NovelToon NovelToon
Istri Putra Mahkota Yang Kejam

Istri Putra Mahkota Yang Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Penyesalan Suami / Romansa Fantasi
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Di jantung Kekaisaran Valerieth yang agung, sebuah titah kaisar mengguncang pilar-pilar bangsawan. Lilianne von Eisenhardt, putri tunggal dari penguasa wilayah Utara yang disegani, Duke Kaelric von Eisenhardt, dipaksa memasuki ikatan suci di usianya yang baru menginjak 15 tahun.

Lilianne, yang memiliki kecantikan selembut bunga musim semi namun ketabahan layaknya baja Nordik, dijodohkan dengan sang pewaris takhta yang menjadi mimpi buruk bagi musuh-musuhnya: Putra Mahkota Arthur Valerius de Valerieth.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 18

***

Sinar matahari musim dingin yang pucat merayap masuk melalui jeruji besi balkon, memantul di atas lantai marmer yang kini bersih dari noda darah semalam. Lilianne sudah terbangun sejak fajar menyingsing. Meskipun tubuhnya terasa berat dan pinggangnya berdenyut nyeri akibat menyeret tubuh Arthur semalam, ia tidak bisa membiarkan dirinya berbaring lebih lama.

Ia telah mengetuk pintu kayu jati yang tebal itu berkali-kali sampai Martha datang. Dengan bahasa isyarat yang kaku, Lilianne meminta bubur halus hangat, madu, dan air bersih yang baru. Martha, si pelayan bisu, hanya menatap Lilianne dengan tatapan datar sebelum berlalu, namun ia memenuhi permintaan itu.

Kini, Lilianne duduk di kursi samping ranjang. Di atas meja kecil terdapat nampan perak berisi bubur yang masih mengepulkan uap tipis. Ia menatap sosok pria yang terbaring di depannya.

Arthur tampak sangat berbeda saat tidur. Tanpa kilat kemarahan di matanya atau rahang yang mengeras karena obsesi, ia terlihat seperti pria biasa yang sedang kelelahan. Lilianne memperhatikan garis wajah suaminya hidung yang mancung sempurna, bulu mata yang lebat, dan bibir yang biasanya mengeluarkan perintah-perintah kejam.

“CK, tampan, tetapi menjengkelkan,” batin Lilianne sambil menghela napas pendek.

Matanya beralih ke balik selimut sutra yang menutupi dada Arthur. Ia tahu di balik kain itu, tubuh suaminya penuh dengan peta penderitaan. Luka-luka baru yang ia obati semalam kini mulai mengering, namun bekas luka lama bekas operasi penghapusan identitas itu tetap menjadi hantu yang nyata.

“Berapa banyak rasa sakit yang telah Anda alami, Yang Mulia?” bisiknya pelan, hampir tak terdengar. “Apakah setiap tebasan pedang di tubuh anda terasa lebih sakit daripada kebohongan yang anda jalani setiap hari?”

Ada rasa prihatin yang tulus muncul di hati Lilianne, sebuah emosi yang ia benci karena ia tahu Arthur adalah penjaganya sekaligus sipirnya. Ia ingin membenci pria ini sepenuhnya, namun melihat kerapuhan Arthur semalam, dinding pertahanan Lilianne mulai retak.

Lilianne mengulurkan tangannya, bermaksud untuk membetulkan letak selimut Arthur. Namun, begitu jemarinya menyentuh kain, sebuah tangan besar dan panas menyambar pergelangan tangannya dengan gerakan secepat kilat.

HAP!

Lilianne terpekik kecil. Cengkeraman itu kasar dan kuat, khas seorang prajurit yang selalu dalam keadaan waspada meski saat tidur.

"Anda sudah bangun, Yang Mulia?" tanya Lilianne, berusaha menjaga nada suaranya tetap tenang meski jantungnya berdegup kencang.

Arthur membuka matanya. Mata biru gelap itu tidak langsung jernih ada kabur rasa sakit dan sisa demam di sana. Ia menatap Lilianne sejenak, lalu beralih ke sekeliling kamar seolah sedang memastikan ia benar-benar sudah kembali ke wilayah kekuasaannya.

