NovelToon NovelToon
Kamu Datang Saat Aku Hampir Menyerah

Kamu Datang Saat Aku Hampir Menyerah

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / Cintapertama / Tamat
Popularitas:410
Nilai: 5
Nama Author: Yusuf Jf

BAB 1 (Opening kuat & emosional)
Kamu Datang Saat Aku Hampir Menyerah
Bab 1: Titik Terendah
Malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya.
Arga duduk sendirian di pinggir trotoar, tepat di bawah lampu jalan yang cahayanya redup. Tangannya menggenggam ponsel yang sejak tadi tak berdering. Tidak ada pesan, tidak ada panggilan. Seolah dunia benar-benar lupa bahwa dia masih ada.
Hujan baru saja reda. Bau tanah basah bercampur dinginnya angin malam menusuk sampai ke tulang.
Ia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.
“Gini ya rasanya… jadi gagal,” gumamnya pelan.
Beberapa bulan terakhir hidup Arga seperti runtuh satu per satu. Pekerjaan yang ia banggakan hilang begitu saja karena pengurangan karyawan. Tabungan yang ia kumpulkan habis untuk bertahan hidup. Dan yang paling menyakitkan… perempuan yang ia cintai memilih pergi.
Bukan karena tidak cinta.
Tapi karena keadaan.
“Maaf ya, Ga… aku capek nunggu kamu sukses,” kalimat itu masih terngiang jelas di kepalanya.
Arga tertawa kecil,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yusuf Jf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18 — Bertahan Demi Masa Depan

Malam semakin larut ketika Arga masih duduk di pinggir kasurnya. Lampu kamar yang redup membuat suasana kontrakan kecil itu terasa tenang. Hujan di luar belum juga berhenti. Suara air yang jatuh ke atap seng terdengar seperti irama yang menemani pikirannya malam itu.

Buku kecil pemberian Nadia masih berada di tangannya. Arga menatap lama tulisan terakhir yang baru saja ia buat. Entah kenapa, setiap kali menulis isi hatinya di buku itu, beban di dadanya terasa sedikit berkurang.

Ia mengusap wajah pelan lalu bersandar ke dinding.

Sudah lama sekali ia tidak merasa setenang ini.

Dulu malam selalu menjadi waktu paling berat baginya. Ketika suasana mulai sunyi, semua pikiran buruk datang tanpa izin. Tentang kegagalan. Tentang rasa takut. Tentang hidup yang terasa berjalan di tempat sementara orang lain terus melangkah maju.

Arga pernah merasa dirinya tertinggal terlalu jauh.

Saat teman-temannya mulai memiliki pekerjaan bagus, kendaraan sendiri, bahkan keluarga kecil yang bahagia, ia masih sibuk berjuang untuk bertahan hidup dari gaji minimarket yang bahkan sering habis sebelum akhir bulan.

Kadang ia iri.

Bukan karena membenci kebahagiaan orang lain.

Ia hanya lelah melihat dirinya sendiri terus kalah dengan keadaan.

Arga menundukkan kepala sambil menarik napas panjang. Matanya perlahan melihat sekitar kamar kontrakannya yang sederhana. Cat tembok mulai mengelupas di beberapa bagian. Kipas angin tua di sudut ruangan berbunyi pelan. Ember kecil di dekat pintu bahkan harus dipasang untuk menampung air hujan yang bocor dari atap.

Namun anehnya, malam itu ia tidak merasa marah pada hidupnya.

Ia justru merasa bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk bertahan sejauh ini.

Ponselnya kembali menyala.

Kali ini pesan dari ayahnya.

“Hati-hati kalau pulang malam. Jangan lupa istirahat.”

Pesan sederhana itu membuat Arga tersenyum kecil.

Ayahnya memang tidak pernah pandai menunjukkan rasa sayang lewat kata-kata panjang. Namun Arga tahu, laki-laki tua itu selalu memikirkannya.

Arga membalas singkat.

“Iya Yah. Ayah juga jaga kesehatan.”

Setelah itu ia mematikan layar ponselnya lalu kembali memandang hujan di luar jendela kecil kamar.

Tiba-tiba pikirannya teringat masa beberapa tahun lalu.

Masa ketika hidupnya benar-benar berada di titik paling gelap.

Saat itu Arga kehilangan pekerjaan lamanya secara mendadak. Tabungannya habis. Hutang mulai menumpuk. Bahkan untuk makan saja ia sering harus menahan lapar.

Tidak ada yang tahu seberapa hancurnya dirinya waktu itu.

Di depan orang lain ia selalu terlihat kuat. Selalu pura-pura baik-baik saja. Padahal setiap malam ia tidur dengan kepala penuh kecemasan.

Pernah suatu malam Arga duduk sendirian di pinggir jalan sampai hampir pagi hanya karena tidak ingin pulang ke kontrakan dan menghadapi pikirannya sendiri.

Ia merasa gagal menjadi anak.

Gagal menjadi laki-laki.

Dan gagal menjalani hidupnya.

Namun sekarang, ketika mengingat semua itu kembali, Arga sadar bahwa dirinya ternyata jauh lebih kuat dari yang ia kira.

Ia berhasil melewati semua hari buruk itu.

Walaupun tertatih.

Walaupun sendirian.

Walaupun berkali-kali ingin menyerah.

Arga menatap kedua tangannya sendiri.

