namun tajam. Tanpa banyak bicara, ia memberikan isyarat agar wanita tersebut bergabung di barisannya.
Dari balkon lantai atas kediaman yang tertutup tirai tipis, sepasang mata tua yang bijaksana mengamati dengan cermat.
Tetua Kun, petinggi keluarga Han, mengelus janggut putihnya sambil menunggu keputusan yang akan diambil oleh nona muda keluarganya.
Han Ping'er berdiri di tengah, jubah ringkasnya sedikit berkibar tertiup angin. Rambut putih saljunya yang terikat tinggi bergoyang saat ia memiringkan kepalanya, matanya yang berbinar seolah sedang mencari permata di tengah tumpukan batu.
Tiba-tiba, gerakannya berhenti. Ia mengunci pandangannya pada satu titik—pada seorang pemuda berambut hitam dengan aura yang sangat tenang.
Tangan Han Ping'er terangkat dengan gerakan yang mantap, jari telunjuknya menunjuk lurus ke depan.
"Aku mau kau."
Ujung jarinya tertuju tepat ke arah Yun Zhu.
Seluruh kerumunan seketika senyap.
Ribuan pasang mata kini beralih menatap Yun Zhu dengan campuran rasa iri dan bingung. Yun Zhu sendiri sedikit terkejut, ia tidak menyangka akan dipilih secepat ini oleh putri dari keluarga Han.
Tubuhnya sempat menegang, tangannya secara refleks bergerak sedikit lebih dekat ke arah cincin penyimpanannya, bersiap untuk kemungkinan terburuk.
Han Ping'er menyadari reaksi waspada itu. Ia justru tersenyum lebih lebar, menatap Yun Zhu dengan pandangan menantang sekaligus tertarik.
"Apa? Kau tidak bersedia?" tanya Han Ping'er, nadanya sedikit menggoda melihat reaksi tidak biasa dari pemuda tampan di depannya itu.
Yun Zhu segera menguasai diri. Ia menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada, membungkuk sedikit dengan sikap formal yang sempurna untuk menutupi kecurigaannya.
"Bersedia."
Meskipun ia merasa ada yang aneh dengan cara Han Ping'er memilihnya, Yun Zhu tahu ini adalah kesempatan emas.
Menjadi pendamping resmi keluarga Han akan memberinya jalan masuk yang jauh lebih lancar menuju Makam Abadi tanpa harus membuang energi bertarung memperebutkan kursi keempat.