"Apakah sudah pagi?" tanya Arthur. Suaranya serak, kembali dingin dan kaku, meninggalkan kesan rapuh yang ia tunjukkan semalam.

"Ya, ini sudah hampir siang hari, dan Anda masih terbaring di ranjang yang nyaman ini," sahut Lilianne sambil berusaha melepaskan tangannya.

Arthur melepaskan genggamannya, lalu mencoba bangkit. Namun, begitu ia menggerakkan bahunya, ia meringis kesakitan. Wajahnya memucat, dan keringat dingin mulai muncul di pelipisnya.

"Beristirahatlah, Yang Mulia. Luka Anda belum pulih. Jika Anda memaksakan diri, jahitannya akan terbuka kembali," cegah Lilianne dengan nada tegas.

"Aku harus... aku harus melapor kepada Kaisar," gumam Arthur sambil menekan lukanya. "Pemberontakan di Selatan belum sepenuhnya padam. Aku tidak bisa membiarkan ayahku berpikir aku lemah hanya karena luka gores seperti ini."

Lilianne mendengus pelan, sebuah keberanian yang jarang ia tunjukkan. "Itu bisa dilakukan nanti. Sekarang, pulihkan dulu luka Anda sebelum kembali menjadi Putra Mahkota yang agung di kekaisaran ini. Apa gunanya Anda menghadap Kaisar jika Anda pingsan di depan singgasananya?"

Arthur terdiam. Ia menatap istrinya dengan tatapan curiga. Selama ini, Lilianne biasanya hanya menunduk atau menatapnya dengan kebencian yang tertahan. Melihat Lilianne yang mengatur dan memerintahnya adalah sesuatu yang baru.

"Kenapa kau begitu peduli?" tanya Arthur sinis. "Bukankah kau ingin aku mati agar kau bisa mengambil kunci di pinggangku?"

Lilianne membalas tatapan itu tanpa gentar. "Jika Anda mati sekarang, para penjaga di luar akan membunuhku atau menyerahkanku kembali pada Kaisar sebagai kambing hitam. Aku sedang mengandung, Arthur. Aku membutuhkan Anda tetap hidup, setidaknya sampai bayi ini lahir."

Lilianne mengambil mangkuk bubur hangat itu. "Makanlah. Saya sudah meminta Martha membawakan ini untuk Yang Mulia."

Ia menyendok bubur itu, meniupnya perlahan, lalu menyodorkannya ke depan bibir Arthur. Arthur menatap sendok itu seolah-olah itu adalah senjata beracun. Namun, perutnya yang kosong selama berhari-hari di medan perang akhirnya mengalahkan egonya. Ia membuka mulutnya.

Lilianne menyuapi Arthur dengan telaten. Namun, Arthur bisa melihat tangan kecil istrinya sedikit gemetar. Ia juga menangkap kilat ketakutan yang masih tersisa di mata perak Lilianne.

"Apakah kamu masih takut?" tanya Arthur tiba-tiba di sela kunyahannya.

Lilianne menghentikan tangannya di udara. Ia menarik napas panjang, menatap lurus ke arah luar balkon yang berjeruji.

"Siapa yang tidak takut, Yang Mulia?" jawab Lilianne dengan nada yang penuh kesedihan namun tegas. "Melihat suaminya pulang dalam keadaan hampir mati, bersimbah darah dan meracau seperti orang gila... siapa yang tidak takut? Jika sesuatu terjadi pada Anda, siapa yang akan peduli dengan janda Putra Mahkota yang sudah dibuang dan dikurung ini? Saya tidak memiliki siapa-siapa di istana ini selain bayi ini... dan monster yang sedang saya suapi saat ini."

Arthur tertegun. Kata-kata Lilianne menghantamnya lebih keras daripada pedang musuh. Ia melihat air mata yang menggenang di sudut mata istrinya, namun Lilianne menolak untuk membiarkannya jatuh.

"Lili, aku..." Arthur mencoba bicara, suaranya melembut sesaat.

"Simpan saja ucapan Anda untuk nanti, Yang Mulia," potong Lilianne cepat. Ia menyodorkan sendok terakhir dengan paksa. "Anda perlu makan untuk segera pulih. Saya tidak ingin merawat mayat di ranjang dingin sendiri."

