NovelToon NovelToon
The Art Of Ruin - Rahim Yang Dirampas

The Art Of Ruin - Rahim Yang Dirampas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Perjodohan
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: 羽菜

Mikayla tidak hanya dikhianati.

Ia dihancurkan.

Dipaksa menikah menggantikan kakaknya, lalu dikhianati oleh suaminya sendiri bersama wanita yang seharusnya ia lindungi. Lebih kejam lagi, keluarganya sendiri merampas masa depannya membuatnya kehilangan satu hal yang paling berharga bagi seorang wanita.

Setiap hari diberi obat agar tidak bisa mengandung, Rahimnya dibuat tidak berfungsi, Namun mereka lupa satu hal, wanita yang mereka hancurkan tidak benar-benar mati.

Dua tahun kemudian, ia kembali dengan identitas baru sebagai Michelle Ad Lynne lebih cerdas, lebih dingin, dan jauh lebih berbahaya. Dengan kekuatan finansial triliunan dan kecerdasan yang terasah, ia tidak datang untuk meminta keadilan.

Ia datang untuk menghancurkan.

Sedikit demi sedikit, segala yang dia bangun mulai runtuh tanpa peringatan. Tanpa ampun, kenyataan itu menghantamnya keras seperti pisau yang terus-menerus menebas luka lama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 羽菜, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Sandiwara ini akan tetap berjalan manis di permukaan, sampai racun yang ia tanam baik di tubuh Elang maupun di keuangan perusahaannya mencapai titik puncaknya.

Mikayla menyilangkan kakinya dengan anggun di sofa beludru ruang tengah. Ia menyesap kopi hitamnya yang pahit, membiarkan kafein dan ketenangan ruang tamu yang luas itu meresap ke dalam pikirannya. Televisi di depannya menyala, menampilkan berita ekonomi, namun fokus Mikayla tertuju pada layar ponsel yang menampilkan pesan penuh kebohongan dari Elang.

Pesan Elang: "Sayang, sepertinya aku pulang larut malam ini. Audit dari kantor pusat mendadak datang dan banyak dokumen yang harus aku tinjau ulang. Jangan tunggu aku ya, istirahatlah lebih awal. I love you.”

Mikayla melempar ponselnya ke sisi sofa dengan dengusan muak. "Audit itu memang nyata, Elang. Tapi aku tahu alasan sebenarnya kamu lembur adalah untuk 'menenangkan' Naura di ruang istirahatmu yang kedap suara itu," gumam Mikayla. "Nikmatilah sisa-sisa napas kebebasanmu.”

Mikayla membuka laptop pribadinya yang terhubung dengan jaringan VPN privat. Layar menampilkan deretan angka dan portofolio yang tersusun rapi, semuanya bergerak dalam kendali penuh. Ia tidak berniat membiarkan hartanya hanya diam tanpa arah.

“Bank tempatku bekerja memang stabil…” gumamnya pelan sambil menelusuri grafik dan laporan keuangan. Tangannya bergerak cepat, memindahkan dividen dari aset-aset tersembunyi ke instrumen blue-chip yang lebih aman, lebih kuat, dan yang terpenting tidak mudah dilacak oleh keluarga Abimanyu.

Setiap keputusan diambil tanpa ragu dan tanpa emosi, hanya berdasarkan logika dan perhitungan, tidak berhenti di situ, Mikayla mulai memperluas jangkauannya. 

Mengingat rencananya ke Tokyo, ia secara bertahap mengonversi sebagian besar aset cairnya ke dalam Yen dan dolar Singapura. Ia ingin memastikan bahwa saat ia benar-benar meninggalkan Indonesia, ia tidak pergi sebagai seseorang yang melarikan diri melainkan sebagai wanita yang sepenuhnya mandiri.

Seorang investor, seseorang yang tidak lagi bergantung pada siapa pun, ia bersandar sejenak, menatap angka terakhir yang terpampang di layar 1,98 triliun. Senyum tipis muncul di wajahnya. “Bisnis sudah berjalan  investasi masa depan juga sudah siap,” bisiknya pelan, hampir tak terdengar. “Dengan angka sebesar ini… aku bahkan tidak perlu khawatir meski berhenti bekerja dan fokus belajar di Tokyo.”