Tangan yang selama ini terus bekerja tanpa henti.

Tangan yang mungkin tidak menghasilkan banyak uang, tapi tetap berusaha membawa harapan untuk hidupnya sendiri.

Perlahan matanya mulai terasa hangat.

Bukan karena sedih.

Tapi karena untuk pertama kalinya ia mulai menghargai dirinya sendiri.

Di luar sana mungkin banyak orang yang memandang hidupnya biasa saja. Tidak sukses. Tidak istimewa.

Namun hanya Arga yang tahu seberapa keras dirinya bertahan sampai hari ini.

Hujan semakin deras.

Angin malam masuk perlahan dari sela jendela yang sedikit terbuka.

Arga lalu bangkit dan berjalan menuju dapur kecil di belakang kamar. Ia mengambil mie instan dan memasaknya perlahan. Suara air mendidih memenuhi ruangan sempit itu.

Sambil menunggu mie matang, pikirannya kembali dipenuhi banyak hal.

Tentang masa depan.

Tentang mimpi-mimpi kecil yang dulu sempat ia kubur karena merasa tidak mungkin tercapai.

Arga sebenarnya punya banyak keinginan sederhana.

Ia ingin punya rumah kecil yang nyaman untuk ayahnya.

Ia ingin bisa tidur tanpa memikirkan tagihan.

Ia ingin suatu hari nanti bekerja di tempat yang lebih baik.

Dan diam-diam, ia juga ingin membahagiakan Nadia.

Perempuan itu mungkin tidak pernah sadar betapa besar pengaruhnya dalam hidup Arga sekarang.

Nadia tidak datang membawa uang atau solusi instan.

Ia hanya datang dengan perhatian sederhana.

Namun terkadang, perhatian kecil justru bisa menyelamatkan seseorang dari kehancuran.

Setelah mie matang, Arga kembali duduk di lantai kamar sambil makan perlahan. Hujan mulai sedikit reda. Jalanan di luar terlihat basah terkena cahaya lampu kota.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, makan malam sederhana itu terasa nikmat.

Tidak mewah.

Tapi cukup membuat hatinya tenang.

Selesai makan, Arga kembali membuka ponselnya. Ia melihat foto dirinya bersama ayahnya beberapa tahun lalu. Foto itu diambil saat mereka masih tinggal di rumah lama sebelum keadaan ekonomi keluarganya memburuk.

Di foto itu, senyum ayahnya terlihat begitu tulus.

Arga menatap foto itu cukup lama.

“Aku janji bakal bikin hidup kita lebih baik, Yah,” gumamnya pelan.

Kalimat itu terdengar sederhana.

Namun bagi Arga, janji itu adalah alasan terbesar kenapa ia terus bertahan sampai sekarang.

Ia tahu jalannya masih panjang.

Masih banyak masalah yang harus dihadapi.

Masih banyak rasa lelah yang mungkin datang lagi esok hari.

Tapi sekarang setidaknya ia tidak lagi berjalan tanpa arah.

Ada harapan kecil yang mulai tumbuh di dalam dirinya.

Dan harapan itu perlahan membuat hidupnya terasa lebih ringan.

Beberapa menit kemudian, ponselnya kembali berbunyi.

Nadia mengirim pesan lagi.

“Udah makan belum?”

Arga tersenyum kecil sebelum membalas.

“Udah. Kamu?”

“Udah juga. Jangan tidur terlalu malam ya.”

Arga membaca pesan itu berulang kali.

Sederhana memang.

Tapi cukup membuat seseorang yang hampir kehilangan harapan merasa berarti kembali.

Malam semakin sunyi.

Hujan akhirnya mulai berhenti meninggalkan udara dingin yang menenangkan.

Arga mematikan lampu kamar lalu berbaring di kasurnya. Kali ini pikirannya tidak seberat biasanya.

Ia tidak lagi terlalu takut pada hari esok.

Karena sekarang ia mulai mengerti satu hal.

Hidup memang tidak selalu berjalan sesuai keinginan.

Kadang seseorang harus melewati kehilangan, kegagalan, dan rasa sakit sebelum menemukan arah hidupnya sendiri.

Namun selama masih mau bertahan, selalu ada kesempatan untuk berubah.

Arga memejamkan matanya perlahan.

Di dalam dadanya masih ada luka-luka lama yang belum benar-benar sembuh.

Masih ada rasa takut yang kadang datang diam-diam.

Tetapi sekarang ia tahu bahwa dirinya tidak sendiri lagi.

Ada ayahnya yang terus mendoakannya.

Ada Nadia yang selalu percaya padanya.

Dan yang paling penting…

Kini Arga mulai percaya pada dirinya sendiri.

Angin malam berhembus pelan melewati jendela kamar.

Sementara di sudut meja, buku kecil penuh harapan itu masih tergeletak dengan halaman terakhir yang belum kering tintanya.

“Aku akan tetap bertahan, walaupun dunia berkali-kali mencoba menjatuhkanku.”

Kalimat itu mungkin sederhana.

Namun malam itu, kalimat tersebut menjadi awal dari perubahan besar dalam hidup Arga.

Karena terkadang seseorang tidak membutuhkan keajaiban besar untuk bangkit.

Cukup satu alasan kecil untuk percaya bahwa dirinya masih pantas memiliki masa depan yang bahagia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!