Setelah bubur itu habis, Arthur tampak sedikit lebih bertenaga, meski wajahnya masih pucat. Ia memperhatikan Lilianne yang kini sedang membersihkan nampan dengan gerakan yang canggung karena perut besarnya.

"Kenapa kau tidak bertanya tentang peperangan itu?" tanya Arthur memecah keheningan.

"Karena saya tidak peduli berapa banyak orang yang Anda bunuh di luar sana, yang mulia" sahut Lilianne tanpa menoleh. "Yang saya pedulikan adalah keamanan di dalam kamar ini."

Arthur menyandarkan kepalanya, menatap langit-langit ranjang. "Luka di punggungku... kau melihatnya semalam, bukan? Luka yang bersinggungan itu."

Lilianne berhenti bergerak. Ia membelakangi Arthur, tangannya meremas kain lap. "Ya. Saya melihatnya."

"Dan kau masih berani menyuapiku setelah tahu bahwa tubuh ini penuh dengan 'jahitan'?"

Lilianne berbalik, menatap Arthur dengan tatapan yang sulit diartikan. "Identitas Anda sebagai bayangan Arthemus adalah urusan politik Anda dengan Kaisar. Tapi rasa sakit yang Anda rasakan semalam... itu nyata. Anda meracau tentang pangeran yang terbuang. Anda meracau tentang ketakutan Anda jika saya pergi."

Lilianne melangkah mendekati ranjang, berdiri cukup dekat sehingga Arthur bisa mencium aroma mawar samar dari rambutnya.

"Berapa banyak kisah yang harus saya tahu, Yang Mulia, sampai saya benar-benar tahu siapa Anda yang sebenarnya? Apakah Anda Arthur pangeran yang terbuang, atau Arthur sang monster yang memenjarakan istrinya?"

Arthur meraih tangan Lilianne, kali ini tidak kasar, tapi sangat erat. "Aku adalah keduanya, Lili. Aku adalah pangeran yang terbuang yang harus menjadi monster agar tidak ada lagi yang bisa membuangku. Dan aku tidak akan membiarkanmu pergi, karena jika kau pergi, bayangan ini tidak akan punya tempat untuk bersembunyi."

Lilianne menatap tangan mereka yang bertautan. Ia merasakan denyut jantung Arthur yang stabil melalui telapak tangannya.

"Makanlah lagi, lalu tidurlah," bisik Lilianne sambil melepaskan tangannya perlahan. "Kekaisaran bisa menunggu, tapi kesehatan Anda tidak."

Lilianne berjalan menuju balkon, membelai perutnya yang menendang. Ia menyadari satu hal hubungannya dengan Arthur kini berada di zona abu-abu yang berbahaya. Ada empati yang tumbuh di atas fondasi kebencian. Dan bagi Lilianne, empati adalah emosi yang paling mematikan bagi rencananya.

“Jangan luluh, Lilianne,” bisiknya pada diri sendiri. “Ingatlah jeruji ini. Ingatlah ancamannya semalam. Dia tetaplah pria yang akan mengurungmu selamanya.”

Di ranjang, Arthur memperhatikan punggung istrinya dengan tatapan yang lebih dalam. Ia menyadari bahwa Lilianne yang sekarang bukan lagi gadis lima belas tahun yang bisa ia gertak dengan mudah. Gadis itu mulai memiliki kekuatannya sendiri, kekuatan yang berasal dari rahimnya dan dari pengetahuan tentang rahasia tergelap Arthur.

Malam akan kembali datang, dan badai mungkin akan mereda, namun perang di dalam Istana Sayap Timur baru saja dimulai dengan cara yang jauh lebih halus dan menyakitkan.

****

Bersambung...

1
Mei TResna Rahmatika
kasian banget arthur😭
MARWAH HASAN
bagus loh ceritanya
entah kenapa
komen ini hilang
MARWAH HASAN
aku tinggalkan komen🤣
Intan Aprilia Rahmawati
up dong kk
Reni Anggraeni
up tor
Erni Wati
cerita nya keren tp kok sepi ya?
Lilia_safira: kurang update author nya
total 2 replies
Erni Wati
semangat thor,,,💪💪💪
Heresnanaa_: maaciw kaka🥹🫂
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!