Untuk pertama kalinya, rasa aman itu bukan ilusi, bukan pemberian siapapun, melainkan sesuatu yang ia bangun sendiri dari luka, dari pengkhianatan, dan dari keputusan-keputusan yang tidak pernah setengah hati. Dan kini, benteng itu telah berdiri kokoh, tidak mudah ditembus ataupun dihancurkan.

Rumah mewah ini terasa begitu sunyi, namun bagi Mikayla, ini adalah keheningan seorang jenderal sebelum memulai serangan fajar. Ia mematikan TV, menghabiskan kopinya, dan berjalan menuju kamar utama.

Ia akan tidur nyenyak malam ini, sementara suaminya sedang sibuk menggali kuburannya sendiri di kantor, dan kakaknya sedang menelan umpan yang akan menghancurkan satu-satunya kebanggaannya.

"Selamat malam, Mas Elang. Selamat bersenang-senang dengan 'pekerjaanmu'. Aku akan mendoakan agar besok pagi, kamu bangun dengan rasa nyeri di pinggang yang tak akan pernah hilang," bisik Mikayla sebelum memejamkan mata dengan tenang.

Mikayla tidak lagi bergerak dengan kemarahan yang meluap-luap. Kini, setiap langkahnya presisi setenang seorang kurator yang menyusun koleksi berharga. Di balik meja kerjanya yang rapi, ia membangun sesuatu yang jauh lebih berbahaya, sebuah “perpustakaan kehancuran.”

Setiap folder di laptopnya tersusun sistematis, berisi potongan-potongan fakta, bukti, dan rekaman yang perlahan akan meruntuhkan martabat Elang. Tidak ada yang disusun sembarangan, semua memiliki tujuan dan semua memiliki waktu untuk digunakan.

Untuk melengkapi itu, Mikayla menjalankan sebuah operasi kecil yang ia beri nama dalam pikirannya Mata-Mata Kelambu, ia paham betul, kekuatan terbesar dalam sebuah kantor bukan terletak pada jajaran direksi, melainkan pada mereka yang sering dianggap tak terlihat sekretaris, staf administrasi, hingga petugas kebersihan. Mereka yang diam justru melihat segalanya.

Melalui sekretaris pribadinya di bank yang memiliki jaringan luas dan akses ke berbagai lingkaran, Mikayla mulai menyebarkan tawaran yang sulit ditolak.

Bonus setara tiga bulan gaji, Imbalan bagi siapa pun yang bisa memberikan bukti rekaman video, foto, atau bahkan salinan reservasi hotel yang melibatkan Elang dan Naura.

Tidak butuh waktu lama, siapa yang bisa menolak jika diberi penawaran yang menguntungkan dan pekerjaan itu tidak memerlukan modal banyak, tapi mungkin akan memakan waktu. Desas-desus mulai menyebar pelan, lalu melebar seperti api dalam sekam.

Cerita tentang “istri sah yang dikhianati oleh kakak kandungnya sendiri” menjadi bahan bisik-bisik di grup WhatsApp internal. Para staf wanita, yang selama ini hanya diam, mulai menunjukkan reaksi. Rasa muak terhadap sikap Naura yang sering bertingkah seolah-olah ia adalah nyonya besar di kantor Elang perlahan berubah menjadi keberpihakan.

Dan Mikayla tahu betul cara memanfaatkannya, sebuah pesan berantai mulai beredar, singkat namun jelas. “Jangan biarkan wanita itu merasa menang. Kirimkan apa pun yang kalian lihat ke nomor ini. Identitas kalian aman. Saldo rekening kalian akan bertambah malam ini juga.”

Satu per satu, pesan masuk mulai berdatangan potongan bukti dan fragmen kebenaran, di balik layar, Mikayla hanya duduk tenang, mengamati semuanya terkumpul dengan rapi.

Karena ia tahu ketika waktunya tiba, ia tidak hanya akan menjatuhkan Elang, Ia akan menghancurkannya dengan bukti yang tak terbantahkan.

Dalam waktu kurang dari empat puluh delapan jam, kotak masuk rahasia Mikayla sudah dipenuhi berbagai kiriman, bukan lagi sekadar informasi, melainkan potongan-potongan bukti yang saling melengkapi, membentuk satu gambaran utuh yang tak terbantahkan, semuanya ia susun rapi sistematis tanpa emosi.

Rekaman pertama datang dari staf IT yang pernah ia bantu. CCTV memperlihatkan dengan jelas bagaimana Naura masuk ke ruang istirahat Elang dengan penampilan mencolok, lalu keluar hampir tiga jam kemudian dengan rambut berantakan dan ekspresi yang tak perlu dijelaskan.

Tak lama, bukti kedua menyusul. Seorang staf administrasi keuangan mengirimkan salinan reservasi vila di sebuah resort terpencil di Ubud. Di atas dokumen tertulis “rapat bisnis”, namun detail pemesanan menunjukkan hanya dua nama Elang dan Naura.

Lalu bukti ketiga.

Rekaman suara dari petugas kebersihan yang saat itu berada di pantry dekat ruang kerja Elang. Suara Naura terdengar jelas, lembut namun penuh percaya diri, membicarakan rencana pernikahan mereka sekaligus bagaimana Mikayla akan disingkirkan tanpa sisa.

Mikayla memutar semuanya satu per satu tanpa perubahan ekspresi. Tidak ada amarah yang meledak, tidak ada keterkejutan. Semua itu hanya menguatkan satu hal yang sudah lama ia pahami.

Ini bukan lagi soal perasaan tapi ini soal penyelesaian, semua yang ia kumpulkan hanya mengarah pada satu tujuan perceraian cepat, bersih, dan tanpa celah.

Dengan seluruh bukti di tangan, Mikayla langsung menemui Pak Hendra, berkas-berkas itu ia letakkan di meja dalam susunan yang rapi dan terstruktur, membuat pengacara senior itu terdiam sejenak sebelum akhirnya menggeleng pelan.

“Lengkap sekali,” ujarnya, nada suaranya berubah serius. “Dengan bukti perselingkuhan yang dilakukan secara terang-terangan dan berulang seperti ini, ditambah sabotase medis yang kamu alami, kita tidak perlu melalui proses mediasi yang berlarut-larut.”

Ia menatap Mikayla lurus, memastikan setiap kata tersampaikan dengan jelas. “Gugatan cerai bisa langsung diputus secara verstek jika Elang tidak hadir. Dan jika dia mencoba melawan, kita punya cukup tekanan untuk memaksanya menandatangani surat cerai tanpa berani menuntut harta sedikit pun.”

Mikayla hanya mengangguk pelan, tidak ada keraguan, segalanya sudah berada di jalur yang ia rancang sendiri. Kini, yang tersisa hanyalah menunggu waktu yang tepat untuk menjatuhkan semuanya dalam satu langkah rapi, bersih, dan tidak menyisakan kesempatan bagi siapa pun untuk bangkit kembali.

1
Nurhartiningsih
makin seru ih
Nurhartiningsih
wah jodoh yg sesungguhnya Dateng tuh mika
Nurhartiningsih
cerita yg sangat bagus..sayang terlalu bertele tele
Nurhartiningsih
lanjut...mkin bikin penasaran
Nurhartiningsih
lanjut..makin seru aja
Nurhartiningsih
mkin ngga sabar lihat kehancuran elang
Nurhartiningsih
lanjutkan
Nurhartiningsih
lanjut.. update nya jangan lama2
Nurhartiningsih
lanjut
Nurhartiningsih
lanjut yuk...semngt mik buat balas dendamnya
Nurhartiningsih
lanjuut
羽菜 Hana
siap kak, biasanya aku baca-baca di malam hari. 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!